Arsip

Arsip
3


__ADS_3

"Perkenalkan saya Pheito, pengajar ilmu mantra sihir. Pelajaran Paling dasar kalian," seru wanita berambut panjang, dengan mata abu-abu tua. Dia memakai gaun panjang berwarna hitam, seperti orang yang sedang di pemakaman. Kuku-kuku juga panjang, dan di cat hitam, begitupun warna bibirnya.


Aku mendengus melihat penampilannya yang terlalu, hmm… bagaimana menjelaskannya, nyentrik. Apakah seperti ini semua guru di Whisley. Mataku memutar sekitar. Academy ini benar-benar sudah seperti sekolah kebangsawanan. Setiap anak mendapat satu bangku. Bahkan ini termasuk kayu mahal. Aku hapal dari baunya, dan tekstur pada kayu ini. Walau sebanding dengan harga untuk masuk ke sini.


"Sebagai dari kalian sudah berada di sini sejak 13 tahun. Jadi tidak usah saya jelaskan hal lain, kalian pasti bosan." Untuknya dia mengucapkan kalimat yang benar. Bahkan anak TK saja sudah diajari sihir jaman sekarang. "Buka buku halaman 12. Kita akan mulai dengan sihir konsentrasi. Dalam ini mengumpulkan semua sihir ke satu titik. Kita mulai!"


Phoite mulai melambai-lambaikan tangan. Ke atas dan bawah. Lalu mengayunkannya bersamaan. Sepertinya kepakan sayap. Seperti yang kuduga, tak banyak yang mendengarkan. Seperti yang ku katakan, bahkan anak TK sudah belajar sihir. Itu berarti kebanyakan dari mereka, tidak membutuhkan pelajaran sihir lagu. Begitupun aku, aku lebih suka bermain pedang dari pada sihir.


Mataku tertuju pada seorang gadis yang duduk di samping jendela. Sama seperti yang lain, dia juga tak memperhatikan. Matanya malah mengarah ke luar jendela. Wajahnya datar, dan tatapannya fokus, seperti melihat sesuatu yang menarik di luar sana. Yang membuatku tertarik adalah telinga runcingnya, dan rambut putih seperti salju itu. Elf memang banyak di Academy itu. Tapi Elf dengan rambut putih, aku belum pernah melihatnya.


#


"Bolehkah aku duduk di sampingmu?" Tanya Elf berambut putih itu. Mata birunya menatapku dengan sedikit risau.


"Silahkan," aku mengangguk, dan langsung memalingkan wajah darinya.


Dia duduk si sampingku. Aku sempat melihat kulitnya yang putih pucat, dan cukup kurus. Bau parfumnya yang memberi kesan manis, membuat fikiranku tidak bisa fokus. Dengan sedikit kesal, aku kembali menatapnya. Sadar aku mataku menujunya, dia melinguk padaku dan tersenyum.


"Aku Atarah Iskra," ujarnya sambil mengulurkan tangan.


Aku menggapai tangan kecilnya itu. "Zion Kenneth, senang bertemu dengamu."


"Bahasmu agak kaku, apa kau bangsawan?" Tanyanya sambil terkekeh. Dia melepas genggamannya.

__ADS_1


"Hmm, anggap saja begitu. Memangnya kau bukan?" Tanyaku balik. Aku paling malas jika diingatkan tentang statusku sebagai bangsawan.


Matanya menatapku tajam. Namun bibirnya menyengir. "Maaf tuan, aku hanya rakyat biasa."


"Begitu ya."


Entah apa maksud dari ekspresinya itu, tapi karena ini suasana di antara kami terasa canggung. Dia lalu kembali menatap ke arah luar jendela, seperti yang ia lakukan tadi. Sedangkan aku memalingkan wajah dan menatap buku pelajaran yang kubawa. Dia murid pertama yang kukenal, tapi sepertinya aku tidak akan berhubungan akrab dengan gadis Elf ini, mungkin, kusimpulkan itu dari kesan pertama perkenalkan kami.


#


Seren dan Vim berjalan mendekatiku. Aku dari tadi menunggu mereka di atas menara kastil. Aku sudah terbiasa dengan angin kencang yang menghantamku, juga hawa dinginnya. Pemandangan di sini juga tidak jauh berbeda dari kamarku. Seren dan Vim berdiri di sampingku.


"Aku sudah berkenalan dengan banyak murid, terutma wanita. Tapi belum kulihat tato bulan," Celetuk Vim dengan nada sombong. "Mungkin aku harus kencan dengan mereka, heheheh." dia mulai terlihat seperti pria hidung belang.


"Apa-apaan kau ini!" teriak Vim.


"Ingat kita disini kerja, bukan mencari masalah. Apalagi mereka adalah para bangsawan. Agak merepotkan," keluhku. Bermain dengan anak bangsawan sama dengan mempertaruhkan kepalamu.


"Maaf Tuan, maksdku Zion, aku sudah memperhatikan orang disekitar, tapi belum nampak," sambung Seren.


"Jangan khawatir, ini baru hari pertama. Lagipula kakek itu menyuruh kita di sini sampai lulus," grutuku. Sehari saja di sini sudah sangat memuakan. Entah apa jadinya 3 tahun kedepan.


"Lalu anda sendiri apa sudah berkenalan dengan seseorang?" Tanya Vim sedikit menggodaku. Aku menatapnya sinis, dia mungkin berfikir aku tidak akan berbaur.

__ADS_1


"Tentu sudah," aku memyengir, jawabanku mematahkan anggapannya. "Hanya gadis Elf." Mengingat bagaimana ekspresinya, membuatku merasa kesal.


#


Bulan sudah di atas. Atarah berjalan di lorong sambil membawa sebuah buku besar. Wajahnya nampak datar menatap fokus ke depan. Dia mengabaikan semua orang yang di sekitarnya. Untuk apa juga, mereka juga selalu menaikan dagu dan bersifat angkuh satu sama lain. Jika sekali akrab, itu bukan hal yang baik.


Atarah berbelok, menuju danau luas yang ada di depannya sekarang. Langkahnya yang tadi cepat, kini melambat. Matanya berbinar, seperti menahan air mata. Dadanya terasa sesak, hari pertama di Academy ini terasa berat baginya. Padahal dia sebelum sudah menguatkan niat. Tapi tetap saja hatinya goyah.


Dia duduk di samping danau. Lebih tepatnya di salah satu anak tangga yang mengarah ke danau itu. Ia meletakan bukunya di samping. Lalu meringkuk dengan lutut di depannya. Di sana ia menghela nafas berat. Melepas semua tekanan yang ada didalamnya.


"Tempat ini sudah sangat berbeda," gumamnya. Ia lalu tersenyum sambil melihat ke langit berbintang di atas. Matanya kini benar-benar meneteskan air mata. "Kali ini aku sendirian. Karena semuanya sudah pergi. Untuk sekian lama akhirnya aku kembali merasa kesepian," rintihnya dengan suara sesak.


#


Bel berbunyi, aku sudah siap memakai seragam. Hanya tinggal memasang dasi saja. Setelah selesai, aku beranjak dari cermin menuju jendela. Kutarik gorden, agar menutupi kamarku. Namun kuhentikan saat kulihat seorang gadis berdiri di samping danau. Ketika yang lain buru-buru menuju kelas. Atarah, gadis itu, berdiri di samping danau. Tatapannya melihat pantulan air danau. Wajah datar, tatapan tajam, sama seperti saat dia menatap ke arah luar jendela di kelas. Sekali lagi aku tidak mengerti dengan tingkahnya. Kuabaikan, dan ku tarik kembali gorden hingga membuat kamarku gelap.


Seren dan Vim sudah menunggu di luar. Vim sempat mengintip ke dalam kamarku. Tatapannya langsung iri ketika melihat kamarku lebih mewah dari kamar miliknya. Lagi-lagi kupukul belakang bahunya, membuatnya tersendat kaget dan hampir jatuh.


"Kau kenapa!" Grutunya.


"Ayo ke kelas, jangan memperhatikan hal yang tidak penting," jawabku.


Dia memasang wajah kesal, sedangkan aku mengabaikannya dan pergi dari sana. Dengan kesal dia berjalan mengikutiku. Dan seperti biasa, Seren menghela nafas panjang, dan bersikap tenang, mengabaikan semua tingkah Vim dan aku. Walau ku tau, di dalam hati dia menganggap kami bodoh, dan bertingkah seperti anak kecil.

__ADS_1


__ADS_2