
Setelah sholat Dzuhur selesai, ustadz Hafiz langsung naik ke mimbar untuk menyampaikan kultum karena bahagia sekali masjid di siang hari itu begitu penuh dengan jamaah, layaknya shalat Jum'at saja. Ustadz Hafiz sendiri belum kenal dan belum paham siapa Galang. Namun saat menyapa sebelum mengimami sholat, ustadz Hafiz sudah tertarik dengan sikap dan keramahan Galang sendiri.
Beberapa menit kultum, ustadz Hafiz menghampiri Galang dan kembali berjabat tangan. Ada beberapa orang juga yang memuji bagaimana cara Galang adzan bahkan setelah ustadz Hafiz memujinya di mimbar tadi.
"Nak, dari mana? Apa kesini hanya singgah atau kamu memang warga sini yang baru pulang dari pesantren?" tanya ustadz Hafiz ada beberapa bapak-bapak yang juga masih sangat ingin tahu siapa yang adzan dengan suara merdu bak di kota Mekah itu.
"Ustadz belum tahu siapa Nak Galang ini ya?" sahut Pak RT yang langsung nimbrung.
"Belum, Pak RT kenal?" kata Ustadz Hafiz kembali bertanya. Sedangkan yang mendadak menjadi trending topik tersebut hanya bisa diam dengan senyumannya yang menawan.
"Dia ini calon mantunya ustadz Jefri, Tadz. Bakalan jadi calon suaminya Nak Airin, bunga desa disini," jelas Pak RT yang membuat Galang sedikit terkejut.
"Apa?" kompak ustadz Hafiz juga beberapa bapak-bapak yang ingin tahu tentang Galang. Raut wajah bapak-bapak tersebut langsung berubah kecewa. Pasalnya mereka menunggu dan tetap ingin tahu karena mereka mempunyai anak gadis yang ingin dikenalkan.
"Ck, pantesan tadi elo buru-buru usir gue. Ternyata elo yang buat keputusan Airin berubah," bisik Gus Ipul yang sejak tadi berdiri di sisi Galang. Setelah itu Gus Ipul segera pergi karena sangat malas mendengar percakapan tidak penting tersebut.
Galang tidak memberikan tanggapan apa-apa tentang marahnya Gus Ipul. Galang masih tetap memasang wajah menawannya.
__ADS_1
"MasyaAllah ... jadi gosip kemarin itu bener, Nak? Berarti kamu yang ...." Ustadz Hafiz tidak meneruskan ucapannya karena masalah hutang piutang juga perjodohan Airin dengan Gus Ipul tidak ada yang tahu sama sekali. Keduanya berjanji untuk tidak mengumbar aib tersebut sampai jika Airin benar-benar melaksanakan pernikahan dengan Gus Ipul.
"Ah, mohon maaf sekali, Tadz. Saya permisi dulu. InsyaAllah saya akan rutin adzan selama saya disini kalau suara saya bisa menarik jamaah agar masjid penuh," kata Galang mengerti dengan apa yang akan dikatakan ustadz Hafiz.
"Nak, apa nggak minat cari istri lain? Atau menikah dengan dua gadis gitu? Bapak punya anak gadis yang nggak kalah cantik dengan Nak Airin, loh," sahut satu bapak yang masih berdiri bergerombol dengan ustadz Hafiz, Pak RT juga Galang.
Tawa riang langsung pecah begitu saja saat bapak tersebut malah menawarkan anak gadisnya dengan suka rela bahkan terang-terangan memperbolehkan anak gadisnya menjadi istri kedua.
"Astaghfirullah, Pak, istighfar. Mana boleh begitu. Saya saja ngurus satu istri pusing, apalagi harus ngurus dua istri, hahaha!" jawab ustadz Hafiz semakin memecahkannya tawa diantara bapak-bapak itu. Padahal dia sendiri yang setuju anaknya menikahi Airin asalkan bisa segera memberikan cucu.
Namun dalam perjalanan pulang sebelum Galang melangkah untuk belok satu belokan menuju rumah ustadz Hafiz, ada Gus Ipul yang menunggunya. Awalnya Galang ingin abai, tetapi Gus Ipul menahan bahu Galang agar dia menghentikan langkahnya.
"Jadi itu duit elo? Dari mana elo dapet duit sebanyak itu? Warga disini bilang kalau elo itu baru masuk ke rumah Airin beberapa hari lalu setelah kecelakaan motor. Gimana bisa elo langsung jadi calon suami Airin, hah?"
Galang tidak langsung menjawab melainkan hanya menepis tangan Gus Ipul yang masih di bahunya lalu menyunggingkan senyum sambil menatap Gus Ipul yang terlihat sedang mengontrol emosinya.
"Benar. Tapi saya tidak perlu menjelaskan apa pun karena anda pasti sangat tahu jika inilah yang namanya takdir Allah. Mau usaha bagaimanapun, kalau Allah tidak berkehendak anda menikah dengan Airin, ya nggak akan terjadi dan Allah pun mengirimkan saya untuk menyelamatkan Airin dari laki-laki penuh napsu seperti anda, Gus."
__ADS_1
"Jaga mulutmu! Saya ingin menikahi Airin bukan karena napsu semata. Rasulallah saja punya banyak istri dan hal itu juga tidak dilarang sama sekali. Bahkan sunah punya empat istri asalkan adil dan saya berjanji akan adil. Kalau anda tidak mengerti tentang hukum poligami, tidak perlu syok suci karena anda belum pernah menikah."
Kali ini Galang bukan hanya sekedar menyunggingkan senyum, tetapi ada tawa geli saat Gus Ipul menjelaskan masalah poligami bahkan membawa nama junjungan nabi besar umat Islam. Galang benar-benar tidak habis pikir bagaimana otak laki-laki yang disebut 'Gus' tersebut.
"Jadi menurut anda begitu, Gus? Tapi andai saya jadi anda, saya tidak akan pernah menikah untuk yang kedua kalinya saat istri saya masih hidup. Apa anda lupa bahwa Sayidati Khodijah itu tidak di poligami selama menjadi istri Rasulullah. Anda juga harusnya tidak lupa jika Rasullullah menikah lagi karena perintah Allah secara langsung. Saking Allah sayang dan ingin menghibur kekasih-Nya Baginda nabi, maka Rasulullah diminta untuk menikah lagi. Anda juga harus ingat, Gus, bahwa Rasulullah punya banyak istri dan menikah lagi, status mereka semuanya adalah janda. Dengar? Jannn-daaa, Gus. Memang ada Sayidati Aisyah yang masih gadis, tapi anda harus pahami lagi bagaimana Rasulullah menikahi Sayidati Aisyah. Saya permisi!"
Jawaban Galang membuat Gus Ipul tidak berkutik sama sekali dan membiarkan begitu saja laki-laki yang hampir dia pukul itu pergi tanpa peduli apa yang sedang dipikirkan olehnya.
Awalnya Galang ingin sekali berbicara banyak dan membuka jalan pikiran Gus Ipul. Namun dia tidak punya banyak waktu untuk berdakwah dengan satu orang yang egonya bahkan begitu tinggi. Seharusnya banyak laki-laki yang lebih paham hukum poligami dan bagaimana Rasulullah memperlakukan istri-istrinya bahkan selalu membawa kata yang menyunahkan menikahi lebih dari satu wanita.
Padahal seharusnya mereka semua sadar bahwa Rasulullah lebih lama monogami daripada poligami.
Kini setelah beberapa saat, ada sebuah penyesalan yang datang dari lubuk hati Gus Ipul.
"Tapi ... bagaimana dengan tuntutan orang tua, Ya Allah? Hamba mencintai istri hamba, tapi mereka terus meminta istri hamba hamil sedangkan dia sedang Engkau uji dengan penyakit. Bisakah kami sabar, Ya Allah," batin Gus Ipul seraya meneteskan air matanya.
........
__ADS_1