
Mendapat pelukan seperti itu, Eman hanya terdiam tanpa bergerak sedikit pun karena baru kali pertama dia dipeluk oleh seorang wanita, dan wanita yang memeluknya pun adalah wanita yang sangat cantik, menjadi rebutan pemuda-pemuda Kampung Ciandam, bahkan pemuda Kampung Tetangga. Eman masih merasa bingung karena baru sekarang dia bertemu dengan Ranti yang wujudnya sudah berubah menjadi manusia, karena yang sebelum-sebelumnya wujud 4anti adalah babi ngepet, sehingga Eman belum mengetahui wujud aslinya seperti apa.
"Siapa ini Nyai?" tanya Mbah Abun yang tidak setuju melihat anaknya yang kecentilan, tangannya menarik tubuh Ranti agar melepaskan pelukannya.
"Abah......! Ini adalah Kang Eman, dan orang inilah yang selalu setia mendampingi Ranti,baik suka maupun duka." jelas Ranti Tak sedikitpun merasa malu ditegur oleh bapaknya seperti itu, akibat terasa bahagia yang sudah mencapai puncaknya, bahkan ketika menjelaskan wajah Ranti dipenuhi dengan senyuman.
"Oh ini orang yang bernama Eman, Selamat datang Ujang.....! selamat datang," ujar Bah Abun sambil mengulurkan tangan mengajak Eman bersalaman, menggunakan tangan kiri karena tangan kanannya masih terasa sakit, akibat terluka karena sabetan golok si Hadi.
"Terima kasih banyak Abah!" jawab Eman yang terlihat malu-malu. ketika menerima uluran tangan Mbah Abun Dia sedikit bergetar, namun meski begitu tangan calon mertuanya diangkat ke keningnya sebagai penghormatan kepada orang yang lebih tua.
"Sudah sudah Jang Ayo masuk ke dalam, sebentar abah mau mengurus kedua maling ini!" Ujar Bah Abun menghadap ke arah Mang Zuhri untuk menyerahkan Hadi dan Warsa seutuhnya. mau dibunuh, mau dikasih hidup, Mbah Abun tidak akan ikut campur lagi.
"Kalau dibunuh ya jangan Abah, tapi kita mau ngasih kesempatan buat mereka untuk bertobat, dengan cara menyotorkan kedua maling ini ke pihak yang berwajib," putus Mang Zuhri
"Terserah....! Abah sudah tidak mau ikut campur lagi."
"Iya bah, saya mengerti.....!"
Dengan segera Mang Zuhri pun menyerahkan kedua maling itu sama pak Kulisi desa, setelah berada di tangan Pak Kulisi desa Mereka pun diinterogasi terlebih dahulu, kemudian dikirimkan ke Kapolsek Kecamatan, diserahkan ke pihak yang lebih berwenang.
__ADS_1
Sedangkan di rumah mbah Abun, rumah itu terlihat sangat ramai karena para tetangganya masih berkumpul, bahkan saking banyak antusias Tidak semua orang tertampung di dalam rumah, meski keadaan Rumah itu sangat besar. Mereka ingin melihat dengan jelas dengan orang yang bernama Eman.
Sedangkan sesepuh Kampung seperti Pak RT, pak RW, aki Tardi, Mang Zuhri dan sesepuh sesepuh yang lainnya. Mereka terlihat berkumpul di ruang tamu bahkan Galih dan Daus Mereka pun ikut berkumpul ingin, menyaksikan keputusan Mbah Abun.
Eman terlihat duduk berdampingan dengan Ranti, di himpit oleh Ambu Yayah yang sedang berbahagia hati, karena sudah terbebas dari bahaya Pati yang mengancamnya, disambung dengan datangnya Eman, karena dengan kedatangannya pemuda itu masalah sayembara akan segera selesai. Mungkin hanya Daus dan Galih lah yang tidak suka karena kita-kita mereka tidak akan terkabul.
"Nyai, anak Abah...! Apakah benar orang yang menolong kamu itu, adalah orang ini?" tanya Mbah Abun mulai mengawali musyawarah malam itu, dengan menunjuk Eman meminta kepastian dari anaknya.
"Tidak salah Abah, orang inilah yang disebutkan oleh Ranti."
"Syukur kalau begitu, karena dengan adanya Jang Eman kita sudah bisa memastikan bahwa orang yang unggul dalam sayembara, tidak lain dan tidak bukan adalah Jang Emen."
"Yah, yah, jang Eman! Abah mohon kesaksian dari orang-orang yang hadir di rumah Abah, karena abah mau memutuskan untuk menepati janji Abah yang sudah diucapkan dan diembarkan beberapa waktu lalu, yang isinya. Barang siapa yang menemukan babi beranting kemudian menyetorkannya ke rumah tanpa ada sedikitpun luka, maka Abah akan balas dengan hadiah," ujar Mbah Abun sambil membagi tatap ke arah orang-orang yang hadir di tempat itu.
Bersaksi, bersaksi, bersaksi......!
Bersaksi, bersaksi, bersaksi,
Jawab orang-orang yang berkumpul dengan serempak.
__ADS_1
"Abah takut ditagih sama yang kuasa, Abah takut ditanya sama Tuhan, abah mau membayar hutang janji pembicaraan-pembicaraan yang sudah terlewat, pembicaraan yang sudah diucapkan Dahulu ketika anak Abah pergi dari rumah. Abah sudah berbicara bahwa Abah akan memberi hadiah kepada siapa saja yang bisa menemukan disertai dengan diantarkan ke rumah. Nah sekarang abah mau memberikan hadiah sama Jang Eman, soalnya menurut janji Abah yang sudah pasti dan bukti yang nyata bahwa orang yang pantas, orang wajib menerima hadiah adalah Jang Eman," ujar Bah Abun yang terdengar tegas membuat Eman terlihat terkejut, karena dia mendatangi Kampung Ciandam hanya untuk mengucapkan terima kasih terhadap Ranti yang sudah menolongnya.
Eman terlihat menarik nafas mau berbicara, tapi ada orang lain yang tidak setuju, dia pun mengangkat tangan agar diberikan izin untuk berbicara.
"Abah itu tidak adil ketika memberi hadiah, tidak sesuai dengan kenyataan. karena menurut Abah sendiri bahwa orang yang akan mendapatkan hadiah itu adalah orang yang menemukan dan bisa mengantarkan ke rumah. tapi kenapa orang yang diberikan hadiah adalah orang lain, mohon maaf Abah itu sangat tidak sesuai dengan kenyataan."
"Kenapa Jang Galih bisa berbicara seperti itu?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke salah satu Pemuda Ciandam.
"Begini Abah, banyak orang yang menemukan babi ngepet itu karena banyak orang yang mengikuti. Tapi orang yang mengantarkan ke rumah itu hanya saya, namun di samping kampung, babi itu direbut oleh si daus serta dialah yang menyampaikan ke rumah. jadi orang yang harus mendapatkan hadiah tetap saya." jawab galih yang tetap ingin mendapatkan hadiah.
"Tapi saksi yang sudah nyata menyebutkan bahwa pemenang sayembara ini adalah Eman."
"Saya tidak setuju karena dari awal tidak disebutkan harus ada saksi, yang Abah minta hanyalah seekor babi beranting diantarkan ke rumah," jawab Galih tidak mau kalah dia tetap Kukuh ingin mendapatkan babi itu, membuat Ranti pun terpancing ingin ikut berbicara.
"Kang Galih!" panggilnya menyela.
"Apa kamu manggil-manggil!"
"Perjuangan Kang Galih hanya sedikit, karena akang menemukan Saya hanya ketika di pertunjukan sirkus babi, begitu juga bukan Akang yang menemukan tapi Rantilah yang mendekat ke Kang Galih, tapi Kang Galih tidak bisa menolong saya, buktinya Ranti bisa ditangkap lagi oleh pihak Surya Jaya. setelah kejadian itu saya bertemu dengan Kang Eman yang Ternyata orangnya Sehati, Setujuan, senasib, dan yang perlu kamu lihat, akang ketahui! bahwa Eman sangat bertanggung jawab dalam menolong Ranti, dia terlihat bersungguh-sungguh, namun di perjalanan mengantarkan Ranti ke kampung Ciandam, Kang Eman disiksa oleh warga Kampung Sukaraja. dari Semenjak itu Ranti diperebutkan oleh banyak orang, termasuk akang Yang Licik, serakah, tidak memiliki jiwa Ksatria, karena akang mau menang hasil merebut orang lain, ditambah tidak memikirkan keselamatan diri saya. Nah, dari dasar itu kang Galih tidak berhak untuk mendapatkan hadiah dari Abah!"
__ADS_1