Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun

Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun
Bab 28. Kampung Sukamaju


__ADS_3

"Ayo.....! Abah setuju, Biarkan saja orang yang jahat ini di tempat ini," jawab Mbah Abun yang terlihat sangat membenci Galih, bahkan sebelum pergi meninggalkan musuhnya dia sempat melayangkan satu tendangan ke arah Galih dengan begitu gemas, yang tidak dia lakukan Dia meludahi orang yang sudah menyiksanya.


Akhirnya Eman dan Mbah Abun mereka berdua pun melanjutkan perjalanan, sedangkan Galih dan Saiful terpaksa mereka harus menerima nasib sebagai pucundang, disiksa oleh salahnya sendiri. jangankan untuk membalas dendam untuk menyelamatkan diri saja mereka tidak mampu, mereka berdua terus merintih saling bersahutan, mulutnya terus mengeluarkan darah Kalau tidak ada keberuntungan mungkin nyawanya pun akan terlepas.


Mbah Abun dan Eman mereka diantarkan oleh semilir angin kecil, diiringi oleh suara burung-burung kecil yang terdengar berkicau, disambut oleh suara kutilang. kedua orang itu terus berjalan menuju ke kampung Sukamaju.


Sedangkan di kampung Sukamaju, kampung yang akan dituju oleh Eman. di sana ada satu keluarga yang tidak lengkap karena anak mereka sudah beberapa minggu menghilang, dan sampai sekarang mereka belum menemukan keberadaannya ada di mana, jangankan menemukan wujudnya menemukan jejaknya pun sangat kesusahan.


Mang Dodo yang kehilangan anaknya, kehidupan mereka sangat tidak bergairah, karena Eman anak mereka belum diketahui bagaimana nasibnya seperti apa. sudah berbagai cara mereka lakukan, mulai mencari sendiri sampai meminta bantuan warga Kampung Sukamaju untuk mencari keberadaan Eman. tapi sampai saat ini tidak ada kabar tidak ada berita, tidak ada jejak sama sekali, hingga akhirnya Eman Pun dinyatakan Menghilang belum diketahui nasibnya


Dari dasar itu, akhirnya Eman pun diikhlaskan oleh keluarganya dianggap sudah meninggal, karena sudah memiliki bukti yang kuat yaitu kejadian yang menimpa Mang Dodo ketika ada orang yang menyerang dari belakang mengunakan batu hingga Mang Dodo tidak sadarkan diri.


Hari itu, hari yang sama dengan hari ketika Eman berangkat dengan Mbah Abun. setelah menghabiskan rasa penasaran serta sudah mengerahkan semua kekuatan, Mang Dodo mengundang Pak Ustad, Pak Kulisi, Pak RT dan sesepuh sesepuh kampung Sukamaju.


Mendapat undangan seperti itu, orang-orang yang dipanggil pun berbondong-bondong menuju ke rumah Mang Dodo berkumpul di tengah rumah.


"Ada apa Mang Dodo, rasanya saya sangat terkejut dipanggil seperti ini?" tanya pak ustad mulai membuka pembicaraan karena dia belum mengetahui maksud dan tujuannya tuan rumah.


"Terima kasih sudah cepat bertanya, karena saya juga ingin secepatnya mengutarakan maksud dan tujuan. begini pak ustad, Begitu juga dengan sepuh-sepuh semuanya yang sudah hadir ditempat ini. seperti yang sudah kita ketahui, bahwa anak saya sudah jelas tidak bisa ditemukan, tidak bisa diketahui keberadaannya, kalau hidup tidak diketahui tempat tinggalnya, kalau meninggal tidak diketahui mayatnya. membuat saya merasa bingung untuk memutuskannya. nah begitu pak ustad!" jawab Mang Dodo menjelaskan.

__ADS_1


"Oh begitu, Terus bagaimana,"


"Dari dasar itu, sekarang saya mau memutuskan untuk mengobati Kesedihan Hati saya, jangan selalu ingat terhadap sang anak, jangan terlalu memikirkan yang menjadi anak, tapi mohon maaf bukannya saya sok tahu bukan saya mendahului Tuhan.


"Kenapa Mang Dodo berbicara seperti itu?" tanggap pak ustad.


'Soalnya keputusan saya terbilang gegabah karena saya akan memutuskan bahwa anak saya sudah di ikhlaskan, dianggap sudah meninggal."


"Sebentar, sebentar.....! Kenapa bisa menyimpulkan seperti itu?"


"Karena anak saya sampai sekarang belum diketahui keberadaannya, mungkin saya tidak bisa menemukan anak saya, karena Jang Eman sudah meninggal, sudah sampai ke waktu yang sudah ditentukan oleh Sang Pencipta, begitu!" ujar Dodo dengan suara tegas dan serius mengungkapkan isi hatinya terhadap orang-orang yang sedang berkumpul, membuat orang-orang pun saling menatap hingga akhirnya Pak ustad pun berbicara kembali.


"Begini pak ustad, pertama anak saya sudah terlalu lama menghilang, sudah terlalu lama tidak pulang, tidak ditemukan jejaknya, tidak ada warta tidak ada berita. yang kedua kepergian Eman dalam keadaan yang sangat genting, yaitu diculik oleh Hadi dan Warsa, kedua orang yang sangat jahat, pasti anak saya sudah disiksa sampai bertemu dengan ajal. Nah itu yang menjadi dasarnya pak ustad."


Mendengar penjelasan Mang Dodo seperti itu, orang-orang pun tidak berbicara kembali, tidak ada yang mendebat perkataannya. karena memang begitulah kenyataannya, bahkan semua orang sudah menyangka seperti itu tidak ada orang yang menyangka selamat.


Setelah agak lama terdiam, akhirnya pak RT pun bertanya sambil menatap ke arah tuan rumah. "Kalau Mang Dodo sudah membulatkan hati dan memutuskan, sekarang Mang Dodo mau bagaimana?" ujar Pak RT kala itu.


"Oh begini Pak RT, begitupun dengan semua orang yang hadir rumah. saya ingin mengakui, ingin menunjukkan kasih sayang terhadap anak, soalnya baik ataupun jelek Eman itu adalah anak saya yang hanya satu-satunya. Saya ingin memberikan kasih sayang seutuhnya, yang tidak pernah ia dapat ketika masih hidup, bahkan saya tidak bisa membahagiakannya Saya berharap Jangan sampai ketika dia sudah meninggal, Dia tidak diurus dengan layak."

__ADS_1


"Maksudnya bagaimana Mang Dodo, Coba jelaskan dengan ringkas jangan berbelit."


"Begini Pak RT maksud saya."


"Iya bagaimana?"


"Saya ingin mengadakan tahlil seperti kebiasaan warga kampung Sukamaju, karena biasanya sukamaju ada tahlil hari pertama, hari ketiga, hari ketujuh dan hari ke-40. Nah dari dasar itu Saya ingin mendoakan anak saya, namun saya tidak akan mengadakan tahlil hari kesatu, hari ketujuh, karena tidak jelas hari apa anak saya meninggal. dari dasar itu saya akan menggabungkan semuanya yang terpenting saya bisa mendoakan anak saya, walaupun hanya sekali begitu Pak RT.


"Sebentar, sebentar......! Mang Dodo tidak boleh terbawa oleh pemikiran yang lain." Tanggal pak ustad menengahi.


"Bagaimana pak ustad?"


"Begini Mang Dodo. kalau tahlil hari pertama, hari ketiga, hari ketujuh bahkan hari ke-40, semua itu sebenarnya tidak terlalu penting penting amat, walaupun tidak dilaksanakan itu tidak akan menjadi dosa."


"Kenapa sebabnya pak ustad?"


"Sebabnya yang wajib ketika memelihara orang yang sudah meninggal itu ada empat, yang pertama memandikan, yang kedua mengafani, yang ketiga menyolatkan, yang keempatnya menguburkan. nah hanya itulah yang kewajibanya Mang Dodo. ketika semua kewajiban sudah dilaksanakan, maka kita sudah terlepas dari belenggu soalnya sudah menjalankan kewajiban terhadap orang yang meninggal.


"Maaf pak ustad, bagaimana tentang tahlil hari pertama, hari ketiga dan hari seterusnya?"

__ADS_1


"Nah kalau urusan itu, tidak harus menjadikan Belenggu, karena walaupun tidak juga itu tidak akan menjadi apa-apa. awas jangan salah arti nanti bisa tertukar, yang tidak wajib dianggap wajib, yang wajib di abaikan," jawab Pak Ustad menjelaskan.


__ADS_2