
Galih memundurkan wajahnya kembali, kemudian menatap ke arah Saipul yang sama-sama terlihat kaget, karena datangnya suara angin begitu tiba-tiba. Kemudian terdengar suara anjing yang menggonggong saling bertahutan, disusul dengan suara sepatu kuda yang menarik kereta, bahkan suara kuda itu terdengar meringkik membuat Galih dan Saipul semakin terkejut. merasa kaget mendengar suara-suara yang sangat asing di telinga. dengan segera Mereka pun mencari tempat bersembunyi kemudian merebahkan tubuhnya agar tidak diketahui oleh orang lain.
Aneh tapi nyata, keadaan yang semula gelap gulita tiba-tiba menjadi terang benderang, seperti terang cahaya rembulan tanggal empat belas. setelah diperhatikan ternyata cahaya itu keluar dari kereta kencana yang ditarik oleh kuda putih yang sangat besar.
"Mang, mang lihat ada kuda yang menarik kereta emas, lihat Mang....! Lihat....!"
"Iya Jang Mamang juga melihat, tapi kenapa kereta Kencana itu berhenti di depan rumah mbah Abun, kira-kira siapa itu?" jawab Saipul yang diakhiri dengan pertanyaan, matanya terus menatap ke arah halaman rumah.
"Kita dekati Mang, kita mendekat.....!" ajak Galih sambil mencolek lengan Saiful, kemudian dengan perlahan dan penuh kehati-hatian berjalan mendekat ke samping rumah mbah abun. setelah bisa melihat dengan jelas ke arah kereta itu kemudian mereka pun mencari tempat bersembunyi, sambil menahan nafas takut diperagoki.
Sedangkan kereta yang sedang ditonton oleh Saipul Dan Galih, Kereta Kencana yang terbuat dari emas ditarik oleh kuda putih yang sangat besar. di dalam kereta itu ada dua punggawa yang memakai baju kerajaan yang berwarna kuning keemasan, salah satu dari pengawal kerajaan itu turun dari kereta, karena yang satunya lagi dia tetap memegang kendali kuda.
"Abun......! Abun.....!" Panggil pengawal kerajaan setelah berdiri di ambang pintu, suaranya tidak keras namun terdengar jelas di telinga membuat Galih dan Saiful yang sedang saling menatap karena mereka tidak mengerti dengan maksud dan tujuannya.
"Abun......! Abun.....!" suara itu memanggil kembali, suara yang bisa terdengar jelas oleh Saiful Dan Galih.
Sedangkan orang yang dipanggil, dia pun bangkit dari tempat tidurnya, kemudian berjalan menuju ruang tamu lalu membuka pintunya. setelah Pintu itu terbuka mata Mbah Abun terlihat melongo merasa heran dengan penglihatannya.
Sebelum bertanya, dia pun mengucek kedua matanya untuk memfokuskan pandangan, takut matanya bermasalah namun setelah dikucek penglihatannya tetap sama, bahwa di halaman rumahnya ada kereta kencana. di depan pintu berdiri salah satu pengawal kerajaan dengan memegang tombak di tangannya.
"Mohon maaf ini siapa, dan mau ke siapa?" tanya Mbah Abun yang masih berdiri penuh keheranan.
"Kami adalah utusan Kanjeng raja untuk menjemput kamu pulang ke asal. ayo jangan buang waktu. kita berangkat sekarang....! nanti takut kesiangan," jawab pengawal kerajaan itu dengan suara yang tegas dan fasih berbicara seperti seorang manusia.
"Sebentar, sebentar.....! Kenapa rasanya buru-buru amat, padahal belum sampai ke janji yang ditentukan," elak Mbah Abun tampak melepaskan tatapan.
__ADS_1
"Jangan berpura-pura tidak mengerti kamu Abun, Masa kamu lupa dengan janji yang telah kamu buat. sudah Jangan banyak bertanya Abun, Ayo kita berangkat!" jawab pengawal itu yang tetap Kukuh mengajak pergi Mbah Abun.
"Saya tidak akan ikut karena saya masih betah hidup di dunia, dan belum sampai dengan waktu perjanjian."
"Kenapa kamu berbicara seperti itu Abun, padahal pisau raut yang menjadi pertanda Waktu hidup kamu di alam manusia sudah patah, sudah dibuang ke tong sampah, sudah tidak terpakai lagi. Sekarang kamu tidak akan bisa menolak karena sudah sampai dengan waktunya, dan kamu harus bisa dibawa sekarang!"
Mbah Abun tetap menolak, yang menjemput tetap memaksa. akhirnya pengawal yang memegang kendali kuda ikut turun membawa pentungan sebesar paha orang dewasa, warnanya mengkilat memantulkan cahaya, membuat Siapa saja yang melihat merasa ngeri. tanpa berbasa-basi dengan segera dia pun melayangkan pentungan itu mengarah ke arah dahi Mbah Abun, namun dengan segera bahabun pun bersujud meminta ampunan.
"Ampun, ampun......!" jangan....! jangan....!" ujar Mbah Abun sambil mengangkatkan kedua Tangannya di atas kepala, wajahnya terlihat pucat pantatnya terasa berkedut.
"Ayo buruan masuk, Jangan membantah kurang ajar!"
"Baik, baik!"
Bah Abun tidak bisa menolak lagi, terpaksa dia pun naik ke kereta kencana itu, diikuti dengan dua pengawal yang menghapit tubuh bah abun dari samping kanan dan kiri.
Kereta Kencana yang terbuat dari emas pun perlahan tapi pasti, bergerak menjauh dari rumah mbah Abun, meski kereta itu memiliki roda namun rodanya tidak menapaki tanah, Seperti Terbang tertiup oleh angin yang sangat besar. semakin lama suara angin pun semakin mengecil berbarengan dengan menghilangnya Kereta Kencana yang sudah pergi meninggalkan kampung Ciandam, membuat suasana kampung itu kembali sunyi hanya suara jangkrik dan hewan-hewan malam yang terdengar kembali, karena ketika ada kereta siluman suara malam itu tidak terdengar.
Keadaan waktu itu kembali ke seperti semula, keadaan yang gelap gulita tanpa bisa melihat apapun. galih dan Saiful Mereka terlihat mengedipkan mata, kepalanya mulai terasa pusing, keringat dingin mulai membasahi tubuh. setelah agak lama terdiam kedua makhluk itu pun mulai tersadar, mulai menarik nafas dalam menghilangkan rasa capek setelah menyaksikan kejadian yang sangat aneh dan sangat langka itu.
"Mang Saiful, Di mana Mang?" tanya Galih sambil memindai area sekitar.
"Saya di sini jang, ada apa?"
"Saya takut Mang, hati saya terus berdebar dari tadi. Ayo kita segera pulang, saya takut kalau kita terbawa-bawa ke negara siluman."
__ADS_1
"Lah, siluman dari mana Ujang?"
"Kenapa memang bertanya seperti itu, apa mama nggak ngerti kalau Kereta Kencana itu adalah kereta siluman yang menjadi pemujaan Mbah Abun. Ayo cepetan pulang Mang!" ajak Galih sambil menarik tangan Saipul agar segera pergi meninggalkan tempat itu.
Meski belum mengerti Saipul pun mengikuti tarikan lengan Galih, mereka berjalan dengan perlahan-lahan karena kakinya terasa kesemutan akibat lama tidak bergerak, namun meski begitu semakin lama mereka pun semakin menjauh, hingga akhirnya menghilang ditelan gelapnya malam.
Sedangkan di dalam rumah mbah Abun, ketika tadi ada kereta yang datang. Mbah Abun terdengar merintih seperti menahan sakit yang tak terhingga, membuat Ambu Yayah dan Ranti merasa kaget. dengan segera Mereka pun menuju ke kamar Mbah Abun untuk mengecek keadaannya.
Terlihatlah Mbah Abun yang sedang menggelinjang, merintih menahan rasa sakit, membuatnya terlihat sangat mengkhawatirkan.
"Kenapa kamu Abah, kenapa...?" tanya Ambu Yayah yang terlihat kaget, dengan segera dia pun duduk di tepian ranjang, dahi suaminya diusap terasa sangat panas.
Bah Abun yang ditanya seperti itu dia tidak menjawab, dia tetap mengaduh, merintih seperti sedang merasakan rasa sakit yang begitu parah.
"Abah yang sabar, yang kuat....! kenapa Abah bisa seperti ini?" tanya Ranti yang duduk di tepian ranjang sebelahnya tangannya mulai memegang kaki bapaknya untuk memijat, Namun sayang orang yang ditanya tetap dia membisu, bahkan terlihat menggelinjang begitu kuat sesekali terlihat memegang kepala, sesekali terlihat memukul-mukul pipi.
Setelah lama bergerak-gerak, tiba-tiba mata Bah Abun membulat dengan sempurna, bibirnya di monyongkan membuat Ranti sangat terkejut, namun dia bisa menebak kalau bapaknya kerasukan siluman babi. Bahkan bukan Ranti saja yang mengira seperti itu, Ambu Yayah istrinya pun terlihat terkejut, tidak bisa melakukan apa-apa, hanya matanya saja yang menatap ke arah suaminya yang terus menggelinjang.
Ampun, ampun......!" jangan....! jangan....!" tangan Mbah Abun menganga ke atas, matanya membulat seperti mau keluar, kakinya menendang-nendang hingga akhirnya seluruh tubuh Mbah Abun terkulai lemas, matanya terbalik nyawanya berpisah dengan raga.
Ambu Yayah yang semakin terkejut, dengan segera memeluk suaminya, menggerak-gerakan tubuh itu agar bisa hidup kembali, namun sayang Mbah Abun sudah terbujur kaku badannya bergerak semua.
"Abah......! Kenapa Abah?" tanya Ambu Yayah yang belum percaya dengan kejadian yang menimpa.
Suara tangis pun pecah, dia terus memeluk tubuh suaminya karena sudah tidak bisa ditawar lagi Mbah Abun sudah sampai ke titik tulisnya, bahwa dia sudah meninggal.
__ADS_1
Ranti melihat kejadian seperti itu, dengan segera dia menarik nafas lalu menyeka air mata yang membasahi pipinya, dia tidak terlalu lama meratapi kepergian ayahnya Karena dia sudah mengetahui tentang pekerjaan yang dikerjakan orang tuanya, dia sudah bisa menebak dengan apa yang akan terjadi.
"Ambu, ambu harus sadar, sudah jangan ditangisi karena sudah sampai dengan kepastiannya. kita tidak akan bisa menghalanginya, takdir tidak bisa dipungkiri, Qadar tidak bisa diingkari, sudah ada tulisannya dari zaman Azali," ujar Ranti yang menenangkan hati ibunya.