
"Meninggal Kapan Mang?" tanya Eman yang semakin merasa bingung, matanya menatap lekat ke arah Mang Zuhri.
"Tadi malam, kira-kira pukul 09.00-an jang, bahkan Mamang juga Sudah terlelap dalam tidur," jawab Mang Zuhri balik menatap.
"Ternyata Abah sudah meninggal. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun, Oh iya di mana sekarang Ranti dan Ambu?"
"Mereka berdua ada di dalam, Ya sudah ayo kita temui mereka, karena sudah lama menunggu."
Dengan segera Eman pun masuk ke dalam rumah untuk menemui istri dan mertuanya, setelah bertemu tiba-tiba Ambu yayah menangis kembali dengan tangisan yang sangat memilukan, seperti merasakan sakit yang begitu mendalam, bahkan Ranti pun ikut terbawa dia terisak sambil menatap ke arah suaminya.
"Bagaimana ceritanya Ambu, Apakah benar kalau Abah sudah meninggal?" tanya Eman sambil melepaskan pelukan mertuanya.
"Kenapa Ujang bertanya seperti itu, Apakah Ujang tidak melihat bahwa bungkusan itu adalah bungkusan si Abah yang baru saja selesai di salatkan dan sebentar lagi juga akan dibawa ke kuburan, karena ujang orang yang ditunggu sudah datang."
"Sebentar, sebentar....!" tahan Eman yang terlihat masih dipenuhi kebingungan.
"Sudah kang, kalau Akang masih ada pertanyaan nanti saja kita bicarakan lagi, sekarang kita masih dalam keadaan berduka. mending sekarang akang pimpin orang-orang yang mau mengantarkan ke peristirahatan terakhir Abah, karena kita tidak bisa menolak kejadian yang sudah terjadi," ujar Ranti mengingatkan suaminya.
"Iya benar, Ya sudah kalau begitu akang mau menyimpan barang bawaan akang terlebih dahulu."
Eman yang masih terlihat salah tingkah dipenuhi kebingungan, dengan segera dia pun memasukkan barang-barangnya ke kamar Ranti, kemudian dia duduk menatap jenazah Mbah Abun yang sudah dikafani, sambil menunggu berita dari orang-orang yang sedang menggali kuburan.
Kira-kira sejam berlalu, orang yang ditugaskan menggali kubur ada yang menghadap untuk memberitahu bahwa kuburan sudah selesai dibuat, bahkan telisiknya sudah disiapkan.
Tanpa membuang waktu, pak ustad langsung menyeru agar jenazah secepatnya dimasukkan ke dalam pasaran untuk dibawa ke kuburan. Setelah semuanya dirasa rapi akhirnya jenazah Mbah Abun dibawa keluar dari rumah, diantarkan oleh orang-orang menuju ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Selanjutnya, jenazah Mbah Abun dikuburkan sebagaimana mestinya layaknya jenazah jenazah yang lain. setelah membaca Talqin orang-orang yang mengantarkan pun kembali ke rumah masing-masing. Ada pula yang kembali ke rumah Mbah Abun, tapi kebanyakan mereka lebih memilih untuk beristirahat di rumahnya sendiri.
__ADS_1
Setelah semuanya selesai, Pak ustad pun berpamitan diikuti oleh sepuh sepuh yang lain, dan mereka berjanji bahwa nanti malam akan mengadakan acara tahlil. hingga akhirnya di rumah Hanya menyisakan Ambu Yayah, Ranti dan Eman yang sedang duduk di tengah rumah, tanpa berbicara sedikitpun, sepertinya mereka sedang diliputi oleh kebingungan seperti anak ayam yang ditinggalkan oleh induknya.
"Ujang bertemu di mana dengan orang yang menyusul?" Tanya Ambu Yayah memecah heningnya suasana.
"Saya tidak bertemu dengan orang yang menyusul, ambu."
"Kok begitu, Terus kenapa Ujang bisa pulang?"
"Iya memang aneh Ambu, bahkan Mang Zuhri juga merasa heran dengan apa yang saya alami. kalau Ambu ingin tahu ceritanya, saya akan menceritakan." jawab Eman dengan segera dia pun menceritakan pengalamannya dengan sangat rinci, tidak ada yang terlewat agar Ranti dan mertuanya bisa mengerti.
"Apa benar itu Ujang?" tanya Abu Yayah setelah mendengar cerita dari menantunya.
"Benar Ambu, mana mungkin saya berani berbohong sama abu, saya pulang ke rumah gara-gara diamanatkan oleh si Abah."
"Iya memang aneh, tapi untuk meyakinkan kita harus membuktikan. Coba tolong Nyai periksa kamar Abah Apa benar kunci kamar padi berada di tempat itu!" perintah Ambu Yayah sambil menatap ke arah anaknya.
Dan segera Ranti pun bangkit lalu masuk ke kamar Bah Abun yang biasa digunakan untuk bersemedi, kamar khusus yang dipenuhi oleh sesajen. setelah berada di dalam kamar Ranti pun mengangkat tikar, terlihatlah sebuah kunci persis seperti yang disampaikan oleh Eman.
"Terus ini bagaimana sekarang, Ambu merasa bingung?" tanya Ambu Yayah.
"Sudah Ambu jangan terlalu banyak pikiran, karena Abah sudah sampai dengan perjanjiannya harus pulang ke negara siluman, karena salahnya sendiri yang mau berkenalan dengan makhluk terkutuk itu, hingga Beginilah jadinya."
"Iya benar, Biarkan saja kalau seperti itu karena memang begitulah kenyataannya."
Akhirnya Ketiga orang itu menerima dengan takdir karena sudah begitulah kenyataannya, namun Eman merasa kecewa terhadap dirinya sendiri, karena dia telat menolong Mbah Abun yang sudah dibawa oleh siluman babi ngepet.
Keadaan waktu terus berjalan tanpa ada yang bisa menghentikan, hingga akhirnya waktu pun sudah memasuki sore hari, karena matahari sudah berada di atas ubun-ubun gunung, keadaan di rumah mbah Abun terasa sangat mencekam dan menakutkan, seperti tidak ada kehidupan di dalamnya, hingga akhirnya waktu siang pun berakhir digantikan dengan waktu malam.
__ADS_1
Keluarga Abu Yayah merasa sedikit terhibur karena kedatangan pak ustad diikuti dengan para warga kampung yang lain, yang tujuannya melaksanakan tahlil untuk mendoakan orang yang sudah tiada, sekaligus menghibur keluarga yang sedang terkena musibah.
Waktu itu, mereka pun berkumpul di tengah rumah tapi ada juga yang berada di ruang tamu. Setelah semuanya berkumpul Pak ustad pun mulai memimpin tahlil Suaranya sangat bergemuruh, membuat bulu Kuduk berdiri. Ranti dan ambuya ya Di bantu oleh tetangganya, Mereka menyediakan jamuan untuk orang yang membaca tahlil.
Beberapa saat berlalu, Acara tahlil pun selesai dilaksanakan dilanjutkan dengan menyantap jamuan yang diberikan oleh tuan rumah, sambil ditemani obrolan obrolan ringan untuk menghibur keluarga yang ditinggalkan meninggal dunia.
Kebahagiaan itu menandak sirna tiba-tiba tercium aroma yang tidak sedap memenuhi rongga hidung, mulai dari bau rampe diikuti dengan bau kemenyan, diikuti oleh suara anjing yang menggonggong membuat bulu Kuduk berdiri.
Suara angin tiba-tiba bergemuruh dari luar, membuat orang-orang yang berada di rumah bah Abun merasa terkejut. orang yang penakut memegang tangan temannya, Mungkin dia takut ditinggalkan. wajah mereka terlihat ada yang pucat, Ada pula yang bergetar seperti kedinginan. padahal itu belum terjadi apa-apa hanya baru ada suara-suara yang menakutkan.
"Ambu. Neng Ranti, Begitu juga dengan Jang Eman, kalian harus bersabar! harus menerima dengan begitu lapang dada!"
"Baik pak ustad!" jawab mereka bertiga dengan serempak.
"Kalau begitu Bapak mau pulang dulu ke rumah, karena tugas Bapak hari ini sudah selesai. Insya Allah besok malam bapak akan berkunjung lagi ke sini," ujar pak ustad berpamitan karena dia sudah tidak sabar ingin pulang ke rumahnya.
"Baik pak ustad, Terima kasih banyak!" jawab Eman sambil manggut memberi hormat.
Dengan segera pak ustad pun bangkit dari tempat duduknya, membuat orang-orang yang menghadiri acara tahlil tersebut ikut bangkit Seperti mendapat contoh dari pimpinan. orang-orang itu terlihat berdesakan mendekat ke arah pintu depan, namun ketika berada di teras tiba-tiba ada orang yang berteriak.
Hantu.....! hantu.....! hantu.....!
Setan......! setan.....! setan......!
Teriak orang yang pertama kali keluar, dengan segera dia pun loncat lalu pergi meninggalkan rumah mbah Abun, begitupun dengan pak ustad yang terkejut karena di teras rumah ada makhluk putih berkuncung terbaring nampak begitu jelas, bahkan kain kafannya terlihat masih baru.
Mendapat kejadian yang sangat mengerikan, tanpa dikomando orang-orang pun berhamburan berlari sambil memegang satu sama lain, hingga Tak aya lagi keributan pun terjadi. banyak orang yang terjatuh ketika menyelamatkan diri, ada juga yang menabrak pohon. orang-orang yang selamat Mereka pun terus berlari menuju ke arah yang menurut mereka aman, ada yang berlari ke arah selatan, Ada pula yang berlari ke arah utara dan Baratberlari menuju ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Setelah sampai ke rumah, mereka pun menubruk pintunya sampai ambro,l tapi mereka tidak memperdulikan. keselamatan mereka lebih penting daripada pintu yang rusak, mata Mereka terlihat membulat dengan sempurna, nafasnya memburu tak karuan.
Dalam waktu singkat, orang yang tadi sangat banyak sudah tidak ada yang tersisa, takut dengan hantu pocong yang berada di teras rumah mbah Abun, membuat Ambu Yayah sangat terkejut. berbeda dengan Eman yang merasa penasaran dengan segera dia pun bangkit lalu menuju ke teras rumah.