
Kehidupan apa yang sebenarnya aku rindukan. Hidup dengan memiliki teman-teman yang baik hati dan setia, juga seseorang yang sangat menyayangiku. Atau dunia dengan teknologi canggih, dan penuh hiburan yang bisa menghabiskan waktuku tanpa terasa. Kembali ke masa lalu berkumpul lagi di Whisley bersama yang lainnya. Atau menikmati kehidupan serba praktis di luar Wishland. Semakin ke sini, aku semakin bingung harus memilih yang mana. Mengikuti takdirku, atau kabur dan melupakan segalanya.
Aku membuka mata, samar-samar cahaya yang tadi menyilaukanku tertutup oleh sesuatu. Aku ingat ini hari Minggu, aku pergi ke hutan untuk beristirahat, dan sampai di pohon besar ini. Alih-alih masuk ke dalamnya seperti sebelumnya, aku justru tidur di luar seperti ini.
Aku langsung terbangun ketika sadar ada seseorang duduk di sampingku. Mataku melotot besar pada orang itu yang menatapku dengan santai. Wajahmu memerah, merasa malu karena dia pasti melihatku saat aku tidur tadi. Aku langsung menutup wajahnya dengan meringkuk di kedua lutut.
"Kenapa kau di sini?" Tanyaku dengan nada tinggi.
Zion berlagak polos. "Aku hanya berjalan-jalan dan melihat seseorang tidur di bawah pohon."
Aku mengintipnya, "Sejak kapan?"
"Hmm satu jam yang lalu mungkin," jawabnya sambil tersengir.
Aaaa… Sudah lama aku tidak merasa risih seperti ini. Bagaimana tidak seorang pria melihatku tidur selama 1 jam. Bagaimana jika aku bertingkah aneh saat tidur. Lalu apa yang difikirkannya saat aku tidur tadi.
"Sepertinya kau kelelahan?"
"Apa?" Aku menatapnya.
"Kau tidur dengan nyenyak tadi," jawabnya dengan senyum yang sama.
Aku memalingkan wajah. "Bukan urusanmu."
Aku mendengar suara tawa darinya. Tapi aku tidak mau menatapnya. "Jika seperti ini, kau terlihat sama seperti gadis biasa."
"Lalu selama di Ethopia kau memggapku apa?" Tanyaku dengan kesal.
"Hmm entahlah, aku sendiri tak tahu harus menganggapmu seperti apa."
"Kau seperti menganggapku bukan makhluk hidup saja."
__ADS_1
"Yaa… Sempat sesaat. Kau seperti bukan dari sini, namun berusaha berbaur walau kelihatannya sulit," ujranya.
Aku menghela nafas mendengar jawabannya. Ku luruskan kedua kakiku, dan bersandar pada dahan pohon. Ketika tubuhku menyentuh pohon itu, dedaunan berwarna jingga berjatuhan ke bawah.
"Aku lahir di Wishland. Ibuku asli penduduk Wishland, dan dia merupakan pahlawan besar bagiku dan dunia ini," Tuturku. Kurasa yang ia fikirkan adalah Frassia Valeria, padahal bukan dia. Wanita yang di sebut anak Alan, seorang Half Elf seperti ku sekarang, dialah satu-satunya ibuku.
"Padahal hubunganmu dengan Nona Frassia Valeria tidak terlihat akur. Tapi kau sepertinya sangat menghormatinya."
Bagaimana aku bisa akur dengan seorang teman yang tubuh anaknya ku pinjam tanpa seizinnya. Lagipula karena aku pula dia harus menghabisi waktu panjang seperti itu. Walau aku tidak tahu bagaimana cerita rincinya. Dan lagi, kakaknya menyukaiku, walau dia sudah bertunangan dengan Ratu pertama Ethopia.
"Padahal kau dan Ayahmu tidak seperti baik-baik saja."
Dia mendengus keras. "Apa aku harus baik pada pria yang meninggalkan wanita dan anak kandungnya, lalu membuat wanita itu menikah dengan pria hidung belang, lalu karena mental wanita itu bunuh diri," jelasnya.
Itu seperti cerita klasik masyarakat abad pertengahan, walaupun di masa modern masih ada yang serupa. Tapi setidaknya wanita modern lebih memiliki kebebasan dan hak dari pada yang ada di dalam cerita itu. Hanya di Wishland, waktu seakan berjalan mundur.
"Kau tidak terkejut dengan cerita itu, apa kau sudah tahu?" Tanya Zion.
Dia menatapku, kufikir dia akan kesal dengan jawabanku. Namun ternyata dia tersenyum. Apa orang ini sering tersenyum pada orang lain seperti itu. Berbeda dari temannya yang tersenyum untuk menebar pesona. Jangan suruh aku menyebut namanya. Sesuatu terlintas dipikiranku.
Aku membalas senyumannya, lalu aku mendekat ke sampingnya. Entah mengapa aku ingin menggodanya sebentar. Dia sedikit terkejut ketika kepalaku bersandar di bahunya. Namun diluar dugaanku, dia akan menghindari, dia justru diam dan memberi posisi nyaman untukku. Benar-benar reaksi yang tidak di sangka.
Angin musim gugur menerpaku, membuat rasa kantukku kembali muncul. Aku selalu mengantuk saat udara dingin. Apalagi dahan pohon yang terasa hangat, juga bahu ini. Aku pelan-pelan memejamkan mata, dan tanpa kusadari, aku tertidur.
#
Aku membuka mata. Entah bagaimana aku sudah berdiri dan berada di tempat yang familiar bagiku. Ada yang terasa aneh dariku. Aku memegang kedua telingaku, sudah tidak ada lagi telinga runcing. Dan rambutku kembali berwarna merah. Kulitku tidak seputih pucat sebelumnya. Walau aku masih mengenakan seragam Whisley. Kubalik badanku, dan ku liat tiang lampu yang setelahnya terdapat jurang dengan laut lepas.
Aku sangat mengenali tempat ini. Beberapa kali aku ke sini, dan berbeda dari sebelumnya, kali ini aku bertemu dengan yang kicari. Sosok singa yang berdiri gagah di belakang tiang lampu itu. Ia menyengir ke arahku, namun ku balas dengan tetes air mata. Melihatnya membuat kakiku langsung lemas, aku jatuh terduduk di sana.
"Alan," ujarku.
__ADS_1
"Lama tidak bertemu Karlysia Harika, atau kurasa kau lebih suka dipanggil Kaka."
Aku tersenyum. "Sudah lama nama itu tidak di sebut."
Ia terkekeh. Surainya mengibar searah angin. "Bagaimana kehidupanmu sekarang, apakah menyenangkan?"
Aku terdiam mendengar pertanyaannya. Bagaimana aku bisa bahagia hidup di tubuh orang lain. Orang-orang seakan tidak menganggapku ada, aku hidup sendirian di tempat asing, dan selalu berharap kembali, lalu pergi dari sana.
"Kenapa anda membawaku ke sana? Bukankah aku dibutuhkan untuk melawan Nyx? Apakah benar Harika yang melwan Nyx bukan aku, tapi ibuku Harika?" Tanyaku sambil menatapnya.
"Kau banyak pertanyaan ternyata."
"Ada lebih banyak lagi, tapi kau pasti tidak akan menjawabnya."
"Benar 3 pertanyaan ini saja cukup untuk pertemuan ini."
"Itu berarti kita akan bertemu lagi Alan?"
"Kita akan selalu bertemu lagi Kaka. Karena kau pengganti Harika sebagai yang di takdirkan, kau adalah yang akan mengalahkan Nyx. Sepertinya ini menjawab 2 pertanyaanmu."
Perkataan jelas aku akan tetap berhadapan dengan Nyx. Dan Harika yang di maksud jelas adalah aku, buka aku. "Tapi bagaimana, kejadian itu di masa lalu, sedangkan aku berada 500 tahun setelahnya."
"Apa kau lupa berapa umurmu saat ini, lalu kau mencari tahu umur Harika saat itu?"
Pertanyaan itu membuatku tersengir. "Aku sudah sangat tua dari yang di bayangkan."
"Harus kau tahu Kaka, kau akan kembali dan menuntaskan takdirmu. Dan memang itu tidak sekarang. Saat ini anggaplah kau bersiap menghadapi kekacauan Wishland yang lebih besar. JaDi kali ini, jangan lari."
Itu kata-kata yang terdengar terakhir, sebelum Alan menghilang lagi. Itu adalah jawaban terakhir yang kudapatkan, dia telah menjawab 3 pertanyaannku. Aku terbangun, helai rambut putih panjang menghalangi mataku. Walaupun masih ragu, aku tahu apa apasanku datang ke tempat ini sebagai Atarah Iskra.
End Part 1
__ADS_1