
"Ujang harus sabar....! Ujang harus kuat, harus bisa menerima kenyataan, jangan sampai berkecil hati!" nasehat Mbah Abun masih tetap berbisik, tapi dia belum melangkah hanya terdiam berdiri di halaman, matanya menatap ke arah ruang tamu yang dipenuhi oleh orang yang sedang membaca tahlil dengan begitu khusus Tidak ada orang yang menoleh.
Semakin lama Eman semakin merasa penasaran ingin segera mengetahui Siapa orang yang sedang tahlilkan, dengan segera dia pun naik ke teras. sebelum berbicara matanya memindai area sekitar memperhatikan orang yang yang sedang membaca tahlil, setelah agak lama dia pun tahu kalau orang-orang itu adalah warga Kampung Sukamaju.
"Assalamualaikum," ujar Eman dengan suara pelan namun Terdengar sangat jelas, membuat suara tahlil pun berhenti seketika, dengan segera Mereka pun menoleh ke ambang pintu membuat orang yang berada di dekatnya berteriak seketika, sambil berlari masuk ke dalam Tengah rumah.
"Setan......! setan.....! ada setan, ada setan.....!" teriaknya sambil masuk merangseg ke dalam rumah, tanpa memperdulikan tua ataupun muda, tubuh ataupun kepala, Dia langkahi yang terpenting dia bisa masuk ke dalam Tengah rumah, kakinya menyenggol gelas hingga airnya tumpah membasahi tikar.
"Ada apa ini, ada apa....! Kok ribut?" tanya pak ustad yang menghentikan bacaannya.
"Ada hantu pak ustad, ada hantu......! ada hantuuuuu!" jawabnya yang masih Terkesima, matanya terbelalak namun wajahnya pucat Pasi.
Orang-orang yang lain Mereka pun sama merasa takut terus berhamburan masuk ke dalam rumah. saling Depak, saling sikut, saling dorong. aki Ridwan yang bersandar di pintu tengah dia pun terinjak-injak sampai terdengar rintihan yang sangat menyakitkan. Mang Dodo terlihat melongo, mulutnya menganga tapi tidak mengeluarkan suara, matanya menatap ke arah ambang pintu ruang tamu.
Brug! brug!
Orang yang berada di depan tersungkur karena terdorong dari belakang, orang-orang yang berada di ruang tamu Terus masuk sambil terus berteriak memberitahu bahwa ada hantu, hingga akhirnya mereka pun berkumpul di pojokan rumah.
Pak ustad yang merasa penasaran, dia pun berdiri lalu berjalan menuju ruang tamu, matanya menatap ke arah ambang pintu ternyata memang benar di tempat itu ada orang yang sedang berdiri, matanya terlihat melongo seperti sedang terkesima karena ketika dia datang banyak orang yang memanggilnya dengan sebutan hantu ataupun setan.
"La Ilaha Illallah, Ya Allah, Ya Robbi....! siapa ini?" tanya pak ustad bergumam dengan perlahan, Mungkin dia sedang menenangkan hati takut terkalahkan oleh rasa takut, takut terkalahkan oleh hal-hal yang belum pasti.
Emang yang ditanya dia tidak langsung menjawab, Mungkin dia masih merasa bingung dengan kegaduhan orang-orang yang berada di tempat itu, tidak mengerti dengan apa awal mulanya.
__ADS_1
"Jang, Jangan pusing dengan hal-hal yang tidak penting, jangan senggan dengan perkara-perkara yang belum pasti. Ujang harus menerima dengan ikhlas dengan Ridho karena Ujang sudah sampai dengan keputusan yang sudah ditetapkan sebagai makhluk hidup, yang harus meninggal. sekarang Ujang harus pergi dari sini, karena asal dari Allah jadi Ujang harus Ridho, harus ikhlas dalam menghadapi takdir, karena itu semua sudah menjadi nasib kamu. innalillahi wa inna ilaihi rojiun......!" begitulah sambil terus menatap Eman yang berdiri diambang pintu.
"Lah, Lah, kenapa Pak Ustad menyuruh saya untuk mati, apa-apaan ini pak ustad, Apakah tidak salah omongan itu?" jawab Eman balik menatap.
"Astagfirullahaladzim, astaghfirullahaladzim, kamu siapa sebenarnya?" tanya pak ustad.
"Saya Eman anaknya Pak Dodo, Saya mau pulang karena ingin bertemu dengan orang tua, tapi kenapa Pak Ustad malah menyuruh saya untuk meninggal?"
Mendengar penjelasan dari Eman, Pak ustad pun terdiam tidak berbicara lagi, matanya melirik ke arah Mang Dodo yang sedang melamun, lalu mata itu menatap ke arah orang-orang yang sedang ketakutan, hanya matanya saja yang melotot, Tidak seorangpun yang berani ikut berbicara. bahkan masih ada orang yang terlihat bergetar ketakutan, giginya mengeluarkan suara wajah, pucat Pasi persis seperti mayat.
"Tanya yang jelas Pak Ustad, Apa benar orang ini adalah anak saya," pinta Mang Dodo dengan berbisik Setelah dia berada di samping pak ustad, hatinya mulai merasa ragu, jantungnya mulai bergejolak.
"Sebentar, kita tanya terlebih dahulu, karena saya juga merasa penasaran," sanggup pak ustad sambil menatap kembali ke arah Eman.
"Lah kenapa Pak Ustad, Kenapa Pak Ustad bertanya seperti itu, apa Pak Ustad tidak lupa kalau saya adalah Eman orang kampung Sukamaju?"
"Siapa ibu kamu?" Ujar pak ustadz tanpa memperdulikan pertanyaan Eman.
"Ibu Rani!:
"Kalau bapak?"
"Pak Dodo!"
__ADS_1
"Agama kamu apa?"
"Haduh Kenapa pertanyaannya semakin ngelantur, agama saya Ya jelas Islam lah pak ustad, bahkan saya pernah pesantren di rumah pak ustad," jawab Eman yang terlihat kesal, namun dia tetap menjawab dengan jelas.
"Coba tolong baca dua kalimat syahadat!"
Dengan segera Eman pun membaca dua kalimat itu, dengan tegas dan sangat fasih, bahkan Eman Menjelaskan arti kedua kalimat itu membuat hati Pak Ustad merasa lega.
"Kalau seperti itu Kamu memang benar anaknya Mang Dodo, Ya sudah ayo masuk ke dalam Kasep, Jangan berdiri di ambang pintu!"
"Terima kasih pak ustad," jawab Eman sambil masuk ke dalam ruang tamu, mengajak pak ustad untuk bersalaman kemudian dia pun menghadap ke arah bapaknya dengan menjatuhkan tubuh bersimpuh di bawah kaki orang tuanya.
"Bapak, saya mohon maaf karena saya merasa sudah lupa sama orang tua," ujar Eman dengan suara parau namun terdengar jelas.
"Ujang selamat datang kembali di rumah, Bapak sangat bahagia......, bahagia karena kamu datang dalam keadaan seperti ini, syukur kalau kamu masih hidup, mungkin tahlilan untuk mendoakan Kamu tidak akan diteruskan. Selamat datang Ujang selamat datang.....! syukur, syukur.....!" jawab mang Dodo yang terlihat bahagia karena sudah jelas anaknya datang dalam keadaan sehat walafiat. Dengan segera Dodo pun mengangkat tubuh Eman lalu memeluknya dengan begitu erat.
Sedang asik mencurahkan rasa kangen dari arah dapur keluarlah Rani sambil menangis, tidak kuat untuk berbicara menyambut anaknya, akibat dari rasa bahagia yang tak terhingga, Eman hanya terdiam di dalam pelukan ibunya yang sedang menangis.
Akhirnya setelah menyambut kedatangan Eman, orang-orang yang awalnya berkumpul di pojok rumah karena merasa takut, sekarang Mereka terlihat mendekat sambil mengeluarkan tangan mengajak Eman untuk bersalaman. Menyambut kedatangan Eman yang kembali pulang ke rumahnya.
"Ujang anak bapak, kamu itu pulang dari mana Kenapa kamu lama banget pergi meninggalkan rumah?" tanya Mang Dodo Setelah semuanya kebagian bersalaman, Sepertinya dia sudah terlihat tidak sabar mendengar cerita anaknya.
"Ceritanya sangat panjang Bapak, nanti kita akan ceritakan semuanya, namun sekarang Tolong hormati Mbah Abun karena dia sangat kecapaian, habis menempuh perjalanan yang sangat jauh," jawab Eman sambil menunjuk ke arah halaman.
__ADS_1