
"Masuk pesantren mau, tapi kan Abahnya juga masih ke kota, nanti saja kalau sudah pulang baru kita bahas. sekarang Akang mau mengisi waktu luang dengan hal-hal yang berguna agar tidak jenuh," jawab Eman menjelaskan keinginan terhadap istrinya.
"Oh begitu, sebentar Ranti cari dulu....!" kemudian dia pun bangkit dari tempat duduknya lalu menuju ke gudang tempat penyimpanan semua alat-alat pekerjaan, matanya memindai ke arah dinding berharap ada pisau raut yang menempel, Namun sayang Ranti tidak menemukan Soalnya di rapihkan oleh Mbah Abun.
Setelah lama mencari namun Ranti tidak menemukan Akhirnya dia pun menghampiri ke arah ibunya yang sedang berada di dapur.
"Ambu punya pisau raut?" tanya nanti setelah sampai di hadapan ibunya.
"Buat apa Nyai?"
"Kang Eman mau belajar membuat Arai."
"Emang di gudang tidak ada?"
"Tidak ada Ambu Ranti sudah mencarinya, makanya Ranti bertanya sama Ambu."
"Coba kamu cari di kamar padi di belakang pintu, kayaknya di situ ada!" jawab Ambu Yayah memberi keterangan.
Ranti pun mengangguk kemudian dia berjalan menuju tempat penyimpanan hasil bumi itu, lalu masuk ke dalam, matanya terus memindai sekeliling kamar. Namun sayang dia tidak menemukan, tapi di tempat itu ada sebuah lemari kecil, penasaran dia pun membukanya, terlihatlah ada bungkusan kain putih yang lumayan panjang diikat oleh Kain Merah.
"Sudah ada lagi saja yang aneh itu, apa ini?" ujar Ranti yang merasa penasaran tangannya mengambil ikatan kain itu, kemudian dia memperhatikan dengan begitu teliti Bahkan dia mengangkat-angkat seperti sedang menimbang dan rasanya benda itu lumayan berisi.
Semakin lama Ranti semakin penasaran. Akhirnya dia pun membuka ikatan kain merah lalu membuka kain penutupnya, setelah semuanya terlepas terlihatlah pisau raut yang masih baru dan kelihatan sangat tajam, dahi Ranti mengerut dia merasa heran karena melihat kelakuan orang tuanya yang sangat aneh, bahkan pisau raut saja harus dibungkus menggunakan kain putih, tidak jauh beda seperti dikafani.
"Pisau raut apa ini?" tanya Nanti sambil terus menatap pisau yang ada di tangannya, pikirannya mulai terbang menerka-nerka Apa yang akan terjadi kalau dia memakai pisau itu, namun setelah lama Akhirnya dia pun memutuskan.
"Ini palingan pisau raut biasa, si Abahnya saja yang terlalu berlebihan sampai-sampai pisau seperti ini harus dibungkus, jadi kalau dipakai sama Kang Eman tidak akan apa-apa. apalagi dipakai sama menantunya, Pasti si Abah akan bahagia karena memiliki menantu yang mempunyai keinginan untuk belajar bekerja," begitulah putusan Ranti kemudian dia pun mengambil gagang pisau itu lalu keluar kembali dari kamar, membawanya ke arah sang suami yang masih menunggu.
"Ada Neng?" tanya Eman dengan wajah penasaran.
"Ada Kang, cuman nyarinya saja yang agak sedikit susah jadi agak lama." jawab Nanti sambil menyerahkan pisau yang ia bawa.
"Nggak apa-apa, yang penting pisaunya ada."
__ADS_1
"Iya Kang, tapi hati-hati kayaknya pisaunya sangat tajam."
"Baik, baik,"
Tanpa berbicara lagi Eman pun mulai bekerja mengikuti Mbah Abun ketika mengolah bambu, pisau raut dipakai seperti biasa, tidak memiliki pikiran apapun karena melihat dari barangnya tidak ada sedikitpun yang mencurigakan. padahal sebenarnya pisau raut itu setiap malam Selasa dan malam Jumat suka dikukus menggunakan Asap kemenyan, karena benda itu menjadi patokan hidup Mbah Abun di alam manusia sesuai dengan janji yang sudah dia ucapkan terhadap Prabu Uwul-uwul Raja siluman babi ngepet.
Semakin lama dipakai, pisau itu semakin terasa tumpul, hingga tanpa berpikir panjang Eman pun berjalan mendekat ke batu asahan, kemudian dia mengasah pisau itu agar tajam kembali.
Sret!
Sedang sibuk mengasah tiba-tiba ujung pisau raut itu melukai telapak tangan Eman sehingga mengeluarkan darah.
"Astaghfirullahaladzim, lailahaillallah....!" gumam Eman sambil melihat lukanya, dengan segera dia menjilat luka itu hingga darah yang keluar pun terhenti, kemudian matanya pun kembali menatap ke arah pisau raut yang ternyata sudah tajam kembali.
"Kenapa kamu sangat galak?" tanya Eman sama pisau itu kemudian dia pun mendekat ke arah Ranti tujuannya ingin meminta kain bersih untuk mengikat lukanya membuat Ranti merasa heran.
"Kenapa tangannya Kang?" tanya Ranti yang sangat peka.
"Ini Neng tertusuk ujung pisau."
"Kayaknya pisaunya saja yang memang sangat galak, Harus ditaklukan terlebih dahulu." jawab Eman seenaknya.
Mendengar jawaban suaminya seperti itu, Ranti tidak bertanya lagi. dengan segera dia pun bangkit lalu masuk ke dapur tak lama dia pun kembali dengan membawa air bersih dan selembar kain. setelah sampai dengan penuh perhatian dan kasih sayang, Ranti pun membersihkan luka Eman agar tidak infeksi, kemudian dia pun membungkusnya menggunakan kain yang tadi ia bawa.
Setelah lukanya dirawat Eman pun kembali melanjutkan pekerjaannya, dia sedikitpun tidak merasa kapok walaupun Tangannya sudah terluka, Eman terlihat bersungguh-sungguh ketika belajar bekerja.
Sedang khusus bekerja, tiba-tiba ujung pisau itu menusuk telunjuk Eman diikuti dengan darah yang keluar membuat Eman terlihat terkejut, dia merasa heran kenapa dia sangat mudah terluka. Eman beberapa kali beristighfar sambil membolak-balikkan pisau yang ada di tangannya.
Eman kembali menemui Ranti meminta kain bersih untuk membalut lukanya yang baru, Membuat istrinya merasa heran kenapa suaminya terus terluka. Sehingga dia sudah beberapa kali mengingatkan Eman agar tidak melanjutkan pekerjaan namun suaminya itu tetap keras kepala ingin belajar membuat arai.
*****
Di tempat lain, Bah Abun yang sedang menemui gurunya yang bernama aki sobani, Dia sedang duduk di tengah rumah berhadapan dengan Kuncen Gunung Karang itu. ketika sedang asik mengobrol tiba-tiba dimata bahabun seperti ada gemerlap yang menyambar dibarengi dengan rumah yang bergoyang seperti ada gempa, sehingga genteng-gentengnya pun terjatuh bahkan tiang-tiang terdengar mengkerat seperti mau roboh.
__ADS_1
Bugh!
Walaaa.....!
Tiba-tiba Mbah Abun yang sedang memindai keadaan sekitar tersungkur menabrak tiang rumah, kepalanya terasa mau pecah akibat kerasnya benturan.
"Aduh sakit banget, Aduh...!" gumam Mbah Abun sambil mengusap-ngusap dahinya yang terasa benjol, dengan perlahan dia pun duduk kembali.
"Ada apa Mbah Abun, kok tiba-tiba terjatuh seperti itu?" tanya aki sobani yang merasa heran.
"Gak tau aki, kira-kira ini pertanda apa? Haduh sakit aki, dahi Saya sangat sakit..., siapa orang yang mendorong saya?" tanya Mbah Abun sambil melirik ke arah belakang namun di tempat itu tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya dan Aki Kuncen.
"Kayaknya ini ada sesuatu yang tidak beres, karena tidak akan ada asap Kalau tidak ada api. coba Abah ceritakan semuanya sama aki, ada apa sampai-sampai Abah menemui aki?"
"Tidak ada apa-apa aki, saya mendatangi aki karena saya Sudah lama tidak berkunjung. Mohon maaf saya aki sampai-sampai Saya melupakan guru saya, karena saya merasa memiliki hutang Budi sama aki, dan saya anggap aki itu adalah pengganti orang tua saya yang sudah tiada, hehehe." jawab Mbah Abun yang terlihat tegas, bahkan diakhiri dengan mengulum senyum.
"Syukur kalau abah mau berkunjung ke rumah aki, tapi kedatangan Mbah Abun ke tempat ini menimbulkan rasa penasaran Buat Aki sendiri. sebenarnya ini ada apa, karena baru saja sudah ada yang aneh dan Abah sendiri merasakan seperti ada yang tidak beres?"
Ditanya seperti itu Mbah Abun pun terdiam berpikir, mencerna perkataan aki sobani yang menjadi Kuncen Gunung Karang, dihubungkan dengan kejadian yang baru saja terjadi. setelah lama berpikir semakin terpikir setelah lama dirasa makin terasa bahwa ada yang tidak beres.
"Aki....!" Panggil Mbah Abun Setelah lama terdiam.
"Yah ada apa bah Abun?"
"Begini Aki, saya memiliki cerita yang sangat luar biasa yang beda dari biasanya."
"Iya Terus bagaimana?"
"Memang saya menemui aki bukan tanpa maksud dan tujuan, Saya menemui aki ada satu masalah yang harus membutuhkan jalan keluar dari aki."
"Jalan keluar bagaimana?" tanya aki sobani sambil mengerutkan dahi.
"Kalau sudah begini, apa tidak akan terjadi sesuatu sama saya?"
__ADS_1
"Ya ceritakan dulu masalahnya Seperti apa, biar akinya tidak pusing!' seru aki sobani yang masih belum paham dengan masalah yang sedang dihadapi oleh Mbah Abun.