Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun

Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun
Bab 23. Masukan kepesantren saja


__ADS_3

"Karena saya sudah jelaskan, bahwa saya merasa orang bodoh !" jawab Eman membuat Bah Abun terdiam merasa bingung bagaimana caranya untuk memberikan ilmu, karena dia tidak mengetahui ilmu apa yang bisa menjadikan keselamatan di dunia dan di akhirat, Mbah Abun dalam masalah ini dia tidak mengerti.


"Haduh Ujang! kalau permintaannya seperti itu, abah merasa bingung Abah harus bagaimana?"


"Terserah Abah! saya menyerahkan semuanya sama abah, karena Abah lah yang memaksa untuk meminta saya."


"Kalau begitu Jangan bingung Abah!' Timpal Ranti yang sejak dari tadi memperhatikan.


"Terus Abah harus bagaimana?"


"Kang Eman masukkan saja ke pesantren, nanti biayanya Abah yang menanggungkan. kan itu sama saja seperti Abah Memberikan ilmu terhadap Kang Eman." Jawab Ranti menjelaskan.


"Pesantren......!" ulang Mbah Abun tiba-tiba jantungnya terasa berdegup kencang, hatinya terasa berdebar seperti menandakan pertanda hal yang menakutkan akan terjadi. orang-orang yang berkumpul mereka tidak memberikan tanggapan, hanya matanya saja yang menatap ke arah wajah Mbah Abun yang rautnya berubah seketika, setelah mendengar penjelasan dari anaknya.


"Kenapa Abah seperti terlihat orang yang sedang kebingungan, Kenapa tadi bertanya permintaan tapi sekarang Abah hanya terdiam?" tanya Ambu Yayah Yang sejak dari tadi hanya diam memperhatikan.


"Oh iya ya! ya sudah kalau seperti itu Abah setuju dengan apa yang disarankan oleh Ranti, dan sekarang kita harus memutuskan bagaimana selanjutnya?"


"Ya iyalah, dan orang yang paling berhak memutuskan tidak ada lagi selain Abah."


"begini saja jang eman! Ujang tidak harus pergi ke mana-mana lagi, Sekarang ujang tinggal saja di rumah ini, nanti kalau kita sudah senggang, kita bersiap-siap untuk mengadakan pernikahan, namun sebelumnya abah mau bertemu dulu dengan dua orang tua Jang Eman, dan selanjutnya setelah Ujang menikah Ujang harus pergi mencari pondok pesantren, silakan Ujang Belajar yang giat untuk mencari ilmu yang akan membuat kehidupan Ujang selamat baik di dunia dan di akhirat, untuk masalah biaya Abah yang akan menanggung semuanya. nah begitu keputusannya! jadi sekarang hutang Abah sudah lunas, jangan sampai ada orang yang menagih lagi. dan untuk orang-orang yang hadir di tempat ini abah mau memberitahu bahwa janji yang sudah Abah ucapkan sekarang Abah sudah tepati."

__ADS_1


Bersaksi, bersaksi, bersaksi.....!


Bersaksi, bersaksi, bersaksi......!


Jawab orang-orang dengan serempak, membuat hati Ranti terasa terbebas dari belenggu yang selama ini mengikatnya, di ganti dengan rasa bahagia yang tak terhingga. Begitu juga dengan Eman yang merasa bahagia karena keinginannya sudah disepakati.


"Terima kasih Abah! terima kasih atas kesediaannya, Ranti sangat bahagia."


"Syukur kalau anak Abah merasa bahagia. Nah sekarang abah mau bertanya terhadap Jang Eman, siapa kedua orang tua Ujang dan di mana tempat tinggal, karena Abah ingin bertemu dengan calon besan, soalnya itu sudah menjadi kebiasaan, memperkenalkan kedua belah pihak ketika hendak melangsungkan pernikahan."


"Saya merasa bahwa diri saya tidak bertanggung jawab, karena sudah lama tidak bertemu dengan orang tua saya sendiri!"


"Kok bisa seperti itu?"


Orang-orang yang mendengar cerita Eman, Mereka terlihat manggut-manggut merasa tertarik dengan kisah hidup Eman yang sangat rumit, dan setelah Dia mengakhiri bercerita aki tardi pun bertanya seperti yang sangat penasaran.


"Jadi kedua maling yang sudah ditangkap itu adalah musuh Ujang?"


"Benar aki, karena kedua orang itulah yang mengakibatkan hidup saya menjadi sengsara, dan merekalah yang menjadi penyebab saya bisa bertemu dengan Neng Ranti."


"Oh begitu....!" jawab aki tadi yang masih manggut-manggut.

__ADS_1


"Kejadian itu sangat Kebetulan sekali yang mengakibatkan Jang Eman bisa membuat perhitungan dengan orang yang bernama Hadi dan Warsa, secara tidak langsung Ujang sudah menolong Abah, menolong Neng Ranti dari bahaya Pati, karena awalnya anak Abah mau celaka," ujar Bah Abun yang tidak melanjutkan perkataannya karena merasa sedih ketika mengingat kejadian yang baru saja ia alami, namun itu mengundang kecurigaan para warga yang hadir di tempat itu terutama adalah Eman."


"Celaka......! celaka Bagaimana abah? Coba tolong ceritakan Bagaimana kejadian sebenarnya!" Pinta Eman diikuti oleh orang-orang yang lain yang terdengar bergemuruh menanyakan.


Mendapat desakan seperti itu akhirnya dengan terpaksa Mbah Abun pun menceritakan kejadian di mana anaknya yang bernama Ranti hampir saja menjadi korban kejahatan hadi dan Warsa. mendengar cerita seperti itu hati Eman terasa panas, dia merasa kesal terhadap Hadi dan Warsa, mungkin kalau eman lebih awal mendengar cerita ini sudah dipastikan bahwa kehidupan Hadi dan Warsa akan segera berakhir.


"Kurang ajar....! dasar maling sialan, tidak ada sedikitpun memiliki rasa perikemanusiaan," ujar Eman yang wajahnya terlihat memerah, giginya mengerat mengeluarkan suara.


"Sudah jangan marah seperti itu Ujang! Karena ini belum terjadi, baru saja hampir. dan sekarang kedua maling itu sudah tertangkap, Jadi sekarang kita tidak usah memikirkan hal-hal yang lain, karena semua masalah yang sedang kita hadapi Anggap saja sudah selesai. kita harus terfokus untuk menyiapkan segala persiapan untuk pernikahan, tapi nanti Abah ingin pergi ke kampung Sukamaju, ingin bertemu dengan Mang Dodo orang tua Jang Eman."


"Baik...., baik Abah.... ! kalau seperti itu saya setuju." jawab Eman yang terlihat mengulum senyum membiaskan amarah yang baru saja membakarnya.


Setelah diputuskan, akhirnya orang-orang pun mengobrol hal yang lain, menanggap cerita Eman yang sudah disahkan menjadi sang pemenang sayembara. kemudian di sahuti dengan pengalaman-pengalaman orang yang lain, hingga akhirnya Mereka pun saling berbicara bertukar cerita.


Ambu Yayah dan anaknya mereka pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan, menyeduh air kopi dan membuat cemilan, untuk menemani orang yang sedang mengobrol.


Keadaan malam semakin lama semakin terasa sunyi, jangkrik jangkrik masih Terdengar sangat riang, suasana semakin terasa dingin, masuk dari celah baju menyela-nyela kulit yang tertutup, rasanya terasa menyerap sampai ke sumsum balung.


Kira-kira waktu sudah mendekati tengah malam, orang-orang yang mengobrol mulai berpamitan untuk kembali ke rumah masing-masing. dan akhirnya tamu yang berada di rumah mbah Abun hanyalah tinggal Eman sendirian, yang sudah Waktunya beristirahat. membuat Ranti terlihat sibuk menyiapkan tempat istirahat untuk calon suaminya.


Sprei yang berada di kamar ruang tamu, diganti dengan warna yang putih, bantal di pakaikan sarung, bahkan ditaburi minyak wangi. setelah itu dia pun kembali ke arah Eman lalu berbicara.

__ADS_1


"Akang...!" Panggil Ranti dengan suara Merdunya.


"Yah ada apa Eneng?"


__ADS_2