
Istana Gerhana, Eclipse City
Dari pagi sampai siang, Gerhana dan Anindita menikmati waktu santai berdua. Mereka duduk di taman istana sambil bercengkrama mengingat kenangan waktu pertama kali mereka bertemu.
Waktu itu mereka mengikuti acara pertemuan Arsitek dan Desainer muda di Manado, Gerhana dan Anindita sama-sama mengikuti Sayembara Desain Resort Bunaken, namun Gerhana gugur ketika Presentasi desain di depan juri Arsitektur Senior Yori Antar.
Ketika makan siang sebelum presentasi Gerhana keliru meminum Cap tikus yang dia kira air putih biasa, jadi ketika Presentasi desain, Gerhana merasa sangat pusing dan tidak bisa berkonsentrasi yang membuat presentasi nya sangat buruk.
Selama beberapa hari kemudian Gerhana merasa sangat frustasi karena gagal dalam presentasi, akhirnya karena tidak ada lagi yang bisa di lakukan di Bunaken, Gerhana memutuskan untuk kembali ke Manado untuk jalan-jalan.
Manado adalah kota yang sangat indah dengan ciri khas mereka tersendiri, penduduknya dan para remaja di sana sangat ramah dan bersahabat, hampir setiap Gerhana berjalan-jalan di pantai, dia akan berkenalan dan berteman dengan orang-orang baru. Gadis-gadis Manado cantik-cantik dan manis yang enak di pandang mata.
Gerhana sangat suka suasana tenang dan sejuk perpaduan hutan rimbun dan ombak laut di hutan mangrove, jadi Gerhana memutuskan untuk berjalan-jalan di Mangrove Park Tiwoho.
Ketika Gerhana sedang asyik mengambil foto di sekitar Mangrove Park Tiwoho, dia melihat seorang gadis seperti akan melompat ke laut, jadi Gerhana mencoba mencegah nya.
"Mbak, mbak jangan bunuh diri disini, air nya terlalu dangkal. kalau Mbak mau, aku bisa mengantar mbak ke tengah laut," walaupun Gerhana sedikit panik dan tidak tahu harus bagaimana, tetapi dia berusaha membuat lelucon ringan agar gadis itu tidak jadi terjun ke laut.
Untuk beberapa saat gadis itu terlihat tercengang dan lalu tertawa lepas. Melihat gadis itu tertawa, Gerhana jadi sedikit bingung, namun tawa dan senyum gadis itu membuat Gerhana sangat terpesona.
"Siapa yang mau bunuh diri mas? saya cuma mau mengambil tas kamera saya yang terjatuh," ucap gadis itu.
Mendengar itu, Gerhana merasa sangat malu, rasanya dia yang ingin langsung terjun ke laut.
"Mas, bisa bantu tolong ambilkan tas kamera saya yang jatuh kebawah jembatan ngak? Soalnya saya lagi pakai rok, jadi sulit untuk turun ke bawah!" ucap gadis itu meminta tolong.
"Iya bisa mbak! maaf soal sebelum nya," Gerhana langsung turun dan mengambilkan tasnya.
"Terima kasih banyak mas, karena mau menolong saya," ucap gadis itu ramah.
"Sama-sama mbak ... kalau boleh tahu, nama mbak siapa, ya ?" Gerhana langsung mengajak kenalan dengan sedikit malu.
"Nama saya Anindita Satya, dari Semarang! Kalau mas sediri siapa namanya?"
__ADS_1
"Saya Gerhana Dirga, dari Palembang!"
Itulah saat pertama kali Gerhana bertemu dengan Anindita. Setelah berkenalan, mereka akhirnya mengetahui bahwa mereka sama-sama peserta Sayembara Desain Resort di Bunaken. Berbeda dengan Gerhana, Anindita menjadi runner-up dalam Sayembara Desain tersebut.
Anindita menertawakan kecerobohan Gerhana yang meminum tuak cap tikus ketika akan presentasi, mendengar ejekan Anindita, Gerhana sama sekali tidak marah, dia merasa gadis ini sangat ceria dan ramah kepada orang yang baru di kenal.
Mereka berdua memutuskan untuk berjalan-jalan bersama selama mereka berada di Manado. Beberapa kali mereka menunggu matahari terbenam di pinggir pantai.
Mereka mengambil beberapa foto bersama di sana.
Setelah seminggu di Manado, mereka akhirnya kembali ke kota masing-masing. Selama hampir setahun mereka tidak pernah bertemu sekalipun, tetapi mereka tetap aktif berkomunikasi. Sampai akhirnya Gerhana bekerja di konsultan arsitektur terkenal di Jogja dan mereka mulai sering bertemu.
Pada saat yang sama, Wulan mulai kuliah di Semarang, yang akhirnya berkenalan juga dengan Anindita dan mereka menjadi teman dekat. Setelah beberapa tahun kemudian akhirnya Gerhana menikahi Anindita dan mereka pindah ke Palembang.
***
Gerhana dan Anindita melihat Aqila turun dari pesawat bersama keempat sahabat nya. Sebagai ketua Geng, Aqila sangat ingin mengajak teman-temannya ke Eclipse City dan memamerkan kehebatan ayahnya.
Keempat sahabat Aqila masih dalam keadaan linglung, mereka tidak menyangka, sepulang sekolah. Aqila langsung mengajak mereka naik ke pesawat, dan terbang di atas awan.
Di balik awan, mereka melihat kota yang sangat besar dan indah. kemudian Aqila mengatakan bahwa kota itu di buat oleh ayahnya, hal itu membuat mereka linglung dan sulit mencerna apa yang di katakan Aqila.
Sampai mereka mendarat, mereka melihat sosok ayah Aqila.
"Selamat siang, Om dan Tante," ucap keempat sahabat Aqila, mereka masih sangat malu-malu.
"Tidak usah malu-malu, ayo kita masuk dulu!" Anindita mengajak mereka masuk dan menikmati sedikit cemilan.
Di salah satu ruang tengah mereka akhirnya mengobrol dengan santai.
"Ayah, teman-temanku sudah pernah menggunakan kristal tanaman! kata ayah kristal itu sangat berbahaya."
__ADS_1
"Tidak apa-apa, ayah punya obatnya yang bisa membantu memperbaiki tubuh mereka," Gerhana berkata sambil melirik teman-teman Aqila.
"Siapa di antara kalian yang membangkitkan kekuatan supernatural," tanya Gerhana kepada teman-teman Aqila.
"Aku dan Dini Om!" ucap Moza.
"kalian membangkitkan kemampuan apa?" tanya Gerhana.
"Aku kemampuan pengendali angin Om!" ucap Moza sambil mengeluarkan angin yang berhembus kencang.
"kalau aku pengendalian tanaman Om!" ucap Dini sambil mengeluarkan cahaya hijau yang membuat tanaman hias di atas meja mulai berkembang.
"Kalian anak-anak yang berbakat, sudah bisa mengendalikan kemampuan kalian masing-masing hanya dalam beberapa hari,"
"Karena kalian sudah mau menjadi sahabat Aqila, Om akan memberikan beberapa hadiah kepada kalian!" Gerhana mengeluarkan lima botol cairan biru bening.
Cairan biru ini adalah, cairan yang bisa meningkatkan potensi dalam tubuh manusia. Di Primordial Universe cairan ini di gunakan untuk mempercepat kultivasi dari prajurit magang menjadi pejuang planet. Cairan ini tidak berbahaya bagi tubuh karena bersifat nutrisi bukan energi.
"Cairan ini bisa membantu kalian menjadi pejuang lebih cepat ketika kalian mulai berkultivasi nanti," ucap Gerhana.
Aqila dan keempat temannya sangat bersemangat, mereka langsung meminum dan menghabiskan semua cairan di dalam botol. Tiba-tiba mereka merasa sangat segar.
"Kalian sangat tidak sabaran ternyata, padahal Om ingin memberi tahu bahwa obat ini memiliki efek samping seperti obat pencuci perut," Gerhana tertawa ringan.
Seketika mereka merasa sakit perut dan ingin segera buang air besar.
"Ayah, kamu sangat jahat!" Aqila berteriak dengan wajah masam, lalu di berlari bersama teman-temannya mencari kamar mandi terdekat. Untungnya di setiap kamar memiliki toilet pribadi.
...******************************...
Seperti biasa author akan merekomendasikan novel bagus dari teman-teman author.
__ADS_1