BAD BOY Pura-Pura Amnesia

BAD BOY Pura-Pura Amnesia
Bab 42


__ADS_3

Mecca sudah tiba di kampus sejak beberapa menit lalu dan sedang duduk di kursi di bawah pohon yang ada di halaman kampusnya. Mecca merasa bersalah sebenarnya pada Airin juga pada Mami Laras sebab berbohong. Padahal hari ini dia tidak ada jadwal apa-apa, tetapi mengatakan kalau ada keperluan mendesak di kampus perihal skripsinya.


"Astaghfirullah ... maafin Mecca Ya Allah, tapi Mecca bener-bener nggak mau disana," gumam Mecca seraya tertunduk diiringi helaan napas berat.


Mecca pun mengambil ponsel yang ada di dalam tas dan melihat ada beberapa panggilan tak terjawab juga pesan masuk. Namun yang paling banyak adalah panggilan dan pesan dari saudara kembarnya, Malik.


"Ish ... apaan sih Kak Malik pagi-pagi gini spam," gerutu Mecca dan mengabaikan sang Kakak lalu berfokus pada nama Gus Akbar.


Sebenarnya hari ini Gus Akbar memang mengajak Mecca bertemu karena dia tahu jika urusan Mecca di kampus sudah selesai lebih cepat dan hanya tinggal wisuda yang masih beberapa bulan lagi digelarnya.


"MasyaAllah ... Gus Akbar ngajak ketemu di cafe sekarang? Ya ampun Mecca tadi nggak sempet dandan. Duh, kalau balik kayaknya mepet banget." Mecca sedikit gelisah karena jadwal yang ditentukan maju tiga jam lebih awal dari sebelumnya.


Segera Mecca membalas pesan itu dan mengatakan akan tiba 20 menit lagi untuk tiba di cafe.


Demi orang yang dia sayang, Mecca hanya pergi ke toilet dan memperbaiki penampilan karena akan memakan waktu lebih lama jika harus pulang terlebih dahulu. Kebetulan juga dia bertemu dengan adik kelasnya lalu meminjam beberapa alat makeup. Mecca pun pergi dengan hati yang sangat bahagia sebab dua bulan terakhir Mecca sibuk dengan urusan di kampus sampai mengabaikan Gus Akbar.


Kebetulan cafe yang dimaksud juga tidak jauh dari kampus dan hanya butuh kurang dari 10 menit saja jarak tempuh dengan berjalan kaki.


Mecca pun celingukan mencari keberadaan Gus Akbar begitu dia masuk. Namun ada yang aneh disana sebab seorang wanita cantik duduk tepat di depan Gus Akbar.

__ADS_1


"Bukannya Gus Akbar anak tunggal? Lalu siapa dia?" batin Mecca curiga. Hanya saja wanita itu tidak lama duduk dan pergi setelah mencium tangan Gus Akbar. Bahkan Mecca dan wanita itu berpapasan tanpa saling sapa dan saling kenal. "Mungkin keponakannya kali ya sampe cium tangan segala," batin Mecca lagi dan segera menghampiri Gus Akbar lalu duduk di kursi yang sama dengan wanita yang baru pergi tadi.


"Mecca? Cepet amat?" kata Gus Akbar sedikit terkejut dan menengok menatap pintu keluar seperti sedang memastikan sesuatu.


"Assalamu'alaikum, Gus. Mecca pikir malah Mecca terlambat tadi," sapa Mecca yang mencoba seperti tidak melihat apa-apa sebelumnya.


"Ah ya, wa'alaikumsalam. Maaf saya mendadak ngajak bertemu hari ini karena nanti saya ada soan ke Bandung."


"Iya Gus, nggak pa-pa. Em apa yang mau Gus Akbar bicarakan?" Mecca tiba-tiba merasa gugup. Dengan wajah sedikit tertunduk, Mecca duduk dengan anggun di depan Gus Akbar.


"Ah iya. Saya mau bahas perihal ta'aruf kita yang pernah saya janjikan beberapa bulan lalu. Saya ingin mempercepat pertemuan saya dengan orang tua kamu di Lampung, Mecca. Rasanya terlalu lama jika saya harus menunggu sampai kamu wisuda," jelas Gus Akbar membuat Mecca secepatnya mengangkat kepala dan menatap Gus Akbar yang sedang berwajah serius dengan sedikit tersenyum.


Mendengar penuturan itu, Mecca semakin berdebar. Memang tidak satu dua saja yang mendekati Mecca sejak dia masuk universitas. Namun Mecca yang ingin fokus dengan kuliahnya memilih untuk tidak peduli pada para lelaki, tetapi saat Mecca tidak sengaja mengenal Gus Akbar lewat dosen pembimbing skripsinya, Mecca langsung tertarik dan mengiyakan saat Gus Akbar mengajak ta'aruf setelah wisuda.


"Abah sama Umi katanya tidak sabar ingin segera momong cucu. Apalagi saat saya menunjukkan foto kamu sama Abah dan Umi. Mereka sangat terlihat tidak sabar," tutur Gus Akbar dengan lembutnya membuat Mecca tersipu malu.


"Mecca belum bicara apa-apa tentang niat baik Gus Akbar. Nanti Mecca langsung bicara sama mereka pulang dari sini, Gus. Kira-kira Gus Akbar dan keluarga bisanya kapan mau ke rumah Mecca?"


"Secepatnya ... besok juga tidak apa-apa. Saya akan meluangkan waktu demi kamu." Kembali Mecca tersipu malu walaupun sebenarnya ada rasa yang mengganjal di hati tentang wanita yang mencium tangan Gus Akbar tadi.

__ADS_1


Pertemuan itu tidak lama setelah keduanya deal untuk ke rumah orang tua Mecca yang di Lampung tiga hari lagi, Gus Akbar pamit pergi saat makanan dan minuman yang dia pesan untuk Mecca disajikan.


Kepergian Gus Akbar membuat Mecca tidak berhenti tersenyum seraya menikmati dimsum dan lemon tea yang dipesankan calon suaminya tersebut.


"Alhamdulillah, Mecca harus cepet-cepet bilang Mommy sama Daddy biar nggak jadi dijodohin sama pilihan mereka. Mentang-mentang aku cuma sebentar di pesantren, mereka over protect banget dan ngira Mecca nggak bisa cari suami yang baik. Mikka dapet Gus dan Mecca juga bakal nikah sama Gus," kata Mecca bicara dengan dirinya sendiri.


Mecca adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Namun mereka adalah anak kembar, jadi usia mereka sama, hanya waktu kelahiran mereka saja yang berbeda beberapa menit. Malik adalah anak pertama yang dilahirkan dan Mikka lahir setelah Mecca.


Kedua orang tua Mecca kerap menjodohkan Mecca dengan laki-laki pilihan mereka karena Mikka sudah dilamar seorang Gus dari pondok pesantren terkenal di Lampung dan sejak kecil Mecca adalah anak yang suka berontak termasuk susah untuk disuruh memakai hijab syar'i sampai-sampai di pondok pesantren saja Mecca sering membantah dan akhirnya memilih untuk keluar lalu kuliah di ibu kota.


"Alhamdulillah, kenyang juga. Mecca mau pulang dan langsung telpon Mommy." Mecca pun beranjak dari tempat duduk setelah menghabiskan makanannya. Mecca yang merasa kenyang malas untuk berjalan kaki dan akhirnya memilih mengambil ponsel untuk memesan taksi online.


Namun belum sampai Mecca membuka layar ponsel, Mecca melihat sepasang sepatu pantofel pria dihadapannya. Segera Mecca mendongak dan sangat terkejut pria yang melampaui tinggi badannya sedang menatap Mecca dengan wajah arogan.


"Kenapa nggak jawab telepon? Siapa laki-laki tadi? Jadi kamu bohong? Kamu pacaran?" Mecca tidak bisa mengelak dan hanya bisa membalas dengan senyuman yang menunjukkan deretan giginya.


"Kak Malik hehe, kok bisa tiba-tiba ada disini sih? Em ... nanti Mecca jelasin aja di rumah ya?" kata Mecca dengan kedua tangan menangkup didada memohon pada sang Kakak.


"Dasar keras kepala," ujar Malik seraya menyentil dahi adiknya.

__ADS_1


"Maaf, Kak," lirih Mecca. Malik tidak berkata lagi dan meraih tangan Mecca dengan lembut untuk diajaknya ke mobil dan meminta penjelasan setelah tiba di rumah tempat Mecca selama lima tahun di ibukota.


........


__ADS_2