
"Astagfirullah,baik akan saya sampaikan bu Imah". Bi Darna, memutuskan panggilan telponnya dari seseorang. Terlihat jelas bi Darna, tergesa-gesa menghampiri Melody dan suaminya di ruang tamu.
Jam dinding menunjukkan pukul 11 malam, mereka berdua masih duduk dan memikirkan kejadian yang menimpa di keluarganya.
"Non,ada kabar buruk". Ucap bi Darna,dari raut wajahnya panik. Bagaimana perasaan non Melody, ketika mendapatkan kabar yang menimpa pak Hermon?.
Melody dan Vino, terkejut mendengar dan menatap ke arah bi Darna.
"Katakan bi,ada apa?". Tanya Melody, penasaran apa yang terjadi.
"Pak Hermon,non. Dalam perjalanan pulang kampung, beliau kecelakaan di jalan. Terus, di bawa ke puskesmas terdekat dan kakinya patah". Jawab bi Darna, menoleh sekilas ke Vino yang kebingungan.
Deg!
"Astagfirullah". Gumam Melody dan Vino,secara bersamaan.
"Loh,kenapa pak Hermon tidak bilang sama aku jika beliau pulang kampung. Pantesan saja,ada keponakannya yang jaga". Kata Vino, melirik ke arah istrinya.
"Sebenarnya mas,pak Hermon mau membantu kita. Kata pak Hermon,di kampung halamannya ada yang bisa membantu kita. Terus,pak Hermon pamit pulang dan ingin meminta bantuan kepada seseorang yang bisa itu". Melody, memberitahu yang sebenarnya. Ya Allah,apa ini yang aku khawatirkan tadi? Apa jangan-jangan ada terkaitnya dengan,bibi Fatma?. Firasatnya tadi,yang tak enak akhirnya terjadi juga. Dia semakin yakin,jika sang bibi ada terkaitnya juga.
"Astagfirullah! Sayang,kenapa kamu tidak bilang-bilang sama aku? Sekarang apa loh,pak Hermon mendapatkan musibah dan kakinya patah". Vino, mengusap wajahnya dengan kasar. Ada masalah apa lagi ini,Ya Allah bantulah hamba mu ini.Batin Vino, memohon kepada Allah SWT.
"Maaf,nak Vino bukan maksud kami apa-apa. Kalau jujur apa yang kami lakukan, pasti nak Vino marah. Kasian non Melody, terus-menerus di ganggu makhluk halus". Bi Darna, langsung membela Melody.
"Bukan non Melody saja,aku dan bi Darna juga pak". Sahut Dina,baru datang dari arah dapur.
Vino, menghela nafas beratnya dan memijit pelipisnya. "Oke,aku akan menghubungi pak Hermon dan mengirimkan uang untuk biaya beliau". Dia langsung mengambil ponselnya di meja, matanya tertuju pada sebuah pesan.
"Innalilahi.... Ustadz Yahya dan Ilham, mengalami kecelakaan ketika pulang tadi". Kata Vino, sontak membuat Melody dan lainnya terkejut. "Astagfirullah,apa maksudnya ini?".
"Astagfirullah!". Ucap mereka bersamaan, sungguh tak menduga bahwa kejadian secara langsung bersamaan.
"Ya Allah,apa ini? Pasti seseorang yang mengirim ilmu hitam kepada kita,dia akan menggagalkan siapa yang menolong kita mas. Bagaimana ini,mas?". Melody, seketika panik sudah air matanya mengalir deras. "Kalau seperti ini, tidak akan mau yang membantu kita mas. Sudah pasti mereka pada takut, takut jika terjadi sesuatu pada diri sendiri".
"Alhamdulillah, ustadz Yahya dan Ilham cuman luka ringan saja. Kemungkinan besar, besok boleh pulang dan mas akan menengok mereka besok". Vino,merasa lega karena ustadz Yahya dan temannya baik-baik saja.
__ADS_1
"Alhamdulillah, kalau tidak parah mas". Kata Melody, menyeka air matanya.
Brak!
Brak!
Brak!
Deg!
Mereka terkejut mendengar suara di dapur, seperti seseorang tengah menggebrak pintu belakang.
Dina, langsung mendekati bi Darna dan berpegangan dengan erat. "Bi Darna, sekarang apa lagi? Masa sih, makhluk halusnya datang lagi. Bukankah tadi, ustadz Yahya sudah memusnahkannya? Apa jangan-jangan ilmu hitam itu,di kirim kembali ke sini".
"Berarti seseorang itu,tak mau kalah dan terus mencoba mengganggu kita mas". Melody, menatap ke arah suaminya.
Vino dan Melody, beranjak berdiri dari duduknya dan berjalan menuju ke arah dapur. "Sayang, lebih baik kamu ke kamar dan temanin anak kita"Bisik Vino, langsung di angguki Melody. "kalai terjadi apa-apa,kamu pergi keluar rumah".
"Dina, temanin non Melody ke kamar. Biar bibi dan nak Vino,cek dapur belakang". Perintah bi Darna, seketika Dina langsung mendekati Melody yang ketakutan.
"Non, jangan mengatakan aneh-aneh deh. Aku juga takut non,seram tau". Dina, calingukan melihat sekeliling kamar majikannya. Sedangkan lampu hidup-mati-hidup-mati, suasana semakin tegang.
"Kita keluar non,jangan di sini". Kata Dina, menarik lengan Melody menuju pintu kamar.
Deg!
"Non, pintunya tidak bisa di buka". Ucap Dina, wajahnya terlihat sangat panik. Begitu juga Melody,dia tidak tau harus berbuat apa-apa.
"Mas! Mas Vino! Bi Darna, tolong!". Teriak Melody, lumayan keras dan anaknya menangis histeris.
Namun sayang, teriakkan mereka tidak terdengar oleh Vino dan bi Darna.
Benar sekali pintu belakang rumah,terbuka lebar dan hembusan angin kencang. Vino, kesusahan menutup pintu dan di bantu oleh bi Darna.
Deg!
__ADS_1
"Allahuakbar.... Allahuakbar.... Astagfirullah, astagfirullah....!". Vino dan bi Darna,terus berdoa sambil menutup pintu.
Sungguh pemandangan mengerikan sekali,di bawah pohon ada sosok bertubuh besar berwana hitam. Petir menggelegar seisi alam,angin terus berhembus pancaran kilat menampakkan wujud asli bertubuh besar itu, membuat Vino semakin ketakutan.
"Bi,kita harus pergi meninggalkan rumah ini. Ayo,bi!". Vino, sudah panik dan langsung menarik lengan bi Darna.
"Tunggu nak,bibi mau ambil sesuatu untuk di bawa". Bi Darna, bergegas masuk kedalam kamar dan membawa Al-Qur'an di pelukannya erat.
Sedangkan Melody dan Dina, sudah ketakutan melihat sesosok merayap keluar dari kamar mandi.
"Aaaaaaaaaaa.....!". Mereka berdua berteriak keras,sang buah hati menangis. Melihat sang buah hati menangis, pikiran Melody berkecamuk kemana-mana.
Oweek....Oweek...Owekk...
Dina, terus-terusan membuka handel pintu kamar Melody yang tak bisa di buka. Dia semakin frustasi ingin menyerah saja, namun di sisi lain kasian kepada anak Melody.
Deg!
Sesosok menyeramkan itu, berlahan-lahan berdiri dan darah segar terus menetes di lantai.
Melody, terus-terusan menggedor-gedor pintu kamar. Berharap Vino, mendengar gedoran nya.
Ceklekk...
"Alhamdulillah,ya Allah". Ucap Melody dan Dina, akhirnya pintu kamar terbuka dan langsung berlarian ke luar rumah.
Vino dan bi Darna,terus berlarian dan tak lupa mengambil kunci mobil di atas meja ruang tamu. Itupun Vino,hampir terjatuh karena kepeleset.
Mereka berempat terengah-engah dan masuk kedalam mobil meninggalkan perkarangan rumah Vino.
Di sepanjang perjalanan mereka panik dan berusaha untuk tenang. Melody, menangis kesegukan sambil menenangkan buah hatinya. Bi Darna,terus berdoa tanpa putusnya berharap mereka sampai dengan selamat.
Dina,duduk meringkuk masih terbayang-bayang apa yang di lihatnya tadi. Sesekali melirik ke arah belakang mobil, takut jika mahluk itu mengikuti mereka.
Vino, berusaha fokus menyetir mobil karena penumpangnya orang-orang yang di sayanginya tak ingin kenapa-kenapa.
__ADS_1