Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun

Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun
Bab 37. Harus


__ADS_3

"Ada apa neng?" tanya Eman dengan wajah penasarannya.


"Kang Eman, sebenarnya yang akan disampaikan oleh Ranti itu sangat rahasia, tidak boleh ada orang yang mengetahui kecuali Ambu dan Abah. tapi sekarang Akang dan saya sudah bersatu, jadi tidak akan ada salahnya kalau akang diberitahu," jawab Ranti mulai menjelaskan


"Iya harus, kalau Ranti sayang sama Akang, Ranti harus jujur dan tidak boleh ada yang ditutup-tutupi!"


"Begini kang, sebenarnya Abah itu memiliki pekerjaan yang berbeda dari orang lain, bisa dibilang tidak umum dengan umum, bahkan orang lain sebagian sudah pada mengetahui."


"Apa pekerjaan Abah itu?"


"Abah Memiliki pekerjaan memuja siluman."


"Apa....! memuja ke siluman?" ulang Eman dengan wajah kaget."


"Iya benar Kang, Abah bersekutu dengan raja babi ngepet yang berada di Gunung Karang. Nah dari dasar pekerjaan itu Harga Diri Ranti sudah jatuh, bahkan jadi bahan ejekan. tidak sedikit orang yang menyebut Ranti dengan sebutan anak babi, sebutan yang membuat hati Ranti terasa perih, membuat jiwa Ranti terasa sengsara. apalagi ketika Ranti berubah wujud menjadi babi, kehidupan Ranti sudah tidak memiliki harga, karena sudah menjadi bahan ejekan orang lain. Nah dari dasar itu kang, sekarang saya seperti memiliki orang yang bisa dimintai pertolongan, yaitu akang sendiri yang bisa dijadikan tempat berlindung, di pintai akal dan budi pekertinya, siapa tahu saja akan bisa menolong saya khususnya, dan Abah umumnya."


"Maksud ya Ranti bagaimana?"


"Maksud Ranti Akang harus mengangkat Ambu dan Abah yang sudah jatuh ke dalam jurang kehinaan, tidak lain dan tidak bukan yang harus menolong itu adalah akang sendiri yang sudah sah menjadi menantunya. namun syaratnya akang harus pergi ke pesantren, belajar ilmu agama!"


"Tujuannya?"


"Ya tujuannya agar akang mampu mengangkat Abah yang tersesat, jadi menurut pemikiran Ranti sesuai dengan permintaan Akang yang dulu, secepatnya Kang Eman harus berangkat ke pesantren, Sekarang sudah saatnya menuntut ilmu, agar memiliki senjata untuk memerangi siluman demi membela orang tua nah begitu maksud Ranti Kang!"


Eman terlihat manggut-manggut, Dia sangat mengerti dengan apa yang disampaikan oleh istrinya, karena walaupun tidak diterangkan secara gamblang Eman sudah tahu, Bahkan dia sudah mengerti bahwa mertuanya yang bernama Mbah Abun, melakukan pesugihan dengan siluman babi ngepet.


"Bagaimana Kang?" tanya Ranti setelah tidak mendapat jawaban.


"Akang sangat mengerti, terima kasih kalau Ranti memiliki pemikiran seperti itu, karena sesuai dengan keinginan akang. tapi,"


"Tapi apa kang?"


"Tapi Akang orang bodoh Neng Ranti, otak akan tidak sama dengan orang lain. akang sadar diri bahwa akang sangat bodoh, belegug, koplok, susah mengerti, cepat lupa. Akang takut kalau akang pergi ke pesantren hanya akan menghabiskan biaya saja," ujar Eman yang sadar dengan dirinya sendiri, wajahnya tertunduk lesu menggambarkan tidak ada keberanian dalam dirinya.

__ADS_1


"Kang Eman. manusia itu tidak ada yang pintar di dalam perut, mereka pintar karena ada kemauan untuk belajar. Siapa tahu saja akang menjadi orang yang cerdas, kalau terus menerus belajar."


"Akang bosen kalau harus belajar terus Ranti, sekolah bertahun-tahun, pesantren di rumah pak ustad berbulan-bulan. tapi otak akang seperti air di atas daun keladi, tidak ada sedikitpun bekas dari pelajaran yang diberikan."


"Kalau begitu, akang tidak boleh bosan! akang harus ingat dengan peribahasa."


"Peribahasa apa?"


"Sekeras apapun batu, kalau ditetesi setiap hari dengan air maka lama-lama batu itu akan cembung, bahkan bisa sampai pecah. Ranti yakin kalau Akang terus belajar dan bersungguh-sungguh Akang akan mendapat ilmu, karena jangankan otak manusia yang sangat lembut. batu saja yang keras kalau setiap hari dijatuhi air, maka batu itu akan berbekas."


"Iya benar kalau dipikir ke arah situ, tidak ada salahnya. tapi," Eman tidak melanjutkan pembicaraannya, lidahnya terasa kelu merasa malu ketika hendak berucap.


"Jangan menyerah sebelum bertanding, Jangan mengeluh sebelum mencoba, apalagi akan seorang laki-laki harus memiliki keberanian yang sangat besar, harus memiliki tanggung jawab. apa akang mau tega kalau melihat Ranti terbawa oleh pekerjaan Abah?"


"Baik, baik kalau seperti itu," jawab Eman yang mulai luluh.


"Baik apa Kang?"


"Terima kasih kalau seperti itu kang, Ranti nanti akan bilang sama abah kalau Kang Eman mau pergi ke pesantren," jawab Ranti yang terlihat sumringah, karena merasa bahagia suaminya mau pergi ke pesantren.


Eman yang masih bekerja dengan segera dia pun mengambil bambu geluntungan yang tadi hendak ia belah, kemudian dia menempelkan pisau di atas bambu itu, kemudian dipukul menggunakan pentungan yang terbuat dari ruyung pohon aren.


Bambu Yang eman belah sangat tebal dan terlihat ada matanya, sedangkan pisau yang digunakan sangat kecil, karena besok itu biasa digunakan untuk menipiskan array bukan untuk membelah bambu. sehingga pisau itu ketika dipaksa buat membelah, tiba-tiba pisau itu patah seketika, membuat mata Eman terbelalak dia ingat bahwa pisau itu adalah pisau mertuanya, dia takut kalau suatu saat mertuanya akan menanyakan. Bahkan bukan Eman saja yang terkejut, Ranti pun sama sementara waktu dia tidak berucap, hanya matanya saja yang menatap ke arah pisau yang sudah terbelah dua.


"Neng ini pisau punya abah bukan?"


"Iya, itu pisau punya abah yang biasa di bungkus menggunakan kain putih."


"Neng, jangan bilang sama abah, nanti akang akan ganti dengan pisau yang sama," sanggup Eman yang merasa tidak enak.


"Biarkan saja Kang, itu kan hanya pisau nanti kalau abah bertanya, kita tidak usah menjawab."


"Ya sudah kalau seperti itu."

__ADS_1


Eman dan Ranti sepemikirannya, mereka tidak terlalu memikirkan pisau yang sudah patah, karena menurut perkiraan mereka harga pisau itu tidak seberapa masih banyak yang bisa dibeli. Eman dan Ranti tidak mengetahui bahwa pisau itu adalah tanda untuk menentukan umur Mbah Abun berada di alam manusia, jadi kalau pisau sudah rusak Maka umur Mbah abun sudah sampai akhirnya, dulu waktu bertemu dengan prabu Uwul-uwuul dia meminta kehidupan seumur pisau raut.


Tak terasa waktu pun semakin lama semakin mendekati waktu maghrib, hingga akhirnya keadaan pun menjadi gelap, suara gerapung terdengar riang dari arah kebun bambu di sahuti dengan suara jangkrik dan ciang-ciang diiringi suara kodok dan katak yang terdengar dari arah sawah, membuat Eman dengan tergesa-gesa menuju ke air untuk membersihkan tubuh dan mengambil air wudhu, sedangkan istrinya masuk ke dalam rumah untuk menutup dan mengunci jendela sambil menyalakan Damar.


~


Keesokan paginya, sesuai dengan rencana yang sudah dibahas bersama suaminya, Ranti menemani Eman untuk menemui bapaknya, menyampaikan bahwa Eman sudah menagih janji untuk meminta modal buat belajar di pesantren.


Awalnya Mbah Abun terdiam, soalnya dia merasa bingung takut menjadi petaka terhadap dirinya, karena sudah dikasih tahu oleh aki sobani bahwa menantunya akan menjadi duri dalam daging, bisa menjadi petaka ke kerajaan siluman babi yang berada di Gunung Karang.


Meski begitu, Mbah Abun tidak berani untuk berbicara jujur karena dia takut Eman sakit hati, bahkan bisa saja Eman kabur dari rumahnya dan sekaligus Eman akan membenci Bah Abun dan anaknya pun tidak akan menyetujui dengan keputusannya.


"Bagaimana Abah, mengizinkan atau tidak, karena ini sudah menjadi janji Abah dan Abah sudah menyanggupi." tanya Ranti yang tidak sabar sambil menatap wajah bapaknya.


"Abah sangat mengerti Ranti dan Abah ingat sama janji Abah. Tapi Apakah tidak bisa kalau ditunda terlebih dahulu?"


"Abah sudah cukup waktunya Kang Eman berada di rumah, karena kalau Ranti hitung kita sudah hampir enam bulan menikah. itu cukup untuk kita saling melepaskan rasa sayang dan sekarang waktunya Kang Eman pergi ke pesantren untuk menuntut ilmu agama."


"Iya Abah ijinkan saja menantu kita pergi ke pesantren, karena itu kan tidak susah!" timpal Ambu yayah yang tidak mengerti dengan kesusahan yang sedang dihadapi suaminya.


"Ya sudah kalau begitu, Abah ijinkan! tapi mau ke pesantren mana?" akhirnya Mbah Abun pun mengizinkan walaupun hatinya terasa berdebar.


"Kurang tahu Abah, itu urusan kan Eman!"


"Mau ke Cianjur Abah," jawab Eman.


"Silakan kalau begitu, besok Ujang berangkat. hari ini siapkan perbekalan untuk Ujang tinggal di pesantren, tapi mohon maaf kalau abah tidak akan bisa mengantarkan."


"Tidak apa-apa Abah, Saya hanya mohon doa saja dari Abah."


"Baik Jang, baik!"


Akhirnya musyawarah itu pun selesai, hati Ranti dan Eman merasa lega soalnya Mbah Abun sudah menyanggupi mau membiayai Eman untuk belajar ilmu di pesantren.

__ADS_1


__ADS_2