
Keanehan yang dimiliki oleh Eman itu adalah hasil dari pembelajaran yang diberikan oleh aki kebun, mata Eman lebih tajam mengalahkan tajamnya mata elang.
"Lah, lah, sejak dari kapan di tempat ini ada begal?" ujar Eman sambil menatap ke arah Galih yang sudah memasang kuda-kuda.
Galih memasang kuda-kuda terlihat sangat sembarangan, karena ketika dulu waktu belajar silat dia tidak terlalu mendalami. namun meski begitu dia tetap membusungkan dada seperti seorang jawara, Padahal dia hanya menggunakan jurus-jurus yang seingatnya tidak jelas aturannya.
"Mau apa, kok kamu mencegat jalan saya?" tanya Eman sambil tetap menatap ke arah Galih, namun orang yang ditanya tidak menjawab, karena dia takut suaranya bisa diketahui oleh Eman, sudah bisa dipastikan bahwa Eman akan mengenal suaranya.
Dengan segera galih pun memajukan langkahnya lalu menyerang menggunakan tinju yang sangat bulat mengarah ke arah rahang eman, namun Serangan yang begitu cepat di mata Eman seperti Serangan yang sangat lambat, sehingga ketika serangan itu datang Eman dengan segera menangkap tinju itu menggunakan telapak tangannya, lalu ditarik ke arah bawah dibarengi dengan satu langkah ke depan, mengantar serangan tangan kiri menuju ke arah dagu.
Bugh!
Wallla, aduuuuuh.....!
Teriak Galih dibarengi dengan jatuhnya beberapa gigi, disusul dengan muntah darah berbarengan dengan gigi yang terjatuh ke tanah lewat sela-sela kain yang terbuka.
"Aih kamu lihat....! kenapa gigi dibuang seperti itu?" Tanya Eman sambil menatap ke arah gigi.
Mendapat pertanyaan seperti itu, Galih tidak menjawab karena jangankan untuk berbicara untuk menahan rasa sakit saja dia sudah tidak kuat, kain penutup wajah terlihat berubah warna menjadi kemerahan, penuh dengan warna darah. sedangkan Eman seperti orang yang tidak memiliki perhitungan ketika bertarung, Dia terlihat bertolak pinggang seperti sangat santai.
Melihat Galih yang sudah tak berkutik, Saipul merasa tidak tega. dengan segera dia pun mengeluarkan golok dari serangkanya lalu memainkan golok itu, menebas ke samping kanan dan kiri, mau digunakan untuk melukai Eman.
Namun sayang Eman yang sekarang Bukanlah Yang Dulu, dia terlihat sangat ternginas. melihat Serangan yang sangat membahayakan, dia hanya mengulum Senyum Dan dengan santainya memukul pergelangan tangan Saiful dari arah bawah, sehingga serangan itu naik ke atas, dibarengi dengan satu tamparan menggunakan punggung tangan mengarah ke arah pipi musuh.
Bugh!
Waduuuu......
__ADS_1
Serangan itu tepat mengenai sasaran, dibarengi dengan suara teriakan yang sangat nyaring, golok yang dipegang Saipul jatuh seketika, tangannya memegang rahang yang terasa lepas.
Haduuuuuh......!
Mulut Saiful terdengar menggumam, namun kegumammannya tidak terlalu jelas, seperti orang yang sedang tersendat, dengan iseng Eman menepuk dahi Saiful.
Plak!
Tubuh Saipul terjungkal ke belakang, pandangannya terasa kabur, telapak tangan Eman sangat keras seperti baja plat, hingga akhirnya tubuh itu ambruk seketika, dibarengi dengan suara rintihan yang sangat menyakitkan, tidak mampu untuk bangkit kembali.
Sedangkan Galih, walaupun sakitnya sudah melewati batas, tapi amarahnya masih berkobar, bahkan melebihi ukuran. matanya melirik ke arah golok Saiful yang terjatuh ke sampingnya, tanpa berpikir panjang dengan segera dia pun mengambil golok itu, lalu digunakan untuk menerjang tulang kaki Eman.
Namun sayang Eman yang terlihat sangat tangkas. ketika golok itu berkelebat dengan segera dia pun loncat lalu berdiri di atas kepala Galih, sehingga membuat kepala itu tersungkur ke tanah karena Eman menginjak ubun-ubunnya.
Wadu.....!
Kemudian Pemuda Kampung Sukamaju itu berdiri dengan tegap, matanya melongok menatap ke arah Galih yang sedang memegangi dahinya, dari mulut darah terus keluar sampai terlihat sangat basah, tidak jauh beda seperti babi bayangan.
Mendapat tubuhnya yang sudah sangat hancur, tapi Galih tidak berputus asa. dengan segera dia pun bangkit kembali maksudnya dia ingin menubruk Eman dengan merenggangkan tangan, hendak mencekik pemuda itu. namun Eman sangat trengginas karena matanya memiliki kelebihan mengalahkan mata elang.
Tangan Galih yang mengarah ke arah lehernya, dengan segera dibuka mengunakan kedua tangan, membuat Eman sangat leluasa. tangan yang tadi membuka serangan Galih di balikan untuk menyerang wajahnya.
Bugh!
Kedua telapak tangan Eman mendarat tepat di kedua belah pipi Galih, membuat tubuh pemuda itu ambruk seketika, pandangannya terasa berkunang-kunang, keaadan sekitar terasa miring, bahkan langit saja terasa mendekat, telinganya menjadi kehilangan pendengaran, sehingga dia tidak bisa menangkap suara-suara yang berada di tempat itu. Yang bisa Galih dengar kala itu hanya suara yang mendenging.
Eman merasa penasaran, dia ingin mengetahui wajah begal itu, dengan segera dia pun mengeluarkan tangan ke arah kain.
__ADS_1
Bret!
Kain penutup wajah itu terlepas seketika, terlihatlah dengan jelas Tidak diragukan lagi karena Eman sangat hafal dengan wajah Galih. membuat pemuda itu terlihat melongo menatap kosong. sementara waktu Eman terdiam menatap ke arah Galih yang wajahnya sudah pucat pasi, seperti sudah tidak bernyawa.
Uwekkkk! uwekkkk!
Galih memuntahkan darah kental dari mulutnya.
"Lah, lah, bagaimana cara mengobatinya, Aduh kasihan banget Ternyata ini adalah Kang Galih," gumam Eman sambil menggeleng-gelengkan kepala, Mungkin dia merasa kecewa karena dia terlalu serius ketika bertarung, karena dia menyangka bahwa kedua orang itu adalah begal.
Eman menatap Galih tidak terlalu lama, karena matanya menangkap calon mertuanya yang sedang menggelinjang gelinjang ingin terlepas dari pengikat yang membelenggu tubuhnya. dengan segera Eman pun menghampiri lalu mengambil daun penutup mulut.
"Haduh, haduh.....! kurang ajar, Sejak kapan di sini ada begal?"
"Bukan begal Abah?"
"Bukan begal......, Terus siapa?" tanya Mbah Abun sambil memindai kedua musuhnya yang sudah di robohkan oleh Eman.
Ditanya seperti itu eman tidak menjawab, dengan segera dia pun mendekat lalu membuka tali yang membelenggu calon mertuanya, sehingga dia pun bisa berdiri lalu berjalan mendekat ke arah Galih yang sudah setengah tidak sadarkan diri.
"Haduh ternyata ini adalah Si Galih," ungkap Mbah Abun setelah melihat wajah orang yang membegalnya.
"Iya benar Abah....! Ini adalah Kang Galih. bagaimana ya? karena ketika tadi saya bertarung Saya meninjunya menggunakan kekuatan penuh. ditambah saya tidak mengetahui Kenapa tangan saya bisa seperti ini, digunakan untuk menepuk dahi Orangnya sampai terjungkal, dipakai menampar pipi Orangnya sampai tak sadarkan diri," ujar Eman sambil memperhatikan tangannya karena dia belum sadar bahwa dia sudah memiliki ilmu yang sangat luar biasa dari aki kebun.
"Oh begitu....! emang bagaimana awal mulanya?"
"Ya sudah nanti saja saya ceritakan, mendingan sekarang kita lanjutkan perjalanan kita, jangan jadi beristirahat di tempat ini karena ini sangat bahaya."
__ADS_1