Arsip

Arsip
2


__ADS_3

Aku masuk ke aula yang jalannya dilapisi karpet merah. Begitu pula bagian-bagian lain di sana, tangga misalnya. Lampu-lampunya mewah dengan hiasan berlian menggantung di atasku. Vas bunga mahal nampak disetiap pojok ruangan, yang biasanya di sampingnya terdapat meja yang diukir cantik dengan tumpukan hiasan di atas. Jendela besar di pinggir ruangan itu adalah sumber cahaya masuk di ruangan ini. Karena semua lampu dan lentera hanya dinyalakannya saat malam hari.


Aku berjalan terlebih dulu, di belakang ada Vim dan Seren. Kami memakai seragam Academi Whisley. Ini pertama kali bagi kami memakai pakaian yang sama. Sedikit memalukan, bukan karena mereka pengawalku. Melainkan rasanya seperti akan foto keluarga dan anak-anak harus memakai seragam yang sama. Dari kecil aku diajar privat oleh guru bayaran. Aku tidak ada minat untuk memakai seragam seperti ini.


"Hormat kami yang mulia!" Tegasku.


Aku berlutut dengan kepala menunduk. Dilanjutkan Vim dan Seren yang melafalkan kalimat yang sama, juga ikut berlutut secara bersamaan. Membuat irama senada seperti drum yang di pukul.


Di depan terdapat kursi besar yang berlapis emas. Dengan lapisan busa lembut berwarna merah sebagai alas, dan tempat meletakan punggung. Ukiran yang rumit tampak di seluruh Kursi, atau akan lebih spesifik disebut singgasana.


Di sana duduk sang Kaisar. Rambutnya panjang berwarna perak dengan mata emas yang dingin setiap kali menatap seseorang. Walau sebenarnya sifatnya padaku berbeda dari penampilannya itu. Telinga runcing nampak jelas ketika ia menyampirkan rambutnya ke belakang. Dia adalah kaisar pertama di Albany yang merupakan Half Elf, Kyler voc Lord Havilliard.


Dia sempat menatapku dengan tajam. Namun kini dia tersenyum dan menyipit mata beberapa saat. Dia lalu berdiri, dan berjalan turun dari anak tangga yang menjadi pembatas antara kaisar dan rakyatnya. Dia berhenti di anak tangga terakhir. Dari sini saja aku sudah dapat mencium bau tembakau yang kuat. Mungkin karena dia Elf, walau usianya sudah 50 tahun lebih, wajahnya terlihat seperti 25 tahun. Namun percuma saja jika dia selalu menghisap tembakau, dia bisa mati cepat seperti manusia biasa yang keriput.


"Selamat datang anakku Zion Kenneth. Bagaimana kau siap dengan hari pertamamu di sekolah?" Tanyanya dengan nada bergurau.


"Walau agak berat tapi saya akan berusaha menikmatinya," jawabku. Sebenarnya suasana hatiku sangat buruk hari ini. Melihat para bangsawan sombong itu saja memuakan. Apalagi bernafas satu tempat dengan mereka.

__ADS_1


"Jangan begitu, nikmati saja masa sekolahmu. Jangan hanya berteman dengan dua orang ini saja. Perbanyak teman dan carilah kekasih lalu perkenalkan padaku," ujarnya dengan nada yang sama. Perkataan kakek tua ini entah mengapa membuatku kesal. Andai dia bukan kaisar.


"Sayangnya keinginan anda tidak bisa terwujud. Kami ke sana bukan untuk bermain, tapi melakukan misi."


Kaisar mendengus kencang. "Benar misi itu. Tapi kau tidak boleh tegang seperti dalam perang." Kasiar mendekatiku. Ia lalu jongkok dan mengangkat daguku agar bisa menatapnya. "Zion, kau punya rambut hitam dan mata zambrud yang indah, persis ibumu. Zion harus kau ketahui jika ingin misi ini berhasil, berbaurlah dengan yang lain. Jadilah srigala berbulu domba yang masuk ke kawanan domba agar bisa mencari domba hitam. Jika kau hanya melihatnya di luar kandang, kau hanya akan mendapati domba berwarna putih saja. Karena yang hitam menutupi bulunya dengan bulu domba lain. Kau paham kan anakku?"


Dia selalu memanggilku dengan sebutan 'anakku'. Padahal aku sudah hampir lupa, bahwa kaisar ini adalah ayah kandungku. Namun dia hanya menghamili ibuku. Dia kabur setelahnya, dan bahagia menjadi kaisar. Dia memiliki banyak selir, namun gadis yang dia hamili sebelumnya bukan salah satunya. Gadis itu menderita karena di anggap melahirkan anak di luar nikah. Walau anak itu sebenarnya anak sang kaisar. Entah beruntung atau bagaimana, seorang Duke membelinya dan anaknya. Sehingga kini aku menjadi Grand Duke.


"Baik yang mulia jika itu perintah anda," jawabku dengan tatapan dingin.


Misiku bisa dibilang tidak terlalu sederhana. Dan cukup merepotkan bagiku. Ada kemungkinan kami tewas dalam misi ini. Tapi kematian bagiku bukan hal yang menakutkan. Karena selain kekayaan dan status tidak ada lagi yang menangisku. Begitupun Seren dan Vim.


Karena itu aku ditugaskan untuk mencari anggota Blackmoon yang lain. Mereka mungkin tidak hanya menjadi murid. Karena masuk ke Whisley tanpa orang dalam akan sulit. Aku tidak bisa memperhitungkan berapa jumlah mereka. Karena orang yang di tangkap itu langsung tewas karena ledekan sihir karena membocorkan informasi. Tapi setiap dari mereka memiliki tato bulan, dengan itu aku harus mencarinya.


#


Academy Whisley tidak pernah berubah selama ribuan tahun, walau hanya luarnya saja. Memang berkali-kali pernah hancur. Namun kembali di bangun dengan bentuk yang sama. Luas Whisley pun tidak berkurang. Mulai dari hutan, danau, taman, dan kastil, semua masih utuh. Hanya pagar tembok yang tidak sebesar dulu.

__ADS_1


Aku melangkah menuju kamar asrama. Entah kenapa aku sudah langsung merindukan udara di kota, walau tercampur bau cerobong asap. Dari tingkah para murid terlihat mereka hanya mementingkan diri sendiri. Bahkan para Dwarfs selalu menggerutu dan menatap para murid dengan ketus. Beberapa dari para Dwarfs Ini merupakan tahanan kastil ini selama ribuan tahun, sepertinya mengurus para bangsawan yang gila gelar dan pujian ini membuat mereka muak.


"Sepertinya kamar kita terpisah," gumamku sambil melihat nomer kamar yang kudapat.


Sejak tempat ini berubah menjadi Academy para bangsawan, setiap murid memiliki kamar masing-masing. Harusnya aku, Vim, dan Seren memiliki kamar yang berdekatan. Agar kami dapat dengan mudah bergerak. Apa kakek itu sengaja membuat kamar kami pisah? Padahal sebagai kaisar dia bisa dengan mudah memilih kamar.


"Tidak apa-apa Tuan, maksudku Zion. Kita masih satu kelas," sahut Vim dengan sedikit cekikikan.


"Walau begitu ada beberapa pelajaran yang kita terpisah," Seren menunjukkan jadwalnya.


"Sialan kakek itu," grutuku.


"Mungkin dia ingin agar kita berpencar. Agar lebih cepat menemukan Anggota lain," ujar Vim dengan nada percaya diri. Dia selalu saja membela kaisar.


"Kuharap, atau dia sengaja. Tak apa, semester depan usahakan jadwal kita sama. Saat ini kita hanya perlu mengamati."


"Baiklah Zion. Sampai jumpa dikelas."

__ADS_1


Zim dan Seren melangkah pergi meninggalkanku, menuju kamar masing-masing. Begitpula aku. Tidak kusangka aku mendapatkan kamar di lantai atas. Aku harus banyak menaiki tangga, dan belokan. Semoga aku tidak tersesat saat pulang nanti. Akhirnya aku sampai di kamar. Kupegang gagang pintu, dan perlahan kubuka. Aku terbengong saat melihat kamar ini berbeda dari kamar-kamar bawah. Memang tidak terlalu besar. Namun terlihat jelas ini kamar yang dibuat untuk bangsawan. Kasur empuk dengan dekorasi yang mewah. Juga rak buku persisi seperti perpustakaan pribadi. Sekarang aku tahu kenapa kamarku terpisah dari Vim dan Seren. Ini pasti belas kasih kaisar padaku, walau aku ingin kamar biasa seperti yang lain. Sudahlah mengeluh juga percuma.


Aku masuk dan kulempar koperku ke sembarang tempat. Lalu kudekati jendela besar yang ada di saja. Ku tarik gorden agar cahaya bisa masuk ke dalam. Dari sini seluruh pandang Whisley terlihat. Bahkan kota dan istana. Sungguh pemandangan yang indah. Kurasa untuk kedepan aku akan terbiasa dengan pemandangan seperti ini, selama menjadi murid di Whisley.


__ADS_2