
"Setahu ambu di tempat itu tidak ada kampung."
"Iya benar Ambu, di tempat itu tidak ada perkampungan, yang ada hanya Saung sawah, tempat beristirahat aki kebun dan si Nini."
"Emang mereka berkebun apa Ujang?"
"Biasa Ambu palawija, ditambah sawah."
"Setahu ambu di tempat itu tidak ada sawah Ujang, tidak ada kebun juga. Karena di tempat itu adalah tempat batu Cadas yang bertebing, tidak ada lahan untuk menanam padi, tidak ada tempat yang pantas untuk dijadikan sawah." Ujar Ambu Yayah yang tetap Kukuh dengan pengetahuannya.
"Kalau itu kurang tahu Ambu, tapi pengalaman saya seperti itulah."
Orang-orang yang mengobrol pun terdiam, Kemudian mereka pun melanjutkan perjalanan menaiki bukit semakin lama jalan yang mereka lalui semakin terjal, dipenuhi dengan tebu timbarau yang menggaris ke arah wajah. sesekali mereka harus membuka jalan, karena jalan yang mereka lalui sangat tebal oleh rerumputan itu.
Eman terus berjalan diikuti oleh Ranti yang menuntun ibunya yang bernama Ambu Yayah, setelah berjuang begitu berat akhirnya mereka bertiga pun sampai di tempat tujuan. namun Eman hanya terdiam berdiri, matanya melongok, mulutnya terbuka lebar tidak percaya dengan apa yang sudah terjadi, karena seminggu yang lalu dia tinggal di tempat itu. tidak akan ragu, tidak akan salah, karena dia tinggal bukan sehari ataupun dua hari, melainkan seminggu lebih. namun sekarang penglihatannya berubah membuat Eman terkejut dan bingung memikirkannya.
Ranti dan Ambu Yayah tidak memiliki pikiran apapun, karena mereka berdua menyangka bahwa mereka belum sampai ke tempat tujuan, namun mata air sudah ditemukan bahkan terlihat airnya keluar dengan begitu jernih.
"Kang Eman sebelah mana rumah aki kebon itu?" Tanya Ranti sambil memegang tangan Eman.
"Akang juga sedang bingung, ke mana Saung si aki. karena akang sangat yakin bahwa Saung itu berada di tempat ini. tuh lihat Tebing yang biasa dipakai latihan, Dan ini juga pohon pinang yang biasa digunakan Akang untuk latihan memanjat. tapi ke mana Saung dan sawahnya?" jawab Eman sambil terus memindai area sekitar.
"Menurut ambu juga Ujang, di tempat ini tidak ada rumah, tidak ada sawah," ujar Ambu Yayah ikut nimbrung.
"Kalau sudah begini Saya harus bagaimana Ambu, karena saya sangat yakin bahwa tempat ini adalah tempat aki kebun, soalnya saya lumayan lama tinggal di sini, tapi kenapa sekarang Kenapa tidak ada?"
__ADS_1
"Kita cari ke tempat yang agak lembah, Siapa tahu saja ada tanda-tanda yang bisa dijadikan petunjuk."
"Baik kalau begitu ambu."
Ketiga orang itu terus berjalan menuju ke arah Lembah, semakin lama semakin mendekat ke arah mata air. Ranti terpaksa harus dituntun, soalnya jalannya semakin terjal takut dia terpeleset masuk ke dalam lembah.
Setelah sampai ke tempat yang dituju ketiga pasang mata pun terbelalak dengan sempurna karena di tempat yang jauh ke mana-mana itu ada kuburan yang ditandai dengan tumpukan batu yang disusun menjadi persegi panjang, namun itu tidak terlalu jelas karena kuburan itu ditumbuhi dengan rumput.
Eman yang belum mendapat jawaban dari semua keanehan yang ia temui, dia pun menundukkan tubuh dia salah satu batu yang lumayan besar, matanya terus menatap ke arah kuburan. semakin lama menatap Eman semakin yakin bahwa gundukan batu itu adalah kuburan karena ada Batu Nisan yang menandai, yang sebelah kanan batu nisan itu lumayan tinggi sedangkan yang sebelah kiri batu nisannya lebih pendek dari batu nisan yang berada di sebelah kanan.
"Apa ini maksudnya?" gumam Eman sambil menyeka keringat yang memenuhi dahinya. Ia tidak habis pikir kenapa kejadian yang dia alami sangat tidak masuk akal, Padahal kalau kedua gurunya sudah meninggal maka tidak mungkin kuburannya sudah setua ini, tapi kalau yang dialaminya tidak nyata sudah jelas dia memiliki kekuatan yang luar biasa.
"Kenapa Kang?" tanya Ranti yang duduk di sampingnya.
"Akang sedang bingung Neng, karena Akang sama sekali tidak mengerti dengan semua ini."
"Jang Eman....!" Panggil Ambu Yayah Yang sejak dari tadi terdiam.
"Iya kenapa Ambu?" tanya Eman sambil melirik ke arah mertuanya.
"Ambu ingat bahwa kakeknya si Nyai pernah bercerita bahwa di tempat ini dahulunya ada sebuah Padepokan persilatan, yang diduduki oleh seorang sepuh yang sangat gagah dan Sakti ditambah baik hati. dia termasuk pengawal kerajaan, Kalau tidak salah namanya Ki sangsara."
"Oh begitu, Terus kenapa dikubur di tempat ini?"
"Karena dia pernah bertarung dengan satu raja dari kerajaan barat Pulau Jawa, Namun sayang dalam pertarungan itu Ki sangsara harus meninggal dunia hingga akhirnya muridnya pun memendamnya di sini," jawab Ambu Yayah menceritakan pengetahuannya berdasarkan cerita yang diterima dari orang tuanya.
__ADS_1
"Oh begitu, ternyata kejadiannya sangat aneh, bahkan anehnya sangat aneh....," ujar Eman yang masih belum mengerti dengan semua yang terjadi, karena yang dirasakan olehnya dia merasa nyata pernah tinggal di tempat itu, bahkan lumayan lama.
Suasana pun kembali menjadi hening, yang terdengar hanya suara air yang mengalir dari arah mata air, dihiasi oleh suara burung burung yang terus berkicau tanpa henti, keadaan waktu semakin lama semakin siang, namun tariknya matahari tidak tembus ke tempat itu akibat banyak rerumputan-rumpun yang menghalangi.
"Daripada kita berpikiran yang tidak-tidak, mendingan kita urus saja kuburan ini. rumputnya kita cabut, kayu-kayu yang menghalangi kita tebang, batu-batu yang berserakan kita betulkan, soalnya makam ini adalah makam keramat yang secara tidak langsung menjadi gurunya Kang Eman," ujar Ranti memberikan saran.
"Iya benar juga Neng Ranti. Ya sudah ayo Jangan membuang waktu, kita bersihkan kuburan ini sekarang!" jawab Eman sambil bangkit dari tempat duduknya.
Setelah itu akhirnya Ranti, Eman dan Abu Yayah, mereka bertiga bekerja sama mencabuti rumput-rumput yang tumbuh liar di atas pekuburan, bahkan kayu-kayu yang berada di atas pekuburan itu Eman tebang Habis tak tersisa. Eman terlihat sangat bersungguh-sungguh ketika bekerja, tidak memperdulikan rasa capek hingga akhirnya pekerjaan pun selesai, Sekarang kuburan itu terlihat dengan jelas karena batunya sudah dirapikan dan di sekitar kuburan itu tidak ada rumput yang tumbuh liar, membuat hati Ranti dan Eman merasa lega karena sudah terlepas dari belenggu.
Setelah semuanya dirasa rapi, Ketiga orang itu pun duduk kemudian memanjatkan doa agar orang yang sudah meninggal diberikan ampunan ketika mereka berdosa, dan diberikan tambah-tambah nikmat ketika mereka berada dalam karunia-Nya.
Selesai memanjatkan doa, ketiga orang itu pun kembali ke kampung Ciandam. lama di perjalanan tidak diceritakan, mereka sudah sampai ke rumah yang terlihat sangat sunyi karena Bah Abun belum pulang dari Gunung Karang yang jaraknya sangat jauh untuk menemui gurunya yang bernama aki sobani.
~
Keesokan paginya, Eman pun berjalan-jalan di pekarangan rumah, memindai keadaan sekitar yang dipenuhi oleh Arai bambu untuk membuat kerajinan anyaman, sehingga terbesit di benaknya untuk belajar membuat array, Siapa tahu saja ke depannya dia bisa menganyam.
"Sebelum aku pergi ke pesantren, Apa salahnya kalau aku belajar anyaman terlebih dahulu. karena si Abah juga bisa sukses dari hasil anyaman, bahkan ada selintingan kabar dia bisa kaya seperti sekarang Itu, semua hasil dari anyaman." begitulah pemikiran hati Eman kemudian dia pun mendekat ke arah Ranti yang sedang memilih gabah yang berada di beras.
"Nyai....., apa Nyai punya pisau raut?" tanya Eman setelah sampai ke dekat istrinya.
"Buat apa Akang?"
"Akang mau belajar membuat Arai dari bambu, Nanti ke depannya akan mau belajar membuat bakul."
__ADS_1
"Oh Akang mau jadi tukang anyaman, Terima kasih banyak kalau akan memiliki keinginan seperti itu. tapi bukannya Akang mau pergi ke pondok pesantren?"