BAD BOY Pura-Pura Amnesia

BAD BOY Pura-Pura Amnesia
Bab 41


__ADS_3

Pagi-pagi sekali setelah sholat subuh, Galang pulang terlebih dahulu untuk mengambil pakaian ganti juga ingin bicara sedikit serius dengan Airin. Sejak kemarin, Galang memang belum bicara berdua dengan Airin. Apalagi perihal masalah pernikahannya yang tidak bisa dilakukan segera sebab Galih belum mendapatkan calon istri walaupun mereka sepakat menjodohkan Galih dengan Mecca.


"Loh, Kak?" Airin sedikit terkejut saat membuka pintu kamar yang bersamaan dengan Galang yang akan mengetuk pintu.


"Assalamu'alaikum, Dek. Apa saya mengejutkan Dek Airin?" sapa Galang dengan lembutnya.


"Wa'alaikumsalam, Kak. Iya, Airin agak kaget. Kok Kak Galang pulang pagi-pagi banget, kenapa?" tanya Airin yang segera menutup pintu sebab Mecca di dalam kamar masih berdzikir.


"Saya mau bicara, Dek. Kita ke taman belakang saja. Udaranya masih cukup sejuk buat ngobrol," ajak Galang dan Airin mengangguk mengikuti langkah kaki Galang dari belakang.


Tidak butuh waktu lama untuk keduanya tiba di taman kecil di belakang rumah. Mereka pun duduk di gazebo dengan berjarak. Namun Galang tak langsung bicara melainkan menikmati udara pagi itu beberapa saat.


"Apa Dek Airin marah?" tanya Galang tiba-tiba membuat Airin menoleh bingung.


"Kenapa harus marah, Kak?" tanya Airin dan Galang malah tersenyum tanpa menatap Airin.


"Saya nggak bilang dan nggak minta persetujuan Dek Airin terlebih dahulu perihal pernikahan kita yang nggak bisa dilakukan sesegera mungkin sebelum Kak Galih menikah. Saya merasa nggak enak hati, terutama dengan Abati dan Uma. Seharusnya saya bicarakan ini sebelum mengambil keputusan."


Airin pun tersenyum dan meluruskan pandangannya.


"Airin nggak pa-pa, Kak. Airin malah bangga sama Kakak karena begitu peduli dengan Kak Galih. Melihat kalian yang terlihat saling menyayangi, membuat Airin sedikit iri karena Airin nggak punya sosok Kakak seperti Kak Galih. Aba dan Uma pasti akan mengerti, Kak."


"Terima kasih banyak ya, Dek. Saya juga bangga sama Dek Airin. Tapi ...."


"Tapi apa, Kak?" Airin kembali menoleh menatap Galang.


"Tapi, bisakah Dek Airin merubah nama panggilan Dek Airin itu?"


"Maksudnya apa, Kak?" Galang pun menoleh dan keduanya kini saling bertatapan.

__ADS_1


"Saya ingin panggilan lain, Dek. Bukan Kak, misalnya ... Mas. Supaya terlihat berbeda sama Kak Galih. Tapi panggil sayang juga lebih bagus sih."


Airin tentu langsung tertunduk malu saat Galang meminta merubah nama panggilannya. Namun belum keduanya melanjutkan pembicaraan, Mami Laras datang dan memberikan pukulan di pundak Galang. Pastinya Galang langsung terkejut.


"Mam!" seru Galang tidak terima sebab mengganggu waktu berduanya dengan Airin. Padahal baru mau sedikit romantis bersama Airin.


"Kalian malah berduaan disini, sih? Awas Lo ada setan! Ngobrolin apa sih? Serius amat?" tanya Mami Laras penasaran yang kemudian duduk diantara Galang dan Airin.


"Nggak ada, coba ngobrol doang, Mam!" jawab Galang sedikit kesal.


"Dih, gitu amat jawabnya?" sahut Mami Laras meledek Galang.


"Lagian Galang baru mau bicara sama calon istri, tapi Mami tiba-tiba datang jadi yang ketiga," kata Galang masih dengan nada yang sama.


"Nggak baik loh berduaan doang. Iya kan Airin?" sahut Mami Laras lagi masih meledek Galang seraya tersenyum manis pada Airin.


"Iya, Mam," jawab Airin lirih.


"Oiya, Dek Airin, tadi saya juga mau bilang kalau saya pulang mau ambil baju ganti karena saya mau ke kantor sama Kak Galih. Tapi tiba-tiba ada orang ketiga diantara kita, Dek. Jadi saya lupa mau bilang," jawab Galang cuek pada Mami Laras dan malah sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa melihat Airin lebih jelas.


"Yang tanya Mami, Galang! Bukan Airin!" sentak Mami Laras kesal seraya memukul bahu Galang.


"Dia calon istri Galang dan emang Galang niatnya ngasih tau dia, Mam. Kok Mami protes sih?" elak Galang yang semakin membuat Mami Laras kesal.


"Airin, sebaiknya kamu jangan bicara sama dia karena dia buat Mami kesal," ucap Mami Laras segera beranjak dan mengisyaratkan Airin untuk ikut dengannya.


"Mam, please! Galang masih mau bicara dengan calon istri Galang," rengek Galang tak membuat Mami Laras segera beranjak.


"Ya udah, Kak. Airin sama Mami mau buatin sarapan dulu karena kita kan harus gantian jaga Papa. Apalagi Kak Galih katanya ada rapat," jawab Airin seraya turun dari gazebo dan berdiri di sisi Mami Laras yang sedang menyunggingkan senyum.

__ADS_1


"Ayo Airin, kita masak!" Mami Laras pun meraih lengan Airin dan menariknya untuk segera pergi meninggalkan Galang.


Melihat kedua wanita kesayangannya pergi, Galang hanya tersenyum kemudian pergi ke kamarnya.


"Dari mana, Teh?" tanya Mecca yang baru saja keluar dari kamar.


"Eh, Mecca ... kamu bisa masak nggak? Mami mau makan masakan kamu dong," ujar Mami Laras segera melepaskan tangannya dari lengan Airin kemudian bergilir meraih lengan Mecca dan mengajaknya ke dapur.


"Eh, Tan ... itu saya ...." Mecca hendak mengelak, tetapi sayangnya Mami Laras cukup memaksa sampai Mecca tidak bisa menghindar. Airin hanya bisa menahan senyum mengikuti Mami Laras dan Mecca yang terlihat meminta tolong padanya.


Mereka bertiga pun memasak bersama walaupun ada kecanggungan sebab Mami Laras banyak bicara dengan Mecca, bukan dengan Airin.


"Mami seneng banget deh bisa masak sama kedua calon menantu Mami. Kalau gitu kita mandi terus siap-siap ke rumah sakit ya," kata Mami Laras begitu terlihat bahagia menatap bergantian Airin juga Mecca yang langsung melongo mendengar penuturan Mami Laras tersebut.


Mecca sangat ingin melayangkan protes, tetapi Mami Laras segera menaiki anak tangga. Akhirnya Mecca hanya bisa menghela napas berat.


"Kenapa sih?" tanya Airin yang merasa ada yang aneh dengan sepupunya.


Bukannya menjawab, Mecca justru masuk kembali ke kamar kemudian mengajukan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Hei, ada masalah?" tanya Airin lagi yang duduk di sisi tubuh Mecca.


"Maksudnya Tante Laras itu apa sih, Teh? Mau jadiin Mecca menantu dia artinya Mecca kawin sama anaknya yang jutek itu? Atau masih ada anak lain? Dari kemarin kok aneh sih sikap Tante Laras itu," tutur Mecca yang benar-benar merasa tidak nyaman atas sikap Mami Laras.


"Iya. Kami berencana menjodohkan kamu sama Kak Galih," jawab Airin sontak membuat Mecca bangkit dari tempat tidurnya.


"What's!" seru Mecca tidak percaya.


"Kamu juga mau lulus dan dari pada kamu menerima perjodohan itu, mending sama Kak Galih aja. Kita bisa jadi kakak adik beneran loh," goda Airin.

__ADS_1


"No! Mecca udah punya calon suami, Teh. Kami berencana ta'aruf setelah wisuda nanti." Airin lah kini yang terkejut mendengar apa yang Mecca katakan. Dia tidak tahu sama sekali jika Mecca sudah punya calon suami.


........


__ADS_2