AYUNAN BAYI

AYUNAN BAYI
Sadar


__ADS_3

"Melody,ada apa nak? Katakan sama mamah,ada apa nak?". Bu Sonya, menangkup wajah anaknya dan memeluk erat tubuhnya.


"Papah,mah! Papah,papah, kecelakaan mah. Hiks.....Hiks...Ini salahku mah, sudah mengizinkan papah pergi. Ini salahku mah,papah kecelakaan gara-gara aku".


"Sabar nak,ayo kita ke rumah sakit dan temui ayahmu". Bu Sonya,tak kuasa menahan tangisnya mendengar sang suami kecelakaan ketika ingin pulang dari desa.


Sepanjang perjalanan Melody,tak henti-hentinya menyalahkan diri sendiri. Bu Sonya, mencoba menenangkan anaknya karena dia tak sepenuhnya salah.


Tiba di rumah sakit, Melody dan sang ibu berlarian ke ruangan pak Senjaya di rawat.


Melody,semakin histeris menangis melihat keadaan ayahnya terluka parah. "Papah, maafkan Melody. Ini semua salah Melody, sekarang papah menjadi korbannya. Maafkan Melody,pah".


"Mas,bangun! Ini aku mas". Lirih bu Sonya, memeluk suaminya berbaring lemah di ranjang pasien dan tak sadarkan diri.


Pak Senjaya, mengalami cedera serius di bagian kakinya. Sang sopir cuman mengalami luka ringan,bisa berjalan normal.


Mendengar kecelakaan pak Senjaya, malah membuat bu Mega tersenyum dan mengumpat dalam hatinya. Bahkan dia juga melarang suaminya, untuk menjenguk keadaan besannya itu.


Melody, semakin kecewa dengan sikap mertuanya yang biasa saja. Ketika mendengar keluarganya mendapatkan musibah, berharap mendapatkan rasa simpati namun caci maki yang di dapat.


"Itulah akibatnya bersekutu dengan iblis,kena akibatnya sendiri kan". Ucap bu Mega, dengan lantang melalui panggilan telpon Melody.


Melody, berisap-siap untuk menempuh perjalanan jauh. Dia ingin pergi ke rumah seseorang, semoga mendapat petunjuk di sana.


Bu Sonya, mengizinkan anaknya pergi dan berharap tidak terjadi apa-apa.


Beberapa menit kemudian setelah kepergian Melody,pak Senjaya sudah sadar diri.


Bu Sonya, terharu melihat suaminya sudah bangun dan mulai bisa berbicara sedikit demi sedikit.


"Maafkan aku, sudah berusaha mencari yang bisa menyembuhkan menantu kita. Tetap, mereka tidak mau menolong karena tidak sanggup. Bagaimana dengan Melody, pasti dia sangat terpukul dengan ucapanku? Maafkan papah, tidak banyak membantu nya".

__ADS_1


Kata pak Senjaya, buliran air mata berjatuhan di sudut matanya.


"Jangan salahkan dirimu mas, berdoalah semoga mendapat petunjuk dari Allah SWT. Fokuslah pada kesembuhan mas,jangan banyak pikiran". Bu Sonya, menghapus air matanya mengalir deras.


"Papah, tidak akan memaafkan diri ini. Kalau rumah tangga anak kita hancur,papah tidak rela melihat Melody sakit hati atas kehilangan suaminya". Pak Senjaya, terus-terusan memikir anaknya Melody.


"Mau bagaimana lagi,pah. Semoga nak Vino, memilih Melody dan mempertahankan rumah tangganya. Jangan sampai dia, terpengaruh dengan ucapan ibunya". Bu Sonya, berharap menantunya tak akan melepaskan Melody. Tidak terbayangkan melihat anaknya, sakit hati karena kehilangan sesosok suami yang di cintainya.


*******************


Melody, sampai di desa kakek dan neneknya. Dia disambut hangat oleh paman,bibi dan keluarga di sana. 4 tahun lamanya,dia tidak ke sini karena takut dengan suaminya. Biasanya paman dan bibinya, berkunjung ke rumah orangtuanya dan berkumpul di sana.


kakek dan neneknya, sudah meninggal 6 tahun yang lalu, tetapi paman dan bibinya masih berpegang ritual-ritual leluhur sejak zaman dulu. Mematuhi adat istiadat setempat,jika hal makhluk halus dan sejenis lainnya masin di percaya mereka.


Kedua orangtuanya Melody, terbilang keturunan keluarga kaya raya dan terpandang di desa mereka masing-masing.


Malam harinya, Melody memasuki perkarangan rumah yang di kenalnya sejak dulu. Keadaan rumah tersebut, terbilang cukup besar dan dedaunan kering,debu sekali di teras. Dia berusaha masuk kedalam rumah, memalui jendela dan berhasil masuk kedalam. Dia bersama Rena, sepupunya yang menemani.


"Sudah aku katakan tadi,jangan ikut masuk kedalam dan diam di mobil saja" Melody, cengengesan melihat adik sepupunya itu.


"Yee...Mana mungkin kak,aku membuang waktu di dalam mobil. Siapa tahu,aku menemukan sesuatu". Kekehnya Rena, calingukan melihat sekeliling yang gelap gulita. Mereka berdua cuman menggunakan senter, Melody mengambil lampu duduk dan menghidupkannya.


Ruangan sekarang terlihat terang, tidak segelap tadi dan aliran listrik terputus karena sudah lama tak terpakai. Mata Melody, tertuju sebuah bingkai foto seorang laki-laki memeluk anak kecil tengah tersenyum.


"Siapa laki-laki ini, apa kak Melody mengenalinya?" Tanya seorang perempuan masih sekolah SMP ini,dia bersifat ingin tahu.


"Dia Riko dan adiknya Suci. Sekarang mereka dimana,kau mengenal perempuan ini? Dia seumuran dengan mu". Melody, menunjukkan jarinya ke sebuah gambar perempuan berlesung pipi.


Rena, memandang lekat gambar tersebut dan menggeleng pelan. "Hmmm... Tidak tau kak,aku foto dan menyebarkan di group WhatsApp. Siapa tau,dia bersekolah di desa sebelah dan sebelah lagi. kenapa kak Melody, tersenyum melihat gambar pria ini? Apa jangan-jangan ada sesuatu di masa lalu, belum selesai nih". Ejek Rena, cengengesan sambil mencolek pinggang Melody.


"Dia pernah menjadi seorang pria yang spesial di hati ini, sebelum digantikan oleh suamiku". Melody,masih teringat jelas masa-masa indah itu.

__ADS_1


Ceklekk...


Deg!


Melody dan Rena, terkejut mendengar seseorang membuka pintu rumah dan mereka bergegas bersembunyi dibalik lemari.


Benar sekali, seorang wanita tua tengah masuk kedalam dan menggunakan lampu di tangannya. "Astaga! Siapa yang masuk kedalam rumah ini? Pasti dua sepasang kekasih tengah di mabuk cinta,keluar kalian! Jangan melakukan maksiat di desa ini,keluar!".


Wanita tua itu,terus melihat sekeliling dan mulutnya tak henti-hentinya mengomel.


Akhirnya Melody dan Rena, keluar dari persembunyiannya.


Glek!


"Siapa kalian? Kenapa,masuk kedalam rumah ini?" Bentak wanita tua itu, memandang tajam ke arah Melody dan Rena.


"Hehehehe... Mbok Imi,masa lupa sama aku Rena anak pak Jo dan bu Ineh". Rena, langsung maju dan memperkenalkan orangtuanya. "Dia adalah Melody, cucu dari kakek Jaya dan nenek Diana".


"Salam kenal nek,saya cucu kakek Jaya dan nenek Diana. Kami ke sini, ingin bertemu dengan dia". Melody, menunjukkan foto laki-laki tersebut.


"Oh,kamu cucu temanku dulu. Maaf,mbok tadi marah-marah karena takut orang lain yang masuk dan berbuat maksiat di dalam rumah ini. Ayo,kita duduk dulu nak".


Rena, mengacungkan jempolnya dan duduk santai. Melody, tersenyum dan menggeleng kepala melihat kelakuan adik sepupunya ini.


"Sebenarnya, sudah lama tidak bertemu dengan nak Riko. Beberapa bulan yang lalu,mbok pernah melihatnya masuk kedalam hutan terlarang di desa sebelah sana. Kemungkinan, Riko tinggal di sana nak. Memangnya kenapa, mencari nak Riko?". Tanya Mbok Imi, memandang lekat wajah Melody. "Sepertinya kamu banyak masalah, terlihat jelas dari raut wajahmu. Istirahat lah nak,jaga kesehatan ini".


Melody,tak kuasa menahan air matanya. Memang benar bahwa dia sudah lelah, menghadapi masalah ini. "Aku ingin bertemu dengannya mbok".


Brakkk...


Deg!

__ADS_1


__ADS_2