AYUNAN BAYI

AYUNAN BAYI
Surat Perceraian


__ADS_3

Kedua orangtuanya Melody,merasa senang atas kedatangannya dalam keadaan baik-baik.


Melody, merasa senang melihat keadaan ayahnya sudah pulang kerumah. Di sisi lainnya,merasa sedih karena sang suami tak kunjung memberikan kabar.


"Nak,kamu pergilah temui suamimu" kata bu Sonya, mengelus lembut punggung anaknya.


Melody,tengah menggendong sang buah hati sangat merindukannya itu. "Untuk apa mah, suamiku tidak memperdulikan ku lagi. Aku sudah lelah sejauh ini,terus berkorban dan meninggalkan anakku. Jika memang mas Vino, benar-benar mencintaiku dan mempertahankan rumah tangga ini. Seharusnya dia menghubungi ku,lalu menjemput kami. Nyatanya sampai detik ini,dia tidak ada mengirim pesan kepada ku".


Melody, terlanjur kecewa dengan sikap suaminya dan sudah pasti berpihak kepada sang bundanya.


"Nak,jangan berpikir aneh-aneh tentang suamimu. Pergilah ke rumah mertuanya, temui nak Vino. Sebagai seorang ayah, tidak mau melihat rumah tangga anaknya hancur" kata pak Senjaya, tersenyum masih duduk di kursi roda.


"Aku lelah pah,aku ingin tau dimana perjuangan mas Vino. Jika dia benar-benar meninggalkan ku, tidak apa pah. Aku ikhlas menerima semuanya,tak ada cinta yang tulus selain Riko. Dia benar-benar mencintai ku, tidak akan pernah aku menemui sesosok pria seperti dia". Melody,menyeka air matanya dan merasakan dadanya sesak.


"Maafkan papah,nak. Tidak mampu melawan kakekmu waktu itu, kini kamu terluka karena sekarang. Maafkan papah, tidak becus menjadi seorang ayah" pak Senjaya, tidak mempermasalahkan jika anaknya menikah dengan siapapun. Akan tetapi,dia takut dengan ayahnya yang berkuasa.


 "Melody, pergilah ke rumah mertuanya. Setidaknya kamu berusaha di sana,diterima atau tidaknya. Bukan salah mu sayang, buktikan kalau kamu mencintai nak Vino. Jika kamu di tolak di sana,bukan salahmu di kemudian hari". Bu Sonya, terus-terusan membujuk anaknya.


Melody, mencerna perkataan sang ibu dan barulah dia menurutinya.


Dengan berat hati, Melody pergi bersama sang sopir kerumah ibu mertuanya. Memerlukan waktu sekitar satu jam perjalanan,jarak lumayan jauh dari tempat tinggal orangtuanya Melody.


Melody, bersandar dan menatap keluar jendela mobil. Masih teringat masa-masa indah bersama, Riko. Kalung pemberian Riko,dipakainya dan memegangnya.


Maafkan aku Riko, cintamu kepadaku ternyata tidak berubah.Maafkan aku sudah berbohong kepada mu,demi menyelamatkan nyawa mu. Sekarang kamu berkorban demi kehidupan ku,bersama orang yang aku cintai. Maafkan aku,aku tidak bisa berbuat apa-apa saat itu. Aku harus memilih meninggalkan mu Riko, karena aku mencintaimu dan tidak mau kau kenapa-kenapa.Batin Melody, menangis kesegukan.


 **************


"Maaf non,kata penjaga gerbang anda tidak diperbolehkan masuk kedalam oleh bu Mega".


Deg!


Dadanya terasa sesak mendengar ucapan sang sopir, rupanya sang ibu mertua tidak mau dia menemui anaknya lagi.

__ADS_1


"Ya Allah, begitu tega sekali. Mereka tidak mengizinkan ku masuk kedalam,sakit sekali". Kata Melody, menangis dan memandang pintu gerbang menjulang tinggi.


Sang sopir langsung iba melihat sang majikan,karena tidak di perbolehkan masuk kedalam.


"Non, ibu meminta kita pulang. Tapi, terserah non saja mau kemana". Ucap sang sopir, menoleh ke belakang.


"Kita ke rumah suami dulu,pak" perintah Melody, langsung di angguki sang sopir.


Memerlukan 20 menit perjalanan, mereka sampai di perkarangan rumah Vino.


Melody,keluar dari mobil dan memandang ke arah rumah suaminya. Dimana rumah tangganya dulu, baik-baik dan penuh dengan kebahagiaan.


Melody, melangkah kakinya menuju pintu rumah dan membukakan kuncinya. Beruntung sekali,masih ada keponakan pak Hermon menjaga di depan.


Tangisnya semakin pecah, mengingat kembali masa-masa indah bersama suaminya. Dimana mereka sepasang pengantin baru, menjalani rumah tangga,hamil dan memiliki seorang anak.


Melody,membuka pintu kamar dan mengingat kemesraan mereka berdua. Di atas ranjang tempat bermadu kasih sayang,tanpa di ganggu oleh siapapun.


Sungguh sulit untuk dilupakan oleh Melody, sesosok Vino mampu melupakan sang mantan kekasihnya.


Setelah selesai semuanya, Melody meninggalkan rumah suaminya itu.


************


Hari demi hari berlalu, Melody terkadang termenung di dalam kamarnya. Dia menghabiskan waktu bersama sang buah hati. Satu pesan mu tidak ada dari sang suami, hilang bagaikan di telan bulan.


Melody,enggan juga mencari tahu suaminya. Sudah cukup atas pengorbanannya selama ini, nyatanya tak pernah di hargai sedikitpun.


Bu Sonya dan pak Senjaya,merasa iba kepada sang anaknya. Beberapa kali pak Senjaya kerumah besannya itu, lagi-lagi di tolak terus-terusan.


Pada akhirnya Melody, angkat bicara dan jangan menemui mereka lagi. Jangan lagi, merendahkan harga diri demi belas kasian kepada mereka yang tak punya hati.


Satu bulan berlalu,Vino ingin menemui Melody dirumah orangtuanya.

__ADS_1


Orangtuanya Melody, mempersilahkan masuk kedalam dan meras senang atas kedatangan sang menantu.


Bu Sonya, tersenyum sumringah kedatangan Vino mungkin menjemput Melody.


Nyatanya salah besar, Vino membawa surat perceraian mereka. Orangtua mana yang tidak sakit hati, tanpa kabar apapun anak mereka di gugat cerai begitu saja.


"Nak Vino,jangan mengambil keputusan sendiri. Apa kamu tidak memikirkan perasaan Melody dan anak kalian?" Tanya pak Senjaya, masih bernada rendah hati.


"Apa kamu tidak menyesali keputusan ini, coba kamu pikir baik-baik lagi". Sahut bu Sonya, mencoba menahan air matanya.


Vino, menarik nafas dalam-dalam dan hembuskannya. "Aku sudah memikirkannya sebelum bertindak, berpisah adalah jalan terbaik".


"Baiklah,jika ini kehendak mu nak. Kami sebagai orangtuanya Melody, tidak memaksa kehendak mu. Kami tidak sanggup melihat keadaan Melody,dia sangat terpukul atas kepergian mu. Bahkan satu bulan lamanya,kau begitu tega memperlakukannya sangat buruk" Bu Sonya, menyeka air matanya dan kecewa berat dengan Vino.


"Tenang saja,aku akan mengirimkan uang untuk nafkah anak kami. Aku tidak akan melalaikan kewajiban ku, sebagai seorang ayah" Vino, menyerahkan kartu kredit kepada orangtuanya Melody.


Pak Senjaya, mengepalkan kedua tangannya dan terasa terhina atas sikap Vino. "Ambillah kartu kredit itu,kami sebagai kakek dan neneknya. Masih mampu memberikan apapun kepada cucu kami, maupun kasih sayang. Kami tidak ingin belas kasian darimu,Vino. Kau sudah memutuskan hubungan ini,maka selesailah antara keluarga. Kau tidak di perbolehkan menemui anakmu, maupun Melody. Aku harap kamu tidak akan pernah menyesali, sekarang keluar dari rumah ini!" Tegas pak Senjaya, sorotan mata memerah manahan amarahnya. Jari telunjuknya mengarah ke arah pintu luar,sontak membuat Vino terkejut.


"Baik,saya akan keluar dari sini. Mana sudi aku berlama-lama di sini,kalian memang tidak pantas di beri hormat. Kalian keluarga tidak wajar, mempercayai hal mistis dan memiliki keluarga bersekutu dengan iblis" Vino, beranjak berdiri dan berjalan menuju pintu luar.


"Tunggu!" Bu Sonya, menghentikan langkah Vino berbalik badan.


Bu Sonya, langsung mengambil kartu kredit dan menggunting menjadi dua. "Tidak sudi cucuku menggunakan uang dari ayahnya yang keras kepala, tidak punya hati, bahkan melebihi iblis" Langsung melempar kartu kredit yang terbelah dua,ke arah Vino yang marah padam.


Vino, langsung membalikkan badannya dan pergi meninggalkan kediaman mantan mertuanya itu.


Di balik pintu kamar, Melody mendengar pembicaraan mereka dan masih melihat Vino jauh lebih baik.


Bu Sonya langsung memeluk anaknya yang menangis tersedu-sedu di dalam kamar.


Pak Senjaya, terduduk lemas di atas sofa dan memijit pelipisnya.


Sedangkan Vino,menangis ketika meninggalkan kediaman mantan mertuanya. Berharap bisa melihat Melody dan anaknya, untuk terakhir kalinya. Namun siapa sangka, Melody dan anaknya bersembunyi enggan menemuinya.

__ADS_1


"Kenapa perasaanku seperti ini,mana mungkin aku sakit hati atas Kehilangan mereka?Mana mungkin terjadi, bahkan aku tidak menyesali keputusan ku sendiri. Mana sudi memiliki keluarga aneh, menyeramkan sekali dan memalukan keluarga". Vino, langsung menepis perasaannya itu.


__ADS_2