
Melihat suaminya bengong seperti itu, Ambu Yayah menjadi salah tingkah, dia merasa canggung menghadapi suami yang sedang melamun, hingga akhirnya dia pun memberanikan diri untuk bertanya kembali.
"Sebenarnya Abah pulang dari mana?:
"Abah pulang bekerja Ambu, Abah mencari jalan baru untuk mengembangkan usaha kita. yang kedua Abah baru pulang menemui aki sobani yang dulu dimintai tolong oleh Abah."
"Bagaimana kabarnya, terus apa saran dari beliau?:
"Aki sobani sangat sehat Ambu, dan saran yang diberikan adalah kita harus membuat rumah buat anak kita yang baru berumah tangga, agar mereka tidak tinggal satu atap dengan kita."
"Kenapa seperti itu Abah?"
Dengan segera Mbah Abun pun menceritakan semua petuah dan nasehat yang diberikan oleh gurunya dengan begitu serius, dari pelupuk matanya tergambar rasa khawatir yang terbaca oleh istrinya, maklum perasaan perempuan sangat tajam.
"Emang kenapa kalau mereka tinggal serumah dengan kita?:
"Tidak ada apa-apa Ambu, namun aki sobani menyarankan agar kita segera membuatkan rumah untuk mereka, agar mereka bisa dan mampu hidup mandiri."
"Jadi kita harus bagaimana Abah?"
"Ah Ambu, Ambu....! kenapa kalau abah ngomong itu tidak dengarkan, ya sekarang kita harus mencari rumah yang dijual atau kalau tidak kita buat saja rumah baru."
"Aduh.....!"
"Aduh apa lagi?"
"Kalau si Nyai dan Jang Eman dipisah, nanti rumah kita akan terasa sunyi dan sepi. Bagaimana pemikiran Abah kok bisa seperti itu, kayak mempunyai anak yang banyak saja. kalau menurut pendapat abu lebih baik anak-anak kita tetap tinggal serumah karena nantinya rumah ini tidak akan untuk siapa lagi, pasti untuk mereka berdua, calon pewaris kekayaan kita."
"Haduh Ambu, Ambu....! Abah sangat mengerti tapi ini semua adalah petuah yang sudah terasa manfaat dari nasehatnya, pembicaraannya tidak ada yang salah, dan kita sudah merasakan manfaat dari petuah aki sobani. jadi amanat dari beliau kita harus melaksanakan!"
__ADS_1
"Bagaimana kalau anak-anak kita tidak setuju?"
"Ya kita rayu saja, kita kasih hadiah, yang terpenting rumah tangga mereka tidak bergabung dengan rumah tangga kita, agar kehidupan mereka bisa mandiri, karena kalau sudah pisah rumah mereka akan merasakan bagaimana peliknya walaupun hanya tidak memiliki garam. jangan sampai orang tua lagi, orang tua lagi....! tujuan kita sangat baik yaitu untuk mendidik mereka."
Mendengar pernyataan suaminya, Abu Yayah pun terdiam berpikir mencerna ucapan Mbah Abun. Sebenarnya dia tidak setuju, Dia sangat khawatir takut anak-anaknya belum bisa hidup mandiri di rumah sendiri, karena mereka belum memiliki ruang dan pengalaman, masih butuh bimbingan orang tua. dan lagi Ambu ya Yah merasa kesepian kalau harus berpisah dengan anak dan menantunya. tapi walaupun seperti itu dia tidak berani untuk membantah keinginan suaminya, apalagi permintaan itu adalah amanat yang di berikan oleh aki Kuncen, hingga akhirnya Ambu Yayah terpaksa mau tidak mau menyetujui keinginan Mbah Abun.
Keadaan waktu semakin lama semakin malam, dari arah luar terdengar suara jangkrik dan ciang-ciang yang tidak bosan untuk menghiasi malam itu. kira-kira pukul 08.00 malam Ranti dan suaminya datang membuat Bah Abun merasa bahagia, tidak membuang waktu dia langsung mengungkapkan maksudnya memberitahu ngantuk menantu dan anaknya bahwa mereka berdua akan dibuatkan rumah, dengan alasan agar mereka bisa hidup mandiri. bahkan Mbah Abun mengiming-imingi dengan modal usaha dan tanah garapan dan hadiah-hadiah lainnya, membuat Eman merasa bahagia karena sifatnya sangat rajin dan banyak keinginan, membuat Eman tidak menolak permintaan mertuanya.
"Nah begitu Ujang maksud Abah, membuatkan rumah untuk Ujang."
"Terima kasih banyak Abah, terima kasih...! buat saya itu berita yang sangat membahagiakan karena itu sangat sesuai dengan keinginan saya. tapi saya tidak tahu dengan keinginan Neng Ranti, istri saya. untuk itu silakan Abah tanya langsung!" ujar Eman sambil menundukkan pandangan, namun wajahnya terlihat sumringah diliputi kebahagiaan.
"Kalau saya tidak akan berani menolak Kang, saya akan mengikuti apa yang menjadi putusan suami," ujar Ranti yang menimpali mengungkapkan penemuannya yang Sehati dengan sang suami.
"Syukur kalau begitu, Abah sangat bahagia mendengarnya. Ya sudah besok kita mulai menyiapkan barang-barang untuk pindahan dan nanti kalau ada orang yang mau menjual rumah kita beli saja." jawab Mbah Abun yang terlihat sumringah dia merasa bahagia mendengar kesediaan anak dan menantunya.
"Di kebun jahe yang dekat haur kuning bukan?"
"Iya di situ, agar rumah kita tetap berdekatan."
"Tidak apa-apa di tempat itu juga, tapi bagaimana dengan kamu Ranti, Apakah kamu setuju atau tidak?"
"Saya tidak berani menyimpulkan Abah, saya akan mengikuti keputusan Abah dan Kang Eman."
"Baik, baik.....! kalau seperti itu, hehehe."
Ternyata musyawarah itu sangat lancar, tidak harus ada perdebatan yang mencengangkan. musyawarah itu selesai waktu itu juga. semakin lama keadaan waktu pun semakin malam, hingga akhirnya musyawarah itu berakhir. dengan masuk ke kamar masing-masing, untuk mengistirahatkan tubuh setelah seharian bekerja. Malam itu mereka tertidur dengan lelap karena habis melaksanakan pekerjaan yang menguras tenaga.
Semilir angin kecil menerpa dedauan, suara kodok dan katak terdengar dari arah sawah, diiringi oleh suara jangkrik, sesekali terdengar suara anjing yang menggonggong, menghiasi keadaan malam di kampung Ciandam.
__ADS_1
****
Keesokan paginya Mbah Abun mulai disibukan dengan mengurusi kebutuhan-kebutuhan untuk membuat rumah, yang sudah ada langsung dibuat. karena pagi itu juga Mbah Abun sudah menemui tukang yang sangat dipercaya, sedangkan barang-barang yang kurang dia beli dari tetangga ataupun berangkat langsung ke kota.
Mbah Abun adalah orang yang sangat kaya, segala keinginannya akan mudah terwujud. setelah satu bulan akhirnya rumah untuk Eman pun berdiri kokoh dengan ukuran minimalis, membuat orang akan betah tinggal di rumah itu.
Setelah dua hari dari selesai membangun, rumah itu langsung diisi, bahkan perabot rumah tangga pun Mbah Abun lengkapi dengan membelinya dari kota, membuat Eman merasa bahagia Karena itulah yang ia cari.
Akhirnya Eman dan Ranti tetap tinggal di rumah yang baru, mereka tidak merasa kesusahan sedikitpun yang ada hati mereka Terasa tenang, pandangannya sangat jauh, Bumi Langit terasa lebar.
Beberapa bulan berlalu, Eman sudah kembali memegang pisau raut milik Mbah Abun, dia menggunakan untuk menipiskan Arai, karena dia tetap Kukuh ingin mengetahui tata cara membuat kerajinan anyaman.
Sore itu, Eman bekerja di samping rumah agar merasa Teduh tidak tersinari oleh matahari, karena terhalang oleh pohon buah-buahan. sedang khusuk belajar Ranti pun mendekat kemudian duduk di atas kayu.
"Kang Eman....!" Panggil Ranti dengan menatap lekat ke arah suaminya seperti ada yang serius hendak ya bicarakan.
"Yah kenapa neng?"
"Kenapa Akang tetap Kukuh ingin belajar tentang cara menganyam, apakah akang tidak mau bekerja yang lain, yang lebih gampang?"
"Bekerja itu semuanya sama, yang terpenting halal serta bisa menghasilkan uang. sudah pasti keinginan itu semuanya sama ingin mendapat untung dari pekerjaan yang enteng, hasilnya banyak dari modal yang kecil. tapi sebelum semuanya itu ketemu apa salahnya kalau kita menapaki tangga terlebih dahulu, karena sekolah juga tidak langsung naik ke kelas enam, kita harus masuk ke kelas satu terlebih dahulu."
"Oh begitu, jadi Akang mau tetap Kukuh. Tapi kapan Akang mau pergi ke pondok pesantren soalnya hampir sudah enam bulan kita menikah, akang sepertinya tidak ada niat untuk menepati keinginan akang itu?"
"Untuk sementara waktu akang mau fokus belajar dulu untuk bekerja, mumpung masih ada gurunya yaitu Abah sendiri, masih ada orang yang bisa ditanyakan, Masih ada orang yang bisa dimintai pengalaman, agar kedepannya kita bisa mengikuti. biarkan dulu tentang pesantren, karena masih banyak waktu yang luang," jawab Eman sambil mengambil bambu yang masih utuh maksudnya dia mau membelahnya.
"Terima kasih kalau seperti itu, tapi Ranti ada sesuatu hal yang ingin dibicarakan, yang harus akang ketahui."
Mendengar istrinya yang berbicara dengan wajah serius, Eman pun menghentikan pekerjaannya. bambu yang masih geluntungan yang mau dibelah tidak jadi, sekarang dia menatap lekat ke arah istrinya, merasa penasaran ingin segera mengetahui.
__ADS_1