AYUNAN BAYI

AYUNAN BAYI
Foto


__ADS_3

Vino, menghempaskan ponselnya di atas ranjang. Randa,mengirim sebuah foto dimana Ilham tengah menggendong anaknya. Dia mencari status WhatsApp Ilham,benar sekali tidak ada kemungkinan di privasi olehnya.


"Aarrrghh...Maunya apa sih, Ilham? Apa jangan-jangan dia sengaja membuat ku cemburu,atau ingin bermusuhan dengan ku. Aku yakin sekali, Ilham iri karena aku naik jabatan" Kata Vino, mengepalkan tangannya.


Mengusap rambutnya ke belakang,ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Vino,keluar dari kamar menuju dapur untuk makan malam bersama kedua orangtuanya.


"Tadi siang,pak Senjaya mengundang kita untuk menghadiri acara selamatan di kediamannya. Tapi,ayah tau kalian berdua tidak mau datang. Ayah, kebetulan sekali sibuk dengan pekerjaan" Ucap pak Marto, memandang ke arah istri dan anaknya.


"Lain kali mas,jangan berhubungan dengan keluarga aneh itu. Aku tidak suka dengan mereka,jangan membuat masalah di keluarga ini" Sahut sang istri, tidak suka mendengar kabar dari pak Marto.


"Astagfirullah! Mau bagaimana pun juga, Nalendra adalah cucu kita" pak Marto, menggeleng pelan.


"Bukan! Aku tidak memiliki cucu dari keluarga aneh itu,jangan mengungkit mereka lagi" Bentak bu Mega, meletakkan sendok di meja makan.


"Aku dan Melody, sudah selesai yah. Otomatis kita tidak ada sangkut pautnya dengan mereka, termasuk Nalendra. Aku juga tidak mau mengakui anak dari keluarga bersekutu dengan iblis,jangan sampai kita kenapa-kenapa lagi" Sahut Vino,tanpa menoleh ke ayahnya.


"Aku sudah kenyang" pak Marto, beranjak dari duduknya dan mengelus dada. Maafkan kakekmu cu, tidak bisa berbuat apa-apa.


"Aku heran sekali dengan ayahmu,Vin. Selalu saja membela keluarga mantan istri mu itu, menyebalkan sekali. Apa dia lupa,apa yang terjadi kepada mu? Gara-gara keluarga Melody, hampir membunuh mu itu" Decak bu Mega,masih memandang kepergian suaminya.


"Sudahlah,bund. Kita lanjutkan makan malam bersama,jangan memikirkan hal lainnya" Vino, mencoba menenangkan pikiran sang ibu.


"Bunda mau,kamu menjual rumah yang kalian tempati dulu. Bi Darna dan Dina,akan bekerja di sini yah. Setelah kamu menikah nanti, lebih baik tinggal di sini biar bunda ada temannya" Ucap bu Mega, menoleh ke arah anaknya.


"Iya,bund" Jawab Vino,mau tak mau harus menurut perkataan sang bundanya.


Bi Darna, menyeka air matanya karena tidak percaya dengan pikiran Vino. Apa kurangnya Melody, seorang istri yang baik tanpa kekurangan apapun.

__ADS_1


"Jadi kangen sama non Melody,bi" kata Dina, mendekati bibinya tengah duduk di kursi.


"Kalau ada waktu libur nanti,kita ke sana dan bertemu non Melody. Bibi,kangen sama Nalendra" Bi Darna, menghapus air matanya yang luruh.


****************


Sedangkan di kediaman orangtuanya Melody,acara selamatan sudah selesai.


Pak Senjaya, mengucapkan terimakasih kepada ustadz Yahya dan Ilham jauh-jauh sudah datang.


Ustadz Yahya, memberikan nasehat untuk Melody untuk bersabar dan ikhlas apa yang terjadi.


"Terimakasih, sudah datang mas Ilham" kata Melody, tersenyum kecil.


"Sama-sama, Mel. Terimakasih, sudah mengundang ku ke sini. Vino, uring-uringan di tempat kerja. Entahlah, mungkin dia kepikiran kamu dan anaknya" Ucap Ilham, menggaruk-garuk kepalanya.


"Masa sih,mas. Alhamdulillah,kalau dia masih memikirkan keadaan kami" Melody, berusaha tegar mendengar ucapan Ilham. Dirinya memang merindukan Vino,tapi mengingat apa yang terjadi. Hatinya terasa sakit sekali, begitu dalam luka di hatinya. "Mas,lain kali jangan membahas dia"


"Eee.. Gak papa mas,aku permisi ke dalam dulu" pamit Melody,tak nyaman berlama-lama dengan pria lain. Meskipun banyak orang masih di kediamannya,ada kerabat dekat juga.


Ilham, mengangguk pelan dan menatap kepergian Melody. Ada rasa lega rasanya melihat Melody, baik-baik saja dan tidak terpuruk terus-terusan.


 Ana, menyunggingkan senyumnya dan mendekati Melody di meja makan. "Aku turut berdukacita yah,atas perpisahan kamu dan Vino. Kau tau,ini bukan kesalahan ku atas perpisahan kalian. Vino sendiri yang mau pisah sama kamu, bukan karena kesalahan yang ibuku lakukan"


"Yah...Kamu merasa senang mendengar perpisahan kami, silahkan kamu dekati dia. Asalkan kamu tau,aku tidak perduli sama sekali" Melody,melirik tajam ke arah Ana bisa-bisanya bangga atas rumah tangganya hancur.


"Rupanya Vino, tidak mencintaimu dengan tulus. Buktinya saja,dia malah meninggalkan kamu dan anak kalian. Aduhhh...Yang sabar yah,Mel" Kata Ana, menyentuh pundak Melody dari arah belakang. Barulah Ana, meninggalkannya sendiri berusaha menahan air matanya.


"Nak,kamu yang sabar" Bisik sang ibu, mengelus lembut punggung belakang anaknya.

__ADS_1


"Gak papa,mah. Aku kuat kok,aku bisa melewati semuanya" Melody, berusaha tersenyum untuk membuang rasa khawatirnya sang mamahnya.


 "Ana,apa yang kamu katakan kepada Melody? Apa kamu belum puas,ha? Melihat rumah tangganya hancur, semua ini termasuk kesalahan kamu" Bi Fatma, mencekal lengan anaknya.


"Aku gak ngomong apa-apa sih,cuman Melody nya aja baperan" Jawab Ana, tersenyum manis ke arah ibunya.


"Ingat yah,Ana! Kamu jangan melakukan kesalahan apapun, sudah untung kita tidak di masukkan ke dalam penjara" Bi Fatma, menghempaskan cengkalan tangannya.


Ana, menghentakkan kakinya mendengar sang ibu.


Bi Fatma, mendekati suami adiknya itu dan tersenyum kecil. "Aku memerlukan uang 20 juta,ada masalah di restoran" katanya pelan dan melirik jangan sampai adiknya tau, seringkali pak Senjaya membantu kakak iparnya itu.


"Uang lagi? Aku tidak bisa membantu mu,mbak. 20 juta kemarin saja, tidak ada di bayar sama sekali. Bahkan sudah tega menghancurkan kehidupan anakku,maaf aku tidak bisa menolong" Pak Senjaya, berusaha menghindari kakak iparnya.


Rupanya bi Fatma,jauh lebih berani dan mencekal lengan adik iparnya itu.


Di balik pintu kamar Melody dan ibunya, tengah melihat apa yang terjadi.


Bu Sonya,tak kuasa menahan diri ketika sang kakaknya berani macam-macam terhadap suaminya.


"Bukankah masalah ini sudah selesai?" kata bi Fatma, mencegah kepergian pak Senjaya.


"Apa masalah anakku sudah selesai? Lihatlah, rumah tangganya hancur berantakan. Kurang apa aku terhadap mu, mbak? Selama ini,aku membantu mu tanpa menagih sedikitpun. Semuanya sudah aku katakan kepada istriku, adiknya mbak sendiri. Sedikitpun aku tidak memegang uang,cuman istri ku yang memegangnya" Pak Senjaya, berlalu melangkah pergi dan bergabung dengan bapak-bapak di luar rumah.


Raut wajah bi Fatma, terlihat sangat marah sekali. Merasa kesal karena tidak mendapatkan apa yang di inginkan,meremas ujung bajunya.


"Aku baru tau,mah. Kalau bibi Fatma, seringkali meminjam uang kepada papah" Ucap Melody,merasa risih dengan bibinya ketika mengetahui kebenarannya.


"Hmmmm...Papahmu, seringkali mengatakannya kepada mamah. Dia tidak suka dengan bibimu,apa lagi sekarang tinggal di sini. Mamah, tidak tau kapan mereka pulang?" Bu Sonya, tidak enak hati mengusir kakaknya dari sini.

__ADS_1


Melody, menggeleng pelan karena salah menilai bibinya itu.


__ADS_2