
Gerhana perlahan menghampiri Ur-Deda', karena ukuran manusia bangsa Forerunner lebih tinggi dari manusia Bumi. Gerhana perlahan memperbesar tubuhnya seukuran mereka agar bisa lebih sejajar berbicara dengan mereka.
"Tuan Ur-Deda', kenapa kalian menyerang Benteng kami?" Gerhana sangat penasaran kenapa orang-orang Forerunner menyerang Benteng Pangkalan Hunter.
"Mohon maaf sebelumnya Tuan Gerhana, pemukiman kami berada tidak jauh dari sini dan tempat benteng ini berdiri adalah tempat sumber air kami berasal. Benteng mu menghalangi sumber air kami!" Ur-Deda'berkata terus terang.
Sekarang Gerhana sedikit mengerti alasan serangan mereka, Aladin sengaja mencari tempat paling strategis ketika mendirikan benteng sehingga sumber air dan lembah subur menjadi pilihan utama sebagai tempat membangun benteng.
"Maafkan kami akan hal ini tuan Ur-Deda', kami tidak menyadari pemukiman kalian ada di dekat sini. Boleh kah aku berkunjung ke pemukiman kalian? aku ingin berbicara dengan pemimpin kalian."
"Boleh saja tuan Gerhana, mungkin saja pemimpin kami juga tertarik bertemu dengan anda," ucap Ur-Deda'.
Beberapa saat kemudian Gerhana mengajak Ur-Deda' menaiki pesawat penjelajah, untuk memandu mereka ke pemukiman orang-orang Forerunner. Didalam pesawat Ur-Deda' terkejut melihat beberapa anak-anak sedang memperhatikan nya.
"Tuan Gerhana, apakah ini keluarga anda? Sepertinya anda sedang dalam perjalanan keluarga!" Ur-Deda' mengira Gerhana adalah prajurit yang sedang berpatroli dan didalam pesawat nya ada beberapa prajurit yang sedang menunggu, namun ternyata hanya terdapat wanita dan beberapa anak-anak di dalam pesawat.
Ur-Deda' menurunkan penjagaan nya kepada Gerhana karena mengira Gerhana sedang melakukan perjalanan keluarga dan tertarik dengan mereka ketika dia lewat. Walaupun selama percakapan Ur-Deda' bersikap ramah, tetapi dia tetap menjaga kewaspadaan nya kepada Gerhana.
"Iya, aku dan istriku sedang mengajak anak-anak melihat alam liar!" Gerhana mengiyakan dugaan Ur-Deda'.
Setelah beberapa percakapan ringan, Ur-Deda' memandu Gerhana menuju pemukiman mereka, remaja-remaja yang bersama Ur-Deda' sebelumnya, menyusul pesawat dari belakang.
Beberapa menit kemudian, pesawat penjelajah akhirnya sampai di pemukiman orang-orang Forerunner. Mereka membangun pemukiman di atas dahan-dahan pohon yang tinggi, demi menjaga keamanan mereka dari serangan monster ketika malam hari.
__ADS_1
Keadaan pemukiman orang-orang Forerunner cukup ramai, di sana sedikit terlihat seperti kota yang dibangun menyatu dengan alam secara alami. Gerhana menebak jumlah penduduk nya hampir mendekati satu juta jiwa.
Pesawat langsung mendarat di alun-alun kota, yang membuat orang-orang Forerunner sedikit panik. Namun setelah palkan pesawat di buka dan Ur-Deda' yang pertama keluar, mereka langsung menjadi tenang dan lega.
Gerhana, Anindita dan anak-anak berjalan di belakang mengikuti Ur-Deda'. Anak-anak sangat takjub melihat pemukiman orang-orang Forerunner yang menyatu dengan alam, apalagi mayoritas penduduk hampir terlihat seumur dengan mereka.
Masa pertumbuhan orang-orang Forerunner dua kali lipat dari masa pertumbuhan manusia Bumi dan umur mereka juga jauh lebih lama dari manusia bumi biasa, jadi orang-orang Forerunner yang berumur 20 tahun fisik dan mental mereka sama dengan anak-anak manusia yang berumur 10 tahun.
Ur-Deda' sendiri berusia hampir 300 tahun dan masih terlihat seperti pria paruh baya. Tidak jauh dari alun-alun, seorang anak-anak Forerunner berlari-lari menuju Ur-Deda'.
"Ayah, siapa mereka yang bersama ayah?" tanya anak itu kepada Ur-Deda'.
"Mereka adalah penduduk asli planet ini dan ingin bertemu dengan The Libraryan! Apakah kamu ingin mengajak mereka bermain?" Ur-Deda' menjawab pertanyaan anaknya lalu meminta nya bermain dengan Aqila dan kawan-kawan.
"Apakah dia anakmu, tuan Ur-Deda'? berapa usianya?" Gerhana bertanya kepada Ur-Deda' setelah melihat anaknya yang sangat mungil dan lucu.
"Halo Ur-Naida', Aku Aqila dan ini teman-teman ku! Mau kah kamu mengajak kami berkeliling?" Aqila sangat tertarik dengan Ur-Naida' yang imut, jadi dia langsung memperkenalkan diri nya dan teman-temannya.
" Halo juga Aqila, salam kenal!" jawab Ur-Naida'.
"Ur-Naida', ajak mereka ke rumah dulu untuk istirahat, baru kemudian kalian jalan-jalan berkeliling," ucap Ur-Deda'.
"Baik ayah! Ayo Aqila, ikut aku," Ur-Naida' mengajak Aqila dan teman-temannya berlari-lari dengan langkah kecilnya.
Gerhana tidak khawatir anak-anak berkeliling pemukiman orang-orang Forerunner, karena dia sudah menyelimuti seluruh tempat dengan energi spiritual nya. Gerhana juga mempermudah komunikasi anak-anak dengan energi spiritual nya.
__ADS_1
Setelah anak-anak pergi, Ur-Deda' langsung mengajak Gerhana, "Ayo Tuan Gerhana dan Nona Anindita, kita langsung menemui pemimpin kami."
Kediaman pemimpin orang-orang Forerunner berada di pohon yang paling besar di tengah pemukiman dan berjarak cukup dekat dengan alun-alun, sehingga mereka tidak perlu berjalan terlalu jauh. Ketika memasuki kediaman pemimpin Forerunner, Gerhana dan Anindita langsung melihat banyak rak buku yang tersusun rapi dan menjulang tinggi lebih dari 20 meter, ruang itu terlihat seperti perpustakaan. Ditengah ruangan ada taman kecil yang terdapat meja teh didalamnya dan ada seorang wanita paruh baya sedang membaca buku sambil meminum teh.
Wanita itu terlihat sangat berkonsentrasi membaca, sampai-sampai dia tidak menyadari kedatangan Ur-Deda' dan Gerhana. Ur-Deda' terus berjalan menghampiri wanita itu, "The Libraryan, ada pribumi yang ingin menemui mu."
Mendengar ucapan Ur-Deda', wanita itu menoleh ke arah Gerhana dan Anindita, dan mulai menutup buku sambil tersenyum kepada mereka. Gerakan nya sangat halus dan ringan, seperti seorang wanita bangsawan tua, yang sangat mahir etika.
"Halo, Tuan Gerhana dan Nona Anindita. Silahkan cari posisi duduk yang nyaman buat kalian," Wanita itu berkata ramah, dan terus memperhatikan Anindita.
Wanita itu langsung mengetahui nama Gerhana dan Anindita tanpa harus di perkenalkan, ternyata wanita itu memiliki kemampuan spiritual yang tinggi. Secara sekilas dia sudah membaca semua ingatan Ur-Deda' tentang Gerhana. Gerhana menebak, kultivasi wanita ini pasti telah mencapai level Gold Puncak dan sangat mahir menggunakan energi spiritual, makanya dia pasti sudah melihat kultivasi Anindita yang sangat tinggi, sehingga dia bersikap lebih ramah kepada mereka.
"Kalian bisa memanggil ku The Libraryan, aku adalah salah satu sesepuh di kekaisaran Forerunner dan aku sudah hidup lebih dari 5000 tahun di dunia ini. Aku mempunyai seorang murid yang sangat cerdas dari Ras kalian 8 tahun yang lalu," The Libraryan memperkenalkan dirinya panjang lebar kepada Gerhana dan Anindita.
"The Libraryan, Apakah murid yang anda maksud adalah seorang wanita bernama Sekar? dia adalah saudariku!" tanya Anindita sedikit bersemangat.
"Iya, namanya Sekar. Dia orang yang sangat pandai belajar," The Libraryan tersenyum sambil mengingat-ingat sosok Sekar.
"The Libraryan bisakah anda menceritakan kenapa kalian bisa berada disini dan ada berapa banyak penduduk Forerunner yang ada disini?" Gerhana langsung menanyakan inti yang ingin dia ketahui, dia terlalu malas mendengar pembicaraan yang bertele-tele.
Yang dilakukan The Libraryan persis sama dengan apa yang biasa di lakukan para Bangsawan Tua. Mereka selalu menceritakan kenangan-kenangan masa lalu mereka dengan cara panjang lebar.
...********************************...
Cerita The Libraryan yang bertele-tele akan berlanjut di bab berikutnya. Hari ini insyaallah Up 2 bab lagi, di tunggu saja ya teman-teman reader
__ADS_1
Seperti biasa author akan merekomendasikan salah satu novel karya teman author yang masih on-going.