
Empat jam perjalanan menuju ke luar kota, akhirnya Vino sampai di sebuah hotel. Di sepanjang perjalanan, Melody terlihat gelisah gusar dan berharap kecurigaannya tidak salah dan sang bibi lah pelakunya.
"Ngapain kita ke sini,mas? Gak ada waktu buat istirahat dulu, lebih baik ke rumah bibi Fatma langsung" kata Melody, menoleh ke arah suaminya.
"Tenang sayang,kita tidak mungkin menggunakan mobil ini ke rumah bibi Fatma. Jangan sampai bibi mu mengetahui kedatangan kita, tunggu sebentar sayang. Teman mas, sudah mau sampai untuk mengganti mobil kita". Vino, mengelus lembut rambut istrinya.
Melody, mengikuti langkah suaminya memasuki hotel dan memesan kamar.
Tak berselang lama, teman Vino datang dan menyerahkan kunci mobilnya.
Barulah Melody dan Vino berangkat menuju ke rumah bibinya memerlukan waktu 20 menit.
"Kamu laper sayang? Kalau laper kita bisa makan dulu". Vino, menggenggam tangan istrinya.
"Gak mas,aku tidak lapar kok" Jawab Melody, bersandar di bahu sang suami.
Deg!
Perasaan Melody, bercampur aduk tak karuan. Dia semakin gelisah karena tak sanggup apa yang terjadi nanti.
Cuman berjarak beberapa meter dari perkarangan rumah bibi Fatma, Vino mematikan mesin mobilnya di sebuah taman yang tak jauh.
"Ayo,kita harus ke sana dan jangan sampai ketahuan bibi Fatma". Vino, menarik lengan istrinya dan berjalan calingukan. Kebetulan sekali, sekitar komplek perumahan terlihat sepi senyap.
Melody dan Vino, mengendap-endap mendekati jendela rumah bibi Fatma dan terdengar suara tangisan seorang wanita.
"Sepertinya suara Ana,yang menangis itu mas. Tapi,kenapa yah?". Bisik Melody, penasaran sekali.
"Husss...Kita ke pintu belakang sayang,agar kita bisa masuk dan melihat apa yang terjadi". Vino, berhati-hati berjalan kaki jangan sampai terdengar bibi Fatma dan anaknya.
Deg!
Vino, langsung menghentikan langkahnya melihat bibi Fatma dan Ana masuk kedalam gubuk bambu tua tepat di belakang rumahnya.
__ADS_1
"Hussssttttt... Sepertinya bibi mu, masuk kedalam gubuk bambu itu. Kamu tau tidak, isinya apa sayang?" Tanya Vino, menatap wajah istrinya.
"Gak tau mas,kata bibi cuman gudang dan aku gak pernah ke sana". Jawab Melody,semakin penasaran lah dirinya ingin mengetahui lebih. Ya Allah,apa yang di lakukan bibi di sana? Apa jangan-jangan bibi, melakukan ritual itu.
Berlahan-lahan Melody dan Vino, mendekati gubuk bambu itu dan ingin mendengar pembicaraan mereka di dalam.
Melody, melihat dari celah-celah kecil dan terkejut melihat di dalamnya penuh dengan cahaya lilin.
Terlihat jelas bibi Fatma,tengah komat-kamit mengeluarkan mantra dan menabur sesuatu di perapian. Sedangkan Ana,duduk di hadapannya dan menangis kesegukan.
Vino, sudah tak sanggup apa yang di saksikan dan langsung menggerebek pintu gubuk bambu tersebut.
Brakkk...!
Deg!
Bibi Fatma dan anaknya, terkejut siapa yang datang ke gubuk bambu mereka.
Glek!
Melody, melotot sempurna melihat wajah Ana buruk rupa seperti terbakar. "Wajahmu,Ana". Dia menunjukkan jarinya tepat ke Ana, langsung tertunduk malu.
"Aaaaaa.... Wajahku! Wajahku!". Teriak Ana, meringkuk di sudut gubuk.
"Apa yang bibi, lakukan!" Pekik Vino,menatap tajam kearah dinding menunjukkan sebuah gambar dirinya dan Melody.
"Itu...Itu...!". Bibi Fatma, bingung harus menjawab apa. Sialan,kenapa aku tidak mencurigai mereka akan ke sini dan melihat apa yang terjadi. Aaarghhh... Semuanya gagal,kenapa gagal lagi?.
"Jangan-jangan ilmu hitam di kirim oleh seseorang kepada kami adalah bibi pelakunya? Jawab bi,ini apa maksudnya?" Melody, sudah tak kuasa menahan dirinya.
"Bibi Fatma, sungguh tega melakukan hal ini kepada keluarga kami. Semuanya sudah terbukti bibi,karena bibi bersekutu dengan iblis". Bentak Vino, langsung mengambil gambar dirinya dan sang istri.
"Tidak! Bibi, tidak melakukan apapun kepada kalian. Melody, percaya dengan bibi nak. Memang benar,bibi ingin menghancurkan keluarga kalian karena Vino. Semua ini, gara-gara Vino suamimu Melody!" Teriak bibi Fatma, menoleh tajam ke arah Vino.
__ADS_1
"Bibi Fatma, benar-benar jahat! Puas melihat kami ketakutan,ha? Puas,bi! Membuat keluarga kami tidak tenang, selalu di hantui makhluk halus!" Melody, menahan dadanya terasa sesak. "Segitunya kah bi, ingin menghancurkan keluarga kami dan bersekutu dengan iblis".
"Aku tidak bersekutu dengan iblis!". Bantah bi Fatma, langsung. "Bukan aku pelaku yang mengirim ilmu hitam kepada kalian,bukan aku Melody!".
"Oh,jelaslah bukan bibi pelakunya. Tetapi,bibi bisa membayar seseorang untuk melakukannya kan? Jawab,bi!" Kata Vino, mengepalkan kedua tangannya.
"Iya,semua itu salah mu Vino!". Sahut Ana, berdiri tegak dan menyeringai tajam. "Ibuku, meminta bantuan kepada seseorang untuk membalas sakit hatiku gara-gara kamu!"
"Jaga omongan mu itu,Ana! Aku tidak pernah menyakiti perasaan mu,jangan menuduh macam-macam". Bantah Vino,tidak terima dengan perkataan Ana.
"Melody, kenapa bibi tidak menyukai suamimu ini karena dia sudah meninggal Ana dan menikah dengan mu. Aku sebagai ibunya, tentu tidak terima dengan perlakuan Vino. Apapun caranya akan bibi lakukan, untuk membalas dendam atas anakku". Ucap bibi Fatma, tersenyum smrik.
"Kau benar-benar licik Ana,demi ambisi untuk memiliki dan membohongi ibu mu sendiri. Kasian sekali kamu,Ana. Asalkan bibi tau, jika Ana lah yang meninggalkan ku dan berselingkuh di belakang. Asalkan bibi tau,Ana berselingkuh karena malu memiliki kekasih cuman staf kantor biasa. Setelah aku naik jabatan, barulah Ana datang dan memohon kembali kepadaku lagi. Namun sayang,aku tidak sudi dengan seseorang yang sudah berselingkuh dan berkhianat". Vino, menceritakan tentang kebenarannya.
"Tidak! Ibu,dia berbohong dan jangan percaya dengan ucapannya. Vino,kau benar-benar licik dan ingin benar di mata istri mu kan. Aku tau,kau takut kehilangan Melody dan berusaha menutupi kebusukan itu". Ana,mengelak tuduhan Vino.
"Aku tidak berbohong kepada,bibi. Semuanya memang benar,Ana yang sudah berselingkuh dan berhubungan di sebuah hotel. Kalau tidak percaya,akan aku buktikan sendiri. Lalu,aku akan menyeret pria itu di hadapan bibi". Vino,tak main-main dengan ucapannya. "Asalkan bibi tau,bukan aku saja saksi perselingkuhan Ana. Akan tetapi,banyak teman-teman menyaksikannya".
Ana,luruh sudah di lantai tak sanggup rasanya jika Vino menyeret pria itu. Masih teringat kejadian silam,dimana dirinya benar-benar di buat trauma.
Deg!
"Lalu,bibi percaya dengan ucapan Ana? Membalas dendam kepada suamiku, ingin menghancurkan keluarga kecil kami. Aku benar-benar kecewa kepada bibi, sakit sekali bi". Melody, terisak dalam tangisnya.
Plak!
Bibi Fatma, menampar wajah anak semata wayangnya itu. "Kenapa kamu berbohong kepada ibu,Ana? Kenapa,Ana? Lihatlah atas kebohongannya mu, wajahmu rusak". Teriak bi Fatma, menekan kedua bahu Ana.
"Hiks...Hiks...Hiks... Maafkan aku bu,aku terpaksa berbohong karena tidak rela melihat Melody menjadi istrinya Vino. Aku sungguh menyesali perbuatanku, sudah meninggalkan Vino". Ana, berlutut di hadapan sang ibu.
"Mbak Fatma!". Pekik keras dari seseorang, tatapan matanya begitu tajam menahan amarah.
Deg!
__ADS_1