Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun

Bab Beranting Vol 7 Akhir Kisah Mbah Abun
bab 25. Aneh


__ADS_3

Setelah itu mereka pun terlihat mengobrol sambil diselang-seling dengan sarapan, Ranti pun ikut bergabung menjadi penengah dan pembeda kedua laki-laki yang sedang membahas segala cerita, yang tidak jelas alur dan naskahnya. namun sesekali suka diselingi dengan pengalaman-pengalaman yang sudah terlewat, tapi dalam membahas masalah pengalaman, Eman tidak berani menceritakan tentang aki kebun dan dia tidak menceritakan bahwa dia dipelajarkan ilmu yang sangat luar biasa.


Selesai mengobrol Eman pun diajak berkeliling mulai dari tanah yang terdekat dari rumah terlebih dahulu, untuk menjelaskan batas-batasnya. karena Mbah Abun sudah yakin bahwa Eman adalah orang yang layak menjadi pasangan anaknya, Entah mengapa dia tiba-tiba suka saja terhadap pria bodoh itu.


Habis berjalan-jalan di kebun, Mbah Abun mengajak eman berjalan-jalan ke sawah, Setelah dari sawah dia pun diajak melihat kolam yang ikannya sangat besar besar, karena Mbah Abun jarang memanennya.


Meski dalam sehari penuh, harta kekayaan Mbah Abun belum semuanya dijelaskan, belum semuanya ditunjukkan sama Eman. masih banyak harta-harta yang belum diperlihatkan karena jaraknya sangat jauh atau berada di luar Kampung, sehingga kalau menuju tempat itu akan membutuhkan waktu yang sangat banyak.


Sore hari, mereka bertiga pun mengobrol di ruang tamu sambil Menikmati suasana sore yang begitu cerah, secerah harapan Eman dan keluarga Mbah Abun Yang sebentar lagi akan melangsungkan pernikahan.


"Nah, yang tadi itu semua itu adalah harta Abah, harta keluarga kita, yang mungkin nantinya akan menjadi anak Abah yaitu Neng Ranti. tapi itu belum semuanya, mungkin itu hanya baru seperempatnya saja dari kekayaan," jelas Mbah Abun di sela-sela Obrolan dengan menunjukkan raut wajah penuh kebanggaan.


"Sudah Abah jangan membahas hal yang begituan, karena itu sangat tidak penting. ada harta atau tidak ada Kang Eman pasti akan mau menikahi Ranti. bukan begitu Akang?" tanggap Ranti diakhiri dengan pertanyaan, matanya yang indah menatap lekat ke arah calon suaminya.


"Iya memang begitu Neng. tapi tidak ada Salahnya kalau kita bangga dengan pencapaian yang sudah kita gapai, dan tidak salah pula kalau Akang diberi tahu agar akang bisa menjaganya, demi anaknya." jawab Eman meski hatinya terasa gugup, tapi dia menguatkan agar perkataannya bisa dimengerti.


"Benar, benar begitu....! kita bukan sombong ketika kita menceritakan tentang keberhasilan kita, karena kalau kita tidak bisa membanggakan diri kita, mau siapa lagi yang membanggakannya?" jawab Mbah Abun membenarkan perkataan calon menantunya.


"Maksudnya bukan begitu Abah, Akang....! bagaimana hari esok?" tanya Ranti sambil membagi tatap ke arah dua laki-laki yang dikagumi.

__ADS_1


"Ya Nggak gimana-gimana, emang kenapa?" tanya Mbah Abun membalas tatapan anaknya.


"Tuh kan Abah, kalau nggak Ranti ingatkan, pasti Abah lupa....!"


"Lupa apa?" tanya Mbah Abun mengurutkan dahinya mengingat-ingat dengan apa yang dia ucapkan.


"Abah pernah bilang, kalau besok abah mau menemui keluarga Kang Eman, Apakah jadi atau tidak?" ujar Ranti mengingatkan Mbah Abun.


"Oh masalah itu, kirain apa....! ya abah pasti Ingatlah karena dari tadi juga Abah sudah mengobrol dengan Jang Eman, bahwa besok pagi-pagi kita akan pergi ke kampung Sukamaju, untuk menemui siapa nama bapak kamu jang?" tanya Mbah Abun sambil menatap ke arah Eman.


"Bapak Dodo dan ibu Rani."


Keesokan paginya, Mbah Abun dan calon menantunya yang bernama Eman. waktu itu mereka sudah bersiap-siap soalnya kemarin sudah memutuskan bahwa hari itu Mereka mau pergi ke kampung Sukamaju untuk menemui Mang Dodo dan keluarganya, mau memusyawarahkan perihal pernikahan anaknya.


Setelah semuanya dirasa rapi mereka berdua pun mulai berjalan, diantarkan oleh tatapan Ranti. kalau dia tidak dicegah oleh Mbah Abun, Awalnya dia ingin ikut tapi taut terjadi sesuatu ketika di perjalanan karena masih banyak orang yang penasaran orang yang menginginkan Ranti. hingga dari kesepakatan kemarin, mereka akan berangkat hanya berdua yaitu Mbah Abun dan Eman.


Mereka berdua terus berjalan melewati jalan tengah kampung, melewati rumah-rumah yang orangnya sedang beristirahat, mungkin kala itu tidak ada pekerjaan di sawah atau di kebun, atau mereka sedang mengawasi anak-anaknya yang sedang bermain di halaman rumah, di antara orang-orang yang sedang beristirahat ada pemuda yang bernama Galih dan Saipul yang sedang duduk di samping rumah, sambil menghembuskan asap-asap rokok dari mulutnya. ketika matanya melirik ke arah orang yang sedang melewati Jalan Tengah, hati Galih tiba-tiba terasa panas karena melihat Eman yang sedang berjalan diikuti oleh Mbah Abun, pakaiannya terlihat sangat bagus dan rapi, wajahnya terlihat sumringah menandakan kala itu mereka sedang bahagia.


"Kurang ajar.....! manusia itu adalah manusia yang menghalangi Niatku," gumam Galih yang masih merasa kesal, di dalam hatinya terbakar rasa amarah oleh Eman.

__ADS_1


"Maksudnya Jang?" tanya Saipul tidak mengerti.


"Eman.....! orang yang bernama Eman itu, ya itu orangnya Mang, orang yang akan menjadi menantunya Mbah Abun, yang sangat kurang ajar, Sampai tega berani merebut pacar saya. Coba tolong saya Mang Saiful! Saya harus bagaimana?hati saya terasa panas, bahkan sangat panas. karena cita-cita saya untuk menikahi Ranti terhalang oleh Bajin9an itu," ungkap Galih matanya tetap menatap ke arah jalan.


"Kenapa Ujang harus susah, Ayo kita ikuti! nanti ketika melewati tempat yang sepi, Kita serang mereka....! kita Bunuh saja sekalian, tapi pekerjaan kita harus rapi, agar si Abun tidak mengetahui."


"Bagaimana kalau kita memakai penutup wajah aja?"


"Ide yang sangat berlian."


"Baik deh kalau begitu. Ya sudah ayo Jangan membuang waktu, nanti mereka tidak tersusul. kira-kira Mereka mau ke mana?" Jawab kali sambil bangkit dari tempat duduknya kemudian meregangkan otot-otot yang terasa kaku.


Setelah otot-otot mereka terasa lemas, Mereka pun masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaiannya terlebih dahulu, agar nanti Mbah Abun tidak curiga. Setelah itu mereka pun keluar, tidak lupa membawa golok yang diselipkan di pinggang.


"Mau ke mana kamu Galih?" tanya ibunya yang terlihat curiga karena melihat anaknya yang sudah siap-siap berangkat.


"Mau main ke hutan Mak, sambil mengambil kayu bakar," jawab Galih berbohong karena dia tidak berani menimbulkan suasana gaduh di kampung Ciandam, niat mereka yang jahat hanya diketahui oleh mereka berdua, karena hanya mereka berdua lah yang mengalami nasib yang sama tidak mendapat hadiah sayembara.


Keadaan waktu itu, semakin lama matahari semakin naik ke atas, teriknya terasa menyengat ke seluruh tubuh, membuatnya terasa gerah dan mengeluarkan keringat ayam. ayam jago terdengar berkokok di sahuti dengan suara kerbau dan kambing, Sepertinya kedua hewan itu kurang dikasih pakan.

__ADS_1


__ADS_2