Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun

Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun
Bab 40. Mbah Abun Meninggal


__ADS_3

"Bukan begitu Nyai, tapi Ambu merasa seperti di belakangi, sangat tega. Tidak ada sesuatu yang aneh, tapi tiba-tiba terkulai lemas tidak bernyawa," jawab Abu Yayah sambil terisak, karena merasa sedih ditinggalkan oleh sang suami.


"Ambu urusan umur dan nyawa bukan urusan manusia, kita harus bisa menerima dengan sadar dan sabar, dan siapa tahu saja umur kita juga tidak akan lama lagi, karena umur itu tidak ada yang mengetahui. mendingan daripada kita terus bersedih, kita harus mengurus jenazah Abah seperti biasa pada umumnya."


Ambu Yayah masih terisak sambil menyeka air mata yang membasahi pipi keriputnya, bahkan suaranya tersendu sedan, namun lama-kelamaan suara tangis pun terhenti, mungkin Abu Yayah sudah bisa berpikir dan mencerna apa yang disampaikan oleh Ranti. karena walaupun dia menangis sampai pagi, itu tidak akan memberikan arti sedikitpun, yang sudah meninggal tidak akan bisa hidup kembali, tidak akan bisa pulang kembali.


Setelah Abu Yayah bisa menguasai keadaan, jenazah Bah Abun dibenarkan tangannya disimpan di atas perut, tubuhnya ditutup menggunakan kain jarik, kemudian Dia menyuruh Ranti untuk memberitahu tetangganya agar ada teman yang menjaga.


Ranti pun keluar dari rumah, kemudian dia berjalan menuju ke rumah Mang Zuhri Karena hanya orang itulah yang terdekat dengan keluarga Ranti. Sesampainya di depan rumah dengan segera dia pun berteriak memanggil tuan rumah yang sudah lelap tertidur. lama dipanggil akhirnya Mang Zuhri pun bangkit dari tempat tidurnya, lalu berjalan menuju keluar. setelah pintu terbuka matanya pun terkejut karena melihat Ranti yang berdiri sambil terisak.


"Ada apa Nyai, kok malam-malam menangis?" tanya bang Zuhri sambil menatap penuh rasa heran.


"Maaf Mang, kalau saya mengganggu! soalnya Abah sudah terus," jelas Ranti dengan suara terbata-bata.


"Sebentar, terus itu terus bagaimana?"


"Iya mang, sudah sampai dengan waktunya, Abah sudah meninggal."


"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, kok bisa....! bagaimana awal mulanya, kok tiba-tiba seperti itu. karena tadi siang dia sangat sehat walafiat," tanggap Mang Zuhri yang mengungkapkan rasa herannya.


"Nggak tahu Mang, Ranti juga tidak bisa menjelaskan. mohon maaf mang, tolong saya untuk menemani jenazah sampai pagi, Kemudian tolong kasih tahu pak ustad Kalau Abah sudah tiada. sekali lagi Ranti mohon maaf Mang, bukan Ranti tidak sopan, tapi Ranti bingung harus meminta tolong sama siapa lagi kalau bukan sama Mamang," ujar Ranti menjelaskan tujuannya mendatangi Bang Zuhri.


"Emang Jang eman ke mana?"


"Suami saya sudah berangkat ke Cianjur."

__ADS_1


"Oh iya, mau pergi ke pesantren bukan?"


"Benar Mang!"


"Ya sudah kalau begitu, Tunggu sebentar!" ujar Mang Zuhri sambil masuk kembali ke dalam rumah, kemudian dia berpamitan sama istrinya, bahwa dia mau pergi ke rumah pak ustad untuk menyampaikan kabar duka.


Setelah meminta izin dia pun mengganti pakaiannya dengan pakaian yang lebih baik, karena ketika tidur dia hanya menggunakan kaos oblong yang sudah tidak enak dilihat


setelah dirasa rapi Mang Zuhri pun keluar kembali dari rumah, lalu menuju rumah pak ustad, sedangkan Ranti dia pulang kembali ke rumah orang tuanya.


Keadaan malam yang sunyi, hanya diiringi oleh suara jangkrik diikuti oleh suara katak, digendangi oleh suara anjing tanah. sedangkan di langit sekarang terlihat ada bintang yang berkedip, seolah sedang menyaksikan orang yang masih terjaga. suasana terasa sangat dingin bahkan sampai menusuk sumsum Balung, dari kejauhan terdengar suara anjing yang menggonggong. tak lama diantaranya suara kentongan pun dipukul oleh ronda, menandakan waktu sudah mulai masuk tengah malam.


Dalam keadaan yang sangat sunyi itu, terlihat ada beberapa orang yang berselimut sarung menuju ke rumah Mbah Abun. setelah sampai mereka pun mengucapkan salam lalu masuk ke dalam, sehingga wajah mereka pun disinari oleh cahaya lampu yang menempel di dinding, memperjelas wajah Pak ustad, Mang Zuhri, aki Tardi dan sesepuh sesepuh Kampung Ciandam lainnya.


Sesepuh sesepuh Kampung Ciandam pun duduk di atas pelupuh, karena belum sempat menghamparkan tikar maklum tuan rumah masih terlalu dalam kesedihan.


"Terima kasih atas kedatangan bapak-bapak, maaf kalau penyambutannya kurang berkenan di hati," jawab Ranti tidak langsung menjelaskan.


"Tidak apa-apa Neng Ranti tapi di mana orang yang sudah meninggal itu?" tanya pak ustad yang tetap Kukuh ingin segera mengetahui keberadaan Mbah Abun.


"Itu masih di kamar pak ustad?"


"Oh di kamar, ya sudah tolong gelar tikar, kita pindahkan jenazah ke tengah rumah, karena sangat tidak enak kalau menunggu jenazah yang berada di dalam kamar. Ayo gelar tikarnya!" seru pak ustad memberikan perintah terhadap Ranti.


Mendapat perintah seperti itu, dengan segera nanti pun masuk ke kamar, tak lama dia pun kembali dengan membawa tikar lalu di hamparkan sesuai dengan arahan pak ustad, Bahkan bukan menggelar tikar untuk jenazah saja tapi untuk duduk para sesepuh-sesepuh Kampung Ciandam, hingga akhirnya mereka pun bangkit terlebih dahulu, membantu membereskan tikar. Setelah semuanya rapi Mereka pun duduk kembali.

__ADS_1


Pak ustad dengan segera dia pun masuk ke kamar diikuti oleh Mang Zuhri, terdengar suara orang yang mengobrol namun itu tidak lama karena Mang Zuhri memunculkan kepalanya di ambang pintu sambil melambai-lambaikan tangan kepada orang yang berada di dekat pintu. dengan segera dua orang pun bangkit lalu masuk ke dalam, tak lama diantaranya jenazah Mbah Abun pun di gotong oleh 4 orang dipindahkan ke tengah rumah, di baringkan menghadap ke arah kiblat.


Pak ustad bersama rekan-rekannya setelah selesai menempatkan jenazah, Mereka pun duduk kembali berkumpul sambil mengobrol saling bertanya tentang asal muasalnya kenapa Mbah Abun bisa meninggal. dengan segera Ranti pun menjelaskan dengan sejujur-jujurnya tanpa ada yang ditutupi, karena Ambu Yayah masih terisak seperti yang masih merasa berat Ketika Harus ditinggalkan orang yang sudah berpuluh-puluh tahun menemaninya.


Yang selanjutnya Pak ustad pun bertanya rencana Keesokan paginya, tentang rencana penguburan jenazah Mbah Abun mulai dari tempat, Siapa orang yang akan dikasih tahu tentang berita duka itu dan rencana rencana lainnya.


Ranti yang sudah bisa menguasai diri sepenuhnya, dia pun menjelaskan secara detail agar Keesokan paginya bisa berjalan dengan lancar.


"Nah sekarang begini aja! buat bapak-bapak yang sama-sama hadir di tempat ini, saya mohon keridhoan hatinya untuk menjaga jenazah ini,soalnya bisa terjadi persepsi buruk kalau dibiarkan begitu saja, hitung-hitung kita memberikan penghormatan terakhir sebelum jenazah ini dikuburkan, sembari memberi ketenangan terhadap keluarga yang ditinggalkan," putus pak ustad terhadap orang yang melayat.


"Siap Pak Ustad saya akan mengikuti semua perintah pak ustad," jawab Mang Zuhri memberikan kesanggupan dengan yang lain yang memberikan jawaban yang sama.


Setelah diputuskan, akhirnya mereka pun mengobrol untuk mengusir rasa kantuk agar tidak ada orang yang tidur,sedangkan Ranti dia pun pergi ke dapur untuk memasak air buat menyeduh kopi sekaligus membuat makanan-makanan ringan sebagai teman orang yang menjaga jenazah.


"Bagaimana dengan Jang Eman, Apakah dia tidak akan diberitahu Ambu?" tanya Mang Zuhri sambil menatap ke arah ambu Yayah.


"Harus Jang Zuhri, Jang Eman harus dikasih tahu, tapi ambu bingung, Ambu harus menyuruh siapa untuk memberitahunya!" jawab Ambu Yayah Yang diliputi kebingungan.


"Ambu Tenang aja, nanti saya akan menyuruh orang untuk menyusul Jang Eman, yang terpenting Saya minta alamatnya yang jelas agar mudah menemukannya."


"Baik kalau begitu Jang Zuhri, sebelumnya Ambu ucapkan terima kasih banyak," jawab Ambu Yayah sambil bangkit dari tempat duduknya, kemudian menuju ke dapur menemui anaknya untuk menanyakan alamat yang mau dituju oleh Eman.


Mendapat permintaan seperti itu, dengan segera Ranti pun mengambil bolpoin dan kertas untuk menulis alamat tempat yang dituju oleh Eman agar jelas dan mudah ditemukan setelah itu ambu yayah pun kembali ke tengah rumah untuk memberikan alamat yang ditulis oleh Ranti.


Setelah mendapat alamat Eman, Mang Zuhri pun berpamitan untuk mencari orang yang mau disuruh untuk menyusul Emen ke Cianjur. sebelum pergi tak lupa ambu Yayah memberikan uang untuk ongkos menyusul menantunya. Setelah semuanya selesai Mang Zuhri pun keluar dari rumah mbah Abun untuk menjalankan niatnya. sedangkan orang-orang yang lain mereka tetap berkumpul menemani jenazah Mbah Abun sampai pagi. semalam suntuk mereka tidak tidur.

__ADS_1


Sedangkan orang yang mau disusul oleh suruhan Mang Zuhri, Eman yang mau menuju ke pesantren yang berada di Cianjur, dia masih berada dalam perjalanan, karena tempat yang ia tuju sangat susah kendaraan, sehingga sudah sampai waktu magrib dia masih berada di Tengah perjalanan Bahkan dia sedang berada di tempat yang jauh ke masjid dan jauh ke perkampungan.


Eman merasa lapar, karena semenjak dari tadi pagi berangkat dia belum pernah mengisi perutnya, sehingga dia pun memutuskan untuk mencari warung makan terlebih dahulu, untuk mengisi tenaga yang mulai ngos-ngosan.


__ADS_2