
Besok paginya, Melody menuju hutan terlarang tersebut dengan sendirinya. Dia meminta bantuan kepada Rena,ke alamat yang di berikan mbok Imi malam tadi.
Membawa bekal seadanya,dia menempuh perjalanan yang menanjak naik ke gunung. Melewati pepohonan besar,tinggi, suasana semakin mencekam. Hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya,namun rasa takut hilang ketika mengingat anak dan suaminya.
Penampilannya sudah acak-acakan,terus berhati-hati dan waspada takut ada binatang buas. Air matanya terus-terusan mengalir, sesekali dia menghapus.
Satu jam berjalan kaki, Melody sudah sampai di gua lumayan besar dan tempatnya sangat aneh. Pohon beringin besar,di gantung beberapa bunga yang sudah kering dan kain-kain juga.
Glek!
Melody, berlahan-lahan masuk kedalam gua dan mendengar suara aneh samar-samar. Seperti seseorang tengah komat-kamit mengeluarkan mantra,bau kemenyan sangat menyengat di penciumannya.
Melody, semakin dekat dengan tempat tersebut. Matanya calingukan melihat sekeliling,yang tampak aneh sekali.
Deg!
Dadanya berdegup kencang,di dalam tidak ada siapapun. Sebuah tempat duduk perapian masih hidup,dia yakin sekali ada seseorang di sini.
Huuuuu....
"Aaaaaaaa....!" Pekik Melody, tubuhnya terpental jauh dan mengenai dinding gua.
Bruukk...
"Aarrrghh.... Ssshhhhttt...!". Melody, berusaha bangkit dan melihat sekeliling yang gelap gulita.
"Aaaaaaaaa....!".
Bruuukk...
__ADS_1
"Aaaarrgghh...!" Lagi-lagi Melody, terpental jauh sampai keluar gua.
"Ha...Ha...Ha...Ha...!" Melody, berusaha mengontrol dirinya dan merasakan tubuhnya sakit sekali. "Aaaakkhh....!". Dia meringis kesakitan di bagian punggung belakang, terkena kayu yang menancap.
Melody, melihat kaki tengah mendekatinya dan mendongakkan kepalanya ke atas.
Deg!
"Riko" lirihnya pelan,berusaha untuk duduk merasakan sakitnya di bagian punggung belakangnya.
Netra mata Melody, memandang lekat seorang pria yang bertubuh besar, berkulit putih bersih, rambut panjang di ikat, wajahnya masih sama seperti 5 tahun yang lalu.
Air bening mengalir deras di kedua pipinya, Melody. Sesosok pria yang pernah di temui 5 tahun yang lalu, merajut cinta dengan waktu yang singkat. Masih ingat dengan sikap pria di hadapan ini,halus nada bicaranya membuat Melody jatuh cinta.
Cintanya tak bertepuk sebelah tangan, rupanya sang pengembala sapi jatuh cinta dengan pandangan pertama dengan gadis kota.
"Kau bersekutu dengan iblis! Memperdalam ilmu hitam di tempat keramat ini,kau iblis Riko!" Bentak Melody, menyeka darah yang keluar dari mulut. "Mana Riko,yang aku kenal dulu?".
"Uhukkk... Uhukk... Uhukk.." Melody, terbatuk-batuk dan mengeluarkan darah dan masih berusaha kuat.
"Hahahhaaha.... Hahahahha.... Kau datang ke sini,cuman ingin memuji ku atau ada tujuan lain". Seringai tajam Riko,duduk bersila di atas batu besar. "Riko, sudah lama mati ketika kekasihnya mengkhianati cinta mereka".
"Lepaskan suamiku! Jangan ganggu dia, Riko! Lepaskan dia,jangan kau siksa dia demi membalas dendam mu!" Teriak Melody, menahan rasa sakit luka di belakangnya.
"Hahahaha... Hahahhaa... Apa katamu Melody? Kau meminta aku melepaskan suamimu, kasian sekali kehilangan sesosok yang kau cintai. Bagaimana rasanya Melody,sakit bukan? Sama seperti aku dulu,kau tega menyakiti hati seorang pemuda desa yang tak tau apa-apa. Kau datang membawa cinta,penuh dengan kebahagiaan. Lalu,kau mencampakkan perasaan ku, meninggalkan ku dan menikah dengan pria lain". Riko, bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Melody.
Melody, berusaha memundurkan tubuhnya dengan tenaga yang ada.
"Cukup! Kau tidak tau apa-apa tentang ku,Riko! Aku mohon kepadamu, lepaskan suamiku. Aku sangat mencintainya, Riko! Aku mohon kepadamu, lepaskan dia! Jangan sakiti suamiku, Riko. Aku yang bersalah sudah meninggalkan mu, suamiku tidak tahu apa-apa. Aku mohon Riko, lepaskan dia!" Melody, memohon-mohon di kaki Riko. Dia tidak memperdulikan hal yang lainya, menyelamatkan suami adalah tujuan utamanya.
__ADS_1
Bughhh..
Riko, menendang Melody dan terpental dan tubuhnya terkena batu besar. "Menjijikkan sekali,kau berani menyentuh kakiku. Kau wanita licik, menjijikkan, tidak punya hati,munafik. Cuiihh...!". Riko,puas mengeluarkan amarahnya.
"Aku mohon kepadamu, Riko! Lepaskan suamiku,demi anakku dan biarkanlah aku yang tersakiti. Balas dendam kepada ku,jangan orang lain atau orang yang aku cintai. Aku mohon Riko,demi anakku!". Melody, bersujud di hadapan Riko berharap mendapatkan iba darinya.
Buliran air matanya terus mengalir deras,suara isak tangisnya terdengar jelas di telinga Riko. Berusaha fokus dengan balas dendamnya, menguatkan dirinya jangan sampai luluh dengan ucapan wanita yang sudah mencampakkan hatinya dulu.
"Aku mohon Riko, demi anakku!" Kata Melody, memandang wajah pria cinta pertamanya itu. Cinta pertama memang sulit di lupakan,masih ada di lubuk hati terdalam ada cinta dan kasih sayang untuknya.
"Sebenarnya, aku ingin menargetkan anakmu. Tapi,malah suamimu yang kena. Baiklah,aku akan mengabulkan permohonan itu. Kau yakin, ingin menggantikan posisi suamimu?". Riko, menyeringai tajam ke arah mantan kekasihnya itu.
"Iya,aku yakin sekali. Ini adalah cintaku yang tulus, ikhlas menggantikan posisi ku demi anakku". Ucap Melody, dengan nada tegas. Meskipun dirinya,tak yakin suaminya akan perduli dengan anaknya nanti.
Maafkan mamah,nak. Harus menggantikan posisi ayahmu, suatu hari nanti kau akan mengerti. Kakek dan nenek mu,tak akan kau kekurangan kasih sayang sedikitpun.Batin Melody, memejamkan matanya berlahan.
"Benar sekali,apa kata orang dulu. Mana mungkin seorang wanita kota,mau bersama dengan pria desa cuman pengembala sapi. Namun sayang,aku dibutakan cinta dan mengabaikan nasehat orang lain. Sehingga aku merasakan sakitnya,dimana cinta suci ku di khianati". Riko, mendelik tajam ke arah Melody yang tengah kesakitan.
"Terserah kau berbicara apa, Riko? Lepaskan suamiku! Biarkanlah aku menggantikan posisinya, sekarang juga!". Teriak Melody,tak sanggup lama-lama bertahan dalam keadaan seperti ini.
"Rupanya kau sangat mencintai pria kota itu, apakah dia mencintaimu juga? Apa jangan-jangan perjuangan sia-sia, Melody. Malam nanti,malam bulan purnama bersiap untuk menyembah dirimu. Akan aku kabulkan keinginan mu itu, lebih baik kau tiada rupanya". Riko, memejamkan matanya dan mengeluarkan mantra terdengar samar-samar.
"Berjanjilah untuk melepaskan suamiku,jangan pernah mengusik kehidupannya. Aku mohon Riko,aku tidak mau mereka menyalahkan kedua orangtuaku. Cukup kakek dan nenek, menyerahkan orang yang tidak bersalah". Melody,masih teringat dimana kakeknya berkuasa dan kejam.
"Ck, percuma kau menangis Melody. Hatiku tidak akan luluh dengan tangisan mu itu,kau adalah wanita licik dan memandang harta kekayaan. Aku tidak menyangka jika dirimu,tega mempermainkan perasaan orang lain". Riko, puas melihat Melody merintih kesakitan.
"Terserah kau ingin berbicara apa, Riko. Keluarkan semua kekesalan mu kepada ku, apa perlu kamu menyiksa ku ha? Agar kau puas membalas dendammu, tanpa penyesalan sedikitpun!". Teriak Melody, berusaha mengatur nafasnya yang ngos-ngosan.
Aku senang sekali melihat mu Riko,rasa rinduku terobati sekarang. Satu hal yang aku sesalkan di kehidupan ku ini, yaitu tidak bisa memiliki mu seutuhnya. Aku masih mencintai mu Riko, sampai detik ini meskipun sudah ada yang mengganti posisi mu.Batin Melody,menangis kesegukan bersandar di sebuah batu besar.
__ADS_1