
Mata Eman terbelalak dengan sempurna, ketika melihat di teras rumahnya ada sosok putih berkuncung dengan memakai kain kafan yang terlihat masih baru. Beruntung dia tidak berteriak dan berlari seperti warga Kampung lainnya, Eman terlihat lebih tenang meski tubuhnya bergetar, dengan perlahan dia pun menutup pintu rumah membuat Ranti merasa penasaran.
"Ada apa Kang?"
"A a ada jenazah di teras rumah kita," jawab Eman dengan tergugup.
"Jenazah siapa Kang?"
"Nggak tahu neng, karena Akang tidak bisa melihat wajahnya."
"Terus bagaimana kalau sudah begini Jang, pasti keluarga kita akan menanggung malu dihina oleh orang lain. kenapa kejadiannya bisa seperti ini, Apa benar ada jenazah yang bisa pulang ke rumah?" tanya Ambu Yayah yang dipenuhi dengan kebingungan, bahkan air matanya mulai membasahi pipinya kembali.
Melihat ibunya terus menangis, Ranti pun merasa tidak tega. Awalnya dia pun merasa takut tapi pengalaman yang sudah dialami ketika menjadi babi ngepet membuatnya dengan segera bisa mengambil keputusan.
"Ayo kita buktikan Kang! siapa sebenarnya jenazah itu, kita tidak harus takut karena sampai sekarang belum ada berita ada orang yang ditelan oleh jenazah. Ayo kita lihat Kang!" ajak Ranti yang membuat Eman merasa heran karena istrinya tidak memiliki ketakutan sedikitpun, bahkan terlihat sangat penasaran.
Awalnya Eman menolak, namun lama-kelamaan akhirnya dia mengalah mau mengikuti ajakan istrinya. tapi dengan syarat harus semuanya keluar, sambil membawa lampu agar bisa melihat aja jenazah itu dengan jelas.
Ranti yang merasa bahagia karena dia mampu meyakinkan suaminya, dengan segera dia pun mengambil lampu yang berada di tengah rumah, kemudian mereka bertiga mendekat ke arah pintu lalu membukanya dengan perlahan dan penuh kehati-hatian. terlihatlah dengan jelas ada benda putih yang terbaring di teras rumahnya, membuat wajah mereka terasa panas dingin, bulu kuduknya berdiri terasa tebal, jantungnya berdegup dengan kencang, berjalan saja seperti melayang. namun meski dipenuhi dengan ketakutan mereka bertiga terus saling menguatkan mendekat ke arah jenazah.
Setelah berada di dekat jenazah tiba-tiba lampu yang dibawa pun mati, Padahal di tempat itu tidak ada angin yang bertiup, membuat Eman dan Ambu Yayah terkejut bahkan kalau tidak dipegang oleh Ranti mereka mau melompat masuk kembali dalam rumah.
"Mau ke mana, sudah jangan ke mana-mana, di sini saja!" tahan Ranti sambil memegang tangan suaminya.
"Ta ta takut Neng, lampunya kan mati." jawab Eman yang terdengar gugup.
"Lampu mati kenapa harus pergi, bukannya dinyalakan lagi."
"Takut, takut...! akang takut Ranti.....!"
"Kenapa Akang jadi penakut, dulu pas tidur di hutan akang berani, kenapa sekarang di rumah akan menjadi seperti ini?" ujar Ranti yang terdengar tegas, membuat Eman merasa malu, terpaksa dia pun masuk kembali ke dalam rumah untuk mengambil korek api.
Setelah mendapat apa yang ia cari, Eman pun keluar kembali lalu menyalakan lampu yang dibawa oleh Ranti hingga akhirnya di teras itu menjadi terang dan Terlihat Lagi sosok jenazah yang sudah dikafani.
Merasa penasaran tali pengikatnya pun dibuka dengan perlahan dan dipenuhi ketakutan, setelah tali itu terlepas wajah Ketiga orang itu melongok ,dipenuhi dengan keheranan, karena jenazah itu adalah jenazahnya Mbah Abun.
"Bagaimana kalau sudah begini Ambu?" tanya Ranti sambil melirik ke arah ibunya.
"Ambu tidak mengerti masalah beginian. Ambu menyerahkan Semuanya sama kamu Nyai," jawab Ambu Yayah tidak berani mengambil keputusan.
"Kang Eman kita harus membela orang tua kita! si Abah Kayaknya tidak mau dikubur di pekuburan. Bagaimana kalau kita kubur di samping rumah," ungkap Ranti memberikan keputusan.
__ADS_1
"Ya sudah, ayo!" jawab Eman yang keberaniannya sudah kembali Mungkin dia merasa malu dengan istrinya.
Tanpa membuang waktu, Ketiga orang itu pun bekerja saling membantu, bahu-membahu untuk menggali kuburan agar cepat selesai. mereka tidak memperdulikan rasa capek, tidak memperdulikan gelapnya malam, tujuan mereka hanya satu ingin segera menguburkan jenazahnya Mbah Abun, agar tidak menjadi fitnah di kalangan masyarakat warga kampung Ciandam.
Pekerjaan ketika dikerjakan dengan sungguh-sungguh, maka akan membuahkan hasil yang sangat cepat, kira-kira tengah malam kuburan untuk menguburkan jenazah Mbah Abun yang pulang kembali ke rumah sudah selesai dibuat. dengan segera Mereka pun menggotong jenazah itu dari teras dimasukkan ke galian tanah yang baru saja mereka gali, lalu menutupnya kembali, tapi tidak diberikan tanda agar tidak membuat orang-orang curiga.
Setelah selesai menguburkan, Mereka pun masuk kembali ke rumah, nafas Mereka terlihat memburu akibat rasa capek setelah bekerja begitu berat, tidak terasa kantuk pun datang hingga akhirnya mereka bertiga tidur lelap dengan kaki dan tangan yang masih dipenuhi oleh tanah, apalagi pakaiannya yang terlihat basah oleh keringat.
Keadaan malam semakin sunyi, semakin lama semakin merangkak mendekat ke arah waktu subuh. diawali dengan Fajar yang menyingsing dari ufuk timur, disambut dengan berkokoknya ayam jago, diikuti oleh burung-burung yang berkicau dari arah pohon.
Tubuh Eman terlihat bergerak, diikuti dengan matanya yang perlahan terbuka. mata itu memindai keadaan sekitar mengingat-ingat kejadian tadi malam, setelah sadar Eman pun membangunkan Ranti dan Ambu Yayah untuk mengajak mereka melaksanakan salat subuh.
Keadaan di tengah rumah itu terlihat sangat berantakan, Piring-piring bekas wadah jamuan masih terlihat acak-acakan, Bahkan sampah-sampah makanan pun masih berserakan.
"Ya Allah....! tidur Kita terlalu lelap, sehingga tidak terasa waktu pun sudah terang," gumam Eman sambil bangkit, kemudian menuju ke pintu ruang tamu untuk membersihkan tubuhnya sekalian mengambil air wudhu.
Walllla......!
Tiba-tiba Eman berteriak ketika dia dia membuka pintu, merasa terkejut karena di teras rumahnya ada benda putih berkuncung yang terbaring, dengan segera dia pun melompat kembali masuk ke dalam rumah membuat Ranti dan Abu Yayah pun ikut terkejut.
"Ada apa Kang, kok berteriak?" Tanya Ranti sambil menatap lekat ke arah suaminya.
"Ada hantu lagi nyai, ada pocong di teras rumah kita!"
"Kalau nggak percaya, lihat aja sendiri!"
Ranti dan Ambu Yayah Mereka pun saling berpegangan menuju pintu depan rumah, sesampai diteras ternyata perkataan Eman tidak salah, di teras rumahnya ada jenazah seperti tadi malam.
"Aduh Abah.....! kenapa Abah bisa bergentayangan seperti ini. sebenarnya Abah ingin apa, Kenapa Abah tidak mau dikubur di tanah?" tanya Ranti sambil terdiam seperti Sedang berpikir.
Melihat kenyataan yang begitu memilukan, keberanian Abu Yayah pun keluar. dia tidak merasa takut dengan hantu yang ada dia merasa khawatir kalau semua ini akan menjadi fitnah terhadap keluarganya, dan dia merasa kasihan dengan suaminya yang tidak mau dikubur, hingga akhirnya dia pun berbicara.
"Nyai, menurut orang tua zaman dahulu Kalau ada orang yang meninggal seperti ini, mereka tidak akan mau dikubur di tanah, tapi harus dihanyutkan ke air sungai."
"Kalau begitu, apa salahnya kalau jenazah Abah kita hanyutkan saja ke sungai."
"Mungkin seharusnya memang begitu!" putus Abu Yayah.
Tanpa membuang waktu, ketiga orang itu pun bekerja kembali dengan membawa jenazah Mbah Abun masuk kembali ke dalam rumah untuk dibungkus menggunakan tikar daun pandan, lalu diikat dengan begitu kencang.
"Kalau sudah begini seterusnya Bagaimana Ambu?" tanya Eman sambil mengencangkan ikatan tali terakhir.
__ADS_1
"Ayo kita bawa ke sungai, kita hanyutkan di sana."
"Ya sudah kalau begitu, biarkan Akang yang bawa sendiri, kayaknya tenaga Akang kuat kalau hanya membawa satu jenazah. saja tapi Ambu dan Neng harus ikut, Akang ingin disaksikan."
"Yah, ayo Kang!"
Akhirnya Eman pun memanggul gulungan tikar yang berisi jenazah, lalu membawanya keluar dari rumah menuju Sungai terdekat, Ranti dan abuyayah mengikutinya dari belakang.
Aneh, ketika Eman menampakan kaki ke halaman rumah. Tiba-tiba matahari pun meredup, ditutupi oleh awan hitam yang menggumpal, diikuti suara gemuruh angin yang sangat besar menerpa pepohonan, membuat keadaan waktu itu terasa sangat mencekam.
Walau keadaan sangat mengerikan, orang yang membawa jenazah semakin menjauh dari rumah, menggunakan Jalan terobosan melewati kebun, agar cepat sampai dan tidak bertemu dengan orang.
Ketika mereka sampai, dengan segera Eman pun turun lalu membuang jenazah itu ke air, tiba-tiba keadaan pun menjadi gelap, diikuti dengan gemerlap kilat yang disusul oleh suara petir membuat suasana semakin mencekam dan mengerikan.
Angin pun bergemuruh kembali, diikuti dengan hujan yang turun begitu lebat. tidak menunggu waktu lama tiba-tiba air sungai pun menjadi banjir hingga membawa gulungan tikar berisi jenazah Mbah Abun menuju ke arah Hilir, terombang-ambing oleh Gejolak air sungai.
Eman, Ranti dan Ambu Yayah mereka tetap berdiri mengantar jenazah dengan tatapan, tubuh Mereka terlihat basah kuyup oleh air hujan. tapi meski begitu mereka tidak memiliki ketakutan sedikitpun, mata mereka terus menatap jenazah Mbah Abun, yang semakin lama semakin menjauh hingga akhirnya Tak Terlihat Lagi terbawa oleh air, menuju ke arah Hilir mungkin nantinya akan sampai ke lautan.
"Kang Eman, ambu...! Ayo kita pulang, nanti kalau kelamaan di sini kita terbawa oleh arus air," ajak Ranti sambil membagi tatap.
"Ya sudah ayo, tapi akang menitip pesan terhadap Ranti dan Ambu, agar Kejadian ini menjadi cermin buat kehidupan nanti kedepannya. Awas jangan kita ikuti, nanti kita ikut terbawa sengsara. melakukan pesugihan terhadap siluman itu bukan pekerjaan yang baik, itu adalah pekerjaan yang musyrik, dosa yang paling besar dan tidak akan mendapat ampunan dari Allah. sekarang saatnya kita mendekatkan diri kepada Allah, kalau kita memiliki keinginan kita tidak boleh meminta sama kayu ataupun batu. apalagi meminta sama siluman. Kita tidak boleh menjadi pengabdi setan, karena tugas kita adalah menjadi abdinya Allah yang maha pengasih dan maha penyayang, yang menciptakan langit dan bumi." ujar Eman dengan tegas, dia sudah sadar dengan apa yang sudah terjadi terhadap keluarganya, bahwa kejadian seperti itu adalah contoh yang tidak baik, contoh yang tidak harus diikuti tapi bisa dijadikan cerminan.
"Yah benar, kita tidak harus seperti itu pekerjaan Abah bukan pekerjaan yang harus kita ikuti. Ya sudah ayo kita pulang, kita mulai sejarah baru Membuat catatan di lembaran yang masih bersih, kita tulis menggunakan pekerjaan-pekerjaan yang diridhoi oleh Allah," ujar nanti tampil memegang tangan suaminya.
Akhirnya ketiga orang itu pun pergi meninggalkan tepian sungai, menuju ke rumah dengan berhujan-ujanan. baju dan rambut Mereka terlihat basah kuyup, diantarkan oleh angin diselingi dengan suara petir yang terdengar menakutkan.
Selanjutnya, kehidupan Eman dan Ranti menjadi keluarga sakinah mawadah warohmah. tidak tergoda dengan omongan orang tidak terpengaruh dengan keadaan, mereka tetap fokus membangun rumah tangga mengejar cita-cita agar bisa hidup bahagia di dunia dan di akhirat.
sedangkan Ambu Yayah dia mengikuti pekerjaan anaknya, sekarang dia mau melaksanakan salat, rajin mengaji Tidak Malu bertanya dengan yang muda. Karena dia ingin memperbaiki pekerjaannya, walaupun tidak bisa menolong suaminya minimal dirinya sendiri bisa selamat.
*****
Beberapa tahun berlalu, di Gunung Karang terlihat ada empat orang yang sedang duduk saling berhadapan yang satu sudah sangat sepuh, yang satu masih sangat muda, dan yang duanya kira-kira berumur 50 tahunan.
"Apa benar Jang Galih mau menemui Kanjeng Raja Prabu uwul-uwul?" tanya aki sobani sambil menatap ke arah orang yang paling muda.
"Benar Aki.....! saya sudah membulatkan tekad bahwa saya akan mengabdi terhadap Kanjeng Prabu, soalnya semenjak orang tua saya meninggal kehidupan saya menjadi miskin, sehingga banyak orang yang menghina saya, mencaci maki, merendahkan. Saya sudah bosan hidup di bawah hinaan orang lain, berikan saya kekayaan dan saya akan berikan hidup saya untuk menjadi pengabdi siluman babi ngepet."
Tamat
Terima kasih buat membaca Setia, Semoga kita bisa bertemu di tulisan-tulisan saya Selanjutnya. mohon maaf bila masih banyak kekurangan baik dalam tulisan atau dalam pembawaan alur cerita.
__ADS_1
Dan Bilamana ada nama yang sama atau tempat yang sama dengan cerita ini, saya mohon maaf karena cerita ini adalah sebuah titip belaka.