BAD BOY Pura-Pura Amnesia

BAD BOY Pura-Pura Amnesia
Bab 35


__ADS_3

"Loh, Galang kok sendiri? Katanya tadi Kakak kamu mau jemput kamu?" tanya Mami Laras begitu tiba di ruang tunggu dan hanya melihat Galang serta Airin duduk berhadapan. Mami Laras pun duduk di sisi Airin.


"Kak Galih ke toilet, Mam. Galang mau dong minum dinginnya, bagi satu, Mam!" jawab Galang seraya mengulurkan tangan diiringi sebuah senyuman.


"Mami pikir kamu sama Galih masih lama, jadi Mami cuma beli dua aja minumnya buat Mami dan Airin aja," sahut Mami Laras kemudian memberikan minuman teh dingin pada Airin setelah membukanya.


"Kalau Kak Galang mau, ini ambil aja, Kak!" ujar Airin ingin beranjak untuk memberikan minuman itu, tetapi Galang segera menolak sebab tidak enak hati.


"Nggak perlu, Dek. Saya nggak begitu haus. Nanti saya beli aja sendiri. Dek Airin pasti haus dari tadi. Nanti saya beli sekalian beliin Kak Galih," ucap Galang sedikit malu-malu.


"Nggak pa-pa, Kak! Ambil aja! Kan Kak Galang abis dari luar, pasti panas," kata Airin masih memaksa memberikan minuman dingin tersebut.


"Nggak perlu, Dek. Nanti saya beli aja. Dek Airin aja yang minum. Mami juga beli itu buat Dek Airin," ucap Galang masih kekeh menolak.


"Aduh ... Galang! Mami kok risih banget sih denger cara kamu bicara sama Airin. Sebenarnya pengen protes dari kemarin, tapi Mami lupa." Galang dan Airin menatap Mami dengan keheranan karena keduanya tidak menemukan kata-kata yang salah dan memang seperti itu sejak awal Galang bicara dengan Airin.


"Risih gimana sih, Mam? Galang rasa biasa aja, kok!" kata Galang yang langsung bersikap serius.


"Bukannya Kak Galang emang begitu nada bicaranya, Mam?" sahut Airin membela Galang. Mami Laras malah menggelengkan kepalanya beberapa kali karena kepolosan kedua calon pasangan suami istri tersebut.


Ingin rasa hati membicarakan perihal gaya bicara Galang, tetapi memang dari kemarin waktunya belum tepat. Mami Laras meneguk minumannya terlebih dahulu sebelum memberikan penjelasan pada Galang dan Airin.


"Jadi kamu belum tau sikap Galang yang sebenarnya, tapi mau nikah sama dia, Airin?" Airin mengangkat satu alisnya semakin heran dan kemudian menoleh menatap Galang berharap mendapatkan penjelasan, tetapi Galang pun malah mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban kalau dia juga tidak mengerti dengan maksud sang Mami.


"Mam, apaan sih maksud, Mami? Jangan buat Dek Airin bingung! Galang juga bingung dengan ucapan, Mami barusan! Apa yang salah dengan Galang, Mam!" desak Galang benar-benar tidak sabar meminta penjelasan.

__ADS_1


"Jadi kamu nggak sadar kalau sebenernya kamu itu kaku banget kalau bicara sama Airin, Nak? Pake kata 'saya' dan bahasa kayak bahasa bicara sama orang tua aja. Padahal sama Mami nggak gitu, loh! Kamu nggak sadar begitu?" Namun Galang masih diam dan belum mengerti. Selama ini memang Galang tidak mengubah gaya bicaranya walaupun mereka sudah memutuskan untuk menikah.


"Apa yang salah, Mam? Galang rasa Galang bicaranya udah sopan, kok!" jawab Galang masih berwajah heran.


"Iya, terlalu sopan!" kata Mami Laras menekankan suaranya.


"Dek Airin aja nggak protes, kok Mami protes sih?" Lagi-lagi Galang mengelak.


"Tuh Airin, kamu bisa bedain kan gimana cara Galang bicara ke Mami sama ke kamu?" Mami Laras terlihat kesal.


"Em, seperti sedikit paham, Mam," jawab Airin mulai tahu arah pembicaraan Mami Laras.


"Mami bahkan belum pernah denger Galang ngomong sama Airin bahasa 'aku kamu', pasti pake bahasa saya dan saya terus, risih Mami dengerinnya. Terus kalau nanti kamu malam pertama sama Airin bakal begitu juga? 'Dek Airin, saya mau meminta hak saya sebagai suami, apakah boleh saya melakukannya?' begitu Galang? Sungguh terlalu kamu, Galang!" jelas Mami Laras dengan nada yang sama selayaknya Galang bicara dengan Airin dan Airin malah terlihat menahan tawa.


Sebenarnya bukan ingin tertawa, melainkan malu karena Mami Laras tiba-tiba membahas masalah malam pertama. Padahal proses lamaran saja belum dan Papa Baskoro bahkan belum tahu hubungan mereka. Namun arah pembicaraan itu seharusnya belum sampai sana.


"Apaan sih? Mami bicara fakta, Galang! Sebaiknya kamu ubah gaya bicara kamu, Galang! Jangan kaku begitu sama calon istri yang sebentar lagi bener-bener jadi istri. Mami nggak bisa bayangin malam pertama kalian yang kaku itu nantinya," ujar Mami Laras kemudian cuek dan menikmati minuman dinginnya.


"Astaghfirullah, Mam! Jangan bahas itu lagi!" kata Galang menekan nada bicaranya karena Galang semakin tidak enak hati pada Airin yang ikut-ikutan menikmati minuman dinginnya dan tidak mau menghiraukan Galang sebab tentunya malu juga.


"Bahas apa sih?" tanya Galih yang baru saja tiba dari toilet kemudian merangkul bahu Galang.


"Kak, Mami iseng banget godain aku. Coba Kak marahin Mami!" ucap Galang terlihat seperti adik yang sedang mengadu pada Kakaknya.


"Tuh, Airin, kamu denger dan bisa bedain sendiri kan?" tanya Mami Laras seraya memberikan lirikan sinis pada Galang. Kali ini Airin benar-benar menahan tawanya sebab sudah sangat paham dengan apa yang dibahas Mami Laras tadi.

__ADS_1


"Emang bahas apa sih, Mam?" tanya Galih lagi yang kepo dengan topik sebelum dia datang.


"Tanya aja Galang sendiri!" jawab Mami Laras masih belum ramah.


"Bahas apa, Lang?" tanya Galih pada Galang.


"Sebaiknya nggak usah di bahas, Kak!" jawab Galang tentu saja malu ingin membicarakan malam pertamanya dengan Airin nanti.


"Dasar Brengsekk!" Galih menekan leher Galang dengan lengan yang merangkul bahunya tadi.


"Ampun, Kak! Jangan bunuh adikmu ini karena belum kawin," sahut Galang yang langsung mengundang tawa Mami Laras.


"Cie ... yang mau kawin!" kata Galih menggoda Galang, tetapi semakin menekan leher Galang.


Saat Galang ingin menjawab ledekan Galih, kumandang adzan Ashar terdengar. Galang jadi punya alasan untuk menghindari dari pembahasan yang tidak patut tersebut.


"Ah, udah ashar, Kak! Ayo ke Masjid!" ajak Galang segera melepaskan tangan Galih dan memaksanya untuk ikut ke Masjid.


"Pasti mau ngeles dia, Lih!" kata Mami Laras masih bernada meledek.


"Apaan sih, Mam! Ayo, Kak!" Galang pun berhasil menarik paksa Galih dan pergi ke masjid yang tak jauh dari rumah sakit.


Mami Laras tidak mengalihkan pandangannya dari punggung Galih dan Galang. Rasa haru juga bahagia kini bercampur dalam benaknya. Sungguh pemandangan itu ingin dia lihat sejak lima tahun lalu dan baru sekarang Mami Laras bisa benar-benar tenang.


"Semoga kalian terus akur, Nak! Mami harap kalian jadi anak-anak yang baik dan jadi ayah yang patut dibanggakan oleh anak kalian kelak," gumam Mami Laras. Airin pun meraih tangan Mami Laras bermaksud menghibur karena dia mendengar doa untuk Galih dan Galang.

__ADS_1


"Aamiin," ucap Airin dan Mami Laras pun menoleh menatap Airin diiringi senyuman dan berakhir dengan pelukan.


........


__ADS_2