
Zona A hutan rawa.
Dari kejauhan dapat dilihat banyak pohon yang hancur berantakan di sekitar kawasan hutan rawa zona A. Terlihat seperti keadaan setelah terjadi pertarungan antara sesama monster raksasa atau pertarungan antara manusia dan monster.
Hutan rawa ini adalah habitat dari monster Biawak raksasa dan katak beracun raksasa. Kedua jenis monster ini memang sering bertarung memperebutkan habitat mereka, namun kondisi hutan rawa saat ini jauh lebih kacau dari pertempuran monster Biawak dan Katak seperti biasanya.
Terdapat banyak bangkai monster Biawak dan Katak di pinggiran hutan rawa, bangkai mereka masih segar dan banyak darah masih mengalir dari bangkai mereka. Ada banyak luka sayatan pedang dan potongan kapak dari bangkai-bangkai monster itu, jelas ini adalah luka yang di timbulkan oleh serangan seorang Pejuang.
Di kawasan tengah hutan rawa, terdengar suara pertempuran manusia dan monster. Terlihat dua jenis pemimpin monster sedang menghadapi lima orang Hunter. Kedua jenis monster Biawak dan monster katak adalah monster tingkat B, namun pemimpin mereka adalah monster tingkat A.
Jelas tidak ada tim Hunter yang bisa menghadapi kedua pemimpin monster tersebut, kecuali Tim Hunter Cindaku Putih yang di bentuk oleh Wulan.
Benar saja, dari kejauhan dapat terlihat Wulan sedang menghalau serangan tombak es dari pemimpin monster Biawak, sedangkan di sisi lain juga terlihat Amanda sedang menyerang monster Katak dari jarak jauh, karena monster katak terus mengeluarkan racun dari lobang pori-pori di punggung monster katak itu.
Aji mengeluarkan jurus Ice Age seperti Aokiji kuzan, untuk membatasi pergerakan monster katak agar tidak mencemari setiap tempat dengan racun yang keluar dari tubuhnya. Metode ini sangat membantu Amanda untuk terus melakukan serangan intens kepada monster katak.
Disisi lain, Anindita menggunakan kemampuan Doppelganger nya untuk membatasi pergerakan monster Biawak yang cukup lincah, sementara Tiara menggunakan senjata Railgun untuk memancing perhatian kedua monster tersebut ketika mereka ingin kabur dari zona pertempuran.
Dapat dilihat bahwa mereka cukup kompak satu sama lain dan mulai memahami kemampuan masing-masing, sehingga bisa lebih mudah menyesuaikan dari berbagai macam kondisi pertempuran yang berbeda.
Sebenarnya mereka bisa dengan mudah mengalahkan kedua pemimpin monster tersebut, namun mereka terus menggunakan kedua monster untuk berlatih keterampilan tempur mereka. Tidak perlu waktu lama, dua menit kemudian kedua pemimpin monster tersebut binasa di tangan mereka.
Hanya butuh waktu 40 menit bagi mereka untuk memusnahkan semua monster di zona A hutan rawa. Dengan kultivasi mereka yang cukup tinggi di tambah kemampuan rahasia yang mereka bangkitkan, monster di Zona A bukan lawan yang sulit bagi mereka.
Setelah mengalahkan semua monster, Tiara mengeluarkan Gazebo portabel dari ruang saku nya, sebagai tempat istirahat mereka berlima. Tiara istirahat sebentar lalu mulai mengumpulkan semua bangkai monster ke dalam ruang saku nya, Aji dan Tiara juga tidak lupa mengumpulkan berbagai macam tanaman herbal yang ada di sana.
__ADS_1
"Sepertinya enak juga mempunyai kemampuan ruang saku, kita bisa membawa apa saja tanpa memiliki beban tambahan. Aku bisa mengalami kehidupan mewah di tengah alam liar hanya dengan membawa rumah di dalam ruang saku!" Ucap Wulan sambil menghayal.
"Bukan kah kalian sudah memiliki cincin penyimpanan yang diberikan Gerhana kepada kalian?" respon Anindita terhadap khayalan Wulan.
Mendengar itu Wulan sedikit malu, " Yaah Mbak ... Aku kan hanya mengandai-andai, bukan berarti aku beneran ingin kemampuan seperti itu."
Gerhana sudah membagikan masing-masing cincin penyimpanan kepada mereka, cincin penyimpanan tersebut memiliki kapasitas 500 meter persegi. Wulan sendiri membawa Mecha di dalam cincin penyimpanan nya.
"Jangan khawatir, kalian nanti juga bisa memiliki ruang pribadi didalam diri kalian, ketika sudah mencapai level kultivasi Challenger/Lord di masa depan!" ucap Anindita.
Beberapa saat kemudian, akhirnya Aji dan Tiara selesai mengumpulkan semua bangkai dan tanaman herbal dan kembali ke gazebo untuk beristirahat.
"Tiara, berapa luas ruang saku mu sekarang?" Amanda bertanya langsung kepada Tiara.
"Untuk sekarang seluas lapangan sepak bola atau sekitar 7.500 meter persegi dan akan terus meningkat sesuai level kultivasi ku,"jawab Tiara.
"Wah luas juga ya! kita bisa membawa rumah di dalam nya," ucap Wulan.
"Mbak Dita, jadi kita akan berburu di mana lagi?" tanya Aji kepada Anindita.
"Kita harus kembali ke rumah, sudah satu minggu kita berada di alam liar. Aku takut Aqila akan ngambek karena kita tinggal begitu lama," Anindita menyarankan untuk pulang.
"Cie ... Cie ... pasti Mbak Dita kangen kan dengan kak Nana, karena tidak tidur seranjang selama seminggu! Sudah gatel ya!," ucap Wulan dengan nakal kepada Anindita.
Wajah mereka semua menjadi merah, termasuk Anindita. Ucapan Wulan terlalu vulgar dan tidak sopan, Anindita sedikit marah kepada Wulan.
__ADS_1
Anindita langsung mengeluarkan beberapa Doppelganger nya dan mengunci Wulan dengan gerakan gulat lalu menutup mulut Wulan dengan kaos kaki nya yang sudah seminggu dipakai.
"Aam ... Punn ... Amp ... Uun Mbak Dita!" Wulan menjerit-jerit memohon ampun. Tidak ada yang berani membantu Wulan, karena Wulan memang sangat tidak sopan.
"Ini hukuman untuk gadis nakal, seperti nya kami harus segera mendesak Gilbert untuk mengurus gadis nakal seperti mu!" ucap Anindita dengan perasaan marah dan malu. Dalam hatinya dia memang sangat merindukan Gerhana.
Setelah itu Anindita langsung mengeluarkan pesawat penjelajah dari cincin penyimpanan nya. Mereka langsung masuk ke dalam pesawat, Wulan masih di kunci dan diangkut oleh beberapa Doppelganger Anindita.
Pesawat mereka langsung terbang ke arah Eclipse City di atas awan.
"Mbak Dita, Bagaimana kita akan menjual semua material monster yang kita kumpulkan?" Tiara sedikit heran kenapa mereka langsung Tebang ke Eclipse City, bukannya menuju Benteng Pangkalan Hunter atau Kota Pangkalan Batam untuk menjual material monster.
Mendengar itu Anindita langsung ingat, dia sedikit lupa karena emosi dengan perkataan Wulan. Wajah nya langsung memerah seperti tomat yang sedang matang, dia sangat malu. Dia melihat tatapan Wulan seperti sedang mengejek nya.
"Kita semua pasti sudah sangat kelelahan setelah bertempur dengan kedua monster rawa itu, jadi aku memutuskan agar kita segera istirahat dan kita akan menjual semua material nya besok," jelas Anindita sambil menutupi rasa malunya.
"Bilang saja Mbak Dita sudah tidak sabar ingin segera bertemu kak Nana!" umpat Wulan dalam hatinya.
"Benar, aku juga sudah sangat kelelahan. Rasanya ingin segera mandi di air hangat dan tidur di kasur yang empuk!" ucap Aji dengan wajah kelelahan di pangkuan Tiara.
...***************************...
...author meminta maaf karena update nya yang sering bolong. akhir-akhir ini cuaca nya kurang bersahabat dan di tambah puasa, jadi author kurang bersemangat untuk menulis. Jadi, author minta komen, like dan vote nya agar author bisa terus semangat berkarya, karena author sangat membutuhkan dukungan teman-teman reader....
...Author juga mengingatkan, jangan lupa baca juga karya author yang lainnya yang tidak kalah seru....
__ADS_1
author juga merekomendasikan karya bagus dari teman author untuk teman-teman reader sekalian. Beliau adalah penulis veteran di NT dan kualitas karya nya sudah tidak di ragukan lagi.