Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun

Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun
Bab 32. Menemui aki Kebun


__ADS_3

"Terima kasih banyak Besan, sekarang kita sudah bersatu terikat oleh anak-anak kita."


"Iya benar...!"


"Doa dari besan saya terima dengan penuh kebahagiaan, semoga doa besan di kobul hehehe. Ya sudah kalau tetap memaksa untuk pulang, hati-hati di jalan! Semoga perjalanannya lancar. Biarkan anak-anak kita nanti Abah didik, biar menjadi orang yang berguna bagi dirinya sendiri dan orang lain," jawab Abun yang terlihat sumringah dipenuhi dengan kebahagiaan.


"Iya Abah, terima kasih doanya!" jawab Mang Dodo membalas kebahagiaan Mbah Abun dengan mengulum senyum.


"Eman kamu sebagai laki-laki harus bertanggung jawab terhadap istrimu, Sayangi dia, hormati dia....! karena kamu sudah mengungkapkan janji untuk setia dengannya. nanti kalau ada waktu kamu main ke kampung Sukamaju tengok orang tuamu!" ujar Rani yang menatap ke arah anaknya.


"Baik ibu...!" hanya itu jawaban dari iman Entah mengapa dadanya dipenuhi dengan rasa tangis, sehingga dia tidak bisa berkata-kata.


"Nyai.....! Ibu pulang dulu, nanti kalau ada waktu ajak suamimu untuk menemui keluarganya. dan ibu nitip anak ibu hormati dia sebagai suamimu, meski dia banyak kekurangan, Tapi walau bagaimanapun itu adalah suami sahmu suami yang kamu pilih, tanpa adanya paksaan." lanjut Rani sambil menatap ke arah Ranti.


"Baik Ibu, saya akan prioritaskan semua Nasehat Ibu."


Setelah sedikit memberikan wejangan terhadap anak-anaknya yang baru saja memulai kehidupan baru. akhirnya keluarga dari kampung Sukamaju pun bangkit berdiri lalu bersalaman untuk berpisah.


Orang-orang yang kemarin mengantar pernikahan Eman mereka telah bersiap dengan membawa oleh-oleh yang diberikan oleh Mbah Abun, oleh-oleh yang begitu banyak dengan makanan-makanan yang terbilang mewah.


Setelah semuanya rapi rombongan Bang Dodo pun mulai berangkat meninggalkan rumah mbah Abun diantarkan oleh tatapan Ranti dan Eman hingga lama-kelamaan rombongan itu tidak terlihat oleh belokan jalan


Setelah semuanya tidak terlihat, Mbak Abun dan Abu Yayah masuk kembali ke dalam, untuk mengontrol dapur yang masih berantakan, sedangkan Eman dia duduk di kursi sambil menyandarkan punggungnya.


Eman terlihat menarik nafas dalam seperti sedang memikirkan sesuatu. kejadian itu terlihat jelas oleh Ranti sehingga dengan segera dia pun menghampiri suaminya kemudian duduk di sampingnya.


"Kang Eman.....!" Panggil Ranti sambil menggenggam tangan Eman.


"Ada apa neng?" jawab Eman sambil mengangkat tangan istrinya ke dekat bibir.


"Perjuangan kita sudah berada di tengah-tengah. sekarang kita tinggal menghadapi cita-cita Akang, Bagaimana rencanakan selanjutnya?"


"Ah....!"

__ADS_1


"Ah kenapa Kang?"


"Kita belum waktunya memikirkan masalah itu, tapi tidak ada salahnya kalau kita membahasnya."


"Iya Akang..., sekarang mau bagaimana?"


"Begini Neng....! ada yang lebih penting daripada memikirkan cita-cita Akang, karena waktunya sangat dekat."


"Maksudnya bagaimana Kang?"


"Sebenarnya akang memiliki guru, namanya aki kebun." ujar Eman mulai mengungkapkan rahasianya.


"Di mana tempat tinggalnya?"


"Tinggalnya di bukit yang berada di tepian hutan, tidak jauh dari mata air yang mengalir ke kampung Ciandam yang berada di sebelah barat," jawab Eman menjelaskan karena sebenarnya dia merasa terkejut soalnya baru sekarang dia ingat bahwa dia memiliki guru yang harusnya menyaksikan pernikahannya dengan Ranti. Namun sayang Dia seolah lupa dengan orang yang memiliki jasa itu sehingga dia merasa berdosa.


"Lah kenapa kan kok seperti itu, kenapa Akang tidak mengundang guru Akang? karena orang-orang yang jauh juga datang, tapi guru Akang tidak dikasih tahu."


"Kalau sudah begini kita harus bagaimana?" tanya Ranti yang merasakan hal yang sama.


"Kalau Abah dan Ambu mengijinkan, dan Ranti juga mengijinkan dan tidak keberatan, Bagaimana kalau lusa kita ke sana."


"Ke mana?"


"Iya ke tempat aki kebun, menemui guru Akang."


"Itu sudah seharusnya Kang! Ayo kita sama-sama kita pergi ke sana."


"Iya terima kasih kalau begitu," ujar Eman sambil kembali memegang tangan Ranti begitu erat seolah takut kehilangan, membuat kedua sudut bibir Insan itu terangkat dengan begitu lebar.


"Lagi ngomongin apa, kok kayaknya kelihatan serius banget?" tanya salah seorang pria dari dalam rumah, ternyata itu Mbah Abun yang baru selesai mengatur orang-orang untuk merapikan sisa-sisa hajatan.


"Eh Abah....! sudah selesai Bah?" tanya Nanti sambil menarik tangannya dari genggaman Eman, wajahnya memerah seketika.

__ADS_1


"Belum, tapi Ambu dan Abah sudah menyuruh orang untuk merapikannya." Timpal Ambu Yayah Yang datang berbarengan dengan suaminya, kemudian mereka berdua pun duduk di hadapan anak dan menantunya.


"Lagi ngobrolin apa?" tanya Bah Abun sambil membagi tatap ke arah Eman dan Ranti.


"Lagi ngomongin guru Kang Eman Abah."


"Guru yang mana?"


"Lima hari yang lalu Abah pernah bertanya Kenapa saya memiliki kekuatan yang luar biasa. nah kekuatan itu saya dapat dari seorang kakek-kakek yang tinggal di bukit dekat hutan, tidak jauh dari mata air yang mengalir di barat Kampung Ciandam." jawab Eman menjelaskan.


"Terus kenapa?"


"Kang Eman dia merasa bersalah, karena dia lupa tidak mengundang gurunya itu. sehingga Ranti dan Kang Eman akan menemuinya nanti lusa, tapi Itupun kalau abah dan Ambu mengijinkan."


"Bukit yang mana?" tanya Abu Yayah mengurutkan dahi.


"Bukit yang ada mata airnya, dan sungainya mengalir di sebelah barat Kampung Ciandam," jawab Ranti memperkuat perkataan suaminya.


"Oh itu, dekat Ambu akan mengizinkan. tapi kalau boleh Abu juga mau ikut, Ambu ingin bertemu dengan gurunya Jang Eman."


"Boleh Ambu kalau Ambu mau, nanti sama-sama berangkat bareng."


"Terus kalau abah Bagaimana?" tanya Abu Yayah sambil melirik ke arah suaminya.


"Kayaknya Abah nggak bisa, soalnya Abah harus menanyakan pekerjaan Abah di kota, kalau kalian mau pergi, pergilah.....! tapi hati-hati jangan sampai gegabah," jawab Mbah Abun diakhiri dengan nasehat.


Setelah sampai dengan waktu yang ditentukan, Mbah Abun pun pergi ke kota. padahal sebenarnya dia ingin menemui aki sobani, dia tidak berani jujur Karena itu adalah rahasianya. sedangkan Eman dan Ranti diantar oleh Ambu Yayah berangkat menuju tempat tinggal aki kebun, jadi orang yang berangkat itu tiga orang.


Di perjalanan mereka terus mengobrol dengan obrolan yang sangat membahagiakan, disertai dengan suara tawa-tawa kecil melengkapi kebahagiaan itu. rasa capek tidak terasa, tanjakan yang tinggi tidak menjadi halangan, terhibur oleh gemericitnya suara burung teralihkan oleh semilir angin gunung yang menerka apalagi mereka baru saja menikah belum menghadapi kesusahan.


"Sebelah mana rumahnya si aki itu Ujang?" tanya Ambu Yayah sambil berhenti mengatur nafas yang lumayan memburu.


"Tuh di sebelah sana Ambu, di tebing bukit dekat mata air." jawab Eman sambil menunjuk salah satu tebing yang berada di tepian hutan.

__ADS_1


__ADS_2