AYUNAN BAYI

AYUNAN BAYI
Lima Tahun Kemudian


__ADS_3

Lima Tahun Kemudian.


"Sayang,bangun yuk. Bukankah hari ini, pertama kamu masuk sekolah?". Melody, membuka tirai di kamar anaknya. Cahaya terang masuk kedalam kamar, seorang bocah berusia lima tahun menggeliat di tempat tidur.


Bocah itu, langsung bangkit loncat-loncat di atas ranjang. "Yes!Yes! Akhirnya aku sekolah mommy, pasti banyak teman".


Melody, tersenyum sumringah melihat ke arah anaknya sudah berusia 5 tahun. Tidak kerasa anaknya sudah sebesar ini,tapi dirinya masih setia sendiri.


Selama lima tahun terakhir ini, Melody lebih menyibukkan dirinya bekerja dan anak. Tidak memperdulikan dunianya sendiri, wajah anaknya memang mirip dengan mantan suami.


Terakhir bertemu dengan Vino, ketika memberikan undangan pernikahan. Melody, hadir di pernikahan mantan suaminya tapi jarak jauh saja.


Melody, telaten menyiapkan sang buah hati mengenakan seragam sekolah paud.


"Ayo,kita sarapan pagi dan berangkat sekolah sama mommy. Di bawah nenek dan kakek, sudah menunggu Nalendra loh". Melody, meraih tas anaknya di meja.


Anaknya sudah duluan kebawah berlari kecil,tak sabar memperlihatkan dirinya kepada nenek dan kakeknya.


"Kakek,nenek,aku besar dan hari ini pertama sekolah". Bocah lima tahun itu, kegirangan loncat-loncat dan mendekati kakek dan neneknya.


"Ya ampun, cucu kakek pintar dan sudah besar. Kakek,bangga punya cucu seperti ini". Pak Senjaya, selalu memanjakan cucunya itu.


"Cucu nenek tampan sekali,di sekolah harus rajin dan nurut sama ibu guru". Bu Sonya, mencubit pipi cucunya itu.


"Siap, Nalendra anak yang pintar nek". Jawab Nalendra,duduk di samping neneknya.


Melody, sudah menyiapkan sepiring nasi goreng spesial untuk sang buah hati. "Makan yang banyak nak,biar cepat besar lagi". Kekehnya Melody, meletakkan segelas susu di samping piring san anak.


"Melody,kamu sarapan juga yah. Pulang sekolah nanti, biar papahmu yang menjemput Nalendra". Kata bu Sonya, tersenyum kecil.


"Iya, mommy kerja aja yang semangat. Jangan memikirkan Nalendra,mom". Sahut Nalendra, begitu paham dengan keadaan ibunya.


"Aduh... Cucu kakek,nenek,memang pintar dan mengerti keadaan mommy yang sibuk". Bu Sonya,mengelus kepala cucunya.


Melody, terharu melihat anaknya yang paham dalam keadaannya ini. Ya Allah, terimakasih sudah memberikan anak yang memahami keadaan ku.Batin Melody, matanya sudah berkaca-kaca sekuat tenaga menahan air matanya.

__ADS_1


"Mommy,pulang kerja belikan mainan helikopter yah. Kemarin kakek menabrak helikopter ku,terus rusak tak bisa di mainkan". Rengeknya Nalendra, memandang lekat ke wajah ibunya.


"Jangan, pulang sekolah nanti kita ke mall beli helikopter untuk mu". Sahut pak Senjaya, langsung.


"Benar juga,kakek yang menabraknya harus ganti rugi yah. Uang mommy,aman karena menggunakan uang kakek". Kata Nalendra, sontak membuat yang lain tertawa terbahak-bahak mendengarnya.


Kehadiran Nalendra, membuat rumah ramai ada-ada saja cerita yang dibuatnya membuat orang lain ketawa.


"Ayah angkat hari ini, pertama masuk sekolah. Kapan kita bertemu ayah angkat,aku ingin bermain-main dengan mu". Ucap Nalendra, memandang foto Riko dan di simpannya ke dalam tas.


Sebenarnya, Melody mengetahui gerak-gerik anaknya yang menyimpan sesuatu. "Ayah angkat. Siapa dia?". Gumamnya,karena tidak mengetahui keberadaannya.


Melody,masuk kedalam mobil sudah di tunggu anaknya. "Kita berangkat yah, sayang".


Nalendra, langsung mengangguk pelan tak henti-hentinya tersenyum tak sabar sampai di sekolah.


Beberapa menit kemudian, Melody sudah sampai di sekolah anaknya. Membawa sang buah hati ke dalam, berbincang sebentar dengan guru yang tak lain adalah teman sendiri.


"Nin,aku nitip Nalendra yah? Kalau ada apa-apa hubungi aku,pulang sekolah kakeknya yang jemput". Kata Melody, segera meninggalkan sekolah anak.


"Kamu tenang saja, Mel. Serahkan sama aku, sebagai guru dan temanmu". Kekehnya Nina, tersenyum sumringah.


*******************


Sesuai janji pak Senjaya, menjemput sang cucu terus pergi ke mall membeli mainan.


Nalendra, nampak senang tak sabar memilih mainannya itu.


"Kakek, kenapa nenek tidak ikut?". Tanya Nalendra, matanya melihat ke arah depan.


"Nenek,ada teman yang datang tadi makanya gak ikutan". Jawab pak Senjaya, seringkali membawa cucunya kemana pun. Sekarang cucunya sekolah,tak bebas seperti dulu mengajaknya kemana.


Sesampai di mall,pak Senjaya membawa cucunya berkeliling sambil memasuki beberapa toko mainan.


"Pak Senjaya". Ucap seorang pria yang tak muda lagi.

__ADS_1


"Pak Marto". Kata pak Senjaya, terkejut bertemu dengan mantan besannya. "Apa kabar pak Marto?".


"Alhamdulillah, baik-baik saja. Gimana kabarmu dan keluarga mu". Tanya pak Marto, tertuju pada bocah kecil memilih mainan.


"Alhamdulillah, baik juga. Pak Marto,dia anak Melody dan...". Pak Senjaya, menggantung ucapannya.


Pak Marto, berjongkok di depan Nalendra matanya mulai berembun. Tidak menduga bertemu dengan cucunya, sudah lima tahun tidak bertemu.


Pak Senjaya, sengaja membawa keluarganya pindah keluar kota. Tak mau Melody, terus-menerus mengingat masa lalunya itu.


Nalendra, bingung melihat pria di depannya seumuran dengan kakeknya itu. Memeluk erat memandang wajahnya,menyeka air matanya sendiri. "Kakek,siapa dia?"


"Beliau adalah teman kakek, Narend. panggil saja kakek Marto,umur kakek sama". Jawab pak Senjaya,kepada cucunya.


"Oh, salam kenal kakek Marto. Kenapa kakek, tiba-tiba menangis?". Tanya Nalendra, sangat menyentuh hati pak Marto mendengar ocehan cucunya itu.


"Kakek, teringat sama cucu yang jauh. Kakek sangat merindukannya,maaf". Pak Marto, segera mungkin menyeka air matanya.


"Tidak apa kek, anggap saja aku adalah cucu kakek". Kata Nalendra, tersenyum manis.


Pak Marto,tak kuasa menahan air matanya dan kini bertemu dengan cucu semata wayangnya.


Nalendra, beliau adalah benar-benar kakekmu.Batin pak Senjaya,merasa sedih atas pertemuan mendadak ini.


Nalendra, bermain-main di Timezone. Pak Senjaya dan pak Marto, mengawasi dari kejauhan.


"Maafkan Melody,belum sanggup menceritakan semuanya kepada Nalendra. Usianya masih belia tak mungkin kami menceritakan, kasian dia karena belum memahami segalanya". Kata pak Senjaya, berharap mantan besannya paham.


"Aku senang sekali,jika dia tidak mengenal keluarga kami. Aku bahagia pak Senjaya, karena Melody membesarkan cucuku tanpa seorang suami. Aku malu sekali dengan mu, memiliki anak seperti Vino". Pak Marto, menghapus air matanya.


"Sudahlah,pak. Bagaimana kabar Vino, sudah memiliki anak?". Tanya pak Senjaya, menoleh ke arah pak Marto.


"Tidak, mereka ke sana-kemari periksa takut ada masalah. Namun nihil, mereka berdua baik-baik saja. Apakah ini teguran Vino, sudah menyia-nyiakan Melody?" Pak Marto, sudah menduga jika anaknya terkena kamar atas perbuatannya itu.


"Astagfirullah,kita tidak boleh berpikir aneh-aneh. Kemungkinan besar, mereka belum fi berikan kepercayaan oleh Allah SWT

__ADS_1


Doakan saja, semoga istrinya Vino cepat hamil". Pak Senjaya, mencoba menepis pikirannya itu.


Pak Marto, menggeleng pelan karena keluarganya tak sehangat itu. Sang istri selalu menuntut menantunya cepat-cepat punya cucu,karena usianya tak muda lagi.


__ADS_2