
Setelah lama berjalan, akhirnya Eman pun melihat cahaya lampu yang ditempel di luar bangunan, sepertinya rumah itu adalah Warung. Dengan segera Eman mendekati, setelah sampai di halamannya dia merasa bahagia karena memang benar itu adalah Warung penjual nasi. tanpa membuang waktu Eman masuk ke dalam kemudian dia duduk di bangku panjang, lalu memberitahu penjual nasi bahwa dia ingin makan.
Tanpa diminta dua kali dengan Sigap penjaga warung itu menyiapkan pesanan Eman, setelah selesai pesanannya pun disimpan di hadapannya, tanpa berbasa-basi lagi dia mulai menyantap makanan itu dengan lahap, matanya menatap ke arah luar memperhatikan jalan yang terlihat sepi.
Setelah selesai makan, Eman masih duduk di warung itu untuk mengistirahatkan rasa capek setelah melakukan perjalanan yang sangat jauh. tak terasa waktu pun semakin lama semakin sunyi dan semakin dingin, karena waktu sudah menuju tengah malam.
Khayalnya terbang kembali ke kampung Ciandam, terlukislah wajah Ranti yang sedang berguling-guling sendirian, karena di rumahnya tidak ada teman. mengingat hal itu hati Eman pun berdebar, merasa Dilema antara mengeloni istri atau mencari ilmu, karena dua-duanya sangat penting. istri adalah tempat mencurahkan kasih sayang, Sedangkan ilmu bisa diharapkan untuk menolong orang tua atau mertua agar mereka tidak terus berkubang dalam kesesatan.
Terlarut dalam lamunan, dari kejauhan terlihat ada kereta yang lewat, kereta yang memancarkan cahaya menerangi keadaan sekitar. semakin lama kereta Kencana itu semakin mendekat semakin terlihat jelas.
"Eh kenapa ada kereta yang sangat bagus seperti itu?" gumam Eman yang terlihat penasaran dengan segera dia pun keluar dari warung penjual nasi, ingin melihat jelas kereta yang begitu luar biasa itu, dia berdiri di tepian jalan agar bisa lebih dekat ketika kereta itu lewat.
Setelah kereta itu berada di hadapan Eman, tiba-tiba kereta itu berhenti pas di depan Eman membuat pemuda itu mengerutkan dahi tidak mengerti dengan kejadian yang sangat aneh itu, namun matanya menangkap bahwa orang yang berada di atas kereta salah satunya adalah orang yang sangat dia kenal, untuk yang dua orang lagi Eman tidak mengetahui.
"Abah. Kenapa Abah menyusul saya, sampai harus naik kereta seperti ini?" gumam Eman sambil mengucek kedua matanya, untuk memfokuskan pandangan. namun penglihatannya tetap sama, bahwa yang berada di kereta itu salah satunya adalah Mbah Abun, mertuanya sendiri. Eman mengulangi mengucek kembali kedua matanya namun pandangannya tetap sama.
"Ujang, Kebetulan sekali kita bertemu di sini. soalnya Abah mau menitip pesan," ujar Bah Abun sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian dia pun turun dari kereta mendekat ke arah Eman. sama kedua pengawal kerajaan yang memakai pakaian yang sangat keren tidak diganggu, dibiarkan begitu saja, Bahkan seperti sengaja memberikan kesempatan kepada Abun untuk menyampaikan amanat terhadap menantunya.
Eman masih terdiam, dia belum percaya dengan penglihatannya, karena pendengarannya sangat tidak jelas. tiba-tiba saja Mbah Abun sudah berdiri di hadapannya.
"Ujang Tolong dengarkan...! Abah buru-buru, abah mau menitip pesan sama si Ambu. kemarin Abah meminjamkan padi satu kuintal ke orang Ciaul, nanti ketika musim panen tolong ditagih. dan satu lagi kunci kamar padi di bawah tikar di kamar Abah. jangan sampai lupa, Ujang harus menyampaikan pesan ini terhadap si Ambu!"
"Ba, ba, baik, baik bah..., terus abah mau pergi ke mana?" sanggup Eman diakhiri dengan pertanyaan.
__ADS_1
Mbah Abun tidak sempat menjawab, karena ada yang menarik dari belakang, dipaksa untuk naik kembali ke atas kereta atau delman. tanpa membuang waktu kereta itu pun mulai melaju kembali, namun sekarang jalannya sangat cepat sehingga sekilat saja sudah jauh dari warung, membuat Eman hanya bisa menatap melongok sambil berpikir menerka-nerka tentang kejadian yang baru saja dia alami.
Semakin lama delman pun semakin menjauhi, hingga akhirnya menghilang, membuat Eman mengusap wajah kemudian dia pun masuk kembali ke dalam warung. dengan segera Eman duduk di tempat yang tadi ia tinggalkan, kemudian terdiam berpikir mencerna apa yang baru saja terjadi, hingga akhirnya hati Eman menjadi bercabang. Apakah dia melanjutkan pergi ke pondok pesantren atau dia pulang kembali ke kampung Ciandam. semakin lama dia berpikir, semakin merasa khawatir dengan orang-orang yang berada di rumah.
Suara Mbah Abun terngiang kembali, suara yang menyebut-nyebut orang Ciaul dan memberitahu bahwa kunci kamar padi berada di kamarnya. dua amanat itu mengganggu pemikiran Eman, menggoda niatnya yang hendak pergi ke pesantren. kemudian dia pun mengingat kembali dengan ajaran yang diberikan oleh pak ustad kampung Sukamaju, bahwa ciri-ciri orang yang munafik itu ada tiga. yang pertama ketika dia berbicara akan berdusta, yang kedua kalau dia berjanji dia mengingkari yang kalau di amanatkan dia suka tidak menyampaikan, yang ketiganya ketika dia bersumpah dia suka berbohong.
Eman kembali mengingat dengan amanat yang di ajarkan oleh ahli kebun, bahwa mencari ilmu itu hukumnya wajib, apalagi sekarang ada permintaan dari Ranti istrinya bahwa. Eman harus bersungguh-sungguh mencari ilmu untuk menolong Mbah Abun yang tersesat, tapi sekarang kenyataannya sangat membingungkan Eman, seolah-olah dia harus menanggung dua tanggung jawab yang keduanya sangat penting.
Lama berpikir akhirnya Eman pun menyerah, dia tidak sanggup untuk mengambil keputusan, sehingga matanya melirik ke arah penjaga warung yang sedang duduk sambil menundukkan kepala, mungkin penjaga itu sangat kelelahan setelah seharian bekerja, karena kebetulan hari itu orang yang belanja di warungnya sangat banyak.
"Mohon maaf Mang," ujar Eman mengagetkan tukang. warung dengan segera dia pun mengangkat kepala lalu mengucek matanya untuk memfokuskan pandangan.
"Makannya sama apa aja Ujang?" tanya tukang warung sambil menatap ke arah Eman, Mungkin dia menyangka bahwa Eman akan membayar makanannya.
"Saya belum mau menghitung makanan yang sudah dimakan Mang, itu bisa nanti saja. karena ada yang lebih penting dari itu, saya mau bertanya sama mamang, Siapa tahu saja Mamang bisa memberikan solusi terhadap saya yang sedang bingung."
Mendapat pertanyaan seperti itu, dengan segera Eman pun menceritakan kesusahannya. kesusahan yang sedang dihadapi karena dia bingung menentukan yang mana yang yang harus ia kerjakan terlebih dahulu, antara mencari ilmu dan menyampaikan amanat mertuanya.
"Amanat harus segera disampaikan, karena kalau ditunda-tunda takut nanti lupa. sedangkan mencari ilmu masih banyak waktu yang lain, bisa diakhirkan. jadi amanat dulu yang harus dikerjakan!" jawab tukang warung dengan tegas, meski jawabannya sangat simpel namun membuat Eman manggut-manggut seolah mengerti dengan apa yang disampaikannya.
"Benar, benar....! Saya sangat mengerti Mang, sekarang berapa uang yang harus saya bayar?:
"Makanya sama apa aja Jang?"
__ADS_1
"Gepuk satu, goreng telur satu, kerupuk tempe dan tahu, ditambah pisang satu."
"Makanan Ujang totalnya menjadi 500, ditambah bertanyanya 1000," jawab tukang warung sambil mengulum senyum, membuat Eman mengurutkan dahi karena dia tidak menyangka kalau bertanya terus dibayar.
Namun meski tidak mengerti, dengan segera Eman pun mengeluarkan uang sesuai dengan yang diminta oleh penjaga warung, karena dia menyangka bahwa kebiasaan di kampung itu memang seperti itu.
"Terima kasih banyak Mang, kalau begitu saya mau pulang kembali ke kampung saya, untuk menyampaikan amanat terlebih dahulu."
"Sama-sama Jang, nih uangnya...! Mamang tadi cuma bercanda kok," jawab tukang warung sambil mengembalikan uang lebih pemberian dari Eman, namun Eman tidak mengambil uang itu hitung-hitung dia membayar pengetahuan yang sangat luar biasa yang diberikan oleh penjaga warung itu.
Melihat keseriusan Eman. akhirnya tukang warung pun mengalah dengan memasukkan uang pemberian dari eman ke dalam kaleng. sedangkan Eman tidak banyak berbicara lagi dia pun keluar dari warung untuk kembali ke kampung ciandam.
~
Lama di perjalanan pulang tidak diceritakan. kira-kira pukul 07.00 Eman sudah sampai ke kampung ciandam, semalam suntuk dia tidak beristirahat agar cepat sampai ke rumahnya. setelah sampai matanya pun membulat dengan sempurna, merasa kaget karena banyak orang yang sedang berkumpul, Ada pula yang sedang disibukkan dengan membuat telisik bambu penutup liang lahat.
Eman masih tetap berdiri di halaman rumahnya, sambil memindai keadaan orang-orang yang sedang bekerja, namun itu tidak lama karena Mang Zuhri mendekati lalu bertanya.
"Nah ternyata Ujang sudah datang, bertemu di mana dengan orang yang menyusul?"
"Menyusul bagaimana Mang Zuhri, karena saya tidak bertemu dengan orang yang menyusul, saya pulang dengan kemauan saya sendiri."
"Lah kok bisa aneh seperti ini?: tanya Mang Zuhri sambil mengerutkan dahi.
__ADS_1
"Iya mang memang sangat aneh, sampai sekarang Saya belum mengerti. Oh iya kenapa di tempat Abah banyak orang?" jawab Eman balik bertanya.
"Emang Ujang belum tahu, kalau mertua Ujang sudah meninggal?"