
Hari demi hari berlalu, Melody beraktivitas seperti biasa. Pagi berangkat kerja,sore hari pulang dan menjaga anaknya.
Setiap hari minggu libur kerja, seharian full menemani sang buah hatinya. Seiring waktunya berjalan, Melody tidak memikirkan masalahnya itu.
Kedua orangtuanya Melody,merasa senang karena Melody sudah berubah tak sesedih biasanya.
Begitu juga dengan Vino, semakin dekat dengan Sulis. Terkadang mereka berdua jalan-jalan liburan, menghabiskan waktu bersama ketika cuti bekerja. Kali ini,Vino sudah mengutarakan perasaannya untuk menikahi Sulis. Betapa bahagianya Sulis, mendengar ucapan Vino sosok pria yang diidamkannya selama ini.
Hari ini, Melody mengajak sang buah hatinya ke mall. Sang baby sitter mendorong stroller bayi, sekaligus menjaga juga.
Melody,masuk kedalam toko pakaian anak-anak. Dia memilih beberapa pakaian untuk anaknya, sangat lucu dan menggemaskan sekali.
"Bu,cocok buat Nalend" Sila,sang baby sitter ikutan memilih juga.
"Wahh...Bagus banget Sil, makasih sudah memilihnya". Kata Melody, memandang lekat ke arah baju anak di tangannya.
Kebetulan sekali,Vino barusan keluar dari toilet dan menuju ke restoran di tunggu Sulis.
Deg!
Vino, menghentikan langkahnya melihat Melody tengah sibuk memilih pakaian anak. Matanya tertuju pada stroller bayi, pasti anaknya berada di sana. "Bukankah itu, Melody? Benar sekali,dia Melody dan di stroller bayi pasti anak kami. Tidak! Aku tidak mungkin ke sana, dengan alasan ingin bertemu Nalendra. Melody,nampak berbeda sekarang dan tambah cantik peris waktu muda dulu".
Dadanya berdegup kencang, langkah kakinya ingin maju ke depan. Tetapi,di urungkan niatnya ingin menemui sang buah hati. "Aaaarrgghh...Kenapa dengan ku,mana mungkin masih mencintainya?".
Tiba-tiba saja dia merasakan kerinduan kepada anaknya, sudah pasti Melody melarang melihat anaknya itu.
"Ada apa dengan ku?mana mungkin merindukan anak pembawa sial itu". Vino, lagi-lagi menepis perasaannya yang campur aduk.
Dia bergegas meninggalkan tempat itu, secepatnya menemui Sulis yang tengah menunggunya lama.
__ADS_1
Jangan sampai mendapatkan masalah lagi, bisa-bisa kehilangan sesosok Sulis yang sudah cocok menjadi istrinya. "Huuff...Aku sudah lama meninggalkan Sulis, semoga diangak marah". Gumamnya pelan,terus berjalan dan masuk kedalam restoran.
Vino,menghela nafas beratnya dan berekspresi biasa saja.
"Maaf,lama ke toiletnya tadi". Kata Vino, tersenyum kecil ke arah Sulis.
"Gak papa mas, kebetulan makanan kita baru datang kok". Jawab Sulis, mengulum senyumnya dan tersipu malu-malu.
Mereka berdua menikmati makan di meja,saling bercerita satu sama lain.
Akhirnya pernikahan kami tinggal sebentar lagi,aku tidak sabar menjadi istri mu mas.Batin Sulis, tersenyum semanis mungkin.
Deg!
Mata Vino, menangkap sesosok wanita yang dikenalnya. Dimana Melody mendorong stroller bayi dan melewati tempat makannya itu.
Benar sekali, Melody lewat bersama anaknya. Sial,kenapa perasaanku ini?. Batin Vino, mengepalkan tangannya dengan kuat.
Terlihat jelas dari raut wajahnya Melody,dia nampak bahagia sambil berbicara dengan baby sitter nya.
Mereka masuk kedalam toko pakaian dewasa, Melody memilih beberapa pakaian. Dia juga meminta Lisa, memilih pakaian yang di sukainya untuk dirinya sendiri. Anggap saja, sebagai bonus atas kinerjanya bagus.
Sila, merasa senang mendapatkan bonus dan memilih pakaian untuknya. "Makasih banyak,bu. Jadi ngerepotin loh, segala ada bonus". Kekehnya pelan.
"Hahahaha...Kamu ini,sana pilih pakaian yang kamu suka". Ucap Melody,senang membahagiakan seseorang yang perduli dengan anaknya.
Rupanya Sulis,membawa Vino masuk ke toko pakaian juga. "Pakaian di sini, bagus-bagus mas. Aku pengen beli deh, sudah lama gak belanja". Kata Sulis, langkahnya terhenti melihat sesosok wanita yang dikenalnya.
Deg!
__ADS_1
Lagi-lagi Vino, bertemu dengan Melody jantungnya berdegup kencang. Entahlah kenapa perasaannya tak karuan, melihat senyuman mantan istrinya itu.
Deg!
Melody, memandang wajah mantan suaminya bersama wanita lain tengah bergandengan tangan. Mas Vino,bersama wanita lain. Astaga! Wanita itu,yang aku lihat d restoran dulu. Aku yakin sekali, hubungan mereka bukan sekedar teman kencan.Batin Melody, memasang wajah datar.
"Sila,ayo kita pulang". Kata Melody,acuh melihat mantan suaminya yang terdiam membisu. Entahlah, semenjak kejadian d restoran itu. Aku sudah tidak memiliki perasaan apapun terhadap mu,mas. Semoga kamu bahagia dengan wanita pilihan mu,aku senang melihat mu senang. Yang aku harapkan adalah jangan mengganggu anakku dikemudian hari. Jangan menyesali dengan keputusan sendiri, apa lagi mengganggu kehidupan kami.
Sulis,meremas ujung bajunya karena Vino memandang wajah mantan istrinya tak berkedip. "Mas,kamu kenapa?". Bentak Sulis, memasang wajah masam.
"Maaf,aku tidak...Maaf!". Kata Vino, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Terpesona dengan kecantikan mantan istri,lupa melihat wajah anaknya.
"Kamu keterlaluan mas,mau menikah dengan ku tapi masih terpesona dengan mantan istri. Aku tidak mau seperti ini,mas. Jangan sampai kamu menyesalinya,ketika aku membatalkan pernikahan kita". Sulis,marah kepada Vino belum bisa melupakan mantan istrinya.
"Maaf, aku Tidak memandang wajahnya. Sulis,jangan berbicara aneh-aneh seperti tadi. Maafkan aku sayang,aku serius dengan ucapan ku ingin menikahi mu". Vino, berusaha membujuk calon istrinya itu.
"Oke,aku maafkan mas. Tapi,belanjain aku beberapa pakaian yang aku suka". Akhirnya Sulis,mengalah demi dapat traktiran Vino.
"Makasih, sudah memaafkan calon suamimu ini. Silahkan, pilihlah pakaian yang kamu suka". Vino, merasa senang karena Sulis mudah di bujuk rayunya.
Untuk kali ini,aku tidak boleh bersikap bar-bar di depan mas Vino. Kali ini,kamu selamat Melody dari amukan. Setelah mas Vino,sah menjadi suamiku akan aku maki habis-habisan dirimu yang sok kecantikan itu.Batin Sulis,tak mau gegabah dalam apapun biarkanlah mengalah sementara.
Gila! Apa yang aku lakukan tadi? Untungnya saja, Sulis bukan tipe wanita pemarah dan selalu memaafkan ku.Batin Vino,dia kagum dengan Sulis sabar menghadapi sikapnya itu.
Sulis, memilih beberapa pakaian yang harganya tak murah. Bagi Vino, tidak masalah demi menyenangi sang calon istrinya.
"Sulis,kenapa memilih pakaian seperti ini?" Tanya Vino, memandang pakaian yang kurang bahan.
"Emangnya kenapa,mas? Aku sengaja membeli pakaian seperti ini,demi menyenangi kamu". Jawan Sulis, tersenyum manis.
__ADS_1
"Aku lebih suka dengan pakaian tertutup, apa lagi seperti ibumu. Beliau selalu mengenakan pakaian gamis dan kerudung panjang. Tidak bisakah, kamu mengikuti pakaian beliau?" Tanya Vino, tersenyum manis dan mengelus punggung tangan Sulis.
Sulis, terkekeh geli mendengar ucapan Vino. "Gak mas,tumben kamu ngomong seperti itu? Bukankah,mantan istri mu tidak berpakaian sama dengan ibuku? kapan-kapan saja,aku mengenakan pakaian seperti itu. Ya sudah,aku mau milih pakaian lagi". Sulis, segera menjauhkan diri dari Vino. Jantungnya berdegup kencang,jangan sampai kecoplosan saat ini.