
Anindita menyerap energi dari kristal tanaman, energi yang di serap mengalir ke seluruh tubuh. Anindita yang semula kelelahan sekarang pulih kembali dan Force nya perlahan-lahan terisi. Setelah tiga kristal tanaman diserap energi Force dalam tubuh nya penuh seperti semula.
"Pada level Diamond berapa banyak energi Force yang bisa di serap? Coba hitung berapa energi Force yang berada dalam kristal tanaman?" Dirga mencoba memberi tahu bahaya tersembunyi.
"Pejuang level Diamond memiliki kapasitas energi Force sebanyak 61.440 tahun, dan barusan aku menyerap sebanyak 3 kristal tanaman yang artinya setiap kristal tanaman menyimpan kurang lebih 20.000 tahun. Ini setara dengan energi Pejuang Platinum!" Anindita memperhitungkan pertanyaan Dirga.
"Energi yang sangat besar bukan? Cukup untuk Mecha level Silver aktif selama 20.000 tahun! Tapi tidak usah terlalu di pikirkan, itu tidak penting, aku hanya ingin memperbanyak kata ."
"Ayo segera bersiap-siap, kita akan langsung ke markas Workshop Alliance!" Dirga mengajak Anindita untuk segera bersiap-siap.
Setelah mereka membersihkan badan berganti pakaian, mereka keluar rumah bersama.
"Apakah kita akan mengendarai pesawat penjelajah? Jarak ke Kota Pangkalan hampir 1000 kilometer!" Anindita bertanya kepada Dirga.
"Tidak perlu itu terlalu lambat, kita akan langsung teleport! Pegang tangan ku erat-erat," setelah Dirga memegangi tangan Anindita, mereka berdua langsung menghilang.
***
Akademi Srikandi, Kelas lima sekolah dasar.
Jam istirahat pertama didalam kelas, lima gadis kecil sedang berkumpul bersama.
"Aqila kenapa kami tidak melihat mu di test bakat Sabtu kemarin," Angel bertanya pertama kali.
"Iya Aqila, setelah tes kami mencari mu! Moza dan Dini membangkitkan kemampuan supernatural mereka!" saut Rere.
"Aku sengaja tidak ikut test, kata ayahku itu sangat berbahaya untuk anak-anak!" jawab Aqila.
Angel terkejut, lalu ia bertanya lagi kepada Aqila, "Ayah mu sudah kembali? kemana dia pergi selama ini?"
"Kenapa berbahaya untuk anak-anak?" Moza bertanya tentang kalimat terakhir Aqila.
"Tenang teman-teman, bertanya nya satu persatu! aku akan menjawab semua pertanyaan kalian," kata Aqila.
"Pertama, ayahku ternyata selama ini terjebak didalam retakan dan baru kembali kemarin lusa! Aku senang akhirnya bisa bertemu ayahku.
Kedua, kata ayahku ketika anak-anak mengunakan kristal test mereka akan sulit meningkatkan level kekuatan nya ketika menjadi pejuang nanti," Aqila menjawab pertanyaan temannya satu persatu.
Keempat temannya tiba-tiba jadi khawatir, "Jadi bagaimana Aqila, Kami berempat dan anak-anak yang lain sudah menggunakan kristal test, kemarin!"
__ADS_1
" Jangan khawatir ayah ku punya solusinya, Dia sedang mendiskusikan solusinya dengan ketua Workshop Alliance."
"Yang lebih penting aku punya teman baru yang ingin aku kenalkan kepada kalian!" Aqila tersenyum kepada teman-teman nya.
"Siapa Aqila? mana orang nya?" tanya Dini
"Dia akan pindah ke sekolah kita ya," tanya Angel.
"Cepat panggil orang nya kesini," kata Rere.
"Sabar teman-teman, aku akan memanggil nya!" Aqila meletakan komunikator di atas meja.
Tiba-tiba keluar cahaya redup dari komunikator, dan muncul sosok kecil, setinggi 15cm berdiri di dekat buku. Bentuknya sangat lucu dengan pipi merah bulat dan berkostum Tao.
"Teman-teman perkenalkan ini Aladin, AI pribadi ayahku! Aladin perkenalkan ini teman-teman ku, ada Rere Si Pipi Tembem, Moza Si Kurus Menawan, Angel Si Kaca mata Lemot dan Dini Si Mami Penyayang!" Aqila memperkenalkan Aladin dan teman-temannya.
"Aqila Si Ketua Geng!" Mereka berempat berkata secara bersamaan di iringi tawa mereka berlima.
"Aladin lucu sekali," mata Angel dan Rere berbinar.
"Tidak bisa, itu hanya hologram!"
" Aladin sangat pintar, dia bisa menjawab semua pertanyaan, iya kan Aladin?" Aqila berusaha pamer.
"Tidak ada yang tidak di ketahui tuan Aladin ini, tuan Aladin bisa melakukan apa saja yang tidak bisa dilakukan AI lainnya di Bumi,"
"Aqila kenapa Ai ayahmu sangat aneh! Namanya Aladin seperti dongeng Timur Tengah tetapi berkostum Tao seperti Vampir China," Dini bertanya heran.
***
Sementara itu di depan markas Workshop Alliance, Dirga dan Anindita tiba-tiba muncul dari udara kosong.
Dirga melihat gedung markas Workshop Alliance, tidak terlalu tinggi tapi sangat luas, terlihat cukup megah dan bernuansa scientist. Dirga teringat markas Dojo Limits di pangkalan Jiangnan, mereka sangat mirip.
"Mbak Yu ada di dalam markas?," Anindita langsung menghubungi ketua Alliance.
__ADS_1
"Iya, Mbak lagi ada di lab! satu jam lagi tunggu mbak di ruangan," jawab wanita di balik telepon.
Mendengar dari percakapan mereka, mereka sangat akrab seperti saudari dekat.
"Ketua seperti nya lagi sibuk, mungkin satu jam lagi baru bisa bertemu. Sebelum itu ayo kita duduk di kafetaria markas," Anindita mengajak Dirga masuk ke gedung markas.
"Sayang mau minum apa? Aku pesankan Moccha latte kesukaan kamu ya!" Anindita pergi ke kasir memesan kopi untuk mereka berdua.
Dirga mencari tempat duduk yang santai didekat taman kafetaria. Tidak jauh darinya sekelompok anak muda sedang mengobrol.
"Siaran pertempuran kemarin sangat luas biasa, Tiga Srikandi dari markas kita memusnahkan 100 monster," Seorang pemuda memulai pembicaraan.
"Aku dengar mereka sudah menerobos level Gold!" pemuda yang lain berbicara.
"Berarti kita manusia menambah 3 Pejuang kuat di level Gold," Seorang pemuda terlihat bersemangat.
"Dan yang paling penting ketiga pejuang kuat tersebut ada di kota kita. Kota kita satu-satunya kota di Dunia yang di lindungi langsung oleh 3 Pejuang level Gold,"
"Aku tidak menyangka Dekan Amanda juga menerobos level Gold,"
"Berarti 7 Dewi terkuat telah bertambah menjadi 8 Dewi terkuat,"
"Aku tidak menyangka para pejuang wanita menjadi begitu kuat, sehingga bisa dengan cepat melampaui para pejuang pria yang membuat posisi menjadi tidak seimbang," kelu seorang pemuda.
"Apa yang kamu bicara, Di era bencana seperti ini tidak peduli laki-laki atau perempuan. mereka bekerja sama melindungi kemanusiaan, tidak boleh ada diskriminasi rasial," seorang pemuda yang terlihat lebih tua membantah keluhan pemuda itu.
"Kurang nya pejuang kuat dari kaum pria berarti kita para pejuang pria belum berusaha terlalu keras, kita hanya bermalas-malasan dan bersantai. kita harus latihan lebih keras untuk meningkatkan kekuatan kita," tambah pemuda lainnya.
Tidak lama kemudian, Anindita menghampiri Dirga dengan membawa dua cangkir kopi.
"Sayang, sedang menguping apa?" Anindita memperhatikan Dirga yang sedang menguping obrolan beberapa anak muda.
"Tidak ada, aku hanya mendengar mereka membicarakan mu dan 8 Dewi terkuat,"
"8 Dewi terkuat? bukannya ada 7 ?," Anindita bertanya heran.
"Oh... Seperti nya kamu senang di panggil Dewi oleh para anak muda! Amanda baru di tambah kan menjadi Dewi kedelapan," Dirga menyeringai lebar.
__ADS_1
"Kenapa? Apa Raja ku cemburu kepada para pemuda itu!" Anindita mengedipkan mata genit nya.