
Diminta penjelasan seperti itu dengan segera bahabun pun menceritakan kejadian yang menimpa dirinya dan keluarganya, mulai dari kemajuan hidupnya yang sudah terasa, tak lupa dia pun menceritakan kejadian yang menimpa anaknya sampai kejadian hari itu, membuat aki Kuncen terlihat manggut-manggut, sesekali dia terdengar berdejak akibat dari rasa heran.
"Nah begitu ceritanya aki!" pungkas Bah Abun mengakhiri ceritanya.
"Kalau urusan anak yang kabur dengan memakai baju Hikmat itu tidak akan menjadi apa-apa, apalagi sekarang sudah selamat ditambah dengan Abah sendiri yang bisa membuka baju jimatnya, itu tidak akan menjadi masalah besar karena semuanya sudah bisa diselesaikan dengan sempurna. tapi,"
"Tapi apa aki?" tanya Mbah Abun memotong pembicaraan.
"Yang menjadi hati aki tertarik yaitu Tentang mengenai sayembara yang akhirnya anak Abah dinikahkan dengan pemuda yang bernama Eman."
"Tertarik dalam hal apa aki?"
"Nah Eman lah yang menjadi buah pemikiran aki."
"Kenapa?"
"Jangan-jangan anak itu akan menjadi duri dalam daging, bisa menjadi sebab akibat pada kehidupan Mbah Abun."
"Sebab?"
"Karena sudah diketahui bersama keinginannya sangat berbeda dengan keinginan orang lain, tidak sesuai dengan pendirian Mbah Abun."
"Maksudnya bagaimana aki?"
"Begini saja abah, sekarang Abah pikir! orang lain sampai mempertaruhkan nyawa, membantingkan tulang untuk mencari rezeki dan harta benda yang banyak, menurut bahasa kasarnya Apapun akan dilakukan yang terpenting hartanya melimpah ruah sampai keluar rumah."
"Iya terus?"
"Tapi kenapa Jang Eman mau dikasih uang sekarung dia tidak mau, mau dikasih padi sekamar dia menolak mau dikasih kambing sekandang malah tidak di gubris. Bukannya itu orang aneh, karena tidak akur dengan umum, tidak akur dengan yang banyak. sebenarnya apa keinginannya kok malah dia ingin pergi ke pesantren. Nah dari dasar itu Mbah Abun harus memikirkannya, karena Mbah Abun memiliki menantu seperti itu."
Mbah Abun pun terdiam kembali memikirkan dan mencerna ucapan aki sobani, memang Mbah Abun juga merasa heran karena dia melihat dengan mata kepalanya sendiri kebanyakan dari manusia itu ingin kaya raya, ingin untung dari enteng tidak mau Lara dan melarat, ingin serba ada di dalam rumah maupun di luar, agar tidak susah untuk makan dan makai, buktinya ada ratusan orang yang mengikuti sayembara hanya untuk mendapatkan dan mengejar harta, tertarik oleh hadiah yang begitu luar biasa. tapi kenapa Eman sangat berbeda dengan orang lain, dia sudah berhasil menyelamatkan Ranti serta dia akan diganjar dengan hadiah yang luar biasa itu, Eman malah tidak menerima.
"Bagaimana Abah, Apakah sudah terpikir?" tanya aki sobani memecah heningnya suasana.
"Benar banget aki, Eman itu sangat tidak umum dengan orang lain. kalau sudah begini Abah harus bagaimana?" jawab Mbah Abun malah balik bertanya, karena dia merasa bingung dengan masalah yang sedang dihadapi.
__ADS_1
"Sekarang Abah harus pulang, anak Abah yang bernama Ranti dan suaminya harus secepatnya dibuatkan rumah."
"Maksud aki bagaimana, bikin rumah seperti apa?"
"Agar kehidupan rumah tangganya berpisah dengan rumah tangga Abah."
"Sebabnya?"
"Sebab kalau masih tinggal dalam satu atap atau bersatu dengan Abah, akan menjadi bahaya buat Abah, dan tidak menutup kemungkinan akan menimbulkan keributan keributan di negara. kalau di negara sudah kacau maka Abah pun akan merasakan dampaknya, karena Prabu ubul-uwul akan marah sama abah.
"Baik, baik Aki! kalau seperti itu saya akan secepatnya membuatkan rumah untuk anak dan menantu saya."
Selanjutnya aki sobani terus memberikan petuah-petuah terhadap muridnya, agar Mbah Abun ketika berada di rumah dia selalu waspada dan tidak gegabah ketika bekerja, karena itu akan membuat celaka terhadap dirinya sendiri serta membawa petaka terhadap negara siluman babi ngepet yang berada di Gunung Karang.
Setelah lama dinasehati Mbah Abun pun berpamitan untuk pulang ke kampung Ciandam, aki sobani hanya bisa memperingatkan agar muridnya selalu waspada dan penuh kehati-hatian ketika dia berada di rumah, karena sekarang Mbah Abun udah memelihara racun dalam pekerjaannya.
Di perjalanan pulang Mbah Abun terlihat tergesa-gesa, karena dia ingin cepat sampai ke tempat tujuan mau menjalankan semua nasehat yang diberikan oleh aki Sobano, diantaranya dia harus membuat rumah khusus buat Eman dan anaknya agar mereka tidak hidup Satu Atap.
Lama di perjalanan tidak diceritakan, akhirnya Bah Abun pun sudah sampai di rumahnya. dia sampai ke kampung Ciandam dalam keadaan waktu yang sudah mulai gelap, sebelum masuk ke dalam rumah dia memindai keadaan samping rumah yang terasa sangat mencekam dan mengerikan, perasaan Mbah Abun sangat berbeda seperti memberikan pertanda bahwa rumahnya menjadi angker buat dirinya.
"Aih kenapa rumahku terasa sunyi dan sepi, ke mana anak anak dan istriku?" tanya Mbah Abun yang berbicara sendiri kemudian dia pun berjalan menuju teras.
"Ambu, ambu.....! Abah datang Ambu.....!"
Teriak Bah Abun sambil mengetuk-ngetuk pintu rumah, tak lama diantaranya terdengar suara langkah kaki yang menapaki pelupuh mendekat ke arah ruang tamu.
Ceklek!
Pintu rumah pun terbuka, kemudian keluarlah kepala Ambu Yayah dari arah ruang tamu.
"Eh ternyata Abah sudah pulang."
"Ya Ambu Abah kesorean pulangnya," jawab Bah Abun sambil masuk ke ruang tamu lalu menutup pintunya, kemudian dia pun masuk ke tengah rumah tidak berbicara apapun, Bah abun masuk ke dalam kamar untuk mengganti pakaian.
Selesai mengganti baju dengan yang bersih, dia pun keluar dari kamar lalu duduk di kursi yang berada di tengah rumah. sedangkan istrinya juga tidak banyak berbicara dengan segera dia pun menyiapkan air teh bersama cemilannya, karena sudah bisa dipastikan Mbah Abun ingin segera minum soalnya baru pulang dari perjalanan yang sangat jauh.
__ADS_1
Suara jangkrik terdengar begitu riang dari samping rumah, sesekali terdengar suara anjing yang menggonggong menambah suasana mencekam malam itu di kampung Ciandam, setelah Mbah Abun mengistirahatkan tubuhnya.
"Anak-anak kita pada ke mana Ambu, kok di rumah kayaknya sepi banget?" tanya Mbah Abun mengawali pembicaraan sambil menatap ke arah istrinya.
"Dari waktu Ashar mereka berdua main ke rumah Mang Zuhri, Mereka ingin bersilaturahmi untuk menambah saudara."
"Oh begitu!"
"Iya menurut keterangan mereka begitu."
"Terus di rumah tidak ada apa-apa?"
"Tidak ada abah, di rumah sangat nyaman dan tentram. Kenapa Abah bertanya seperti itu?: jawab Abu Yayah diakhiri dengan pertanyaan karena tidak seperti biasanya Mbah Abun bertanya seperti itu.
"Nggak ada apa-apa Ambu, Abah cuma khawatir saja, takut ada sesuatu yang terjadi. Oh iya bagaimana kunjungan ke guru Jang Eman, Apakah Ambu berhasil menemuinya?"
"Tidak Abah."
"Lah kenapa, Apa mereka tidak ada di rumah?"
"Bukan tidak ada di rumah Abah, yang jelas kejadiannya sangat aneh karena yang disebut guru oleh Jang Eman bukan manusia ataupun orang, melainkan hanya kuburan yang tidak lain dan tidak bukan kuburan itu adalah kuburan Ki sangsara."
"Kuburan Ki sangsara....," ulang Mbah Abun sekolah tidak percaya.
"Ya kuburan yang pernah diceritakan oleh Bapak Ambu waktu dulu, ini memang sangat aneh tidak bisa dimengerti oleh pikiran, tidak bisa ditelaah dengan akal ."
"Tapi tidak terjadi apa-apa?"
"Tidak tidak ada apa-apa bah."
"Yah Biarkan aja kalau tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," tanggap Bah Abun sambil mengangkat tubuhnya untuk mengambil teh yang berada dalam mug, kemudian mengeluarkan rokok dari kantong bajunya.
Setelah rokok itu dikeluarkan, Mbah Abun pun mengambil satu batang lalu membakarnya sambil dihisap, sehingga asap pun mengepul ke arah atas.
"Abah mau makan sekarang?" tawar Ambu Yayah setelah suaminya tidak berbicara lagi.
__ADS_1
"Nanti saja Ambu, Abah masih capek!"
Suasana pun menjadi sunyi, Mbah Abun terdiam sambil menikmati setiap isapan rokok yang ada di tangannya, matanya terlihat melongok Namun sayang tatapan itu hanya tatapan kosong seperti sedang membayangkan hal-hal yang jauh di sana.