
Pak Marto, menghubungi atasan Vino memberitahu bagaimana dengan keadaan anaknya tak bisa bekerja beberapa waktu.
Melody, mendapatkan panggilan telpon dari pak Hermon. Merasa lega karena keadaan pak Hermon, baik-baik saja dan mulai pulih kembali.
Melody, tergesa-gesa menyiapkan kepergian ke desa pak Hermon. Ketika mendengar ada seseorang yang bisa mengusir makhluk halus, gangguan mistis dan kiriman santet segala macam. Ini adalah kesempatan untuk Melody,tak akan menyia-nyiakan demi sang suami.
"Kamu yakin mau pergi, Mel?" Tanya bu Sonya, terkejut mendengar anaknya meminta izin untuk pergi. Ya Allah,kasian sekali kamu nak. Melakukan apapun demi suamimu, apakah perjuangan mu ini mendapatkan kebahagiaan kelak nanti.
"Biar ayah,yang ke sana nak". Pak Marto, langsung mencegah anaknya. "Ingat anakmu, suamimu di sini. Bagaimana bisa,kamu pergi nak? Biarkanlah ayah,akan pergi ke sana".
Untuk saat ini,pak Senjaya lebih dulu pergi ke kampung halaman orangtua sang istri. Beliau tidak akan tinggal diam, melihat keluarga anaknya seperti ini.
"Tidak!Aku tidak mau kalian kenapa-kenapa, biarkan aku pergi sendirian demi mas Vino. Aku tidak mau di salahkan lagi,akan aku lakukan apapun yang aku bisa". Melody, membantah mereka semua dan bertekad untuk pergi sendirian tanpa seorang yang menemaninya. "Bunda, sangat membutuhkan ayah di sini dan takut mas Vino kenapa-kenapa. Tolonglah ayah,jangan tinggallah di sini". Melody, memohon kepada ayah mertuanya.
"Mah,titip Nalendra jaga dia baik-baik. Aku mohon mah". Melody, memeluk erat tubuh sang ibu. "Bagaimana dengan papah, apa ada kabar?".
"Dia adalah cucu mamah, tidak kau minta menjaganya. Mamah,akan menjaganya nak. Kamu harus hati-hati yah,kabari mamah dan lainnya". Bu Sonya, menghapus air mata sang anak. "Papah, sudah sampai di rumah nenek dan kakek mu. Jangan memikirkan keadaan papah,dia bisa menjaga dirinya".
Melody, mengangguk pelan dan pergi meninggalkan rumah mertuanya itu. Terimakasih,Ya Allah aku memiliki papah begitu perduli dengan ku saat ini. Batinnya, mengkhawatirkan sang ayah di sana.
"Tunggu aku pulang mas,aku janji akan menolong dan kembali sedia kala. Apapun keputusan bunda, aku terima mas. Ya Allah, lindungi hamba ini dan sembuh kan suami hamba". Kata Melody, sepanjang perjalanan dia cuman menangis kesegukan.
Perjalanan menuju desa pak Hermon, memerlukan 4 jam lumayan jauh.
Ini adalah pertama kalinya Melody, melakukan perjalanan jauh tanpa ada yang menemaninya.
Hawa dingin menjalar ke seluruh tubuhnya, mulutnya tak hentinya meminta perlindungan kepada Allah SWT.
Sedangkan di kediaman orangtuanya Vino, keadaan nampak ramai.
__ADS_1
Kabar Vino, sakit parah tersebar luas di kantor tempat kerjanya. Atasan Vino dan karyawan kantor datang untuk menjenguk keadaan Vino.
Mereka semua terkejut melihat kondisi Vino, betapa mengerikan sekali. Mereka semua nampak tak percaya,apa yang mereka lihat.
"Sepertinya pak Vino,di guna-guna oleh seseorang. Sejenis ilmu santet,ini bahaya sekali kalau tidak di tangani". Bisik Randa, temannya sekaligus rekan kerja di kantor.
Ustadz Yahya, meminta mereka semua cukup menjenguk keadaan Vino.
Pak Marto dan bu Mega,merasa terharu atas kedatangan teman-teman anaknya begitu baik.
Mona, tersenyum manis ke arah bu Mega dan mereka saling berpelukan. Rupanya Mona,cukup dekat dengan bundanya Vino.
"Yang sabar bunda, semoga Vino baik-baik saja". Mona, mengelus lembut punggung tangan bu Mega.
"Makasih, sudah mau menjenguk keadaan Vino. Sekarang dia seperti mayat hidup, tubuhnya sangat mengerikan sekali". Bu Mega,menyeka air matanya.
Di sudut ruangan lainnya,bu Sonya nampak tak menyukai kedekatan besannya dengan seorang wanita.
Sore harinya Melody, sudah sampai di rumah pak Hermon dan di sambut hangat.
"Astagfirullah,jadi pak Hermon gak bisa jalan?". Melody, terkejut melihat kondisi pak Hermon lumayan parah di kakinya.
"Tidak apa-apa,non. Ini sudah mendingan kok, silahkan istirahat dulu dan besok kita ke tempat orang itu". Pak Hermon,merasa iba kepada majikannya.
"Nak,kamu yang sabar yah. Semoga Allah SWT, mengembalikan suamimu sedia kala jangan putus asa dan terus berdoa". Kata bu Ina, kakaknya pak Hermon.
Pak Hermon,masih lajang dan belum menikah lagi. Dia tinggal bersama kakaknya,yang sudah berkeluarga dan memiliki anak dan cucu.
"Makasih bu,atas sarannya. Semoga suamiku kembali seperti dulu, apapun yang terjadi aku ingin dia kembali". Melody,tak kuasa menahan air matanya. Apa lagi, mengingat sang suami yang jauh di sana.
__ADS_1
Seorang wanita datang mendekat,dia tersenyum ramah ke arah Melody.
"Bu,ini selimut buat mbak Melody" kata wanita itu, mendekati bu Ina.
"Makasih, sudah mau mengantarnya. Kenalkan nak Mel,dia adalah menantuku Sila dari kota juga sih. Tapi, anakku kerja disini dan ikut ke sini juga". Bu Ina, nampak menyayangi menantunya itu.
Melody,jadi teringat dengan ibu mertuanya juga baik kepadanya. Itupun dulu, tidak tau sekarang bagaimana. "Salam kenal,Sila. Maaf, kedatangan ku merepotkan kalian".
"Aahh...Mbak Melody, ngomong apa sih? Kami senang loh,ada orang lain datang. Maaf, seadanya mbak". Kekehnya Sila, terbilang suka ceplas-ceplos tanpa malu-malu kalau berbicara.
"Mana Putri? Gak di ajak ke sini,Sil. Putri, adalah cucuku nak Mel". Bu Ina,juga memperkenalkan cucunya.
"Bu, putri gak mau ke sini. Katanya mbak Melody, membawa seseorang dan menunggu di luar". Ucap Sila, setengah berbisik dan wajahnya terlihat panik.
Deg!
Melody, terkejut mendengar ucapan Sila. Sedangkan dirinya, tidak membawa siapapun dari kota. "Tapi,aku tidak membawa siapapun Sil. Sumpah demi apapun,aku tidak mengajak orang lain".
"Mbak, sepertinya orang-orang tertentu yang bisa melihatnya. Anak kecil masih suci mbak, pasti bisa melihat makhluk lain". Sahut Sila, tersenyum kecil.
"Astagfirullah,kamu panggilkan Kiai Amid untuk menangkal nak Melody. Takutnya kenapa-kenapa,cepat sana!" Perintah bu Ina, kepada menantunya itu.
"Baik,bu". Jawab Sila, langsung beranjak pergi meninggalkan rumah ibu mertuanya.
Melody, tersenyum melihat bu Ina dan menantunya cukup dekat satu sama lain. "Bu, beruntung sekali mendapatkan menantu seperti Sila".
"Iya,dia menantu idaman ibu. Sebenarnya,ibu tidak mau mereka tinggal di desa ini. Apa lagi, orangtuanya tinggal di kota. Seringkali orangtuanya ke sini, kumpul-kumpul barengan. Pokoknya ramai sekali,biasa masak-masak dan makan bersama-sama. Sama kan,kamu memiliki ibu mertua yang baik?". Bu Ina, memandang lekat wajah Melody menyimpan banyak masalah.
"Alhamdulillah, aku memiliki mertua yang baik. Tapi, sebelum masalah ini terjadi. Aku tidak tau bu, bagaimana nasib rumah tangga kami?" Melody, menggeleng pelan tak sanggup rumah tangganya hancur.
__ADS_1
"Astagfirullah,kamu yang sabar nak. Semoga ibu mertua mu, di bukakan pintu hatinya dan tidak menyalahkan dirimu. Ini sudah takdir Allah SWT,kita cuman bisa berdoa dan meminta bantuan". Bu Ina, mengelus lembut dadanya mendengar ucapan Melody. Kasian sekali nak Melody, rumah tangganya di pertaruhkan. Tidak masuk akal sekali, ibu mertuanya berpikiran seperti itu. Sedangkan nak Melody,juga tidak mau musibah ini terjadi kepadanya.