
"Siapa tahu Akang mau beristirahat, silakan akang beristirahat di kamar ini!" Ujar Ranti sambil menunjuk kamar yang baru dia siapkan.
"Baik Nyai, Eh Eneng....! Terima kasih banyak!" jawab Eman yang sedikit malu-malu, karena baru pertama bermain di rumah perempuan.
"Iya benar, mendingan Sekarang ujang tidur karena Abah yakin kalau Ujang sangat capek, soalnya Ujang sudah berkelana, sudah melewati perjalanan yang begitu lama."
"Baik Abah.....! terima kasih," jawab Eman sambil masuk ke dalam kamar, kemudian dia pun membaringkan tubuh di atas kasur yang terasa empuk, bahkan tubuhnya saja terlihat masuk ke dalam. Eman merasa bahagia karena baru pertama kali dia merasakan nikmatnya berbaring diatas kasur, Biasanya kalau dia tidur hanya menggunakan tikar sebelah, Kalau dia mau tidur di atas kasur, kasurnya pun sudah tidak empuk, karena kapuknya sudah mati. jadi ketika dia membaringkan Tubuh terasa sangat keras dan panas.
Eman terlihat terlentang, matanya berkedip-kedip menatap ke arah langit-langit, khayalannya mulai terbang ke kejadian yang baru saja terjadi, kejadian di kampung Sukamaju, disusul dengan munculnya Wajah Ibu dan orang tuanya.
"Haduh.....! ibu, bapak, Maafkan Eman yang sudah melupakan kalian berdua, mementingkan mengantarkan Neng Ranti pulang ke rumahnya. karena Eman merasa bingung harus bagaimana lagi karena sudah berhutang nyawa, Kalau Eman tidak ditolong oleh babi ngepet, Saya tidak akan tahu nasib saya seperti apa. tapi ada yang lebih aneh, babi itu sekarang sudah berubah menjadi wanita yang sangat cantik, dan dia mencintai saya ibu, Bapak." begitulah gumam hati Eman seperti orang yang sedang berhadapan dengan ibu dan bapaknya.
Hayalnya kembali terbang ke aki kebun yang menjadi gurunya, dan yang awalnya dia tidak menyangka dan menduga sampai bisa bertemu dengan kakek-kakek yang memiliki ilmu yang sangat tinggi.
Lama-kelamaan mata Eman pun mulai terpejam, terlarut dalam tidur lelapnya, tidak ingat apa-apa. perbawaan dari hati yang bahagia, tidak menemukan kesusahan. akhirnya Eman pun tidur dengan nyenyak, bahkan terdengar suara dengkuran keras keluar dari mulutnya.
Keesokan paginya, Eman terbangun dalam keadaan waktu sudah siang, karena tidak ada orang yang berani membangunkannya. jadi ketika dia terbangun dari tidurnya, dengan segera dia pun pergi ke air untuk mengambil wudhu dan kembali lagi ke kamar tidurnya.
Sesampainya di kamar, dia pun melaksanakan salat subuh. menurut ingatannya tidak apa-apa salat subuh disaksikan oleh matahari yang sudah keluar, karena itu tidak disengaja.
__ADS_1
Ranti dan ibunya Mereka terlihat sibuk menyiapkan makanan, mulai dari nasi dan lauk pauknya. Lauk pauk yang serba di ada-adakan, karena mau menghormati Eman calon pengantin. sedangkan bapaknya pagi-pagi sudah keluar dari rumah, menuju kolam ikan untuk melihat airnya, dilanjutkan mengontrol irigasi yang mengaliri sawah.
Entah bagaimana awalnya. di rumah mbah Abun selama rumah itu berdiri, tidak ada orang yang salat. jadi ketika Eman melaksanakan salat, rumah itu terasa bergetar seperti digoyangkan oleh gempa, Ambu Yayah terlihat terkejut, Ranti terlihat melongok.
"Nyai, rumah kita kenapa kok goyang seperti ini?" tanya Ambu yayah sambil menatap anaknya yang tidak berkedip.
"Nggak tahu Ambu, Ranti juga tidak tahu."
Akhirnya kedua orang itu hanya bisa saling menatap, sambil merasakan rumah yang seperti mau roboh. walaupun keadaannya masih pagi, tapi kejadian seperti itu membuat mereka merasa getir, apalagi kalau keanehan itu terjadi malam hari, Pasti tidak akan bisa tidur dan tidak akan enak diam.
Dalam waktu dan keadaan yang sama, Mbah Abun yang sedang berjalan-jalan di pematang sawah, tiba-tiba dia pun tersungkur terjatuh ke sawah yang padinya sudah besar, membuat padi itu tertindih. Sehingga tubuh Mbah Abun penuh dengan Lumpur sawah.
Setelah baju dan tubuhnya bersih dari lumpur, dengan segera Mbah Abun pun pulang ke rumah, untuk mengganti bajunya. di jalan dia bertemu dengan orang yang hendak mencari rumput, mereka menanyakan Kenapa tubuh Mbah Abun basah kuyup seperti itu. tapi dia tidak menjawab, Mbah Abun hanya memonyongkan bibirnya ke depan, karena amarahnya tidak bisa diluapkan, membuat orang-orang yang bertanya pun terlihat mengulum senyum, karena mereka sudah bisa menebak bahwa Bah Abun baru terjatuh terperosok masuk ke dalam sawah.
Sesampainya di rumah, terlihatlah Ambu Yayah dan Ranti yang sedang melamun di dapur, karena rumah itu terus terasa bergoyang, membuat Mbah Abun merasa kaget dengan menatap melongo ke arah dinding yang terus bergerak, lalu menatap ke arah atas memperhatikan genting yang terlihat mau turun.
"Lah, Lah Kenapa ini......! sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Mbah Abun sambil mengerutkan dahi.
"Iya nggak tahu Abah, Kejadian ini sudah terjadi sejak dari tadi pagi, seperti ada gempa, tapi rumah orang lain tidak seperti rumah kita."
__ADS_1
"Lah kenapa, kok aneh yah....! kira-kira ada pertanda apa?" gumam Mbah Abun sambil masuk ke dapur langsung menuju ke rumah, berjalan mondar-mandir seperti sedang mencari sesuatu, air masih menetes terjatuh dari baju yang masih basah.
"Abah.....! Kenapa Abah seperti itu, apa Abah Nggak sadar kalau baju Abah basah?" tanya Ranti yang baru tersadar bawa jalan yang dilewati oleh bapaknya terlihat basah, hingga akhirnya ia pun mengikuti masuk ke dalam rumah.
"Ya ampun.....! Abah lupa, baru saja abah habis terperosok masuk ke dalam lumpur sawah, kemudian mandi. aneh memang benar-benar aneh, tidak ada asal mulanya tiba-tiba Abah terjatuh begitu saja." Jawab Mbah Abun sambil masuk ke dalam kamar mengganti pakaian dengan yang bersih.
Eman yang sudah selesai melaksanakan salat subuh, dia pun keluar dari kamarnya, kemudian duduk di ruang tamu sambil menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menatap ke arah halaman rumah, karena tadi malam tidak terlalu jelas.
Tak lama diantaranya, dari arah dalam keluarlah Mbah Abun yang diikuti oleh Ranti dengan membawa nampan yang diisi oleh makanan. dengan segera dia pun menyimpan makanan itu di atas meja, Setelah semuanya dikeluarkan Mbah Abun pun terlihat menarik nafas dalam kemudian dia berbicara.
"Ujang, apa Ujang merasa rumah Abah yang bergoyang?"
"Bergoyang Bagaimana Abah?" tanya Eman sambil mengerutkan dahi.
"Bergoyang seperti terkena gempa."
"Nggak Abah, saya tidak merasa seperti itu, karena saya baru bangun kesiangan, rasanya tadi malam tidur saya terasa nyenyak, sampai tidak ingat waktu subuh."
"Kalau nyenyak seperti itu, berarti Ujang sangat betah tinggal di rumah Abah. ya sudah kamu sarapan dulu, basahi perutnya dengan air hangat! nanti setelah itu kita jalan-jalan ke sawah, ke kebun, ke kolam. Siapa tahu saja Ujang ingin melihat Kekayaan abah?"
__ADS_1
"Baik Abah, baik!"