AYUNAN BAYI

AYUNAN BAYI
Keriput


__ADS_3

"Pokoknya gak mau tau,mbak. Cari sampai dapat orang itu,ini semua kesalahan kalian. Kalau tidak mau, bagaimana dengan mereka anak dan mantu ku?". Bu Sonya, mencekal lengan kakaknya.


"Puas kamu,Ana! Inikan tujuan kamu menghancurkan kehidupan kami,puas!" Bentak Melody,ingin sekali menampar wajahnya itu. Sedikitpun tidak perduli dengan wajah Ana,yang buruk rupa.


"Kami beri waktu bi,kalau tidak ada tanda-tanda menemui orang itu. Maka bersiaplah untuk membawa kasus ini kepada pihak berwajib,gak mau tau pokoknya". Sahut Vino,masih berusaha mengontrol emosinya.


"Nak Vino,bibi juga gak tau. Dimana orang itu, tiba-tiba dikediamannya kosong melompong". Bi Fatma, menggenggam tangan adiknya. "Sonya,aku tidak bisa berbuat apa-apa melawan ilmu hitam ini yang begitu ganas. Ilmu kalah tanding,aku tidak sanggup bukan berarti aku tidak mau membantu".


"Mbak,aku gak mau tau yah. Pokoknya harus bisa menangkal ilmu hitam yang di kirim oleh seseorang itu,kalau tidak mau. Silahkan saja,aku mengizinkan menantu memasukkan kalian berdua dalam penjara!" Bu Sonya,tak main-main dengan ancamannya.


"Apa! Kamu ingin memasukkan mbakmu,ke dalam penjara? Apa kamu waras Sonya,aku adalah mbakmu". Bi Fatma,syok berat mendengar ucapan adiknya.


"Resiko mbak, inilah balasannya yang harus di terima. Siapa suruh melakukan ini,kalau tidak mau mengambil resikonya. Aku tidak perduli dengan mbak, meskipun kakakku sendiri. Bukankah semua ini, kesalahan mbak sendiri? Berpikirlah sebelum bertindak mbak,jangan memikirkan ambisius semata. Siapa suruh mengusik kehidupan anak dan mantuku,terima apapun resikonya". Bu Sonya, menghempaskan cengkalan tangan kakaknya.


Bi Fatma, memandang wajah adiknya dengan air mata mengalir deras. Berharap sang adik, mampu mengubah pikirannya.


"Buang air matamu,mbak. Aku tidak akan ikut campur urusan anak dan mantuku,ingat itu". Bu Sonya, pasrah apa yang di lakukan menantunya Vino.


"Apa yang di katakan mamah,memang benar bi. Kami akan memberikan pelajaran atas perbuatan, bibi. Mana mungkin kami melepaskan begitu saja, meskipun bibi adalah keluarga dekat kami". Sahut Melody,dia tidak memandang apa itu keluarga.


 "Kamu keterlaluan sekali, Melody! Apa kamu lupa,ibuku adalah bibi mu sendiri!" Pekik Ana, mengepalkan kedua tangannya.


"Tutup mulutmu,Ana!" Bentak Vino,tak terima Ana memarahi istrinya. "Apa kamu pernah memikirkan,jika Melody kelurga mu? Apa kamu pernah memikirkan perasaan, Melody? Nyatanya tidak,kau melakukan demi dirimu sendiri dan menyakiti banyak orang. Bahkan kau tega sekali, membohongi ibumu dan membalikkan fakta yang sebenarnya. Sehingga ibumu, menilai ku sangat buruk dan ingin menghancurkan keluarga kecil kami".


Glek


Ana, langsung menunduk kepalanya dan terdiam membisu.


"Mas,ayo kita kediaman dukun itu. Siapa tau,kita menemukan petunjuk di sana". Kata Melody, setidaknya berusaha bergerak mencari tahu.


"Benar juga,ayo". Vino, langsung menyetujui istrinya.


Bibi Fatma, memberikan sebuah alamat dukun tersebut. Sedangkan bu Sonya, membawa kakaknya dan Ana untuk bertemu dengan suaminya.

__ADS_1


Mau tak mau bi Fatma, menuruti perkataan sang adik karena takut ancaman Vino untuk memasukkan mereka ke dalam penjara.


 Beberapa menit kemudian, Melody dan Vino sampai di alamat tujuan mereka.


Terlihat jelas sangat sepi sekali,jauh dari rumah warga sekitar dan sedikit masuk kedalam.


Vino, meminta izin kepada sang pemilik untuk masuk kedalam. Beruntung sang pemilik mengizinkan mereka, melihat-lihat apa saja di dalam.


"Maaf, bagaimana ciri-ciri yang menyewa rumah ini?" Tanya Vino,kepada sang pemilik rumah sengaja di di sewakan.


Melody, melihat sekeliling dan mencari-cari sesuatu. Di dalam rumah, nampak bersih tidak ada yang mencurigakan apa lagi melakukan ritual mistis.


Hampir satu jam Melody dan Vino, mencari petunjuk di rumah itu. Namun hasilnya nihil, mereka memutuskan untuk pulang ke rumah orangtuanya Vino.


"Kata sang pemilik rumah tadi,dia orang tua berjanggut dan memiliki tato di punggung tangannya bergambar bintang. Cuman 3 hari orang itu,menyewa dan pergi entah kemana". Jawab Vino,sambil menyetir mobil.


Melody,mengusap wajahnya dan bingung harus bagaimana lagi. "Sekarang kita tidak memiliki petunjuk apapun lagi,mas".


"Yang sabar sayang, berdoalah kepada Allah SWT. Semoga kita mendapatkan petunjuk untuk menyelesaikan masalah ini,kamu yang sabar yah". Vino,menarik lengan istrinya dan merangkul.


 ****************


Malam harinya,satu keluarga sudah berkumpul di ruang tamu.


Bi Fatma, mencoba melakukan apa yang di bisa. Lagi-lagi dia memuntahkan darah segar, karena ilmunya tak kuat menahan ilmu hitam itu.


Ana, menangis melihat keadaan sang ibu berbaring lemah tak berdaya.


Bu Sonya,tak kuasa menahan air matanya dan memikirkan nasih anak dan mantunya itu.


Brak!


Brak!

__ADS_1


Pintu rumah terbuka lebar,angin berhembus kencang dan Vino terhempas jauh.


"Aaaaaaa....!" Yang lainnya berteriak-teriak histeris, melindungi diri masing-masing.


"Astagfirullah! Ya Allah! Astagfirullah!".


"Maa Vino! Mas!". Melody, berteriak-teriak memanggil suaminya di dalam karena tidak bisa keluar.


"Allahuakbar! Allahuakbar! Astagfirullah,Ya Allah!".


Pak Senjaya dan pak Marto, terus-menerus mencoba menenangkan mereka dan meminta perlindungan kepada Allah SWT.


Suasana mulai hening seketika, tidak ada angin berhembus kencang lagi. Keadaan rumah orangtuanya Vino, sangat berantakan,daun kering masuk kedalam dan berdebu.


Deg!


"Vino,kamu kenapa nak?" Bu Mega, terkejut melihat keadaan Vino tak sadarkan diri di belakang sofa.


Mereka yang penasaran melihat kondisi Vino, betapa terkejut melihatnya juga.


"Astagfirullah!". Ucap mereka bersamaan,syok apa yang mereka lihat.


"Aaaaaa....Mas,kamu kenapa mas? Mas! Mas!". Melody, meraung-raung menangis.


Bi Fatma dan Ana, membulatkan matanya dengan sempurna sungguh tak percaya dengan kondisi Vino.


Melody,terisak memandang wajah suaminya keriput tua dan kulit tubuhnya sedikit membiru. Di kelopak mata hitam,bibir menghitam dan badannya kurus seketika.


Bu Mega, mendekati besannya dan menatap tajam. "Kalau anakku tidak bisa kembali semula,jangan harap aku menganggap Melody sebagai menantu. Mana sudi memiliki besan, keluarganya bersekutu dengan iblis. Aku tidak akan tinggal diam,akan aku laporkan kasus ini".


Bu Mega, sangat marah dengan orangtuanya Melody. Sebagai seorang ibu,mana tega melihat anaknya seperti mayat hidup.


"Mah,istighfar jangan memperkeruh keadaan sekarang. Kita harus fokus dengan kesembuhan Vino,aku sudah berusaha mencari seseorang yang bisa mengobati Vino. Mereka juga tidak mau hal ini, tolong bersabarlah. Ingat mah,pandang cucuku kita". Pak Marto, berusaha membujuk istrinya.

__ADS_1


"Jeng, maafkan kesalahan kami. Kami juga tidak mau hal ini terjadi,kasian Melody jeng". Bu Sonya, syok berat mendengar ucapan besannya. "Lihatlah,apa yang terjadi mbak? Inilah ulah anakmu yang berbohong, semuanya hancur dan rumah tangga anakku di pertaruhkan".


Bi Fatma,tak bisa berbuat apa-apa lagi. Meminta maaf pun, percuma karena terlambat sudah. Menatap tajam ke arah anaknya, menundukkan kepalanya.


__ADS_2