
Keesokan paginya, Eman sudah berdandan rapi karena hari itu dia akan berangkat ke pondok pesantren, ongkos dan biaya sudah disiapkan oleh Mbah Abun, Sesuai dengan kesepakatan hari kemarin. setelah berpamitan sama orang-orang yang mau ditinggalkan, akhirnya Eman pun pergi diantar oleh tatapan istrinya yang bernama Ranti. Eman berangkat dengan membawa kebahagiaan karena ada harapan dirinya bisa cerdas dan bisa menjalankan amanat yang menjadi gurunya, bahwa dirinya tidak boleh berleha-leha dalam mencari ilmu, karena mencari ilmu itu kewajiban bagi muslim laki-laki ataupun perempuan, dari mulai dilahirkan sampai dipendam di dalam tanah.
Ranti terlihat menarik nafas dalam setelah suaminya tidak terlihat lagi ditelan oleh belokan jalan, kemudian dia mengusap wajahnya menggunakan kedua tangan seperti sedang mengucap rasa syukur, soalnya dia memiliki harapan yang sangat besar kalau suaminya pergi ke pondok maka orang tuanya akan segera bisa diselamatkan, tidak terus berkubang dalam lembah kesesatan.
"Selamat jalan Kang! semoga cita-cita kita berdua bisa terwujud," doa nanti sambil masuk ke dalam rumah kemudian dia pun mengerjakan pekerjaan layaknya seorang perempuan, mulai dari menyapu. mengepel, mencuci piring, serta memasak nasi untuk dirinya makan.
Eman terus berjalan melewati jalan tengah Kampung Ciandam, melewati orang-orang yang masih berada di rumah atau memang sengaja mereka tidak pergi ke sawah atau kebun, karena sedang mengasuh anak atau cucunya.
"Bukannya itu Si Eman, si kurang ajar?" tanya salah Seorang warga yang mengetahui kepergian Eman.
"Iya itu memang Si Eman, Kenapa mang?" jawab yang paling muda sambil menatap penasaran.
"Ya Nggak apa-apa Jang Galih, tapi Mamang heran mau ke mana dia Kok pakaiannya rapi dan membawa tas besar pula?" tanya Saipul yang sudah lama berada di rumah Galih, dia mencari kehidupan di rumah pemuda itu karena di tempat Galih tidak kurang pekerjaan, yang terpenting Syaiful mau pasti hidupnya akan terjamin.
"Katanya mau pergi ke pesantren Mang, kurang ajar memang Dia sudah merebut hati pacar saya dan merebut hati orang tuanya, padahal dulu Mbah Abun sangat suka sama saya." umpat Galih mengulang kembali memori indahnya.
"Ujang masih penasaran dengan Si Eman?" tanya Saiful sambil membakar rokok yang ada di tangannya.
"Masih Mang, kenapa mau diikuti terus kita bunuh?"
"Jangan Jang itu sangat berbahaya, dahulu saja kita babak belur dihajar olehnya. Mamang punya cara lain untuk membalas dendam kita."
"Caranya bagaimana?" tanya Galih sambil mengurutkan dahi, matanya menatap ke arah Saipul.
"Kalau benar dia pergi ke pesantren, pasti itu akan lama dan itu memberikan waktu bagi kita untuk membalas dendam."
"Iya Caranya bagaimana?"
__ADS_1
"Neng Ranti pasti di rumah sendirian. Nah kalau sendirian seperti itu akan sangat mudah buat kita membalaskan dendam, Bukankah Ujang ingin memiliki tubuh gadis itu. kalau memang ingin sekarang lah waktunya yang yang tepat."
Mendapat saran dari Saiful, Galih pun terdiam mencerna apa yang disampaikan oleh sahabatnya, semakin lama berpikir semakin terpikir memang Sekaranglah waktu yang tepat untuk memiliki Ranti seutuhnya.
"Bagaimana Jang?" tanya Saipul mengagetkan Galih.
"Saran Mamang memang sangat baik, tapi saya masih bingung."
"Jangan bingung Jang, Nanti malam kita datangi rumahnya lalu masuk ke dalam, kemudian Ujang nikmati tubuh gadis sintal itu sampai puas, karena memang akan sangat berbahagia kalau sakit hati Mamang yang ditimbulkan oleh suaminya terbalaskan, agar Si Eman bisa merasakan perih yang pernah kita rasakan."
"Apa nanti itu tidak berbahaya mang, kalau suaminya pulang pasti dia akan menuntut tanggung jawab dari kita."
"Itu urusan belakangan Jang, yang terpenting sekarang bagaimana caranya kita membalas rasa sakit yang pernah ditorehkan oleh Si Eman. Lagian kalau kita sudah mendapatkan tubuhnya Neng Ranti kita bisa kabur dan berguru agar bisa menandingi kesaktian Si Eman," jawab Saiful seperti tidak dipikir terlebih dahulu.
Galih pun terdiam kembali Dia mencerna dan menimbang baik buruknya pekerjaan yang hendak ia lakukan, namun rasa benci yang sudah memenuhi dada bahkan sampai tumpah ke ubun-ubun, membuat akal Sehatnya tidak berguna. Akhirnya dia pun menyetujui saran yang diberikan oleh Saiful bahwa nanti malam mereka akan masuk ke rumah Ranti untuk menikmati tubuh wanita itu.
Sedangkan orang yang dibicarakan, Ranti awalnya merasa kesepian karena dia sudah terlalu lama berduaan dengan Eman. namun ketika disibukkan dengan pekerjaan rasa kesepian itu sedikit sirna, hingga tak terasa waktu pun sudah masuk sore hari, bahkan sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang.
"Abah Kenapa malam ini terasa sangat mencekam sekali, kira-kira Pertanda apakah ini?" Tanya Abu Yayah sambil menatap ke arah sang suami yang terlihat lemas dipenuhi dengan kebingungan.
"Kenapa Ambu bertanya seperti itu, Menurut Abah hidup itu tidak terlalu harus dipikirkan, tidak usah berkecil hati. hidup itu harus semangat, harus giat, Harus Bahagia, karena kita tidak memiliki kesusahan sedikitpun, uang banyak, tanah luas, rumah bagus, makanan menumpuk." jawab Mbah Abun dengan tegas seperti tidak memiliki rasa bingung dalam hidupnya, Padahal di dalam hatinya dia merasa kengerian yang sama seperti yang dirasakan oleh istrinya.
"Abah jangan sampai lupa! kalau hidup itu selalu berpasang-pasangan. ada bahagia, ada sedih. ada selamat, ada kecelakaan. ada siang, ada malam. dua-duanya tidak pernah jauh, mereka saling berganti hinggap dalam kehidupan umat manusia.
"Benar perkataan Ambu, tidak salah. tapi kita tidak harus takut, tidak harus bingung, karena kehidupan kita tidak ada yang harus ditakutkan," jawab Mbah Abun tetap Kukuh dalam pendiriannya.
Mendengar pernyataan suaminya seperti itu, Ambu Yayah pun terdiam mengantar lamunannya Sendiri, menerka-nerka kehidupan yang akan datang. hatinya merasa Getir, rasa dan perasaannya tidak bisa di jauhkan, hatinya terasa berdebar, jantungnya berdegup tak menentu, ditambah dengan suara gonggongan anjing membuat suasana semakin mencekam dan menakutkan.
__ADS_1
Brug!
Terdengar benda yang jatuh dari atas plafon, diikuti dengan bergeraknya rumah mbah Abun seperti digoyangkan oleh gempa yang sangat besar, membuat Bah Abun terperanjat seketika. begitupun Ambu Yayah Yang terkejut, namun tak ada yang berbicara mereka hanya bisa saling menatap bulu Kuduk terasa berdiri.
Ranti yang berada di rumahnya, dia pun merasakan hal yang sama. dengan segera dia pun bangkit dari tempat tidurnya kemudian mengecek jendela dan pintu takut ada yang belum dikunci, kemudian dia duduk di tengah rumah terdiam melamun, menerka-nerka apa yang akan terjadi, dari arah jauh terdengar suara anjing yang menggonggong menambah getirnya suasana malam di rumah Ranti, wajah suaminya seolah berkelebat di kelopak matanya, membuat hati Ranti terasa berdegup.
"Aduh.....! ini pertanda apa, kok hati ini terus berdebar tak menantu. apa jangan-jangan mau ada malingtapi biasanya juga tidak ada apa-apa," begitulah gumam hati Ranti kemudian dia pun bangkit selalu mengecek kembali kunci-kunci jendela dan pintu, karena dia tetap merasa takut kalau ada maling yang masuk ke rumahnya.
Semakin lama perasaan Ranti semakin tak karuan, hingga akhirnya dia pun mengambil keputusan bahwa malam itu dia akan menginap di rumah orang tuanya, karena dia merasa takut kalau harus tidur sendirian di rumah. setelah mendapat keputusan dia pun mengunci lemari kemudian mengambil selimut, lalu turun dari rumah tak lupa mengunci pintunya.
Keadaan waktu di luar rumah sudah terlihat gelap, suara jangkrik saling bersahutan dengan anjing tanah, langit terlihat mendung tidak ada bintang yang terlihat, semilir angin kecil menerpa dedaunan menimbulkan suara kemrosok.
"Ambu.....! Ambu Tolong buka pintu!" Panggil Ranti setelah berada di ambang pintu rumah.
Ceklek!
Tanpa menunggu lama pintu pun terbuka, lalu muncullah kepala Abu Yayah. dengan segera Ranti pun masuk kemudian pintu pun ditutup kembali tak lupa dikunci, kemudian dia pun duduk di samping ibunya.
"Mau nginap ambusoalnya nggak berani kalau di rumah sendirian," ucap nanti meminta izin
"Syukur kalau mau menginap, tadinya Ambu mau nyuruh Abah untuk ngajak Nyai nginep di sini," jawab Abu Yayah sambil menatap ke arah anaknya.
Mbah Abun tidak ikut berbicara, karena tiba-tiba kepalanya terasa pusing, perutnya terasa mual, penglihatannya mulai berkunang-kunang, matanya terus berkedip-kedip karena mengeluarkan cairan.
"Aduh......, kepala Abah terasa pusing, abah tidur duluan ya!" ujar Bah Abun sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia pun masuk ke kamar lalu memberikan tubuh di atas kasur.
Ambu Yayah dan anaknya mereka masih duduk di atas kursi, untuk sementara waktu mereka terdiam tidak ada yang berbicara, keadaan semakin lama semakin mencekam seperti akan terjadi sesuatu yang menakutkan.
__ADS_1
Di luar rumah. Galih dan Saiful yang sudah memiliki rencana jahat, mereka mengendap-endap mendekat ke arah rumah Ranti, setelah berada di samping rumah mereka pun berhenti, kemudian saling menatap seperti sedang memberikan isyarat.
Dengan segera Galih pun menempelkan wajahnya ke dinding kamar untuk mengetahui keberadaan orang yang berada di dalam, tapi belum saja wajah itu menempel tiba-tiba terdengar suara angin yang begitu kencang.