Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun

Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun
Bab 26. Pertarungan


__ADS_3

sedangkan di kebun bambu, suasana di tempat itu terasa riuh oleh suara burung-burung yang saling bersahutan. dalam waktu seperti itu Galih dan Saipul Mereka terlihat berjalan beriringan mengikuti langkah Mbah Abun dan Eman.


Ketika mereka berdua sampai ke tepian sungai, terlihatlah dua orang yang sedang menyusuri tanjakan yang nantinya akan sampai kampung Ciaul, kalau dilanjutkan bisa sampai ke kampung Cibeureum dan nantinya akan sampai ke kampung Sukamaju.


"Tidak akan salah lagi mereka akan menuju Kampung Ciaul, karena mereka melewati jalan yang itu," ungkap Saiful yang matanya terus menatap.


"Tidak salah, mereka pasti akan menuju Kampung ciaul. Ayo Mang kita Cegat mereka di pasir kambing, karena di tempat itu jauh ke mana-mana. kalaupun mereka berteriak tidak akan ada orang yang mau menolong," jawab Galih sambil berbelok ke arah kanan, mereka tidak menyusuri jalan karena mau memotong Kompas, agar mereka berdua bisa mendahului Mbah Abun dan Eman.


"Mau lewat mana Jang?"


"Kalau melewati jalan itu sangat susah Mang, mending kita menerobos melewati semak-semak dan kebun agar cepat sampai."


"Oh begitu, ya sudah ayo!"


Saipul Dan Galih Mereka terlihat menyela-nyela rumpun rumput yang rimbun, kemudian menaiki tebing terus menerobos kebun ilalang, mereka berjalan dengan tergesa-gesa karena ingin mendahului Mbah Abun dan Eman.


Setelah berjuang yang lumayan lama dan melelahkan, akhirnya mereka pun tiba ke tempat yang dituju yaitu bukit yang bernama pasir kambing, pasir itu terlihat sangat sunyi dipenuhi rumpun-rumpun haur, ditambah dengan pohon kiara yang sudah sangat tua, dililiti oleh rumput-rumput yang merambat.


Galih terlihat duduk di salah satu akar pohon, keringatnya terlihat bercucuran, nafasnya sangat memburu, tangannya memegang kepala golok, diusap-usap seperti sedang mengajak mengobrol, matanya menatap ke arah lembah.


"Apa yang harus kita kerjakan Jang?"


"Saya sangat sakit hati Mang, selama saya masih hidup Saya tidak akan mau menerima keputusan yang diberikan oleh Mbah Abun. Nah dari dasar itu saya tidak akan nyenyak tidur kalau belum membalaskan rasa sakit terhadap orang yang bernama Eman."


"Oh begitu?"

__ADS_1


"Ya begitu Mang!'


"Siap lah, kalau begitu. tapi bagaimana dengan persiapan yang lainnya?"


"Kain kita pakai untuk menutup wajah, golok kita siapkan. terus kita bagi tugas!"


"Maksudnya bagaimana Jang?" tanya Saipul sambil menatap penuh penasaran ke arah Galih.


"Mang Saipul kebagian tugas menangkap Mbah Abun, tapi jangan sampai dilukai, cukup diikat saja agar tidak berontak.


"Terus tugas Ujang?"


"Sedangkan tugas saya, mau menebas leher Si Eman.


"Lah, lah kok seperti itu Ujang?"


"Kita tidak boleh Setengah Hati Mang, karena kita sudah terlanjur basah mengikuti sayembara. jadi ketika kita tidak berhasil mendapatkan hadiahnya, maka semua orang tidak ada yang boleh menerima hadiah itu," jawab Galih sambil mengeluarkan kain hitam dari dalam kantong celana.


Kemudian kain itu diikatkan di belakang kepala untuk menutupi sebagian wajah, dari mulai pangkal hidung ke bawah. sehingga yang terlihat dari wajah mereka hanya mata yang terlihat bergerak-gerak, persis seperti rampok yang sedang menunggu mangsanya.


Mendengar pembagian tugas seperti itu, Saipul tidak membantah. dia sudah berjanji dalam hatinya akan setia membantu sahabatnya yang sedang sakit hati. sebenarnya dia juga merasakan hal yang sama, karena tidak berhasil mendapatkan hadiah sayembara. padahal dia sudah sangat besar mengeluarkan modal untuk mengikuti sayembara, sampai-sampai meninggalkan jualan kerupuknya.


Sedangkan orang yang sedang mereka intip, mereka terus berjalan dengan santai. Mereka tidak curiga kalau bahaya sedang mengintainya, Mereka terlihat sangat tenang di samping kanan kiri jalan tumbuh rimbun pohon tebu timbarau, menggaris ke arah wajah orang yang lewat.


Mbah Abun dan Eman tubuhnya sudah dipenuhi oleh keringat, wajahnya terlihat memerah, karena terus disinari oleh teriknya mata hari. Namun meski begitu mereka tidak menunjukkan kepayahan atau menunjukkan kesusahan, karena pembawaan hati yang sedang bahagia.

__ADS_1


"Haduh, Halah.....! Abah sangat capek Jang, Nanti kalau kita sudah sampai ke pohon kiara itu kita beristirahat dulu, agar tubuh kita kembali segar. kayaknya di tempat itu sangat sejuk," ujar Bah Abun yang berjalan paling depan.


"Baik Abah, memang benar saya juga merasa capek," jawab jawab Eman yang mempercepat langkah mengikuti calon mertuanya. setelah mereka sampai semakin lama mereka pun semakin menaiki bukit, semakin mendekat ke arah pohon yang disebutkan dan semakin dekat pula dengan orang-orang yang sedang mengintainya.


Galih waktu itu jantungnya terasa berdegup dengan kencang, kepala golok sudah dipegang dengan kuat, matanya menatap tajam ke arah musuhnya. ketika Mbah Abun dan Eman sudah sampai ke hadapan tempat persembunyian mereka, dengan segera Galih pun memberikan isyarat agar Saipul mulai menjalankan aksinya. dengan segera orang yang diberikan isyarat pun keluar dari tempat persembunyian.


Bugh!


Tubuh Saiful menabrak tubuh Mbah abun,membuat tua Renta itu tidak bisa berkutik lagi, akibat Serangan yang begitu mendadak.


Walaaa....!


Tamparan Saiful tepat mengenai pipi Bah Abun, membuatnya terlihat sangat kesakitan apalagi dalam keadaan yang sedang sangat lelah, ditambah dengan serangan yang begitu tiba-tiba.


Kepala Mbah Abun terdongak ke belakang, sebelum sadar dengan keadaan yang menimpa, tangannya ada yang mengambil lalu ditarik ke belakang, tubuhnya Mbah Abun terpaksa mau tidak mau dia harus menurut, kalau tidak pasti tangan itu akan dipatahkan.


"Jang Eman, Awas Jang......, hati-hati....!" teriak Bah Abun yang masih sempat mengingatkan calon menantunya.


Namun setelah itu, Mbah Abun tidak bisa bersuara lagi, karena mulutnya sudah ada yang membekap. sehingga dia hanya membulatkan mata mengatur nafas yang terasa sesak, tubuhnya menggelinjang ingin terlepas, namun tubuhnya terasa sangat lemah hingga akhirnya tubuh itu terjatuh seketika, tangan dan kakinya ada yang mengikat membuat tubuh tua Renta itu sudah tidak bisa bergerak lagi.


Sedangkan Galih ketika Saipul keluar dari tempat persembunyian. dengan segera dia pun menubruk Eman menyerangnya dengan mengeluarkan golok, namun tidak berhasil. karena telinga Eman seperti memiliki mata, punduknya seperti orang yang bisa melihat, karena dengan sekilar dia menghindar sambil menendangkan kaki ke arah belakang, seperti kambing yang sedang ingin kawin.


Serangan yang dilayangkan oleh Eman tepat mengenai dengkul Galih, membuat pemuda itu mengeluh menahan sakit, disusul dengan tubuhnya yang ambruk ke belakang, golok yang dipegangnya pun terbang entah ke mana. dengan segera Eman pun membalikkan tubuh, untuk menerima Serangan yang akan dilancarkan oleh musuhnya.


Galih yang terjatuh dengan cepat dia pun bangkit, matanya membulat sempurna menatap ke arah Eman, seperti hendak menelan bulat-bulat, membuat pemuda Kampung Sukamaju itu lebih berhati-hati. dengan segera dia pun memasang kuda-kuda, matanya terlihat sangat tajam saking tajamnya jangankan gerakan musuh, gerakan lalat yang sangat kecil saja terlihat oleh Eman seperti sedang melihat kambing.

__ADS_1


__ADS_2