
Matahari terbenam, membuat langit kini dipenuhi aneka warna. Zion duduk di atas atap menara. Matanya menatap langit, memandangi berapa banyak burung yang terbang. Dia melepas jas, dan hanya menyisakan kemeja putih yang lumayan tipis. Acuh pada udara dingin yang cukup menusuk.
Dia masih ingat berdebatannya dengan Kaisar, saat Vim dan dirinya ingin mencari Seren. Dengan tegas Kaisar melarangnya. Raut wajah Vin saat itu sangat kecewa berat. Tapi dia tidak bisa apa-apa. Mulai saat ini Kaisar tidak akan memberi merika misi. Zion harus menyelesaikan Academy nya di Whisley, dan setelah lulus dia akan mulai menjadi Duke dan hadiah dari Frassia Valeria akan resmi miliknya. Untuk saat ini dia harus diam dan jangan mengungkit apapun tentang Devil dan anak-anak Whisley yang meninggal itu, termaksud Seren.
Vim melompat ke atas, ia berdiri di belakang Zion. Raut wajahnya masih murung walau kejadian itu sudah lebih dari seminggu berlalu. Dia diam cukup lama, hingga matahari terbenam seutuhnya, dan semuanya mulai gelap.
"Aku tidak bisa diam begini," ujarnya dengan suara serak.
"Lalu apa yang bisa kau lakukan? Devil bahkan bisa mengendalikan orang mati sesuka hati," jawab Zion.
"Lalu kau akan diam begitu saja mengetahui Devil merenggut orang yang setia bersamamu?" Bentak Vim.
Sorot mata Zion melirik Vim, membuatnya menelan ludah berat dan memendam kata-kata yang ada di dalam fikirannya. Tubuhnya gemetaran, dan keringat dingin keluar dari keningnya. Tatapan Zion seperti ingin membunuh Vim. Zion berdiri, dan berjalan mendekati Vim. Vim hanya bisa diam tertunduk, satu langkah kebelakang, dia akan jatuh dari atas menara.
"Siapa kau berani mengatakan itu? Jika kau mengejarnya, kau hanya akan berakhir mengenaskan. Kau fikir kekuatanmu setingkat dengan kaisar?" Cibir Zion.
Vim terlalu takut untuk menatap matanya. "Taa… Tapi, aku tidak mau diam."
Zion memegang kerah baju Vim, lalu menariknya, agar mata Vim bisa menatapnya. "Lalu kau fikir aku juga akan diam saja?" Lanjut Zion dengan tekanan pada matanya. "Kita tidak bisa mengalahkan, tapi ada seseorang yang dengan mudah melukainya."
Zion melempar tubuh Vim ke bawah, di atas atap lorong kastil. Dengan begitu, Vim tidak lagi terpojok dan jatuh ke bawah tanah. Namun dia tetap merasa sakit karena tubuhnya terhantam atap kastil. Vim berusaha berdiri walau agak merintih sakit.
__ADS_1
"Jangan bilang kau akan mendekati gadis elf itu?"
Zion turun ke tempat Vim berada, ia tersenyum dan menyipitkan mata. "Bukankah dia cukup cantik?"
"Kau bercanda? Kita bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya."
"Aku hanya tahu dia anak dari Frassia Valeria."
"Apa!" Vim terkejut mendengarnya, wajar saja hal ini sangat dirahasiakan. Bahkan putri Xylia tidak tahu. Walau Zion yakin, Atarah lebih dari sekedar itu.
Sorot matanya menuju arah danau. "Kurasa bukan hanya aku yang sepemikiran."
"Saya tidak tahu siapa anda yang sebenarnya, tapi jika anda ingin kembali mengejar Devil, saya ingin ikut bersama Anda," ujar Xylia seraya bersujud di depan Atarah.
Atarah mengerutkan dahi. "Siapapun aku, aku hanya murid Whisley biasa. Jadi bangunlah, dan berdiri tegap. Kau itu tuan putri." Atarah memegang kedua pundak Xylia dan menyuruhnya berdiri. Dengan raut wajah murung Xylia menurutnya.
"Bahkan Kaisar membungkuk para Anda, jelas Anda bukan murid Whisley biasa."
Atarah hanya bisa tercengir mendengar kalimat itu. Kisahnya cukup panjang, tapi Atarah sendiri yang membuat Kaisar sekarang mau memberinya hormat. Dulu dia tidak seperti ini, malah kurang ajar. Sifatnya sama dengan anaknya Zion.
"Siapapun aku tidak penting buatmu tuan putri. Tapi bukankah kau akan melanggar perintah Fox jika bersamaku?"
__ADS_1
Xylia memalingkan wajah. "Saya tidak bisa diam melihat orang-orang mati mengenaskan seperti itu. Bukankah tugas seorang putri melindungi rakyatnya?"
Kata-katanya sama seperti Violet Grande Ratu pertama Ethopia saat masih kecil. Apa memang selalu seperti ini calon ratu di masa mudanya. Melanggar aturan yang ada, demi menyelamatkan orang lain dalam sekala besar. Walaupun sebenarnya andai Xylia ikut bersama Atarah itu tidak masalah, Fox sendiri tidak terlalu peduli dengan keturunan Raja selama pengacau Wishland lenyap. Dia bahkan menyerahkan wujudnya sebagai manusia agar Wishland damai. Hanya saja Atarah ingin meninggalkan tempat ini dengan tenang, dia tidak peduli Devil masih ada apa tidak. Yang terpenting barang yang ia cari berhasil didapatkan.
"Baiklah, terserah kau saja," ujar Atarah dengan helaan nafas panjang. "Sepertinya tidak hanya kau yang sepemikiran."
Dari belakang Zion dan Vim mendekat. Mereka sudah mendengar dari awal tadi. Jadi setidaknya tidak perlu lagi ada yang dijelaskan ulang.
"Jadi kami boleh ikut?" Tanya Zion dengan tersenyum.
"Terserah kalian saja."
Pada akhirnya yang harus mengalahkan Devil adalah orang Wishland sendiri. Jadi tidak ada salahnya dia membuka jalan agar mereka bisa mendekati pengacau itu. Bagaimana akhirnya, akankah mereka yang mengalahkan Devil atau dia sendiri yang turun tangan, itu terserah pada tali takdir. Dia hanya perlu merentang tangan di atas laut, mengapung mengikuti ombak. Namun saat sudah mendekati tengah laut, dia harus kembali ke pantai.
#
Seorang gadis berambut merah berjalan di trotoar. Mengenakan seragam sekolah, sambil membawa tas. Ia berjalan riang melewati orang-orang yang mengejar waktu agar sampai ke kantor tepat waktu. Atau murid lain yang tidak ia kenali. Gedung-gedung tinggi, dan banyak kendaraan adalah pemandangan biasa baginya, bahkan di pagi hari.
Belum sampai dia di sekolah, fikirannya sudah mengarah ke apa yang akan dilakukan saat pulang nanti. Akankah berlatih pedang dengan gurunya, menonton drama yang ia sukai, membaca majalah baru, atau bermain game seharian. Atau mungkin dia akan mengajak teman dekatnya ke cafe sekitar sekolah, melepas penat dan melihat orang yang ia suka. Karena orang itu biasanya ke sana dengan teman-temannya. Banyak hal yang ia jadwalkan, bahkan dia berfikir apa yang dia lakukan di akhir pekan.
Hari-hari monoton seperti berangkat sekolah dan bermain adalah hal menyenangkan baginya. Dia tidak harus mengkhawatirkan takdir dunia atau hal lain, selian nilainya saat ulangan. Dia juga tidak perlu hidup dengan teknologi seadanya, karena tempatnya hidup sekarang dipenuhi teknologi yang membuat hidup berjalan dengan mudah. Belum lagi hiburan yang bisa ia dapatkan dengan gratis dan di mana saja. Kehidupan seperti itu kah yang akan ia rindukan?
__ADS_1