
Di rumah sakit, Airin, Galang, Galih juga Mami Laras menikmati sarapan bersama setelah Papa Baskoro selesai pemeriksaan, walaupun Galang dan Galih sedikit terburu-buru sebab akan ada meeting penting.
"Galih, Galang ... makan pelan-pelan kenapa sih?" tegur Mami Laras yang risih melihat kedua anaknya makan dengan buru-buru.
"Nanti terlambat, Mam," jawab Galih segera meneguk orange juice dan beranjak dari tempat duduknya. "Lama amat sih, buruan, Galang!" kata Galih yang melihat Galang masih ada makanan beberapa suap lagi di piringnya.
"Apa buru-buru banget, Kak? Ini masih jam 7 pagi," sahut Airin dengan nada cukup sedih karena sangat ingin bicara dengan Galang perihal Mecca yang katanya sudah punya calon suami. Sejak Mecca pamit ke kampus, Airin tidak punya kesempatan bicara dengan Galang lagi.
"Iya, kami akan bertemu dengan klien baru dari Lampung dan orang itu sangat disiplin waktu bahkan ada perusahaan yang gagal kerja sama hanya karena telat lima menit saja," jelas Galih.
"Bawel banget sih, Kak. Ayo berangkat!" Galang pun beranjak setelah menyelesaikan sarapannya. Airin hanya mengangguk pasrah. Mereka pun berpamitan.
Dalam perjalanan menuju kantor, Galih banyak memberikan informasi terkait perubahan yang dia kelola. Sejatinya Galang juga bukan orang bodoh, jadi apa yang Galih jelaskan langsung dipahami oleh Galang.
"Pelan-pelan aja belajarnya. Nanti juga bisa," kata Galih dan Galang mengangguk seraya tersenyum. Keakraban itu seharusnya terjalin sejak lama. Namun keduanya terlambat menyadari betapa penting dan berharganya sebuah ikatan adik dan kakak itu.
Begitu tiba di tempat tujuan, ternyata mobil yang dikendarai Galih dan Galang parkir bersamaan dengan mobil klien yang dimaksud penting sebelumnya.
__ADS_1
"Wah, sepertinya kita berjodoh ya, Tuan Malik," sapa Galih dengan mengulurkan tangan.
"Ternyata anda tidak berubah, Tuan Galih," jawab Malik yang menerima uluran tangan Galih. Setelah beberapa detik keduanya saling menatap dengan wajah serius di depan beberapa staf kantor yang telah menunggu sebelumnya, Galih dan Malik langsung tertawa terbahak-bahak dan saling memeluk satu sama lain. Sikap itu membuat semua staf termasuk Galang terheran-heran.
"Gilaa ya elo nggak berubah sama sekali. Masih berwajah galak. Gue bisa tebak elo belum punya istri ataupun calon istri karena sikap dingin lo ini," ucap Galih sedikit berbisik seraya menepuk-nepuk bahu Malik.
"Jangan buat gue malu. Kita bicara setelah meeting," jawab Malik dengan nada yang sama dan keduanya masuk ke ruangan yang telah di reservasi sebelumnya.
Meeting yang memakan waktu dua jam itu pun berakhir dengan tepuk tangan meriah karena baik Galih dan Malik telah melakukan kerjasama dalam bisnis manufaktur. Bahkan Galih mempercayakan semuanya pada Galang setelah memberikan banyak arahan dari Galih juga Malik.
"Jadi Tuan Malik ini udah Doktor di usia 24 taun, Kak? Keren sekali, Tuan," puji Galang yang tidak percaya dengan cerita Galih bahwa Malik baru saja mendapatkan gelar Doktor di usia muda dimana harusnya usia tersebut baru mendapatkan gelar sarjana.
"Kamu panggil dia Kakak aja, Galang. Dia juga punya dua adik perempuan. Kalau kamu belum punya Airin, kamu bisa pilih adik-adiknya," ujar Galih seraya menyeruput kopi yang mulai dingin. Malik tersentak mendengar nama Airin.
"Kenapa bukan Kak Galih aja yang pilih adik-adiknya. Kalian kan berteman. Galang nggak akan pilih wanita lain selain Dek Airin," jawab Galang dengan tegas.
"Apa mungkin Airin binti Ustadz Jefri? Umanya bernama Siti Nurhaliza yang tinggal di Bandung?" tanya Malik memastikan.
__ADS_1
"Kok Kak Malik tau?" sahut Galang heran.
"Wah, bagaimana kalian bisa saling kenal? Kebetulan sekali ya? Teh Airin ini anak dari Pakde. Katanya dia memang sedang di ibukota bahkan semalam sama adikku yang bernama Mecca, tapi aku pikir hanya main aja. Ternyata ketemu calon mertua ya?" ledek Malik.
"Mecca?" ulang Galih juga Galang bersamaan.
"Jangan-jangan kalian udah ketemu sama adikku yang kedua?" tanya Malik dengan menyunggingkan senyum. "Sungguh dunia yang sempit," lanjutnya.
Walaupun berteman saat kuliah, Galih tidak pernah tahu adik-adik Malik karena mereka hanya bersama selama satu tahun saja. Kabar itu cukup membuat Galih terkejut. Sedangkan Galang hampir melepaskan tawanya karena sudah bisa dipastikan rencananya dengan Airin akan berhasil.
"Kak, sebentar lagi Kak Malik ini akan jadi Kakak ipar loh. Baik-baikin lah," ledek Galang sambil menikmati kopi yang sejak tadi belum sempat dia minum.
"Maksudnya Galih suka sama Mecca, Lang?" tanya Malik.
"Kami berencana menjodohkan Kak Galih dengan Mecca, Kak. Maksudnya Dek Airin sama Galang karena Galang nggak mau nikah melangkahi Kak Galih," jelas Galang dengan senyum bahagia.
"Wah ... dari teman jadi ipar judulnya ini, boleh juga. Tapi Mecca sedikit keras kepala. Tadi aku udah ketemu, cuma kami belum saling bicara," sahut Malik hanya melirik sekilas pada Galih yang terlihat tidak terlalu suka membahas perihal perempuan di pertemuan pertama mereka setelah sekian tahun.
__ADS_1
Akhirnya Malik mengalihkan pembicaraan mereka agar suasana lebih mengasyikkan dan berpisah setelah jam makan siang.
...***...