
Airin kembali memasukkan ponselnya setelah mengakhiri panggilan dengan Uma bersamaan dengan saat Serly pergi. Senyum yang mengembang menatap Galih yang juga menatapnya membuat Galih segera mengalihkan pandangannya. Airin pun kembali duduk di kursi tunggu tepat di depan Galih yang sedang pura-pura fokus pada benda pipih yang dia genggam.
"Wanita tadi pacar Kak Galih ya? Cantik banget, Kak. Kok cuma sebentar ketemuannya. Sibuk ya Kak pacarnya?" tanya Airin mencoba berbasa-basi dengan Galih.
Entah kenapa wajah yang tadi mencoba beramah-tamah pada calon Kakak iparnya seketika berubah murung saat Galih tidak merespon apa yang ditanyakan oleh Airin. Namun tentu Airin tidak mau menyerah dan masih mencoba berbicara dengan Galih agar hubungan kekeluargaan mereka semakin baik.
"Oiya, Kak Galih mau minum kopi? Tadi Mami bawa kop-" Airin segera menutup mulut saat Galih menatapnya sinis. Dia sungguh tidak tahu kata-kata mana yang salah sampai membuat Galih menatapnya dengan tatapan menakutkan.
"Apa kamu benar-benar akan menikah dengan adikku, Galang?" tanya Galih masih dengan raut wajah menyeramkan dan nada bicara yang dingin.
"I-iya, Kak. Kami ... kami saling suka," jawab Airin gugup seraya tertunduk.
"Kamu cinta sama Galang atau kamu hanya suka sama Galang?" tanya Galih lagi. Airin pun langsung menatap Galih sebab sedikit bingung dengan pertanyaan Galih.
"Kenapa ... kenapa Kak Galih tanya begitu? Aku suka dengan Kak Galang. Apa ada yang salah?" tanya Airin dengan nada sedikit ragu dan berat hati.
"Kalau begitu kamu juga bisa suka sama aku?" Airin mengangkat satu alisnya semakin bingung.
"Maksudnya ... apa, Kak?"
"Ck, kamu bukan anak kecil yang selalu harus mendapatkan penjelasan bukan? Kalau kamu suka dengan Galang, artinya kamu juga bisa suka denganku, Airin." Tentu Airin semakin dibuat bingung.
__ADS_1
"Aku ... aku nggak ngerti, Kak. Maaf!" lirih Airin kembali tertunduk. Dia pun jadi berpikir jika Galih tidak menyukainya sebagai calon adik ipar. Padahal Airin begitu yakin jika dia akan disambut hangat oleh keluarga Galang melihat sikap baik Mami Laras.
"Ck, menyukai orang itu mudah Airin. Kenapa kamu malah seperti orang bingung? Sebenarnya kamu suka atau cinta dengan adikku?" Airin tidak menjawab. Mendengar apa yang dikatakan Galih, dia pun mulai mencerna setiap kata tersebut.
"InsyaAllah ... aku cinta dengan Kak Galang karena Allah, Kak," jawab Airin masih dengan nada lemah.
"Kenapa kamu nggak yakin dengan dirimu sendiri? Gimana aku bisa percaya kalian akan bahagia setelah menikah kalau kamu nggak yakin dengan apa yang telah kalian putuskan?" tegas Galih membuat Airin semakin goyah.
"Aku bukan ragu, Kak Galih. Aku menyerahkan semuanya pada Allah. Jika kami ditakdirkan untuk bersatu, maka aku yakin Allah nggak akan biarin kami terpisah begitu saja. Keputusan kami menikah juga bukan semata-mata awalnya karena kami saling cinta. Tapi aku yakin cinta setelah pernikahan itu lebih indah dari pada cinta sebelumnya."
Galih pun menyunggingkan senyum. Bukan meremehkan apa yang Airin katakan. Galih sendiri bukan laki-laki yang imannya lebih baik dari Galang. Selama ini dia hanya menjalankan sebuah kewajiban saja tanpa memahami apa arti sang pencipta dihatinya.
"Kalau begitu ... kamu juga bisa mencintaiku setelah kita menikah Airin. Toh sama saja bukan? Kalau kamu ragu dengan Galang, bagaimana kalau kamu menikah saja denganku dan kalau kamu yakin cinta itu akan indah setelah pernikahan, mari kita lakukan."
"Kenapa Kak Galih bicara sembarangan? Kak Galih hanya pura-pura baik dengan adik sendiri, begitukah?" Airin pun memberikan pertanyaan monohok. Tidak disangka jika apa yang selama ini dia lihat hanya sebuah kepura-puraan belakang.
"Aku nggak lebih buruk dari Galang. Aku juga punya cukup uang dan mapan. Sedangkan Galang, masa depannya belum tertata dengan baik walaupun dia memiliki warisan lebih besar daripada aku. Tapi dia sama sekali nggak tahu apa-apa tentang perusahaan. Mungkin ... kalian hanya akan hidup sederhana setelah menikah karena Galang nggak bisa ngapa-ngapain, Airin. Berbeda dengan aku yang bisa mengelola perusahaan dan bahkan seorang CEO yang menggantikan posisi Papaku."
Airin pun menyunggingkan senyum. Dia sungguh tidak percaya dengan apa yang Galih katakan barusan. Bahkan dia mencoba merendahkan dan meremehkan adiknya Galang. Airin pun beristighfar seraya menatap Galih yang tidak merubah raut wajahnya sama sekali.
"Apa ini sifat aslimu, Kak? Kamu akan menusuk adikmu dari belakang, begitu?"
__ADS_1
"Kamu tau, Airin ... aku menyukai sejak beberapa menit yang lalu. Semalam aku nggak begitu memperhatikan penampilan kamu karena Galang yang terus menuduh aku dan Mamaku yang bukan-bukan. Tapi beberapa saat lalu aku disadarkan akan sosok bidadari yang pasti bisa membuat hidupku semakin nyaman," jelas Galih dan Airin kembali menyunggingkan senyum.
"Lantas, Kak Galih pikir aku akan langsung mau menikah dengan Kak Galih setelah Kak Galih bahkan merendahkan adik Kak galih sendiri?" tanya Airin kini terdengar sedang menahan emosinya. Perasaannya tentu sedang bergejolak tak tentu rasa.
"Awalnya aku berpikir begitu, Airin. Wanita yang baru saja pergi tadi memberikan aku sebuah ide yang memang sangat menguntungkan diriku. Sesaat, aku merasa ingin menjadi serakah dan mendapatkan apa yang memang aku pantas dapatkan itu semua. Tapi ... aku dididik menjadi manusia baik oleh Mamaku."
Airin yang tadinya ingin marah, menjadi urung dengan respon Galih yang berbeda. Raut wajah menyeramkan dan nada dingin itu tiba-tiba berubah menjadi sosok laki-laki yang baik dan suara yang lembut.
"Wanita yang kamu kira pacar aku tadi itu adalah wanita yang akan dijodohkan Papa dengan Galang. Namanya Serly. Dia memintaku untuk menikahi mu dan membantu dia agar bisa menikah dengan Galang."
Airin pun terkejut dan menatap pintu keluar dimana saat Serly pergi tadi. Airin ingin memastikan jika wanita itu benar-benar sudah pergi.
"Aku ingin tau bagaimana kamu bisa membuat Galang bahagia dan bertahan dalam pernikahan kalian nanti karena bisa saja Serly berbuat licik. Mencintai itu mudah Airin. Awalnya hanya saling suka dan lama-lama akan saling cinta. Tapi untuk mempertahankan cinta itu sendiri, butuh perjuangan panjang."
Galih yang tadi tertunduk pun kini beranjak dan menatap Airin yang telah berkaca-kaca karena salah paham dengan Galih.
"Kalau kamu memang yakin dengan kuasa Tuhan mu, cintai Galang dengan sungguh-sungguh dan bertahanlah apa pun akan yang terjadi nanti. Aku ... akan ada dibelakang kalian. Aku yakin kamu wanita yang baik untuk Galang karena Galang tidak mungkin salah memilih."
"Maafin Airin, Kak! Airin udah salah paham sama Kak Galih," lirih Airin seraya beranjak juga. Keduanya pun berdiri berhadapan.
"Aku nggak becanda dengan apa yang aku ucapkan. Andai kamu nggak bisa bertahan ataupun kamu merasa disakiti oleh adikku, datanglah padaku. Aku nggak akan menyia-nyiakan apa yang telah menjadi milikku. Tapi aku berharap kamu bisa bahagia dengan Galang. Kembalikan kebahagiaan yang telah hilang selama beberapa tahun ini. Aku harus pergi ke kantor. Bilang Mami aku ada meeting."
__ADS_1
Airin tidak menjawab lagi karena Galih langsung balik badan dan melangkah cukup cepat meninggalkan dia di depan ruang rawat Papa Baskoro. Satu yang pasti harus Airin lakukan saat ini adalah berjuang atas cinta yang telah dia terima dari Galang.
........