Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun

Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun
bab 29. Eman Sampai Kekampungnya


__ADS_3

Benar pak ustad, tapi kan sekarang tubuh Eman tidak ditemukan, kita tidak akan bisa memandikan, tidak akan bisa mengafani, tidak akan bisa menyolatkan atau menguburkan?" ujar Pak RT sambil menatap ke arah Mang Dodo.


"Aduh Kalau kenyataannya seperti itu, Saya harus bagaimana Pak Ustad?" tanya Mang Dodo yang merasa bingung niatnya menjadi Setengah Hati.


"Kalau begitu, sekarang begini aja Mang Dodo. untuk membuat tanda bahwa Jang Eman sudah meninggal tidak apa-apa mengadakan tahlil, namun itu jangan sampai memberatkan, apalagi harus sampai Nganjuk berhutang. itu sangat dilarang, Bagaimana kalau Mang Dodo ingin memberikan kasih sayang terhadap sang anak, memberi tanda terhadap Eman, silahkan adakan acara tahlil karena itu sangat berguna."


"Kenapa bisa seperti itu pak ustad?"


"Karena dengan adanya tahlil, selain kita mendoakan orang yang sudah meninggal, kita juga mengingatkan diri kita sendiri bahwa kita pun sama akan meninggalkan dunia ini. mengingat sang pencipta, mengingat kapan datangnya ajal, itu sangat diharuskan dalam ajaran agama kita. tapi ingat ketika menjamu orang yang datang, itu tidak harus susah payah, jangan sampai memberatkan orang yang sedang sedih karena ditinggal sanak keluarganya dengan harus mengadakan jamuan yang memberatkan," jelas Pak Ustad memberikan keterangan.


"Haduh Bagaimana kalau begitu ibu?" tanya Mang Dodo sambil menatap ke arah istrinya.


"Terserah bapak..! saya memasrahkan semuanya terhadap orang-orang yang sangat mengerti, karena saya tidak tahu apa-apa."


"Ya begitu aja kali Pak Ustad, tapi saya mohon untuk dipimpin membaca tahlil!" ujar Mang Dodo sambil melirik.


"Baik saya akan pimpin, tapi kapan waktunya?"


"Nanti malam aja Kayaknya sudah bisa, yang terpenting pak Ustadnya siap dan sedia."

__ADS_1


"Baik kalau begitu. nah sekarang Tolong beritakan kepada sesepuh kampung dan warga-warga yang lain, terutama kepada orang-orang yang tidak hadir sekarang, dan tetangga-tetangga yang terdekat, kerabat dan saudara kasih tahu, bahwa nanti setelah maghrib kita akan berkumpul di rumah Mang Dodo."


"Benar begitu Pak Ustad, Bagaimana kalau kita saling memberitahu!" jawab Mang Dodo yang terlihat sumringah.


"Itu ide yang sangat bagus."


Setelah musyawarah selesai, akhirnya pembicaraan pun mulai ngelantur ke mana-mana, untuk saling menanyakan kabar karena kesibukan dengan pekerjaan masing-masing, setelah mereka selesai berbicara akhirnya para tamu pun meminta izin untuk pulang ke rumah masing-masing.


Sedangkan Mang Dodo dan Bi Rani Mereka terlihat disibukan dengan menyiapkan jamuan untuk para tamu undangan semampunya, sekuatnya, sesuai dengan anjuran pak ustad.


Singkat cerita, matahari sudah berada di ufuk Barat cahayanya tidak terlalu terang, karena ditutupi oleh awan putih yang menutupi lampu besar itu. burung-burung terdengar berkicau disahuti dengan suara teriakan teriakan anak kecil sedang bermain dari halaman rumah, di iringii oleh suara induk ayam yang sedang memanggil anaknya.


Semakin lama matahari pun semakin bawah, hingga akhirnya bersembunyi ke balik gunung, disambut dengan suara tonggeret di sahuti dengan ciang-ciang yang terdengar riang, orang-orang yang bekerja sudah terlihat mulai pulang dari sawah atau kebun, berpapasan dengan orang-orang yang pergi mengambil air wudhu, untuk melaksanakan salat magrib, hingga lama-kelamaan suasana pun menjadi gelap, suara jangkrik mulai terdengar begitu nyaring, disahuti dengan anjing tanah, menandakan Waktu Malam sudah tiba.


Lampu petromak terlihat menyala begitu terang, membuat suasana di rumah Mang Dodo terasa hangat. di tengah-tengah perkumpulan ada tumpeng dan lauk pauknya, ditambah dengan makanan manis seperti degan, kolak, manisan dan yang lainnya sudah tersedia.


Mang Dodo terlihat bersila di dekat pintu kamar Sedangkan istrinya ibunya Eman yang bernama Rani, Dia terlihat sibuk di dapur karena Kartika banyak orang minimal air teh harus disediakan, jangan sampai mereka kehausan. bahkan tetangganya yang terdekat terlihat berdatangan hendak membantu sambil menenteng bakul berisi makanan seadanya, sehingga waktu itu tidak kekurangan makanan.


"Uhuuk, uhuuuuuk!" pak ustad terlihat batuk sebelum dia berbicara. "Masih ada yang ditunggu Mang Dodo?" tanya Pak Ustad sambil melirik ke arah tuan rumah.

__ADS_1


"Kayaknya sudah tidak ada pak ustad, ya sudah kita mulai saja. kalau maksud dan tujuannya ya begitu saja,seperti yang tadi sudah kita bahas, saya menyerahkan Semuanya sama Pak Ustad, hitung-hitung menjadi wakil saya."


"Baik kalau begitu!" dengan segera pak ustad pun membetulkan bersilanya, lalu mulai menyampaikan maksud dan tujuan Kenapa tuan rumah mengundang warga Kampung Sukamaju untuk hadir di rumahnya.


Selanjutnya Pak ustad pun mulai membaca tahlil, Tahmid, Sholawat serta salam dilanjutkan dengan membaca Alquran untuk mendoakan orang yang sudah meninggal.


"Ila hadroti Nabiyil Mustofa Muhammadin Shallallahu Alaihi Wasallam, wa ala alihi, wa azwajihi, waduriatihi, syailahum. Alfatihah....!"


Dengan serentak orang-orang pun mengikuti pak ustad membaca surat al-fatihah, suaranya terdengar mendengung, bergemuruh. membuat suasana kalau itu menjadi mencekam, Bi Rani yang mendengar dari dapur hatinya terasa berdebar bulu kuduknya terasa berdiri jantungnya berdegup dengan kencang, wajah Eman berkerabat di pelupuk matanya, memanggil air mata yang berada di baliknya, keluar menyusuri pipi yang sudah keriput, tidak bisa tertahan.


Keadaan di luar rumah semakin lama semakin terasa sunyi, yang terdengar hanya suara jangkrik disahuti oleh suara ciang-ciang dan suara anjing tanah, seperti sedang ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Rani. tiba-tiba dari arah jauh terdengar suara anjing yang menggonggong, suara gagak Terdengar sangat nyaring persis seperti ada orang yang meninggal yang sedang di tahlilkan.


Dari arah samping rumah, terdengar suara belalang hijau menambah mencekamnya suasana kala itu. orang yang berada di teras matanya melirik ke arah yang pohon, membayangkan hal-hal jelek akan terjadi, karena mereka mengingat keadaan Eman yang meninggal dengan tidak wajar, soalnya disiksa oleh orang lain.


Orang yang sedang tahlil semakin lama semakin suaranya terdengar bergemuruh, seperti gerombolan tawon yang sedang kabur atau yang sedang mencari pengganggu sarangnya, suara gemuruh itu Terdengar sangat jauh karena keadaan waktu yang sangat sunyi terbawa semilir angin.


Dalam keadaan seperti itu, di pinggir Kampung Sukamaju terlihat ada dua bayangan orang yang berjalan dengan sangat lemas, orang-orang yang berjalan itu semakin lama semakin mendekat ke arah rumah Mang Dodo, yang akhirnya mereka pun sampai ke halaman rumah.dengan segera kedua orang itu menghentikan langkah. orang yang berjalan paling depan terlihat sangat terkejut, karena di rumahnya banyak orang yang sedang khusyuk membaca doa tahlil.


"Lah, lah, siapa yang meninggal?" gumam Eman namun terdengar oleh Mbah Abun, dengan segera dia pun melangkahkan kaki untuk berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Ini rumah Ujang?" tanya Mbah Abun yang berbisik.


"Benar Abah, Tapi kenapa di sini banyak orang dan Kenapa terdengar seperti membaca tahlil. jangan-jangan Pak Dodo meninggal?" jawab Eman sambil kembali melangkahkan kaki jantungnya terasa berdegup, hatinya terasa berdebar.


__ADS_2