BAD BOY Pura-Pura Amnesia

BAD BOY Pura-Pura Amnesia
Bab 30


__ADS_3

Di kediaman keluarga Pangestu, Tuan Aji baru saja turun dari kamar di lantai dua yang hendak menemui anak dari temannya karena ada berkas penting yang dibutuhkan.


"Selamat siang, Om. Saya Remos yang mau nganter berkas, Om," sapa Remos segera berjabat tangan dengan Tuan Aji dengan begitu ramah. Padahal itu bukanlah sikap Remos yang sesungguhnya, tetapi karena ancaman sang Papa, Remos harus mau beramah-tamah.


"Oh ya, ternyata kamu sudah sebesar ini, Remos. Kamu juga tampan. Mari duduk!" sahut Tuan Aji yang cukup antusias menyapa Remos. "Bagaimana kabar Papa kamu, katanya sakit?" tanya Tuan Aji seraya menerima berkas yang disodorkan Remos dan hendak membuka map tersebut, tetapi tiba-tiba Serly yang baru saja masuk rumah menjatuhkan tubuhnya di sofa di sisi sang Papa. Serly tidak menyadari jika ada Remos disana.


Serly langsung disambut hangat oleh sang Papa dengan senyuman kasih sayangnya. Namun raut wajah Serly tidak seperti sebelum dia berangkat ke rumah sakit, Tuan Aji pun mencubit hidung Serly dan mengabaikan Remos sebentar.


"Si Galang nyakitin anak Papa pasti. Rasanya pengen ngasih pelajaran berharga buat anak itu," tebak Tuan Aji dan Serly yang sedang menyandarkan kepalanya di sofa segera menggelengkan kepalanya. "Terus ... kenapa anak Papa bete banget mukanya? Nggak mungkin karena macet kan?" tanya Tuan Aji heran.


"Serly malah nggak ketemu sama Galang, Pa. Serly cuma ketemu sama Galih dan sialnya Galih malah bikin mood Serly kacau. Apalagi tadi disana ... Ah sudahlah!" kata Serly mengadu dengan raut wajah yang benar-benar marah.


Rasa ingin bercerita tentang wanita yang katanya calon istri Galang dia urungkan karena hanya akan membuat dirinya semakin kesal. Apalagi Serly melirik pria asing yang seperti sedang menahan amarah juga. Namun Serly abai.


"Galang? Sialan! Bukannya si brengsekk itu udah mampus? Hebat banget dia masih bisa selamat. Jangan-jangan anak buahnya yang nyelametin si brengsekk itu. Gue harus kasih pelajaran sama mereka. Ck, tunggu saja kalian, gue patahin tangan kalian," batin Remos seraya mengepalkan kedua tangannya.


Padahal Remos sudah mendapatkan kabar gembira dari dua anak buah yang dia utus untuk mencelakai Galang. Tebakan Remos kalau Galang tidak mati, paling tidak dia patah tulang. Namun melihat situasi yang ada didepannya, tidak mungkin bagi Galang mengalami dua hal yang Remos duga.

__ADS_1


"Bener-bener brengsekk! Artinya Galang nggak kenapa-napa saat itu. Nggak mungkin wanita secantik ini mau dengan pria cacat. Keluarga Galang memang jejeran konglomerat, tapi jika dibandingkan dengan keluarga ini, gue rasa keluarga Galang masih kalah," kata Remos dengan dirinya sendiri.


"Kenapa sih kamu harus suka dengan anak Baskoro itu? Kamu sangat cantik, Sayang. Kamu bisa menikahi laki-laki manapun. Misalnya Remos ini. Lihat dia, tampan dan keluarganya juga setara dengan kita," ujar Tuan Aji memperkenalkan Remos yang segera merubah raut wajah kesalnya menjadi wajah yang memancarkan ketampanan. Serly pun melirik Remos.


Serly melihat senyuman yang tak kalah manis dari Galang. Tatapan Remos juga penuh kasih walaupun ini pertama kalinya mereka bertemu dan Remos juga langsung menyukai Serly pada pandangan pertama. Walaupun Serly seorang model, dia belum terlalu terkenal walaupun sedang sedikit naik daun di tahun ini. Remos sendiri tidak peduli dengan dunia permodelan, jadi dia juga tidak kenal dengan Serly.


"Siapa dia? Serly nggak kenal, Pa. Serly cuma pengen nikah sama Galang. Jangan pernah berusaha untuk menjodohkan Serly dengan laki-laki manapun, oke?" sahut Serly masih dengan tatapan kesal kemudian beranjak pergi menaiki anak tangga dan masuk ke kamarnya.


Tuan Aji hanya bisa menggelengkan kepalanya beberapa kali menatap kepergian anak perempuannya itu. Tentu Tuan Aji juga harus minta maaf atas perlakuan tidak sopan anaknya tersebut pada Remos.


"Ah, maaf ya, Remos. Anak jaman sekarang kalau udah jatuh cinta udah kayak orang gila," kata Tuan Aji dan Remos menyambut dengan senyuman manis. Sebenarnya dia sangat kesal karena baru kali ini ditolak oleh perempuan secara terang-terangan. Biasanya dia bisa mencium perempuan manapun yang dia mau. Ambisi untuk mendapatkan Serly pun membara dihatinya.


"Wah ... kamu lebih sopan daripada laki-laki yang disukai Serly, Remos. Silahkan aja kalau kamu mau bersungguh-sungguh dengan anak Om. Papa kamu juga teman bisnis yang tidak pernah mengecewakan Om sama sekali. Beruntung Om bisa besanan dengan Tuan Seno, haha!"


Remos hanya berterima kasih lalu mengalihkan pembicaraan mereka ke inti dari tujuan Remos sebenarnya pergi ke kediaman Tuan Aji.


Setelah beberapa saat, Remos pun pamit pergi dan Tuan Aji sendiri masih berusaha meledek Remos perihal niat Remos untuk mendekati Serly.

__ADS_1


...***...


"Boleh Papa masuk, Sayang?" tanya Tuan Aji yang langsung ke kamar Serly setelah Remos pergi. Sebagai seorang ayah, tentu saja dia ingin yang terbaik untuk anaknya. Apalagi melihat raut wajah yang tadinya selalu ceria menjadi bete' karena seorang laki-laki. Pastilah Tuan Aji akan berusaha menghibur sang anak.


"Hm, masuk aja, Pa! Emang kalau Serly larang Papa nggak bakal masuk?" jawab Serly masih dengan nada kesal. Dia yang sedang tiduran dan hendak mendengarkan musik pun melepaskan earphone lalu menatap sang Papa yang duduk di sisi tempat tidur.


"Papa mau bicara santai, boleh?"


"Kalau bahas cowok tadi, sebaiknya Papa nggak ganggu Serly, Pa. Papa tahu pasti apa yang Serly mau."


"Dia terlihat baik, Sayang. Dia bahkan dengan sopannya minta izin sama Papa buat deketin kamu, loh!"


"Ck, cowok jaman sekarang sulit dibedakan mana yang sopan mana yang pura-pura sopan, Pa. Beda sama Galang. Jangan terkecoh! Serly nggak tertarik sama sekali dengan cowok tadi."


Tuan Aji hanya bisa menghela napas berat saat Serly kembali memasang earphone di telinganya dan berusaha untuk mengindari pembicaraan tentang Remos.


"Serly ...." panggil Tuan Aji seraya mengusap ujung kepala sang anak dengan lembut. Serly pun melepaskan kembali earphone yang dia pakai.

__ADS_1


"Pa, Serly cinta sama Galang dan Serly hanya mau menikah dengan Galang, Pa. Jangan coba-coba bilang untuk membandingkan antara Papa dengan Mama yang awalnya nggak saling cinta tapi hidup bahagia dan bisa mempunyai Serly juga Kak Bagas. Serly bosan dengerin nasehat itu, Pa! Please ... Serly ingin kebahagiaan, bukan paksaan!" mohon Serly dan sang Papa lagi-lagi hanya bisa menghela napas kemudian mengalah lalu pergi meninggalkan anaknya yang semakin kesal itu di kamarnya.


........


__ADS_2