Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun

Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun
Bab 22. Apa Permintaanmu


__ADS_3

Galih tidak berbicara lagi, namun hatinya terasa panas terasa dibakar, sedikit saja Dia tidak setuju dengan pembicaraan Ranti yang sudah jelas-jelas menghina dan mengejek terhadapnya. yang lebih sakit ranti tidak menerima kasih sayang yang dia berikan, semakin membuat hatinya terasa perih membuatnya tidak enak tinggal diam, duduknya saja terasa melayang. dengan segera dia pun berdiri kemudian keluar dari rumah mbah Abun menghilang ditelan oleh gelapnya malam.


Orang-orang yang berada di tempat itu mereka hanya terdiam melongo, tidak bisa memberikan pendapat Karena itu adalah masalah pribadi.


Sementara waktu di tengah rumah terasa sunyi, Ranti dan mbah abun merasa khawatir takut ada ujungnya, karena Galih adalah orang yang paling kuat keinginannya untuk mendapatkan Ranti, tapi sekarang keinginan itu ditolak mentah-mentah oleh anaknya. Tapi lama-kelamaan Mbah Abun sadar bahwa persoalan itu harus segera diselesaikan, matanya menatap ke arah Ranti dilanjutkan menatap ke arah Eman.


"Sudah kita tidak harus memikirkan jang galih karena itu sudah tidak memiliki urusan. Dia berbicara seperti itu mungkin dia sangat kecewa tidak berhasil menjadi sag juara. dan perlu yang para hadirin ketahui, bahwa Abah tidak akan memberikan hadiah kepada orang yang tidak berhak. Nah sekarang abah mau bertanya sama Jang Eman, takut dia menginginkan sesuatu, sekarang Abah bebaskan untuk memberikan keleluasaan agar Jang Eman menyampaikan apa yang diminta oleh ujang, selain dari hadiah yang sudah ditetapkan."


"Permintaan itu, permintaan Bagaimana Abah?" Jawab Eman yang tidak mengerti.


"Lah kenapa kok malah bertanya seperti itu, kan Abah sudah bilang bahwa Abah akan memberikan hadiah berupa sekarung uang, sekandang kambing, sekamar padi. dan yang keempatnya mau di nikah kan dengan putri abah yang bernama neng Ranti. nah, selain dari yang empat itu, Ujang Mau meminta apa? silakan Ujang sampaikan saja jangan ragu-ragu!"


"Abah saya menolong neng ranti bukan memandang hadiah yang abah berikan, bahkan saya tidak sempat berpikir ke arah sana, tapi terdorong dari rasa sayang dan ingin mengucapkan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya, karena Neng Ranti sudah menolong saya, Sepertinya saya sudah memiliki hutang nyawa terhadapnya. Nah dari dasar itu saya tidak akan menerima hadiah apa-apa dari apa yang sudah Abah janjikan. tapi kalau hadiah yang nomor empat saya sangat menerima, dan akan menerimanya dengan kedua belah tangan yang terbuka dibarengi dengan kebahagiaan yang tak terhingga." jawab Eman yang terdengar ambigu, membuat orang-orang yang berada di situ tidak mengerti.


"Sebentar, sebentar, Bagaimana maksud Ujang, karena keterangan Ujang sangat berbelit membuat kepala Abah sedikit pusing nih!"


"Saya tidak akan menerima uang, padi dan kambing. tapi saya akan menerima yang satu yaitu menikah dengan neng Ranti. Itupun kalau Neng rantinya mau, tapi kalau tidak mau saya tidak akan memaksa."

__ADS_1


Mendengar penjelasan dari Eman, membuat orang-orang yang berada di situ terdiam berpikir mencerna dan menerka-nerka apa yang berada di pemikiran pemuda yang baru mereka temui. karena mereka merasa baru bertemu dengan orang yang sangat bodoh, sampai dia tidak mau menerima hadiah yang terlihat sangat banyak. karena orang lain, mereka berani marongrong mengorbankan apapun untuk mendapatkan hadiah itu, bahkan banyak orang yang melanggar tata cara kehidupan tidak memikirkan batal haram, demi tercapainya tujuan dan cita-cita.


"Oh begitu, sebentar, sebentar, kenapa ujang memiliki pemikiran seperti itu?"


"Saya itu adalah orang bodoh, koplok, belegugĀ  tidak banyak pengetahuan. dan kalau sekarang menerima harta yang segitu banyaknya saya merasa takut, bahkan takutnya takut sekali."


"Soalnya kenapa?"


"Soalnya saya takut, kalau harta yang diberikan oleh abah menjadi bumerang terhadap diri saya sendiri, karena saya merasa kalau saya belum bisa membawanya. Saya takut kalau saya nanti celaka dari harta yang sangat banyak itu."


"Terus maunya bagaimana?"


"Sebentar, sebentar.....! Nyai Ternyata begitu?" tanya Mbah Abun sambil melirik ke arah anaknya yang sudah semakin mengerti dan semakin hafal dengan sikap-sikap yang dimiliki oleh Eman, yang sesuai dengan keinginannya.


"Abah....! Abah tidak boleh memaksa dengan orang yang tidak suka, karena itu nantinya sangat jelek. kalau Kang Eman keinginannya seperti itu, Abah ikuti saja karena itu tidak akan merugikan Abah."


"Terus bagaimana permintaan yang satunya lagi yang menyangkut diri kamu sendiri?"

__ADS_1


"Oh masalah itu, Abah tidak harus merasa bingung atau merasa khawatir, karena Ranti sangat suka dan sangat bahagia ketika Kang Eman mau menikahi saya sebagai tanda terima kasih karena Kang Eman sudah mau menolong dan mengorbankan jiwa raganya untuk saya."


"Terus apa lagi?"


"Jasa-jasa yang Kang Eman berikan, tidak akan bisa terbalas oleh harta benda yang Abah janjikan, karena yang sudah diberikan oleh Kang Eman hanya sebanding dengan jiwa raga yang harus diserahkan oleh Ranti terhadapnya, karena mungkin hanya itulah jalan satu-satunya untuk membalas kebaikan orang yang sangat baik ini."


"Waduh, waduh, ternyata seperti itu."


"Abah Ranti sudah pernah dikejar-kejar oleh para pemburu, dikejar-kejar oleh anjing yang sangat beringas dan galak. waktu itu Ranti merasa bingung tidak bisa memilih jalan untuk selamat, karena kejadian itu sangat mendesak dan sangat mendadak namun Kang Eman dengan gagah dan berani mengorbankan seluruh jiwa raganya, untuk menolong Ranti, sampai Ranti bisa selamat." begitulah ujar Ranti yang mengulang kembali cerita hidupnya ketika dia dikepung oleh warga Kampung aki Makmun.


Mendengar penjelasan seperti itu, orang-orang yang berada di situ terdiam berpikir mencerna dan membayangkan apa yang disampaikan oleh pengadil sayembara.


Lama tidak ada yang berucap, akhirnya Ranti pun berbicara kembali. "Abah Bagaimana, apa Abah setuju dengan apa yang diinginkan oleh Ranti."


"Baik, baik kalau itu keinginan kamu Nyai, Abah sangat mengerti dan sangat paham dengan Apa yang dimaksud Nyai! tapi Abah belum tenang hati Kalau tidak ada sedikitpun tanda terima terhadap sang juara sayembara. Coba kasih tahu Abah! Ujang Eman menginginkan apa selain dari menikahi anak abah?" tanya Mbah abun yang tetap Kukuh memaksa Eman agar menyampaikan keinginannya.


"Baik Abah, kalau abah memaksa saya akan berbicara dan saya memiliki keinginan begini Abah. seperti yang sudah Abah ketahui, bahwa saya hanya orang bodoh tidak mengerti apa-apa, jadi saya ingin meminta ilmu sama abah. ilmu yang bermanfaat bagi kehidupan saya di dunia dan di akhirat. nah hanya itulah permintaan Eman, Abah"

__ADS_1


"Kenapa?"


__ADS_2