AYUNAN BAYI

AYUNAN BAYI
Masuk Kerja


__ADS_3

Pagi harinya, sesuai janji Vino kepada sang bunda.


Sepagi ini,dia sudah bertamu di rumah orangtuanya Sulis. Vino,di sambut hangat oleh ibu kandungnya Sulis.


"Duduk nak, panggil saja ibu Anis. Sulis sebentar lagi turun, mohon di tunggu nak. Minumlah dulu nak, mumpung masih anget tehnya". Ucap bu Anis, tersenyum sumringah melihat Vino menjemput anaknya berangkat kerja.


Vino, mengangguk pelan ke arah seorang wanita yang tidak muda lagi. Mengenakan kerudung berwarna hitam, mengenakan gamis panjang. "Makasih,bu". Jawab Vino, mengambil secangkir teh hangat dan meminumnya.


Sulis, menuruni anak tangga menuju ruang tamu dengan berpakaian kerja sebagai perawat tidak mengenakan kerudung.


Vino, tersenyum kecil menyambut kedatangan Sulis yang memasang wajah masamnya.


"Bu,kami pamit pergi dulu. Takutnya mas Vino,telat ke kantor". Ucap Sulis, tersenyum manis ke arah sang ibu.


"Ya sudah,kalian hati-hati jalan yah. Jangan ngebut-ngebut nak Vino,bahaya loh". Kekehnya bu Anis, tersenyum ke arah Sulis.


"Iya,bu. Assalamualaikum, pamit dulu". Ucap Vino dan Sulis.


"Wa'alaikum salam, hati-hati nak". Bu Anis,merasa lega melihatnya anaknya bertemu dengan pria pilihannya sendiri.


 Vino, meninggalkan perkarangan rumah orangtuanya Sulis. Ada rasa lega karena ibu kandung Sulis, memperlakukannya dengan baik.


"Maafkan aku yang kemarin, Sulis. Aku tidak bermaksud apa-apa,maaf". Ucap Vino, menoleh ke arah Sulis sebentar.


"Jujur yah,mas. Aku kecewa dengan mu,apa maksudnya meninggalkan ku demi mantan istri mu itu? Sakit mas,kamu giniin aku loh". Sulis, menggeleng pelan karena sikap Vino kemarin. Di dalam hatinya bersorak-sorai gembira karena Vino,datang sepagi ini dan meminta maaf.


"Iya,aku janji tidak akan seperti itu. Apa kamu memaafkan aku, Sulis?". Vino, tersenyum kecil memandang wajah cantik Sulis yang tersipu malu-malu.

__ADS_1


"Iya,kali ini aku maafkan mas. Kalau nanti seperti itu,kata maafmu tidak akan aku terima secepat ini. Maaf,aku bersifat tegas kepada mu karena aku tidak mau menjadi bagian ketiga di antara kalian. Tau sendirilah gimana sikap orang-orang sekitar, pasti mereka menyalahkan ku mas. Jadi tolong jangan seperti kemarin,harga diriku di pertaruhkan mas". Ucap Sulis, memandang lekat wajah Vino tengah menyetir mobil.


Mendengar ucapan Sulis, Vino merasa tidak nyaman dan ada benarnya juga. Seharusnya dia tidak seperti itu kemarin, membuat Sulis malu di depan orang-orang.


Sulis, menyunggingkan senyumnya sudah berhasil mengambil hati pria idamannya itu. Akhirnya aku berhasil mendapatkanmu mas, tidak sia-sia menunggu mu sampai berstatus duda.Batin Sulis, tersenyum manis dan membuang muka ke arah lain.


"Benar, seharusnya aku tidak seperti itu. Sama saja,aku merendahkan harga diri di depan Melody. Aku yang berpisah dengannya,tapi aku yang tidak terima. Makasih atas sarannya untuk ku, sungguh aku tersentuh mendengar ucapan mu". Vino, senyum-senyum sendiri dan merasa cocok dengan Sulis.


Sepertinya Sulis,tipe wanita yang aku cari dan bisa memberikan saran kepada ku. Pilihan bunda memang benar tidak salah,jauh berbeda dengan Melody.Batin Vino, matanya tertuju pada rumah sakit tempat Sulis bekerja.


"Makasih banyak mas, sudah mau mengantar ku bekerja". Kekehnya Sulis, wajahnya merah merona.


"Sama-sama Sulis, sekalian mau minta maaf kepada mu. Kalau sudah pulang nanti, hubungi aku yah? Aku akan mengantarmu pulang ke rumah, takutnya ibumu berpikir macam-macam sama aku". Kata Vino, mengedipkan sebelah matanya.


Sulis, mengangguk pelan dan tersenyum manis. Ini adalah impiannya selama ini,tak mungkin menyia-nyiakan begitu saja.


Melody, tersenyum sumringah ketika sampai di tempat kerjanya.


Sudah lama tidak bekerja dan kini kembali seperti dulu. Dia sambut hangat dengan rekan kerjanya dulu,masih sama kedekatan mereka.


"Wahhh... Akhirnya kamu kembali lagi, Melody. Kau tahu, aku dan lainnya senang sekali karena kamu kembali". Hira, bergelut manja di lengan Melody.


"Biasa aja kali,gak usah lebay. Hmmmm...Demi anakku tersayang, apapun akan aku lakukan". Kata Melody, mereka berjalan menuju ruang kerjanya.


"Mel, memangnya Vino tidak memberikan nafkah untuk anak kalian?". Tanya Hira, penasaran sekali.


"Kami menolaknya Hira,dia begitu angkuh kemarin. Papah, langsung bersikap tegas terhadap Vino. Sakit sekali tau,ketika mantan ibu mertuaku tidak lagi mengakui cucunya. Mungkin beliau terlanjur membenci keluarga kami,lalu melempiaskn amarahnya kepada anakku. Tidak masalah sih,jika itu pilihan beliau". Ucap Melody, berusaha tersenyum menyimpan kesedihannya.

__ADS_1


 "Mel,kamu yang sabar yah. Semoga saja, suatu hari nanti menemukan suami dan ibu mertua yang baik. Terutama mereka menyayangi anak mu, melebihi segalanya. Jujur Mel, aku semakin takut menjalin hubungan dan menikah. Melihat kamu yang gagal seperti ini, seakan-akan nyaliku langsung ciut". Hira,menyeka air matanya dan masih terbayang kegagalan asmaranya dulu.


"Hira,kamu jangan berpikir aneh-aneh deh. Percayalah kepadaku Hira, suatu hari nanti kamu mendapatkan jodoh yang baik lagi. Jangan menyerah yah, harus kuat melawan ujian". Melody, memeluk tubuh sahabatnya itu.


Hira, mengangguk pelan dan cekikikan menahan tawanya. Sepagi ini, mereka berdua saling bersedih meratapi nasib percintaan mereka.


Melody,juga ikutan tertawa kecil bisa-bisanya mereka galau sepagi ini. Seharusnya semangat bekerja,demi masa depan yang indah lagi.


* ******************


Di kantor Vino,tak sengaja menguping pembicaraan Randa dan Ilham. "Kemarin aku ketemu Melody,dia belanja di mall sendirian". Ucap Randa,sambil menikmati secangkir kopi panasnya.


"Seriusan! Wahh..Gak bilang-bilang kamu, padahal aku lagi di mall juga. Tapi, kenapa aku gak ketemu yah? Apa telat akunya, atau Melody sudah pulang". Kekehnya Ilham, memegang dagunya.


Apa! Randa, bertemu dengan Melody di mall. Sialan mereka ini,mau di embat mantan istri teman sendiri. Apa mereka tidak takut,jika nanti di rasuki iblis seperti ku kemarin. Nyali mereka berdua berani juga karena belum merasakannya.Batin Vino, menyunggingkan senyumnya. Menajamkan pendengar telinga tak sabar apa kelanjutannya obrolan Randa dan Ilham.


"Katanya belanja keperluan kerja hari ini". Jawab Randa, ketika Ilham bertanya kenapa Melody pergi ke mall.


"Baguslah, Melody mulai beraktivitas seperti biasanya. Aku senang mendengarnya dia menyibukkan diri dengan bekerja, otomatis bakalan move on sama mantan suami". Kekehnya Ilham,di ikuti oleh Randa.


Vino, mengepalkan kedua tangannya mendengar pembicaraan mereka. Entah kenapa,dia tidak terima Melody semudah itu melupakannya.


"Apa lagi yah,kalau Melody punya gebetan baru. Behhh...Aku yakin sekali, Vino bakalan iri hati terhadap Melody. sekarang Melody, tambah cantik tidak masalah dengan status barunya". Randa, mengedipkan mata.


"Benar itu, tidak masalah status janda dan punya anak satu. Tetapi, perilakunya patut di acungkan jempol karena tidak ada wanita seperti dia. Ketika suaminya dalam keadaan buruk,tanpa menyerah menyelamatkan nyawa suaminya. Wanita mana coba seperti Melody, pasti tidak ada lagi". Ucap Ilham, menepuk pundak Randa.


Vino, semakin panas mendengar obrolan mereka berdua dan mulai menjauhkan diri masuk kedalam ruang kerjanya.

__ADS_1


__ADS_2