
Ruang tamu rumah ustadz Jefri hening beberapa saat setelah Gus Ipul mengutarakan kebenaran yang dikatakan Galang. Uma dan Airin saling menatap dan mengangkat bahunya karena tidak tahu. Galang sendiri menatap Gus Ipul dengan sinis. Tentu saja rasa kesal dan cemburu sudah jadi satu dalam hati dan pikiran Galang. Dia pikir apa yang Galang katakan bahkan belum ada satu jam pada Gus Ipul akan membuat anak ustadz Hafiz itu sedikit sadar perihal poligami yang menjadi rencananya tersebut.
"Gus, apa maksudnya? Tolong jelaskan!" kata ustadz Jefri yang tidak sabar sejak tadi melihat Gus Ipul gugup. Bahkan ustadz Jefri menggeser posisi duduknya semakin dekat dengan Gus Ipul.
"Sebenarnya ... sebenarnya saya ... em saya ...." Entah kenapa lidah itu susah sekali untuk mengatakan tujuannya datang ke rumah ustadz Jefri. Bahkan Gus Ipul merasa tenggorokannya tercekat dan sangat berat untuk bicara.
"Kenapa jadi gugup, Gus? Bukannya sebelumnya ngomong lancar-lancar aja. Bahkan sampe bentak-bentak Dek Airin juga. Apa perlu saya bantu bicara, Gus?" ujar Galang lagi-lagi membuat ustadz Jefri terkejut.
"Airin dibentak? Gus, maksudnya bagaimana? Tolong segera jelaskan!" seru ustadz Jefri kini menatap geram Gus Ipul. Orang yang biasanya benar-benar takdim dan terlihat sangat santun, ternyata punya sisi lain yang buruk. Bahkan sekali saja Abati tidak pernah bernada tinggi pada Airin. Dalam hati ustadz Jefri sangat bersyukur Airin tidak jadi menikah dengan Gus Ipul.
"Ma-maaf ... maafkan saya, Ustadz. Saya ... saya kesini memang mau minta maaf, terutama ... terutama pada Dek Airin. Saya ... saya benar-benar minta maaf atas sikap saya sebelumnya, Dek. Tolong ... tolong maafkan saya atas kejadian tadi. Saya sangat tidak sopan sebelumnya." Akhirnya kata maaf pun keluar dari mulut Gus Ipul seraya tertunduk malu yang padahal tadi begitu susah untuk diucapkan.
"Ck, beneran nih minta maaf?" ledek Galang.
"Iya. Saya juga mau minta maaf sama kamu. Bukan hanya maaf yang tulus, tapi saya juga mau berterima kasih sama kamu karena telah membuka jalan pikiran saya. Seharusnya saya memang tidak melakukan poligami apa pun kondisi istri saya. Seharusnya saya pasrahkan semua pada Allah. Istri saya memang mengatakan ikhlas dan bersedia, tapi kalau saya menikah lagi nanti, pasti dia akan tetap terluka walaupun lukanya itu dia tutupi dengan senyuman. Saya juga jadi ragu apakah saya benar-benar bisa adil membagi hati saya untuk istri pertama juga istri kedua saya nantinya. Saya juga jadi berpikir, mustahil nggak akan ada yang terluka saat saya sedang bersama salah satu dari mereka nanti. Sekali lagi saya benar-benar minta pada Dek Airin atas apa yang saya katakan dan saya lakukan."
Semua orang tersenyum mendengar penuturan Gus Ipul. Bahkan Aba langsung berdiri dan memeluk Gus dengan memberikan beberapa tepukan di punggungnya. Tiba-tiba ada sedikit rasa lega dalam dada setelah kata maaf itu terucap begitu saja. Paru-paru yang awalnya kekurangan pasokan udara, kini seolah terisi kembali dengan udara segar. Padahal hanya kata maaf, tetapi dampaknya begitu luar biasa bagi Gus Ipul.
__ADS_1
"Terima kasih sudah berani minta maaf, Gus," ucap ustadz Jefri seraya melepaskan pelukannya. Keduanya pun kembali duduk.
"Sejak bicara dengan dia, saya sadar bahwa istri saya bukan tidak bisa hamil, Ustadz. Tapi hanya sedikit kemungkinan saja dan saya yakin tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah." Ustadz Jefri lagi-lagi tersenyum.
"Semoga keluarga Gus Ipul diberi kesabaran dan kelapangan hati untuk mau menunggu Ning Aina mendapatkan momongan. InsyaAllah kami akan mendoakan kebaikan untuk Gus Ipul bersama Ning Aina," kata ustadz Jefri mendoakan.
"Zaman sekarang nggak ada yang mustahil, Gus. Obat-obatan dan peralatan medis sudah sangat canggih, asal ada duitnya aja dan saya yakin Gus Ipul punya itu. Kalau Gus Ipul mau, saya akan rekomendasi Dokter terbaik spesialis kandungan. Namanya Dokter Amira. Nanti akan saya bicarakan supaya Gus Ipul diutamakan." Galang ikut angkat bicara dan hal itu membuat Gus itu tersenyum menatapnya.
Kali ini benar-benar tidak ada lagi rasa buruk sangka antara satu sama lain. Baik Galang maupun Gus Ipul sama-sama mengangguk menandakan bahwa mereka kini berteman.
...***...
"Alhamdulillah, ternyata Allah memang maha baik ya, Aba. Galang merasa semakin dekat dengan-Nya saat ini. Entah kenapa, tapi rasanya Galang ... rasanya Galang benar-benar ...."
"Aba, tau. Semoga apa yang telah terjadi sebelumnya menjadi pelajaran berharga untuk kita semua, Nak. Aba yakin kamu bisa semakin baik lagi jika semua yang kamu lakukan benar-benar lillahi ta'ala." Galang mengangguk paham.
Setelah kepergian Gus Ipul, Abati juga Uma Siti pergi sholat Dzuhur. Sedangkan Galang tetap berdiam diri di ruang tamu dan Airin pergi ke kamar.
__ADS_1
Galang penasaran dengan ponselnya yang sejak tadi bergetar di saku celananya. Dia pun meraih ponsel itu dan melihat ada 20 panggilan tak terjawab dan itu dari Galih.
"Cih, baru kali ini ditelpon Kakak tiri sampai puluhan kali," gumam Galang tak menghiraukan panggilan itu.
Galang pun beralih melihat pesan ada ada beberapa pesan masuk dari Tomi juga beberapa mantan anak buahnya yang mengatakan sudah mulai belajar sholat. Galang langsung tersenyum membaca pesan-pesan tersebut dan membalasnya satu persatu.
Namun disela keasyikannya membalas pesan, ada sebuah notifikasi berita bahwa pimpinan perusahaan Cendana Baskoro masuk rumah sakit karena serangan jantung. Seketika itu juga Galang langsung berdiri dan mengklik notifikasi itu lalu membacanya. Benar saja ada sebuah foto yang menunjukkan bahwa sang Papa turun dari ambulans dengan Mami Laras di sisi brankar Papa Baskoro.
"Kak, ada apa? Kok terkejut gitu?" tanya Airin yang hendak memberikan Galang minum.
"Dek, saya harus ke rumah sakit. Papa ... papa kenak serangan jantung," jawab Galang dengan nada berat.
"Innalilahi, Airin temenin Kak Galang. Tunggu Kak, Airin bilang sama Abati dulu." Bergegas Airin kembali masuk ke dalam dan segera ke ruang sholat untuk bicara dengan Abati dan Uma Siti.
Beberapa saat kemudian ustadz Jefri dan Uma Siti menghampiri Galang dan setuju jika Airin ikut bersama Galang. Ustadz Jefri awalnya ingin ikut, tetapi besok pagi harus mengisi ceramah di desa tetangga dan tidak bisa dibatalkan. Ustadz Jefri juga takut jika tidak ada umur panjang untuk Papa Galang, makanya ustadz Jefri mengizinkan Airin menemani Galang.
Keduanya pun pamit dengan mobil yang telah di pesan Galang untuk pergi ke kota ke rumah sakit tempat sang Papa dirawat.
__ADS_1
........