Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun

Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun
Bab 31. Menikah


__ADS_3

"Ternyata Ujang mengajak orang lain?"


"Yah bapak, sengaja mau bertemu dengan Bapak."


Dengan segera Mang Dodo pun berjalan menuju ke arah teras, terlihatlah Mbah Abun yang masih berdiri di halaman rumahnya, tanpa berpikir panjang Mang Dodo pun menyambut dengan mengajak Mbah Abun untuk masuk ke dalam rumah.


Mbah Abun pun manggut, kemudian dia masuk ke dalam meski dibarengi dengan rasa malu. soalnya dia menjadi buah perhatian, semua tatapan menuju ke arahnya. Setelah berada di tengah rumah mbah Abun pun duduk berdampingan dengan Eman yang dihapit oleh Mang Dodo.


Setelah mengobrol Ala kadarnya dari arah dapur keluarlah jamuan seperti air teh, pisang, ditambah dengan rokok.


"Ujang, bapak itu masih merasa penasaran. sekarang Tolong ceritakan apa saja yang menimpa Ujang, mumpung masih banyak orang untuk menjadi saksi," ujar Mang Dodo yang mulai berbicara serius, matanya menatap ke arah Eman.


Tanpa diminta dua kali Eman pun mulai menceritakan kisah hidupnya, dari awal Dia ditangkap oleh Hadi dan Warsa sampai waktu itu, diceritakan semuanya tanpa ada yang terlewat. membuat orang-orang yang hadir di rumah Eman menatap penuh keheranan karena rasanya tidak percaya mendengar cerita yang di luar Nalar itu.


Setelah selesai menceritakan alur cerita hidupnya Eman pun mulai menceritakan maksud dan tujuannya seperti yang sudah direncanakan dengan Mbah abun.


"Nah begitulah ceritanya Bapak dan semua orang yang hadir di tempat ini!" pungkas Eman mengakhiri ceritanya.

__ADS_1


"Oh Ternyata begitu," hanya segitu tanggapan Mang Dodo, orang-orang yang lain masih terlihat melongok bahkan terlihat ada yang mengerutkan dahi.


Sedangkan Mbah Abun menjadi bahan tatapan orang yang hadir di rumah Eman, seperti ingin menghafal wajahnya karena kalau namanya mereka sudah pada tahu, karena pernah tersohor dengan adanya sayembara.


"Mohon maaf sebelumnya, mohon maaf kepada semua orang yang hadir di rumah ini. saya mohon disaksikan bahwa saya datang ke tempat ini mau meminta izin kepada orang tuanya bahwa Jang Eman akan dinikahkan dengan anak saya yang bernama Neng Ranti, selain mereka saling mencintai, Abah sudah terlanjur berucap bahwa akan menikahkan anak Abah kepada siapapun yang berhasil membawa babi beranting ke rumah." ujar Mbah Abun memecah heningnya suasana, Dia berbicara seperti itu dengan dipenuhi kebahagiaan, karena sudah terbebas dari semua janji-janji yang terucap.


Bersaksi, bersaksi, bersaksi......!


Jawab orang-orang yang berkumpul dengan serempak. dan Setelah itu mereka pun mengobrol ngalor ngidul tanpa judul, yang terpenting suasana menjadi hangat. jamuan dikeluarkan semuanya, tidak ada sedikitpun yang tersisa di dapur, seolah seperti sengaja untuk mengungkapkan rasa bahagia karena kedatangan Eman membuat para tamu undangan ikut merasa bahagia, sehingga mereka pun terlihat sangat menikmati jamuan itu sambil menanggap cerita Eman.


Putusannya rencana pernikahan itu akan digelar tiga hari lagi dan semua biaya akan ditanggung oleh Mbah Abun, membuat keluarga Mang Dodo merasa bahagia, soalnya mereka tidak harus bersusah payah memikirkan biaya pernikahan anaknya.


Waktu yang ditentukan pun sudah tiba, Eman ditemani kedua orang tuanya diantarkan oleh warga Kampung Sukamaju berangkat menuju ke kampung Ciandam. pak ustad terlihat ikut mengantarkan, aki Ridwan pun tidak mau ketinggalan ingin tahu Kampung Ciandam, bahkan banyak teman-teman sebaya Eman yang mengantarkan. alasannya bervariasi, Ada yang ingin mengetahui wujud asli Ranti, ada juga yang ingin menyaksikan orang yang akan dinikahkan, ada juga yang berharap Siapa tahu saja di kampung itu masih ada gadis lain yang bisa dinikahi, dan alasan-alasan yang lainnya. namun yang paling pokok mereka ikut merasa bahagia terhadap temannya yang bernama Eman.


Lama di perjalanan tidak diceritakan, akhirnya Eman beserta rombongannya sampai ke Kampung Ciandam, setelah sampai di rumah mbah Abun dengan penuh Sukacita disambut dengan begitu hormat oleh Ranti dan Ambu Yayah, bahkan Mang Juhri juga ikut menyambut karena sudah diminta oleh Mbah Abun untuk menjadi panitia penyelenggara pernikahan.


Akhirnya suasana di rumah mbah Abun terdengar riuh dengan obrolan obrolan ringan, saling bertukar pengalaman, namun obrolan itu tidak jauh dari cerita Ranti yang baru pulang berkelana menjadi babi ngepet, sambil mengobrol sambil menikmati jamuan yang serba ada.

__ADS_1


Semakin lama rumah mbah Abun pun semakin penuh sesak dengan orang-orang yang membantu, membuat sedikit susah bergerak. dari arah belakang terdengar suara kayu yang dibelah, yang sedang masak juga berjejer rapi, orang-orang yang kebagian tugas lain, Mereka terlihat sibuk mondar-mandir. berita pernikahan Eman semakin menyebar ke seluruh penjuru jagat raya, maklum pembicaraan manusia lebih keras daripada Gong yang dipukul, bahkan berita itu suka ditambahkan yang tersiar itu bukan pernikahan anaknya, melainkan pernikahan Mbah Abun yang hendak memiliki istri kedua.


Berita itu semakin menyebar, hingga akhirnya sampai ke kampung Sukaraja, membuat sahabatnya pun datang untuk menyaksikan kebahagiaan sahabatnya yang mau menikahkan anaknya. Bahkan bukan hanya Mang sarpu saja yang datang, Jana dan Dadun pun ikut datang ingin menyaksikan hari bahagia itu, karena mereka berdua memiliki hati yang besar tidak terus mengungkit kekalahannya. Namun sayang Galih dan Saiful hati mereka semakin panas, apalagi keadaan tubuhnya yang masih belum sembuh total akibat siksaan yang diberikan oleh Eman, karena kesalahannya sendiri yang berani mencegat di jalan, ditambah hatinya yang sakit mendengar kekasih hatinya dinikahi oleh orang lain.


"Saya terima nikah dan kawinnya Ranti binti Abun dengan mas kawin cincin emas sepuluh gram dibayar tunai!"


Sah, sah, sah!


Janji suci itu diucapkan oleh Eman dengan lancar tanpa ada gangguan sedikitpun, hingga akhirnya Eman pun tiba dengan waktunya, menjadi seorang suami dari gadis yang bernama Ranti.


Setelah melaksanakan ijab qobul pernikahan, dilanjutkan dengan acara ramah tamah antara dua keluarga yang baru saja menyatu, saling memberi selamat ikut merasa bahagia terhadap Eman dan Ranti yang baru saja menikah.


Malam harinya, acara kebahagiaan itu dihibur oleh wayang golek, acara hiburan yang sudah lama dinanti oleh warga kampung. karena kala itu wayang golek adalah hiburan termahal dan termegah, sehingga Tak aya lagi banyak penonton yang berbondong-bondong menuju rumah mbah Abun, untuk menyaksikan kesenian langka itu.


Keesokan paginya, Akhirnya acara resepsi pernikahan pun selesai, para tamu satu persatu mulai kembali ke rumahnya. yang tersisa hanya tamu dari jauh yaitu Mang Dodo dan Rani ditambah sesepuh Kampung Sukamaju, yang terlihat sudah bersiap-siap untuk pulang ke kampungnya masing-masing.


"Abah saya haturkan beribu-ribu terima kasih atas semua kebaikan yang Abah berikan. Nah sekarang saya akan menyerahkan seutuhnya anak saya yang bernama Eman, saya mohon sama abah, tolong Didik dia, tolong Arahkan dia ke jalan yang baik dan benar dan tolong Rawat dia seperti merawat anak sendiri. Karena sekarang kita memiliki kewajiban yang sama, karena mereka sudah terikat oleh tali pernikahan. dan saya mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya tidak memiliki harta benda Seperti Abah sehingga tidak bisa memberikan bekal untuk anak. yang saya bisa lakukan hanya mendoakan anak-anak kita semoga menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah, selamat di dunia selamat di akhirat, saling asah, saling Asih. saling asuh, saling menitipkan diri, saling menjaga....! hanya segitu yang bisa saya berikan terhadap anak saya, Semoga doa saya dikabulkan oleh Allah yang Maha Kasih dan maha sayang," ujar Mang Dodo yang terdengar lancar Sepertinya dia ingin puas mendoakan anaknya.

__ADS_1


__ADS_2